Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Tarik Ulur Permainan


__ADS_3

"Ssttt, arghh. Faster Baby, pleace!" ucap Bram yang sudah tidak kuat menahan sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya.


"No, Baby. Tidak semudah itu kamu melakukan pelepasan, nikmati saja apa yang akan aku lakukan. Aku jamin kamu akan merasakan sensasi yang berbeda dari apa yang kita lakukan biasanya," balas Alice yang terus bermain dengan pedang pusakan milik Bram, lalu sedikit menggodanya.


Seharusnya dalam waktu kurang lebih 15 sampai 20 menit Bram bisa melakukan pelepasan yang pertama kali nya.


Sayang semua gagal, akibat ulah Alice yang selalu mengacaukannya. Kini, Bram harus membuang waktunya hanya demi bisa merasakan pelepasan pertamanya yang membutuhkan waktu selama 45 menit.


Bram melepaskan semua lahar putihnya kedalam mulut Alice, membuat Alice hanya tersenyum saat melihat Bram mulai tak berdaya dibuatnya.


"Bagaimana, Sayang? Apakah kau sudah melemah, hem?" goda Alice ketika melihat Bram masih mencoba untuk menetralkan napas dan detak jantungnya.


Namun, saat mendengar tantangan itu seketika Bram menjadi kembali bersemangat. Kini, waktunya untuk Bram memanjakan wanita yang sudah membuatnya ketar-ketir merasakan sesuatu didalam tubuhnya.


Tanpa basa-basi lagi, Bram menarik Alice lalu mengukungnya kuat-kuat. Dimana mata mereka saling menatap satu sama lain, lalu perlahan Bram mulai mencium bibir Alice perlahan hingga menggigit kecil.


Alice membuka kecil mulutnya, memberikan jalan agar Bram bisa mengabsen semua yang ada didalam mulut Alice menggunakan lidahnya. Sampai tidak terasa kini lidah mereka sudah saling mengikat satu sama lain.


Cuman, semua tidak berlangsung lama akibat Bram sudah tidak sabar untuk memberikan tanda cantik di sekitar leher sampai dada milik Alice.


Beberapa tanda sudah tercetak dengan cantik dan juga indah, membuat Bram sendiri merasa senang. Dia tidak menyangka setelah lama dia pensi untuk tidak menjamah wanita.


Dan sekarang kembali melakukannya, tetapi berbeda. Entah perasaan apa yang dirasa, yang jelas saat ini Bram hanya ingin menikmati malam yang panjang ini bersama Alice tanpa adanya gangguan.


Perlahan tangan Bram mulai gencar menari kesana-kemari untuk menggenggam buah Cherry yang sangat pas didalam genggaman tangannya.


"Sstt, arghh. Sa-sayang ...." Suara indah milik Alice mulai keluar meskipun sangat lirih, akibat Alice bersuara sambil menggigit bibir bawahnya ketika tangan Bram berhasil lolos menggengam buah Cherry yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


Melihat bibir yang se*xy itu terus di gigit, berhasil meningkatkan hasrat yang ada didalam tubuh Bram. Sampai dia tidak bisa menahannya lalu melahapnya begitu ganas sambil tangannya terus menggenggam buah tersebut.


Tak butuh waktu lama, Alice memukul dada bidang Bram akibat napasnya sudah mulai habis. Setelah melepaskan bibirnya, Bram langsung membuka ringerie milik Alice tanpa persetujuan orangnya.


Menatap tubuh Alice yang semakin indah membuatnya tidak bisa berkutik. Ternyata Alice sudah menyiapkan semuanya, dimana dia hanya menggunakan ringerie tanpa memakai kaca mata dan juga segitiganya.


"Apa kamu sengaja melakukan ini, hem?" tanya Bram yang sudah berada diatas Alice sambil menatap matanya.


Tangan Alice terarah untuk mengelus wajah tegas dan juga tampan milik Bram secara perlahan. "Ya, memang aku sudah menyiapkannya supaya kamu, tidak perlu lagi membutuhkan waktu yang lama untuk membukanya."


"Sudah sedikit nakal rupanya kucingku ini, ya?" ucap Bram mencubit kecil hidung Alice hingga membuatnya terkekeh kecil.


Senyuman indah yang tidak pernah Alice berikan, kini mampu mengalihkan dunia Bram untuk selalu fokus pada senyumannya.


Disela tawaan kecil itu, Bram kembali melanjutkan aksinya yang sempat tertunda. Sementara Alice dia cuman bisa terus terkekeh geli ketika mulut Bram sudah melahap bulat-bulat buah Cherry yang masih fress tersebut.


"Hihi, Bram. Arghhh, pelan-pelan loh. Geli, tahu!" ujar Alice tubuhnya sedikit menggeliat kesana-kemari.


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah memanggil namaku ketika kita sedang berada didalam permainan. Paham!" tegas Bram, membuat Alice sadar apa yang sudah dia katakan.


"Ma-maaf, aku janji tidak akan melupakannya lagi. Sayang, please jangan marah dong. Masa kita lagi enak-enak marahan. Memangnya kamu ... Hempt!"


Belum selesai Alice berbicara, mulutnya sudah kembali di bungkam dengan mulut Bram. Kali ini ciuman mereka terkesan sangat panas, lebih panas dari ciuman yang sebelumnya.


Secara perlahan, kedua kaki Bram mulai membenarkan posisi kaki Alice sambil membuka lebar. Dimana Alice tidak menolak itu, malah dia membantu Bram agar lebih mudah memasuki pedang pusakanya.


Bram melepaskan ciumannya, sambil membenarkan anakan rambut Alice yang sedikit menutupi wajah cantiknya. "Sudah siap untuk permainan inti?" Bram tersenyum membuat Alice ikut tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Aku akan siap untuk menerima seranganmu, dan akan membuatmu tertidur pulas malam ini."

__ADS_1


"Baiklah, biarkan aku yang memulainya lebih dulu. Karena si Toyib udah tak sabar untuk segera celap-celup didalam goamu." ujar Bram hanya diangguki oleh Alice.


Perlahan Bram mulai mengusap milik Alice, supaya membuatnya sedikit lembab agar ketika pedangnya memasuki goa tersebut, tidak akan terasa menyakitkan bagi Alice.


Sementara Alice sangat mengerti ketika merasakan jari Bram mulai mengobrak-abrik goanya, suara-suara cantik mulai terdengar merdu di telinga Bram membuatnya sangat candu.


Tanpa sadar 2 jari Bram sudah mulai masuk sempurna kedalam goanya. Lalu, memaju mundurkan jarinya dengan cantik dan sedikit tempo sedang.


"Arrghhh, Sa-sayang. Faster, huhh hemp hahh ...." ucap Alice sesekali menggigit bibir bawahnya saat merasakan kenikmatan yang tidak bisa dia jelaskan.


Hampir beberapa menit, akhirnya Alice melakukan pelepasan pertama dimana Bram tidak menyangka bahwa Alice bisa secepat itu melakukan pelepasan pertamanya. Karena biasanya Alice cukup lama dalam menahan hasrat, tetapi kali berbeda.


Bram mulai mencabut tangannya menjilatnya sekilas bibir Alice, kemudian dia mulai merenggangkan kedua kaki Alice dan sedikit membersihkan sisa lahar putih menggunakan mulutnya.


Alice mulai tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri, ketika jiltan dan usapan lidah Bram semakin membuatnya merasa terbang melayang.


Tangan Alice tanpa sengaja menekan kepala Bram, sesekali menghampit menggunakan kakinya. Merasakan respon yang kuat dri tubuh Alice semakin membuat Bram bersemangat.


Di detik-detik ketika Alice ingin kembali melakukan pelepasan, dengan kejahilannya Bram menghentikan aksinya sam seperti Alice mempermainkan Bram.


Kesal bukan? Ya, bagimana tidak. Dia sudah berada di atas puncak, sementara Bram malah menarik ulur dia dengan berbagai cara.


"Aarrghh, Sayang! Kenapa kamu tega sama aku, sebentar lagi aku---"


"Sstt, tunggu aku. Okay? Kita keluar sama-sama, hem."


Bram mengelus pipi chubby milik Alice sambil tersenyum, matanya mulai menyorot penuh cinta.

__ADS_1


Tatapan yang Bram berikan berhasil menyadarkan Alice, jika kali ini mereka melakukannya bukan di dasari dengan napsu. Melainkan cinta, cinta yang mereka pendam sedemikian rupa. Hanya karena gengsi mereka belum bisa untuk mengungkapkannya.


...***Bersambung***...


__ADS_2