Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Perubahan Bram


__ADS_3

Apa lagi Bi Atun dibawa masuk kerja ke rumah ini berkat kebaikan Meera, karena dia kasihan dengan nasibnya pada waktu itu.


Bi Neng kembali mengerjakan pekerjaannya di dapur, berbeda sama Bi Atun yang malah pergi ke taman belakang rumah.


Dia memilih untuk menemui suaminya untuk menceritakan semua keluh kesalnya hari ini, tentang sikap Meera yang menurutnya bagaikan seorang ratu.


...*...


...*...


Diperjalanan menuju Cafe Bram, Meera terlihat begitu fokus pada ponselnya untuk mengecek beberapa berita melalui sosial medianya.


Sampai tak terasa, kini Meera sudah sampai didepan Cafe milik Bram yang cukup besar. Ada banyak anak muda-mudi yang selalu berdatangan memasuki Cafe tersebut dengan membawa pasangannya.


Cafe The Reas, adalah Cafe yang Bram bangun sendiri sesuai dengan desain yang Bram inginkan. Cafe ini merupakan Cafe langganan anak muda-mudi yang biasa nongkrong sesuka hatinya, hanya sekedar mencari ketenangan dari kerasnya dunia.


Cafe ini juga salah satu Cafe favorit dikalangan anak muda-mudi, sehingga berhasil menduduki Cafe terbaik disepanjang kalangan anak remaja.


Meera turun dari mobil pribadinya yang sudah ada sejak bersama mendiang mantan suaminya. Karena mobil tersebut adalah mobil pemberian dari mendiang suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 1 tahun.


Mungkin mobilnya terlihat sederhana, tetapi banyak kenangan yang ada didalamnya. Dimana Meera masih mengenang betapa baiknya sosok mendiang mantan suaminya tersebut, sampai Meera tidak henti-hentinya selalu bersyukur telah mendapatkan pria sepertinya.


Namun, sayangnya setelah Meera sudah mulai belajar mencintainya semua malah berakhir, bersama dengan perginya mendiang suaminya diakibatkan karena penyakit jantungnya.


Meera berdiri disamping mobil putihnya sambil menatap ke arah Cafe milik Bram, yang semakin kesini semakin berkembang pesat.


"Aku senang, Bram. Saat ini Cafe yang kamu bangun susah payah dengan berbagai perjuangan jatuh bangun, kini telah menjadi sang juara dikalangan anak remaja."

__ADS_1


"Aku hanya bisa mendoakan semoga kelak kamu bisa menjadi orang yang sukses seperti Daddymu dan juga Kakakmu, aku berharap suatu saat nanti kamu bisa menemukan wanita yang pantas bersanding denganmu dengan segala kebaikan hatinya."


"Maafkan aku, jika kejadian itu sudah menyakitimu. Cuman aku tidak bisa menghindari takdirku sendiri, ya mungkin saja Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang jauh lebih baik dariku. Dan aku harap wanita itu, tidak akan menyakiti hatimu seperti aku yang sudah mengkhianati cinta kita."


Meera bergumam didalam hatinya sambil terus menatap kearah pintu Cafe dalam keadaan tersenyum. Kedua matanya hampir sama meneteskan air mata, tetapi secepat mungkin Meera segera menangkis semua perasaan yang seharusnya sudah tiada.


Meera perlahan mulai melangkahkan kedua kakinya, dimana keanggunan serta kecantikannya kini terpancar keluar tidak seperti biasanya.


"Selamat datang kembali, Nyonya Meera." sapa security sambil membungkukkan tubuhnya sekilas.


"Terima kasih, Pak. Ohya, apakah didalam ada Tuan Bram?" tanya Meera sambil mengukir senyuman.


Kedua security saling menatap satu sama lain, kemudian mereka menggelengkan kepalanya dan salah satu dari mereka langsung menjawabnya lebih dulu.


"Sejak dari pagi saya tidak melihat Tuan Bram datang ke Cafe ini, Nyonya. Bahkan sudah hampir 1 bulan Tuan Bram jarang sekali mengunjungi Cafe."


"Ya, benar Nyonya. Kemungkinan Tuan Bram memiliki kesibukan lainnya, sehingga dia jarang sekali datang ke Cafe ini tidak seperti biasanya."


"Siap, Nyonya. Hati-hati dijalan."


Meera mengangguk perlahan, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Cafe Bram.


Namun, saat Meera melangkahkan kakinya kembali ke mobil, pikirannya selalu terngiang-ngiang bertanya-tanya kemanakah perginya Bram. Apa lagi akhir-akhir ini semenjak kejadian itu Bram selalu jarang pulang kerumah, atau pergi ke Cafenya sendiri.


Kecemasan dan juga kekhawatiran terlihat jelas diwajah Meera, sehingga dia berjalan dalam keadaan melamun.


"Ma-maaf, Nyonya. Apa kita langsung pergi ke Perusahan Tuan Hans?"

__ADS_1


"Nyo-nyonya, ada apa? Apa Nyonya baik-baik saja?"


Serang supir langsung menanyakan keadaan Meera, ketika dia terkejut melihat ekspresi wajah majikannya. Sementara Meera menghentikan langkah kakinya, masih dalam keadaan melamun memikirkan Bram.


"Kamu dimana sih, Bram? Kenapa sikapmu berubah seperti ini, dimana Bram yang aku kenal? Dimana Bram yang selalu giat dalam mengurus pekerjaan dan juga bisa menghadapi semua masalah dengan kepala dingin."


"Namun, sekarang Bram yang aku kenal seperti sedang menghindari semua masalah. Ya, aku tahu aku salah sudah mengkhianati cinta kita, tetapi aku tidak mau semua sikap yang baik darimu perlahan mulai memudar cuman gara-gara aku."


"Jika benar kamu berubah menjadi pria seperti sebelumnya bahkan lebih parah dari itu, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri Bram!"


Meera masih terdiam melamun, dimana bola matanya mulai berkaca-kaca dan detak jantungnya pun semakin tidak karuan.


"Nyo-nyonya?"


"Nyonya baik-baik aja 'kan? Apa ada masalah dengan Cafe Tuan Bram?"


"Kenapa Nyonya diam aja seperti ini?"


"Nyonya Meera, Nyonya ...."


Supir tersebut terus mengajak berbicara Meera hingga beberapa kali dia memanggil namanya, tetapi Meera enggan menjawabnya.


Pikirannya saat ini hanya terfokus pada Bram, Meera merasa bahwa semua perubahan Bram itu merupakan kesalahan fatal untuknya.


Maka dari itu dia tidak pernah memaafkan dirinya sendiri, jika Meera tidak bisa mengembalikan semua sikap Bram yang sudah mulai berubah.


Kali ini sang supir kembali memanggil Meera dalam keadaan wajah penuh kekhawatianr. Untungnya Meera berhasil tersadar dan segera meminta maaf jika dia sudah mengabaikan ucapannya.

__ADS_1


Sang supir langsung merasa lega ketika majikannya dalam keadaan baik-baik saja, kemudian tanpa basa-basi lagi mereka kembali masuk kedalam mobilnya dan pergi menuju Perusahaan Hans.


...***Bersambung***...


__ADS_2