
Meera mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia melirik kebawah dimana benda pusakan milik suaminya sudah terlihat begitu gagah untuk memasuki rumahnya.
Ada rasa keraguan, kepanikan dan juga kekhawatiran diantara mereka. Cuman kembali lagi, mereka masih harus banyak belajar tentang dunia pernikahan, rumah tangga dan juga suami-istri.
"Apa kamu sudah siap untuk menerimaku sebagai suamimu seutuhnya, malam ini?" tanyanya.
Mata Hans menatap manik mata istrinya, sesekali tangannya yang satu mengusap pipi Meera begitu lembut.
Meera hanya bisa tersenyum sayu dan mengangguk kecil, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Karena disini posisi mereka sudah berada diambang gejolak hasrat yang mulai menaik.
"Terima kasih, Sayang." ucapnya.
Hans mencium kening istrinya secara perlahan, lalu menoleh kearah bawah dengan memijit pedang pusakanya sambil mengarahkan ke dalam goa milik istrinya.
Kedua kaki Hans menahan kedua kaki Meera agar bisa sedikit membuka miliknya untuk menuntut jalannya masuknya pedang tersebut.
Baru saja ujung pedang itu masuk, Meera sudah mulai mering"is layaknya orang kesakitan. Akan tetapi Meera berusaha untuk tetap tenang menahan semua itu, kemungkinan ini karena Meera belum terbiasa melakukannya kembali.
Jadi, Meera harus menyesuaikan keadaan tubuhnya saat menerima serangan suaminya yang tiba-tiba akan membuatnya terkejut.
"Ssshh, Ha-hans. Ke-kenapa rasanya perih?" ucapnya. Meera merasakan miliknya seperti terluka, padahal milik suaminya itu belum sepenuhnya masuk.
"Tahan ya, Sayang. Mungkin ini akan sedikit sakit karena kamu belum terbiasa, apa lagi sudah lama tidak melakukannya."
"Tenang aja, Sayang. Aku akan melakukannya dengan perlahan sampai kamu benar-benar nyaman, baru aku akan memulai semuanya."
Hans tersenyum menatap istrinya sambil terus berusaha menenangkannya, meski sesekali dia menekan miliknya lebih dalam memasuki area terlarang.
Satu hentakan, dua hentakan hingga yang ke-3. Meera sedikit menjerit sambil menggigit bibir bawahnya, bersamaan kedua tangannya yang mencekram kuat spray ranjang ketika Hans melepaskan tangannya.
Akibat gigitan Meera yang tidak di sengaja itu, membuat bibirnya sedikit terluka. Hans menjadi sedikit panik dengan ekspresi yang Meera berikan, entah mengapa ekspresi Meera seperti ini berhasil membuat Hans tidak tega.
__ADS_1
Akhirnya dia menghentikan aksinya, dan kembali menenangkan istrinya yang sudah mulai bercucuran air mata. Meera merasakan miliknya seakan-akan di robek oleh benda tumpul yang sangat nakal.
Melihat bibir Meera terluka, Hans segera memberikan ciuman kecil untuk mengusap semua noda merah dibibir istrinya sampai kini mereka mulai kembali terhanyut.
Hans pun kembali memulai aksinya sambil menyerahkan bibirnya untuk mengurangi rasa sakit yang Meera rasakan. Bahkan tangannya pun memeluk Hans begitu erat ketika sesuatu dibawah sana kembali menerobos goa miliknya agar masuk lebih dalam lagi.
"Sshh, pu-punyamu sempit banget, Sayang. A-apakah jika sudah lama tidak digunakan, rasanya sama seperti disegel?"
"Setahuku dari sebuah artikel yang aku baca, seseorang yang suka melakukannya terus tidak lagi melakukannya. Rasanya itu tidak sesakit atau sesempit ketika masih bersegel. Lantas kenapa yang aku rasakan malah berbanding terbaik?"
Wajah Hans terlihat begitu bingung, bercampur penasaraan. Sementara Meera yang tidak tahu harus seperti apa lagi, dia hanya bisa meneteskan air matanya merasakan miliknya begitu perih.
"Sshhh, a-aku tidak tahu Hans. Ra-rasanya benar-benar sakit dan perih, hiks ... A-aku pun bingung, kenapa bisa seperti ini. Padahal kita sudah melakukannya beberapa bulan lalu, walaupun itu tidak disengaja." jawabnya.
Air mata Meera terus menetes membuat Hans semakin tidak tega, akan tetapi dia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya. Kenapa bisa semua ini, seperti menjadi ajang teka-teki untuk mereka sendiri.
Meera saja yang pernah melakukannya menurut Hans, malah tidak tahu apapun. Sementara Hans, yang tidak mengetahui bagaimana rasanya bersentuhan saja sedikit mengerti. Mesi tidak banyak dan tidak semuanya, setidaknya Hans paham.
Kemungkinan bisa menjadi keset, cuman kembali lagi. Keset dan bersegel itu berbeda, seseorang yang sering berhubungan pun bisa kembali keset dengan berbagai cara.
Cuman, berbeda dengan bergesel. Dia memang sangat keset bahkan sempit, disertai oleh noda bercak merah yang akan mengalir akibat selaput da*rah telah sobek.
Butuh beberapa waktu dan juga usaha yang lebih lagi dari Hans, supaya miliknya bisa berhasil menerobos masuk ke dalam goa istrinya.
Tanpa basa-basi lagi, Hans yang dilanda keingin tahuannya dan juga rasa penasarannya membuat Hans langsung mendorong miliknya lebih dalam sesekali Meera mering*is di sela ciumannya.
Beberapa kali hentakan, dorongan bahkan tekanan Hans lakukan sampai kurang lebih membutuhkan waktu hampir 1 jam lamanya pedang pusakanya sudah berhasil masuk memenuhi goa Meera sampai terasa begitu mentok.
"Aarrghh, hiks ... Sa-sakit Hans, sakit!"
"Kamu jahat, kamu jahat hiks. Rasanya seperti kamu telah mencabik-cabik tubuhku, jujur aku tidak bisa lagi menahannya rasa sakit ini hiks ..."
__ADS_1
Keluhan Meera selalu ucapkan bahkan tanpa sengaja dia mencekram punggung suaminya sampai kuku lentiknya berhasil menggoreskan tanda panjang dan sedikit mengeluarkan noda merah.
Hans hanya bisa memejamkan matanya mendongak ke atas bersamaan runtuhnya air keringat yang mengucur deras dari pelipisnya, leher sampai ke tubuhnya.
"Aarghhh, i-ini rasanya benar-benar nikmat Sayang. Milikku begitu nyaman berada di dalam. Gigitan kecil itu seakan-akan meminjit milikku, sunggu!"
"Apa inikah yang dinamakan surga dunia? Apa ini yang dirasakan semua pengantin ketika melakukan malam pertama?"
"Aku tidak menyangka rasanya ini memang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata, melainkan hanya bisa dirasakan yang belum tentu bisa dirasakan sebagian pasangan."
Hans mengoceh seorang diri dalam keadaan yang masih terduduk diatas tubuh istrinya, belum lagi milik mereka seperti memberikan sensasi tersendiri ketika saling menempel.
Hampir 5 menit Hans mencoba berdiam diri samping memberikan jeda untuk Meera agar dia bisa mengendalikan semua emosinya.
Sudah cukup waktinya, kemudia Hans kembali mengukung istrinya, mengusap wajahnya dan memberikan sebuah ketenangan yang dia transfer menggunakan bibir.
Entah mengapa mereka sangat senang sekali dengan permainan bibir satu sama lain. Sampai akhirnya sekiranya Meera sudah mulai tenang. Hans melepasakan bibirnya akibat dia seperti merasakan ada sesuatu yang mengalir deras disela-sela miliknya.
"Da-darah?" gumam Hans.
Matanya melihat kearah bawah dengan mimik wajah yang sangat terkejut, matanya membola besar dan refleks langsung menatap wajah Meera yang sedikit sembab.
"Da-darah? A-apa ma-maksud ucapanmu itu Hans?" tanya Meera. Wajahnya langsung berubah drastis ketika noda merah itu membuat keduanya tercenga, mereka bingung.
Bagaimana bisa noda itu muncul, disaat Meera sudah pernah melakukannya bersama mantan suaminya dan juga Hans meski tanpa di sadari? Jawabannya hanya ada pada Meera.
"Setelah kita selesai melakukannya aku butuh penjelasan darimu!" ucapnya.
Hans menatap tajam ke arah Meera, membuatnya sedikit ketakutan. Apa yang dia bayangkan beberapa saat tadi ternyata benar-benar terjadi.
...***Bersambung***...
__ADS_1