
Untungnya Hans masih bisa pulang dalam keadaan selamat, ya walaupun beberapa kali mobilnya sempat oleng ke kanan dan ke kiri. Cuman berkat jalanan sepi, jadinya dia aman. Semua ini terjadi pukul 1 malam, yang mana Meera lagi susah untuk tidur.
Namun, ketika Meera kembali membawa segelas air lemon ke kamar Hans dan mencoba membangunkannya. Tiba-tiba saja Hans malah memeluk Meera cukup kencang, membuatnya terkejut. Apa lagi posisi Hans dalam keadaan tidak sadar, itu akan membuat posisi mereka sedikit berbahaya.
Bella yang melihat adegan itu hanya bisa tersenyum, menyaksikan Meera berusaha untuk menjauhkan tubuh Hans yang sangat bau alkohol.
Tanpa di sadari dari arah belakang kedua rekan Bella langsung menyergap dan memukul punggung Meera hingga dia terjatuh di dalam pelukan Hans yang saat ini sudah tidak sadarkan diri.
Bella tersenyum saat melihat keadaan Meera dan Hans yang cukup menyedihkan. Dia harus mengorbankan Hans untuk menjadikan kambing hitam, supaya Bram tidak lagi bisa mendekati Meera.
"Cepat buka semua pakaian pria itu tanpa terkecual! Kemudian tutup tubuhnya menggunakan selimut, paham!" ucap Bella, tegas.
"Terus gimana sama yang cewek? Kenapa enggak sekalian gua bukain aja?" sahut rekan nomor 2.
"Ya, tuh bener. Kalau sekalian lu jadi engga usah--"
"Gua bilang kalian urus yang cowok, biar yang cewek jadi urusan gua. Ngerti!" pekik Bella sangat kesal, ketika melihat wajah me*sum dari kedua rekannya itu.
"Huhh, yayaya. Ya udah lu tunggu di luar, biar gua urusin dulu nih cowok!" ucap rekannya yang nomor 1.
"Awas kalau lu macem-macem, gua habasin!" ancam Bella, menatap tajam kearah mereka.
Bella melakukan ini bukan berarti dia kasihan pada Meera, melainkan dia tidak mau meninggalkan jejak sedikitpun yang akan membuat namanya terseret-seret. Maka, dari itu Bella menjaga ketat aksi kedua rekannya sambil berjaga-jaga.
Apa lagi dalam posisi ini semua pembantu tinggal di paviliun belakang rumah, dan Bram posisi tidak pulang karena sedang sibuk bersama teman nongkrongnya.
Kurang lebih 10 menit, mereka telah selesai menuruti permintaan Bella. Barulah giliran Bella yang bertindak untuk mencopoti semua pakaian Meera dan membuatnya seperti sedang berpelukan dengan Hans.
"Upps, sorry Kak. Aku harus mengorbankan dirimu. Aku tidak rela bila Bram dan wanita itu harus bersatu, jadi aku berikan dia padamu. Semoga kalian bahagia!" ucap Bella tersenyum saat melihat mereka yang begitu cocok jika di persatukan.
__ADS_1
Setelah itu Bella keluar sambil menutup pintunya rapat-rapat, kemudian mereka semua keluar dari pintu samping. Tak lupa mereka berjaga-jaga agar tidak sampai terekam di CCTV lainny,a serta bisa lolos dari penjagaan security di gerbang utama.
Namun, ketika mau keluar dari perkarangan rumah kediaman Ivander. Tiba-tiba saja Bella melihat ada kedua pembantu rumah itu sedang duduk di dekat taman. Siapa lagi jika bukan Atun dan juga Jaka.
Dari situlah Bella tahu bahwa dia memiliki teman yang akan dijadikan tum*balnya atas kejadian yang dia rencanakan.
Intinya, apapun yang dia lakukan semua harus tertuju pada Atun dan juga Jaka. Ibaratkan Bella melakukan sesuatu, tetapi yang akan kena getahnya mereka berdua. Sebab, Bella akan berusaha bersikap sangat baik di depan semuanya layaknya seseorang yang sudah berdamai dengan masa lalunya.
...Flashback off...
Mendengar semua penjelasan dari mulut Bella, benar-benar membuat mereka berdua terlihat sangat emosi. Bagaimana tidak, kejadian besar itu mampu memecah 2 saudara hingga membuat mereka menjadi salah paham.
Sampai akhirnya terjadilah permusuhan antara Bram dan Hans. Jadi siapa yang tidak akan marah dan juga kecewa, kalau kejadian itu ternyata memiliki dalang yang sangat licik.
Rasanya Bram ingin sekali menonjok bibir manis Bella sampai membuat giginya hancur berantakan. Cuman, Hans terus menahan tangan Bram di bawah sana agar tidak membuat keributan.
"Tahan, Bram. Tahan, biarkan dia menyelesaikan kisahnya. Kalau kita kepancing, otomatis kita tidak bisa menemukan titik terang atas kema*tian Daddy!"
"Aku tahu, ini sangat berat untukmu. Cuman jangan lupa, semua ini juga tak lepas dari takdir yang mengizinkannya. Jika tidak, maka tidak akan mungkin semua itu terjadi."
"Lebih baik kita simak semua cerita yang dia sampaikan, jangan sampai pertemuan ini kembali terganggu. Aku mau semuanya tuntas di hari ini juga, supaya kita bisa meminta agar dia bisa di berikan hukuman yang sangat pantas dia terima."
Hans berusaha keras membisikan semua itu kepada Bram, bertujuan untuk meredam semua emosi adiknya yang hampir saja keluar.
Awalnya memang Bram tidak kuat lagi mendengar semua kisah yang sangat menyakitkan itu, akan tetapi dia juga masih butuh alasan dibalik kema*tian mendiang Daddynya.
"Sebegitu jahatnya kamu sama aku, Bell? Bukannya setelah kita putus, kamu baik-baik aja. Terus apa alasan kamu bisa memiliki dendam sama aku? Apa, Bell? Apa!"
"Jelasin sama aku, dimana letak kesalahanku? Sampai-sampai pada waktu itu, kamu tega menghancurkan semua impianku dengannya. Katakan!"
__ADS_1
Bram menegaskan kata-katanya dengan nada sedikit meninggi, sampai akhirnya salah satu polisi memberikan isyarat agar Bram bisa berbicara dengan penuh kelembutan dan tidak berteriak-teriak atau sampai membentak pelaku.
Sampai akhirnya wajah Bella yang tadinya cengar-cengir menceritakan semua kisah itu. Sekarang telah berubah menjadi sangat datar.
Dimana matanya mulai memerah penuh kebencian, ketika dia harus kembali mengingat kejadian Bram sedang bermesraan pada Meera di depan matanya sendiri.
"Kau mau tahu, kenapa aku bisa sekejam ini? Senekat ini? Sejahat ini? Setega ini, iya? Jawabannya cuman 1, yaitu karena aku sakit hati ketika melihatmu bermesraan dengan Ibu tirimu sendiri!"
"Jangan bilang aku tidak tahu, jika kamu memutuskan hubungan yang kedua kalinya sebab, pada saat itu kamu sedang menjalani hubungan bersama Ibu tirimu ya 'kan? Jawab!"
Degh!
Bram terkejut, sangat-sangat terkejut. Dari mana Bella bisa tahu tentang semua itu, sementara dia saja tidak pernah mengumbar hubungannya sama Meera di sosial media. Apa lagi Bram ingin hubungannya diketahui ketika di hari H mendekati pernikahannya.
Namun, sebelum Bram berhasil melamar Meera, kejadian besar itu malah terjadi hingga membuat Bram memiliki dendam pada Kakaknya sendiri dan juga Meera yang sudah mengingkari janjinya untuk bisa bersamanya.
"Da-dari mana ka-kamu ta-tahu tentang hubunganku dan Me-meera?" tanya Bram, masih dalam keadaan syok.
"Aku tahu semua itu tepat di depan mataku sendiri, ketika aku sedang pergi ke Mall tidak sengaja aku melihat kalian sedang bermesraan. Ditambah sempat beberapa kali aku melihat kalian berboncengan menggunakan motor dan makan di pinggir jalan layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta."
"Apa itu tidak cukup membuktikan, bahwa kamu memang sudah ada niatan untuk mengakhiri hubungan kita, cuman demi memilih Ibu tirimu itu!"
Disinilah Bram tidak bisa berkata apa-apa lagi, memang benar pada saat itu dia pernah mengakhiri hubungan karena ketahuan Bella melakukan hal senonok pada pria lain di BAR tepat di depan matanya.
Hanya saja mereka sudah berbaikan dan saling membenahi kesalahan masing-masing. Cuman makin lama sikap Bram semakin berubah setelah kema*tian Daddynya.
Ternyata benar adanya, kalau Bram memanfaatkan kedekatannya pada Meera yang waktu itu sedang diambang kesedihan, sehingga membuat mereka semakin dekat.
Disitulah Bram yang sudah tidak lagi memiliki perasaan, langsung memutuskan hubungannya dengan alasan tidak cocok. Padahal di balik itu semua karena Bram sudah mulai nyaman sama Meera.
__ADS_1
Ya, meskipun Bella tidak mengingkannya. Cuman mau bagaimana lagi, Bram tetap kekeh memutuskannya tanpa mau kembali lagi pada Bella.
...***Bersambung***...