
Tak lama, Baby Maura pun menangis. Dimana sudah waktunya Alice untuk menyusuinya. Apa lagi jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, waktunya mereka untuk beristirahat.
Meera dan Hans pun keluar dari kamar mereka menuju ruang tamu. Disana Hans sudah membawa kasur lipat untuk mereka agar Meera bisa tertidur dengan nyaman, walaupun mereka tidak berada di dalam kamar.
Rasanya Meera sudah tidak sabar untuk menunggu kelahiran anak mereka, yang masih membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan lagi. Jadi, Meera dan Hans harus benar-benar menyiapkan semuanya sebelum menyambut kelahiran anak pertama mereka.
...*...
...*...
3 hari berlalu, Alice dan Baby Maura sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Yang mana Meera, Hans dan juga Bi Neng sudah membuat penyambutan kecil-kecilan untuk anggota keluarga baru di rumah keluarga Ivander.
...*kurang lebih seperti itulah ya dekorasi yang mereka buat untuk menyambut Baby Maura (abaikan tulisannya)*...
Alice dan Bram yang baru saja datang langsung dikejutkan oleh penyambutan Baby Maura, ketika pintu utama kediaman rumah keluarga Ivander terbuka sangat lebar.
"Welcome Baby Maura to the Ivander Family home. Yeeeyy ...."
Dooorr!
Hans meledakkan confetti party keatas membuat serbuk-serbuk kertas menjadi berterbangan. Membuat Alice dan Bram langsung melindungi wajah anaknya agar tidak terkena serbukan tersebut.
Wajah bahagia di sertai dengan teriakan yang
begitu nyaring, berhasil membuat suasa rumah menjadi sangat berbeda.
"Uluh-uluhh, anak Mommy udah datang. Sini, Sayang. Sama Mommy, yuk! Mommy kangen, padahal baru sehari tidak bertemu kamu. Rasanya kaya udah setahun hihi ...."
Meera yang begitu antusias langsung mengambil alih Baby Maura dari Alice, dan menggendongnya sambil menciumi wajahnya beberapa kali.
Tak lupa Bi Neng yang memang sudah dianggap sebagai orang tua bagi mereka semua, tak terasa meneteskan air matanya. Bi Neng terharu saat melihat rumah ini kembali di berikan kebahagiaan, setelah sekian lama menghadapi ujian yang sangat menyedihkan hatinya.
"Bibi kenapa nangis, hem? Apakah ada yang membuat Bibi sedih?" tanya Alice, langsung memeluknya ketika melihat Bi Neng menangis.
__ADS_1
"Bibi cuman terharu aja, akhirnya sekian lama rumah ini bisa kembali mendengar suara tangisan anak kecil yang sangat menggemaskan. Rasanya Bibi bahagia banget, sudah lama Bibi tidak pernah melihat kebahagiaan di rumah ini. Dan akhirnya, kebahagiaan itu kembali setelah semua badai berlalu.
"Hem, cupcupcup ... Muuachh. Bibi jangan nangis lagi ya, pokoknya setelah ini Bibi harus selalu tersenyum sepanjang hari bermain dengan cucu-cucu Bibi. Okay?"
Alice mencium pipi kanan Bi Neng, sambil melihat Meera sama Hans yang sedang bahagia ketika menggendong Baby Maura.
"Udah akhh, jangan nangis-nangis. Pokoknya sekarang kita harus tersenyum, karena semua masalah sudah terselesaikan. Waktunya kita bahagia, jadi Bibi jangan sedih lagi ya. Sekarang Bibi harus merasakan, bagaimana rasanya punya cucu."
Bram memeluk Bi Neng sekilas bersama istrinya, lalu dia melepaskan pelukannya dan segera mengambil Baby Maura dari tangan Meera. Kemudian dia berikan kepada Bi Neng dengan penuh kehati-hatian.
Bi Neng yang tidak bisa menceritakan betapa bahagianya dia bisa menggendong Baby Maura. Tak lupa Bi Neng mencium serta mengelus pipi mungil Baby Maura yang tanpa sengaja tersenyum menyambut sentuhan Neneknya.
Rasa terharu itu berhasil membuat Alice dan Meera pun ikut menangis. Mereka tidak menyangka, bila kebahagiaan Bi Neng terletak pada bersatunya penerus keluarga Ivander.
"Aduh-aduh ... Princes kecil Nenek yang satu ini cantik sekali. Nenek cuman bisa berdoa, semoga kelak hidupmu akan selalu bahagia di penuhi oleh kasih sayang yang sangat melimpah. Dan juga memiliki kesucian hati yang tiada tandingannya. Aamin, sehat-sehat cucuku. Muachh!" ucap Bi Neng di penuhi oleh tangisan bahagia sambil menciumi pipi Baby Maura.
Melihat kebahagiaan Bi Neng membuat Meera dan Alice terharu. Mereka berdua meneteskan air matanya tepat di dalam pelukan suaminya. Tak lupa ada seorang photografer yang dari tdi sudah memotret momen-momen ini penyambutan Baby Maura.
Setelah itu mereka melakukan foto keluarga bersama Bi Neng, yang mana saat ini Bi Neng sudah tidak lgi tinggal di paviliun para pembantu. Melainkan, Bi Neng sudah memiliki kamar tersendiri di rumah keluarga Ivander.
Dan jangan salah, Meera pun sudah kembali mendapatkan seorang pembantu yang usianya sekitar 35 tahun. Akan tetapi, kali ini dia mengambilnya langsung dari yayasan terpercaya dengan segala seleksi yang cukup berat.
...*...
...*...
Dibalik kebahagiaan mereka ternyata ada yang sedang merasa sangat menderita di dalam sel. Siapa lagi jika buka Bella, sebab dia baru saja mengetahui bahwa Papahnya masuk penjara akibat korupsi.
Sementara Mamahnya entah pergi kemana, setelah kasus suaminya terkuap. Dia melarikan diri karena takut tertangkap dengan tuduhan judi online bersama teman sosialitanya.
Yang artinya, keluarga Bella benar-benar sangat hancur. Dimana Bella ingin sekali membalaskan dendamnya pada keluarga Ivander, akan tetapi Bella tidak punya akses untuk menyewa orang di luar sana. Sebab semua hartanya telah di sita habis oleh pihak yang berwajib.
Bella bisa mendapatkan kabar tersebut ketika pembantu rumahnya yang menyampaikan semua itu sekalian berpamitan untuk tidak lagi mengurus keluarganya.
"Aaarghh, kenapa hidupku seperti ini sih! Kenapa semuanya bisa terjadi secara bersamaan, kenapa Tuhan. Kenapa!" teriak Bella di dalam sel, dalam keadaan yang sangat setres.
__ADS_1
"Berisik, woi!"
"Bisa diam enggak sih lu, hahh!"
"Lu kaga liat ini udah malem, bukannya istirahat malah teriak-teriak kaya orang gila. Lu kata ini hutan!"
3 orang yang berada di dalam satu sel bersama Bella terlihat begitu marah, karena mereka semua merasa terganggu akibat kebisingan Bella yang tidak pernah bisa diam setiap malamnya.
"Lu yang berisik, tidur tinggal tidur ngapain juga bangun!" sahut Bella, kesal.
"Ehh, ja*lang! Gimana gua bisa tidur, kalau mulut lu enggak bisa diam!" ucapnya, dipenuhi amarah yang menggebu.
"Emangnya gua pikirin. Lu pada mau tidur kek, enggak kek. Terserah, ngerti lu!" balas Bella, cuek.
Ketiga orang yang saling tatap menatap itu benar-benar telah dibuat jengkel oleh sikap Bella yang semakin hari semakin songong.
"Sepertinya dia harus di kasih pelajaran!" bisik salah satu dari mereka yang mulai memancing suasana.
"Boleh juga tuh, sikat ajalah. Hitung-hitung salam perkenalan karena dia baru masuk sini, ya 'kan?" bisik yang lainnya memanasi ketua geng mereka.
Bella yang sedang duduk anteng meratapi hidupnya yang tidak karuan tanpa siapapun, penuh kehampaan membuat dia benar-benar setres.
Kedua teman satu sel Bella, mulai mengukir senyum miring menatap Bella. Rasanya mereka sudah lama tidak berolah raga malam untuk sekedar memberikan tato biru kepada lawannya.
Tanpa basa-basi lagi, kedua orang yang menjadi kacung dari ketuanya langsung memegangi Bella membuat dia memberontak dengan wajah bingungnya.
Satu tamparan keras berhasil melambung di pipi kanan Bella, membuat sudut bibirnya terluka. Lalu, di tambah pula dengan tonjokan di perutnya yang membuat Bella meringis kesakitan.
Melihat adanya kesempatan Bella langsung menginjek kaki kedua kacung itu, dan langsung menyerbu ketuanya sampai dia terjatuh ke lantai.
Bella langsung menindihinnya, kemudian membalaskan semua rasa sakit yang dia berikan. Sampai akhirnya kericuhan terjadi diantara mereka berempat membuat beberapa petugas langsung berdatangan untuk melerai mereka semua.
Yang mana, mereka semua menyalahkan Bella atas semua keributan yang terjadi. Hingga Bella harus diasingkan di sebuah ruangan yang sangat sunyi. Tepatnya di sel kesunyian yang berada di belakang, tetapi lebih tepatnya dengan gudang.
Jadi, Bella harus tidur bersama dengan tikus-tikus lainnya yang membuatnya selalu waspada setiap detik ketika dia mau memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Namun, pada akhirnya Bella tertidur tepat diatas meja dengan sedikit kedinginan akibat fentilasi atas terbuka. Hanya terdapat jeruji besi yang menghiasinya agar Bella tidak mendapatkan celah untuk melarikan diri.
...***Bersambung***...