
Disaat yang lain sedang tertawa bahagia, Hans langsung mengutarakan satu kalimat yang berhasil membungkam semuanya.
Hingga mereka pun menundukkan kepalanya lantaran mendengar suara Hans yang begitu nyaring memecahkan gendang telinganya sampai menusuk kedalam jantungnya.
"Masih mau tertawa atau semua kontrak saya batalkan? Kalian bisa kok mencari Perusahaan lain untuk penggantinya, tapi saya akan pastikan tidak ada satu Perusahaan pun yang ikut bergabung dengan kalian!" tegas Hans.
"Maaf Tuan." Jawab mereka serentak seraya menundukkan kepala dalam karena takut menatap tatapan mata Hans yang bagaikan elang.
...*...
...*...
Mobil mewah itu masuk ke dalam basement untuk parkir, Meera dan Bi Neng berencana ke Swalayan terlebih dahulu yang berada di lantai dasar.
Keduanya keluar dari mobil meninggalkan sang sopir seorang diri di sana, "Bi Neng, kita belanja dulu agar nanti bisa berjalan-jalan dengan tenang." Ucap Meera kepada Bi Neng.
"Siap, Nyonya!" Jawab Bi Neng semangat.
Meera dan Bi Neng berjalan ke arah deretan trolly yang di tempatkan di salah satu sudut swalayan. Berjalan masuk dengan mendorong trolly berukuran cukup besar.
"Kita belanja sabun dulu saja, Bi." Ucap Meera.
Bi Neng hanya mengangguk dan memhikuti Meera yang berjalan di depan. "Bi Neng ambil saja yang di perlukan untuk stock selama satu bulan." Kata Meera.
Bi Neng mengangguk dan mulai memasukkan barang-barang yang dia butuhkan untuk kebersihan, dari detergen, pewangi, pembersih kamar mandi, sikat WC, sabun cuci piring, spons, sabun mandi, shampo, dan bannyak lagi.
Begitu juga Meera, dia mengambil bath bomb dengan berbagai warna dan bentuk.
Bath bomb adalah ‘aksesori’ mandi. Bath bomb umumnya diletakkan di dalam air hangat yang akan digunakan untuk berendam.
Setelah diletakkan di air, bath bomb akan larut dan membuat air di bathtub jadi berwarna.
Bath bomb memiliki tekstur keras, wanginya harum, bentuknya bulat, dan punya beragam warna menarik.
Pakai bath bomb akan menciptakan kesan mandi yang menenangkan dan kulit terasa lembut.
Tidak heran jika bath bomb banyak digunakan oleh beberapa kalangan untuk sekadar me time atau yang ingin mandi dengan sensasi berbeda.
"Sudah selesai Bi?" Tanya Meera
__ADS_1
"Sudah, Nyah. Tinggal membeli bahan makanan dan bumbu saja." Jawab Bi Neng.
Keduanya kembali berjalan dengan mendorong trolly bersama, karena dari barang yang mereka beli sudah hampir setengah memenuhi trolly.
Kini Meera dan Bi Neng telah sampai di deretan aneka sayuran, segera Bi Neng mengambil sayur mayur kesukaan majikannya. Sedangkan Meera berjalan ke arah buah-buahan.
Meera mengambil beberapa plastik putih untuk tempat buah-buahan, dia memilih dengan cekatan dan memasukkannya ke dalam plastik. Banyak buah yang dia beli dari mangga, apel, jeruk, dan lainnya.
Tidak lupa Meera menimbang ke petugas Swalayan agar di kasir tinggal men scan barcode saja.
Keduanya kembali meneruskan perjalanan menuju daging dan ikan, tampak daging dan ikan segar memenuhi etalase.
Ada ikan di taruh di atas es batu dan di biarkan terbuka, Meera dan Bi Neng memesan beberapa daging sapi dan juga ikan segar seperti salmon.
"Bi, apa masih ada yang kurang?" Tanya Meera sebelum menuju ke kasir.
"Tidak, Nyah." Jawab Bi Neng jujur yang sebelumnya dia sudah mengambil bumbu dapur juga.
Meera dan Bi Neng segera mendorong trolly menuju kasir, cukup lama mereka berada di depan kasir mengingat belanjaan mereka sangat banyak.
"Total Rp 8.900.000." Ucap kasir.
Meera memberikan kartu atmnya, kasir menggesek kartu dan memasukkan nomor kartu. Di tuliskan nominal belanjaan.
Meera memasukkan pin dan menekan oke, dengan bantuan petugas Swalayan akhirnya mereka sudah sampai di mobil yang masih berada di basement.
Sang supir langsung memasukan semua belanjaan tersebut kedalam mobil, setelah selesai Meera dan Bi Neng kembali memasuki pintu utama.
Dimana mereka masuk kedalam Mall yang terasa sangat menyejukkan, hembusan angin yang berasa dari AC kini saling berlomba-lomba memberikan kenyaman bagi para pengunjung.
"Bi Neng, mau beli apa?" tanya Meera menatap Bi Neng yang saat ini ada disebelahnya ketika mereka menaiki eskalator
"Maksudnya, Nyah? Bibi tidak paham." ucap Bi Neng, bingung.
"Maksudku, Bibi lagi kepengen beli apa? Bilang sama saya, nanti kita beli. Sekali-kali membuat seneng Bibi kesayangan hehe ...." ucap Meera sambil merangkul, hingga memeluk Bi Neng.
"Nyo-nyonnya, ma-malu loh ini kan tempat umum. Lagi pula saya kan pembantu, jadi tidak sopan jika harus melakukan adegan ini." ucap Bi Neng, gugup ketika semua orang menatap kearahnya.
"Memang kenapa, hem? Bibi kan sudah saya anggap sebagai pengganti Ibu saya sendiri, jadi kenapa harus malu memeluk Ibunya sendiri?"
"Dan, untuk kalian semua. Ada apa, hem? Kenapa kalian menatap kami seperti itu? Apa kalian iri melihat kemesraan seorang majikan dan pembantu, bagaikan Ibu dan anak?"
__ADS_1
Meera terus merangkul Bi Neng, sambil menatap semua orang yang ada di eskalator. Banyak mata memandang kagum terhadap sosok Meera, dan banyak pula yang menatap remeh saat melihat kedekatan mereka yang tidak sepadan.
Sementara Bi Neng semakin merasa tidak enak ketika majikannya mendapatkan tatapan seperti itu, tetapi apa daya. Dia juga tidak bisa memungkiri semenjak Meera hadir, hubungan mereka memang bagaikan seorang Ibu dan anak.
Hanya saja kehadiran pembantu baru dirumah, membuat mereka harus berjaga jarak agar tidak terlalu menimbulkan kesan iri terhadap satu sama lain.
Setelah sampai dipuncak, Meera dan Bi Neng berjalan bersama-sama menuju salah satu toko yang sangat mengkilau.
"Bi, kita kesana yuk!" ajak Meera sambil tersenyum.
"Siap, Nyah. Bibi bagian tim penjaga saja hehe ...." ucap Bi Neng.
Meera kembali merangkul Bi Neng lantaran Meera tahu jika jalan Bi Neng tidak segesit dirinya yang masih muda. Jadi, Meera harus bisa menyeimbangi jalannya bukan malah Bi Neng yang menyeimbangi jalan anak muda.
...Toko Sinar Jaya Abadi...
Meera dan Bi Neng langsung masuk kedalam toko tersebut, dimana itu adalah toko perhiasan. Ya, meskipun tidak terlalu besar dan juga mewah tetapi barang yang diliat oleh mata Meera cukup menarik.
Bi Neng melihat Meera menatap satu persatu perhiasan tersebut, berhasil membuatnya bingung. Bi Neng sedikit mendekatikan tubuhnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Meera.
"Ma-maaf, Nyonya. Bu-bukannya kita sudah punya toko perhiasan langganan? Jadi, kenapa kita harus ke sini?"
"Nyonya kan bisa tinggal telepon nomor orang itu, terus dia datang ke rumah membawakan desain terbarunya. Kemudian Nyonya tinggal pilih mau desain seperti apa dan bagaimana, sama seperti pada waktu mendiang Tuan memberikan perhiasan untuk Nyonya."
Bi Neng menjelaskan kepada Meera seperti ingin mengingatkan ketika Meera lupa, jika keluarga besar Ivander memiliki langganan toko perhiasan tersendiri.
Meera mendengar Bi Neng mengatakan hal itu berhasil membuatnya tertawa kecil. Perlahan Meera memegang tangan Bi Neng, hingga dirinya reflek terkejut.
Meera mencoba untuk menasihati Bi Neng dengan secara penuturan kata yang sangat lembut, bahkansesa banyak pengunjung dan juga pelayan toko menatap kagum kearah Meera.
Satu sikap yang jarang sekali ada diantara majikan dan juga pembantunya, yaitu kasih sayang.
Di sini Meera seperti memberikan sebuah tanda kasih kasih kepada pembantu kesayangannya dengan berupa sepaket emas intan yang terlihat sangat cantik.
Sepaket emas white gold yang sangat cantik, menjadi pusat perhatian Meera. Dia memilihkan corak gradasi perpaduan warna yang cukup langka.
Bentuk, desain dan juga kecantikannya seperti melambangkan keistimewaan tersendiri. Kecantikan dari perhiasan tersebut seperti mencerminkan hati Bi Neng yang di penuhi oleh kebaikan dan juga kesabaran untuk selalu mendukung Meera kapan pun tanpa rasa lelah.
__ADS_1
Bi Neng yang mendapatkan kejutan tersebut begitu terharu, dia cuman bisa menangis menumpahkan semua rasa bahagianya setelah mendapatkan sosok pengganti majikan yang sangat baik. Sama sepeti kedua mendiang majikannya yang sudah tiada, yaitu kedua orang tua dari Hans dan juga Bram.
...***Bersambung***...