Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Fashback 4 Tahun Lalu


__ADS_3

Apakah benar dia telah membunuh anak kecil? Atau ini hanya kesalah pahaman diantara Atun, Jaka dan juga Hans. Sehingga menimbulkan dendam yang salah sasaran.


Atun cuman bisa terus menangis ketika dia kembali mengingat kejadian, dimana dia harus melihat anaknya pergi untuk selamanya.


Sementara Jaka pun ikut meneteskan air matanya memeluk istrinya, karena selama 4 tahun ini Jaka menyaksikan bagaimana kerasnya Atun untuk melawan emosi didalam dirinya agar tidak menangisi kepergian anaknya.


Akan tetapi, semua ini runtuh ketika Atun kembali mengutarakan isi hatinya kepada Hans, yang di tuduh sebagai pembunuh anaknya.


"Tunggu!"


Bram menoleh menatap Hans, yang pada akhirnya membuka suara akibat terdiam untuk waktu yang cukup lama.


Hans menghapus air matanya, lalu menatap Bram sekilas dan matanya langsung tertuju pada kedua orang tua yang merasa kehilangan anak mereka akibat ulahnya.


"Sekarang aku sudah ingat semua kejadian itu. Dimana bukan aku pembunuhnya, melainkan ada seseorang yang tidak bertanggung jawab dan malah melarikan diri untuk menghindari kecelakaan itu. Jadi, sekali lagi aku tegaskan kalau bukan aku pelakunya, tetapi akulah orang yang telah menolong anak itu sampai ke rumah sakit!"


Hans mencoba menjelaskan semua kejadian sesuai versinya, ketika dia berada berada di tempat kejadian dan menyaksikan anak Atun serta Jaka sangat membutuhkan pertolongan.


"Alaahh, basi! Mana ada sih, di dunia yang sudah maju seperti ini maling masih mau mengakui kesalahannya? Yang ada, penjara bisa-bisa penuh dangan orang jahat seperti lu!" tegas Jaka, membela kebenaran yang mereka lihat.


"4 tahun anak kami meninggalkan kami, maka 4 tahun pula kami harus menderita menahan semua rasa sakit di dalam dada kami, ketika kami kembali mengingat betapa lucunya anak kami yang baru saja bisa mengenal huruf, angka dan sebagainya."


"Namun, pada akhirnya dia harus meninggal dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Sakit, hati kami, sakit! Kalian enak bisa hidup mewah, tanpa rasa bersalah. Sedangkan kami hidup susah penuh penderitaan!"


"Jadi, tolong jangan memutar balikan fakta dimana kau yang telah menghabisi nyawa anak kami dengan sangat kejam. Maka dari itu, kau juga harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Dan aku berjanji akan hal itu, kalau suatu saat nanti. Anakmu akan meninggal di tanganku!"


Duaarr!


Bagaikan kilatan petir yang menyambar seisi ruangan, berhasil membuat Hans merasakan sakit yang teramat menyakitkan.


Dadanya begitu sesak ketika, apa yang dia utarakan itu memang fakta yang sebenarnya. Cuman, Atun dan Jaka menyangkal semuanya jika Hans adalah pelaku sebenarnya dari kecelakaan yang menimpa anak mereka.

__ADS_1


Hanya saja, penjelasan Hans belum bisa mereka terima. Sampai pada akhirnya, Hans mencoba untuk kembali menceritakan kronologi tentang kejadian tersebut.


Awalnya Atun tidak mau mendengarkan penjelasan dari Hans, dia menutup rapat-rapat kedua telinganya. Hans tidak putus asa, dia terus menceritakan meskipun Atun dan Jaka tidak mau mendengarkannya, tetapi masih ada Bram yang dari tadi menyimak sang Kakak.


Sehingga, Atun dan Jaka mulai mendengarkan kronologi yang saat ini berusaha Hans jelaskan sesuai dengan fakta dan kenyataan yang dia lihat pada saat itu.


...Flashback 4 tahun lalu...


Pada saat itu Hans, baru saja selesai melakukan meeting di salah satu cabang kecil di perusahaan Daddynya. Sehingga dia harus melewati jalan yang sangat padat oleh penduduk.


Kecepatan kendaraan yang dilajukan oleh Hans hanya sekitar 40 KM/jam, akibat dia masih belum mencapai jalan raya yang besar.


Namun, dari kejauhan Hans melihat di sebarang jalan ada seorang anak kecil berusia 7 tahun dengan wajah cantiknya tersenyum berjalan sambil membawa boneka kesayangannya.


"Astaga, anak itu cantik banget. Rambutnya panjang, lurus hitam dan juga manis. Semoga nanti aku bisa memiliki anak secantik itu." ucap Hans di dalam mobil sambil tersenyum.


"Hihi, mumpung Bibi lagi bobo. Rara ajak jalan-jalan Popi dulu akhh, pasti Popi senang deh. Ya 'kan? Popi pasti senang dong diajak jalan-jalan sama Mamah Rara? Hem, sayang Popi. Muuachh ...."


Mereka melakukan semua itu demi pengobatan sang anak, serta ingin membahagiakan Rara dengan mencukupi semua kebutuhannya.


Disaat Atun sama Jaka sibuk kerja, Rara di titipkan oleh adik dari Atun yang baru saja lulus sekolah dan masih menjadi pengangguran. Akan tetapi, adik Atun itu lupa untuk mengunci rumah sampai akhirnya Rara lolos dari pengawasannya.


Disaat Rara sedang bermain sama bonekanya dan tertawa, tiba-tiba saja dia terjatuh akibat tersandung batu di hadapannya. Sampai membuat boneka di dalam pelukannya terlempar ke arah jalan.


"Awwsshh, hiks ... Ibu, Ayah. Sa-sakit hiks ...." Raka berjongkok melihat lututnya berda*rah sambil di usap untuk membersikannya dari tanah.


Melihat Rara terjatuh, Hans segera menghentikan laju mobilnya dan menarik rem agar mobil tidak bisa kemana-mana. Setelah itu dia menoleh menatap Rara yang sudah berdiri dalam keadaan menangis.


"Po-popi? Dimana kamu?" ucap Rara mencari sekitarnya, sampai matanya tertuju pada jalan raya. Dimana Popi tertidur dalam keadaan posisi tengkurep ditengah jalan.


"Popi, Mamah Rara datang Sayang. Popi tunggu disitu ya, jangan kemana-mana. Mamah jemput Popi!"

__ADS_1


Rara berbicara sambil menangis dan tersenyum, lalu dia perlahan melangkahkan kakinya yang terasa sakit. Dalam kondisi pincang Rara masih berjalan meskipun meringis kesakitan.


Hans melihat Rara kesulitan berjalan dan ingin menyebrang jalan, segera mungkin Hans keluar dari mobilnya lalu menolong Rara. Akan tetapi, ituntidak terjadi.


Saat ada mobil sedan dengan kecepatan sangat cepat melaju kencang hingga membuat Rara terpental ketika dia sudah berhasil membawa bonekanya di dalam pelukannya.


Hans yang juga hampir tersambar mobil itu langsung tersontak kaget dan mundur kebelakang, dimana matanya langsung mencari dan memastikan jika Rara baik-baik saja.


Namun, apa boleh buat. Hans melihat tubuh mungil itu sudah tergeletak berlumuran cairan berwarna merah dimana bonekanya pun terkena cairan tersebut.


Sementara mobil sedan itu kabur melarikan diri, meninggalkan korban yang sudah tergeletak tanpa berniat untuk menolongnya.


"Astaga, Dek!" pekik Hans langsung berlari untuk menyelamatkan Rara. Sampai akhirnya ada seorang pria yang mendekati Hans.


"Ya Tuhan, kenapa orang itu malah melarikan diri Tuan. Apakah dia tidak memiliki rasa belas kasian pada anak ini?"


Ucap pria itu yang tidak lain adalah pedagang yang mangkal tidak jauh dari tempat kejadian. Ternyata, dia juga menyaksikan betapa kejamnya orang yang menabrak Rara.


Pada akhirnya tubuh mungil itu melayang terbang diatas udara, kembali terjatuh diaspal sejauh kurang lebih 5 meter dari tempat dia tertabrak.


"Tolong ikut saya untuk mengantarkan anak ini ke rumah sakit. Dan Bapak bisa menjadi saksi jika saya disini sebagai penolong bukan pelaku."


"Saya juga tidak akan tinggal diam dan akan membawa semua ini ke jalur hukum, agar orang itu bisa segera di urus!"


Hans berbicara sambil menggendong Rara ke dalam pelukannya, tak terasa cairan merah itu sudah mengenai jas Hans yang berwarna navy.


"Baik, Tuan. Saya akan ikut mengantarkannya, semoga saja pelaku tersebut bisa segera di tangkap dan diberikan hukuman yang sangat pantas agar dia mendapatkan efek jera didalam hidupnya!" jawab pria itu, langsung masuk ke dalam mobil Hans.


Dimana pria tersebut memangku kepala Rara di kursi belakang, sementara Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi dengan memasang lampu darurat serta membunyikan klakson sepanjang jalan.


Kemudian di bantu oleh pria yang ada di belakang, sambil berteriak dari arah jendela untuk memberitahukan jika di dalam mobil Hans terdapat korban tabrak lari yang harus segera di bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2