Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Tawaran Menarik


__ADS_3

"Gimana enak? Makannya kalau dibilangin jangan ngeyel, makanan di pinggir jalan pun tidak kalah enaknya sama di Restoran. Meskipun tidak banyak yang enak, tetapi sebagian pedagang memiliki kualitas rasa yang standar seperti makanan yang ada di ruangan tertutup."


Perkataan Meera langsung dibantah oleh Hans, dengan segala alasan clasiknya yang memang masuk akal. Jika dia itu hanya sekedar lapar, bukan menikmati rasanya.


Namun, Meera tidak semudah itu percaya dengan kata-kata suaminya. Ya, walaupun dia harus berusaha percaya, tetapi hatinya tidak sama sekali.


Pokoknya jika Hans mengatakan dia hanya sekedar lapar, jadi perutnya menerima makanan seperti itu. Berarti dia memang menyukai rasa masakannya.


Berbeda jika Hans memang tidak menyukainya, seenak apapun dia tetap akan memilih bungkam menutup rapat-rapat mulutnya. Meski banyak yang mengoda pun dia tidak akan tertarik dengan rayuan layaknya Meera.


Setelah selesai, Meera segera memanggil Abangnya untuk menanyakan total harga makanan yang dia pesankan. "Abang, ini semuanya jadi berapa?"


"Sebentar ya, Mbak. Saya cek harganya dulu, maklum saya sambil buka kalkulator takut keliru hehe ...."


Abangnya membuka bil yang dia tulis tadi, kemudian mencocokan harganya dan mentotalkan seluruhnya.


"Pecel lele 17.000 x 2, 34.000. Kemudian pecel ayam 20.000 x 2, 40.000. Terus nasinya 5000 x 3, 15.000. Sayur cah kangkung 15.000. Ati ampela goreng 12.000, es teh manis 5000 x 4, 20.000 dan cumi crispy 25.000. Jadi total semuanya, Rp.161.000."


Baru saja Meera mau mengeluarkan dompetnya dari dalam tas selempang, tiba-tiba Hans langsung memberikan uang sebesar Rp. 300.000 dan memberikannya pada Abangnya tanpa harus dikembalikan.


Setelah itu Hans langsung menarik lengan istrinya untuk mengajaknya segera pulang, tak lupa disela tarikan tangan suaminya Meera pun berterima kasih oleh Abangnya karena sudah melayaninya. Sebegitu juga sebaliknya.


Entah mengapa Hans terlihat begitu kesal, padahal mulut serta perutnya sudah diisi oleh makanan yang begitu banyak.


Namun, tidak disangaja dan terduga. Ternyata Hans seperti ini akibat dia sangat cemburu sama penjual pecel lele.


Ya memang sih wajahnya tidak setampan Hans, tetapi tetap saja kalau tiba-tiba se*tan lewat lalu mengaminkan pikiran jelek didalam otaknya bisa-bisa Meera akan benar-benar serius

__ADS_1


berbelok darinya.


...*...


...*...


1 Minggu telah berlalu, saat ini Bram semakin bingung lantaran dia belum bisa mengumpulkan uang yang diperlukan untuk membebaskan Alice.


Rasanya kepala Bram benar-benar ingin pecah. Harusnya Cafenya sudah terjual dengan mudah apa lagi ini Cafe ini cukup terkenal, letaknya trategis dan banyak peminatnya.


Namun, tetap aja penjualan ya penjualan. Prosesnya tidak ada yang instan seperti itu. Banyak proses yang harus dilewati, sampai akhirnya ada sebuah nomor yang tidak dikenal menghubungi Bram.


Orang tersebut adalah salah satu peminat yang ingin membeli restoran milik Bram dengan harga yang tidak sesuai sama apa yang Bram ajukan.


Awalnya Bram ragu mau melepaskannya, cuman karena kepalang kepepet akhirnya dia melepaskannya dengan harga yang tidak sesuai.


Dan itu terbukti, 1 jam dari orang itu menelpon. Tiba-tiba ada penelepon misterius yang menawarkan harga cukup menarik 2 kali lipat dari harga yang Bram berikan yaitu 30 M.


Harga yang sebenarnya adalah 15 M, dan sisanya akan Bram tambahkan dari aset berharganya yang lain. Cuman karena orang tersebut sangat menyukai Cafe milik Bram, akhirnya dia menawarkan harga 2 kali lipat supaya tidak ada lagi penawar lainnya yang ingin mengambilnya.


Betapa senengnya Bram ketika berita itu masuk ke dalam gendang telinganya, dia tidak menyangka bahwa seharusnya dia menambahkan sisa penjualan Resto agar genap 20 M untuk menebus Alice. Kini malah dia mendapatkan kelebihan dari penjualan tersebut.


Tidak menyangka bukan? Itulah yang dinamakan keajaiban, selagi hati berniat tulus untuk menolong seseorang pasti jalan yang terasa sulitpun akan mudah ditempuh dengan bantuan Sang Pencipta.


Tanpa basa-basi lagi Hans segera menerima penawaran menarik itu, kemudian akan kembali mengabarinya. Semua itu agara mereka bisa segera menentukan tanggal baik guna mengurus semuanya bersama pengacara sebagai bukti hitam putih diatas kertas.


Ponselpun tertutup, dan Bram benar-benar merasa bahagia. Akhirnya sebentar lagi dia akan membebaskan Alice dari terkaman buaya.

__ADS_1


Hanya saja ada satu hal yang Bram membingungkan, bahwasanya kalau nanti Alice sudah bebas dari tangan Deo. Bagaimana caranya Bram menghidupi Alice dan juga Neneknya, sedangkan dia saja tidak mempunya pekerjaan akibat Cafenya sebentar lagi akan berpindah tangan.


"Mungkin, setelah Cafe ini terjual. Aku harus ikut serta dalam mengurus Perusahaan Daddy, karena hanya itulah kunci satu-satunya aku bisa berpenghasilan demi menghidupi Alice dan biaya pengobatan Nenek."


"Ingat, Bram! Lu itu pernah berjanji setelah Alice melepaskan pekerjaannya, lu yang akan bantu semua keperluan dia dan Neneknya. Jadi jangan sampai lu ngecewai, kasihan dia. Hidupnya pasti sudah banyak dipenuhi dengan tekanan yang sangat berat."


"Arrghh, dahlah. Yang penting saat ini gua bisa bebasin Alice, dari situ baru gua pikirin gimana caranya gua bisa masuk ke dalam Perusahaan Daddy dengan alasan yang kuat. Apa lagi Hans tipe orang yang sangat detail, jadi akan sulit membuatnya percaya kalau gua juga bisa seperti dia!"


"Ckk, bodo amatlah. Mau dia percaya atau enggak itu haknya, yang penting di Perusahaan Daddy masih ada bagian gua. Tanpa mengemis belas kasih pun, gua bisa masuk ke Perusahaan itu kok. Jadi enggak usah khawatir Bram, semangat!"


Bram berbicara dengan dirinya sendiri, lalu kembali melangkah mendekati kursi kebesarannya di ruangan khusus yang ada di Resto miliknya.


Tidak nyangka, kalau sebentar lagi Bram sudah enggak bisa lgi menduduki singgasananya sendiri. Semua akan berubah setelah perjanjian itu selesai dan Bram bisa mengambil haknya untuk langsung membebaskan Alice.


Berbeda halnya dengan Alice, dia sudah pasrah dengan hidupnya sendiri. Meski dia masih sempat berharap pada Bram, agar dia bisa membebaskannya dengan cara apapun asalkan tidak akan memberatkannya.


Perjanjian Bram dan Deo sama sekali tidak diketahui oleh Alice, semua itu berjalan dengan keadaan tertutup. Bram takut jika Alice tahu!, pasti dia akan marah besar serta akan mendelikkan matanya menoleh sambil menatap tajam kearah Bram.


Dari situ Bram tidak mau Alice mengetahui hal konyol yang akan dia lakukan demi menyelamatkan hidupnya. Disaat yang lagi bahagia, Bram segera menghubungi Alice untuk mengajaknya makan siang di ke Restonya.


Alice yang mendengar nada bicara Bram begitu bahagia dan antusias, wajahnya sedikit berubah bingung. Akan tetapi, hatinya merasa sangat bahagia setelah mendengar suara Bram sudah kembali bisa seceria itu.


Akhirnya Alice mengiyakan sambil menunggu share lokasi yang Bram berikan. Setelah mendapatkannya Alice segera berpamitan kepada sang Nenek untuk menemui belahaan hatinya.


Ya walaupun hanya angan-angan Alice, tetapi tak apa. Setidaknya Alice bisa merasakan cinta yang selama ini telah mati. It's okay jika Alice kembali sakit hati akibat cintanya bertebuk sebelah tangan, itu tidak ada masalah yang penting dia bisa selalu ada disamping Bram selamanya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2