
Disinilah Bram tidak bisa berkata apa-apa lagi, memang benar pada saat itu dia pernah mengakhiri hubungan karena ketahuan Bella melakukan hal senonok pada pria lain di BAR tepat di depan matanya.
Hanya saja mereka sudah berbaikan dan saling membenahi kesalahan masing-masing. Cuman makin lama sikap Bram semakin berubah setelah kema*tian Daddynya.
Ternyata benar adanya, kalau Bram memanfaatkan kedekatannya pada Meera yang waktu itu sedang diambang kesedihan, sehingga membuat mereka semakin dekat.
Disitulah Bram yang sudah tidak lagi memiliki perasaan, langsung memutuskan hubungannya dengan alasan tidak cocok. Padahal di balik itu semua karena Bram sudah mulai nyaman sama Meera.
Ya, meskipun Bella tidak mengingkannya. Cuman mau bagaimana lagi, Bram tetap kekeh memutuskannya tanpa mau kembali lagi pada Bella.
"Kenapa diam? Mau tetap salahin gua terus, iya? Silakan, salahin gua. Salahin!"
"Tapi, ingat satu pesan gua! Sebelum lu nyalahin orang, lebih baik lu ngaca dulu! Punya kaca 'kan? Nah, ya. Lu ngaca dulu. Lu lihat, apakah lu udah bener? Apakah cara lu mutusin gua itu enggak bikin gua sakit hati, hahh?"
"Selama ini gua udah berusaha berubah, gua ikutin semuanya biar gua bisa jadi wanita yang terbaik hanya demi lu. Cuman apa balasan gua? Kalau lu suka sama orang lain, ngomong jujur sama gua. Jangan tiba-tiba lu mutusin gua cuman karena lu bosen!"
"Pada kenyatanya apa? Lu malah naksir cewek lain dibelakang gua, 'kan? Eetss, tapi yang lebih parahnya lagi, cewek itu merupakan Ibu tiri lu sendiri hahah ... Dasar baji*ngan!"
Bella berteriak sekeras mungkin di selimuti oleh tawa serta tangisan yang sangat perih di dalam dadanya. Hans yang melihat Bella cuman bisa terdiam, lantaran dia sudah mengerti Ternyata, penyebab dibalik dendam yang Bella miliki, tidak luput dari kesalahan Bram yang tidak bisa tegas pada perasaannya sendiri.
Hans pun langsung menatap Bram, dia tidak menyangka jika dendam yang ada di dalam hati Bella, masih campur tangan adiknya sendiri yang tidak jantan dalam menghadapi sebuah masalah.
__ADS_1
"Lu yang lebih baji*ngan! Selama ini gua setia sama lu, tapi apa balasan buat gua? Kepengkhianatan! Di depan mata kepala gua sendiri, gua lihat lu asyik berci*uman dengan pria lain!"
"Yang lebih bikin gua sakit, saat gua pergokin lu sama tuh cowok, terus tanpa bersalah lu bilang kalau lu lagi mabuk, dan itu cuman teman? Haha, cihh! Tidak ada yang namanya teman, diantara wanita dan pria. Paham lu!"
Bram tersenyum miring, menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang masih diselimuti oleh sakit hati kepada Bella.
"Alaaah, alesan! Asal lu tahu, kejadian itu jauh dari sebelum Bokap lu meninggal. Jadi lu mau alesan apa lagi, bahkan saat kita putus yang pertama kali itu. Hubungan kita kembali lagi, kita mesra-mesraan lagi. Namun setelah gua main ke rumah lu, gua ketemu bokap lu terus bokap lu enggak setuju. Dari situlah lu mulai sedikit demi sedikit jauhin gua, meskipun lu masih tetap bersikap baik sama gua."
"Terus, ketika Bokap lu ma*ti karena kecelakaan mobil. Disitulah lu manfaatin semua yang ada demi mendapatkan Ibu tiri lu, ya 'kan? Ngaku aja deh lu, enggak usah munafik jadi orang!"
"Gua tahu lu tuh bang*sat! Gua capek-capek bu*nuh Bapak lu biar hubungan kita langgeng, lu malah ngedeketin Ibu tiri lu sendiri. 'Kan anj*ing emang, kalau gitu mau ngapain gua bu*nuh Bokap lu, endingnya malah bikin gua tambah menderita!"
"Tahu gini mah, gua bu*nuh aja dua-duanya sekalian tuh sama bini lu yang sekarang. Biar lu ngerasain apa yang gua rasain berkali-kali lipat. Gua kehilang lu, dan lu akan kehilangan semua yang lu punya saat ini haha ...."
Bram yang mulai terbawa emosi kembali melontarkan kata-kata yang cukup menyakitkan hati Bella, begitu juga Bella yang membalas semua perkataan Bram lebih pedas lagi.
Sampai akhirnya percecokan mulai terjadi, dan membuat Hans langsung menggebrak mejanya dengan keras. Hingga Bram dan Bella langsung berhenti berbicara dengan tatapan kedua mata mereka yang menyorot penuh kebencian.
Kedua polisi yang berjaga di sana masih memantau dan mencoba untuk menasihati mereka, agar tidak membuat keributan ketika mereka sedang melakukan pertemuan.
"Stop, menyalahkan Bella, Bram!" tegas Hans menatap tajam.
__ADS_1
"Kenapa Kakak membela wanita licik seperti dia! Kenapa, Kak. Kenapa!" sahut Bram sambil menunjuk kesal ke arah Bella.
"Semua ini tidak sepenuhnya kesalahan Bella, karena disini juga ada campur tangan dirimu. Sebab tidak ada asap, bila tidak ada api!"
"Kamu itu laki-laki, harusnya kamu tegas dengan perasanmu sendiri. Bila pada saat itu kamu sudah mencintai satu wanita, maka seharusnya kamu bisa terus bersamanya. Bukan malah memberikan kenyaman pada wanita lain!"
"Ingat, seorang pria itu yang di pegang janjinya. Bila kamu bersikap seperti ini, sama saja kamu tidak bisa menghargai perasaan seorang wanita. Harusnya, kalau kamu sudah tidak memiliki perasaan pada Bella. Selesaikan masalah kalian baik-baik, bila harus hubungan harus kandas maka putuslah dengan cara baik. Bukan, malah kamu putus dengan alasan tidak masuk akal. Pada akhirnya, saat Bella tahu itu yang memacu dendam di dalam hatinya!"
"Jadi, kesimpulannya. Mau Bella ataupun dirimu, dua-duanya tetap salah. Satunya memicu penyakit, yang satunya tidak bisa menerima kenyataan. Akhirnya, orang tak bersalah menjadi korban atas kesalahan kalian. Bahkan, Daddyku sendiri yang menjadi korban atas keegoisan kalian!"
"Aku minta sama kamu, Bell, Tolong jelaskan secara detail bagaimana caranya kamu bisa membuat Daddy mengalami kecelakaan seperti itu. Dan kenapa dokter malah mengatakan penyebab terbesar kecelakaan itu adalah penyakit jantung!"
Hans berbicara panjang kali lebar dengan penuh ketegasan. Bram pun yang tadinya hanya terdiam mendengarkan perkataan Hans, kemudian dia kembali mengingat perkataan Bella yang tanpa di sengaja dia telah menceritakan sendiri. Bagaimana Daddy mereka bisa mengalami kecelakaan secara mendadak.
Ternyata benar dugaan mereka, jika dibalik kema*tian Daddynya ada campur tangan seseorang yang sangat menginginkan kepergiannya.
"Kalian mau tahu, bagaimana caranya Daddy kalian bisa meninggal?" ucap Bella, dengan tatapan remeh.
Bram langsung menjawab semua itu penuh antusias, dia benar-benar penasaran sama apa yang sudah terjadi dengan mendiang Daddynya.
Tak menunggu lama, Bella pun menceritakan semua yang terjadi dan bagaimana asal mula semua itu terjadi.
__ADS_1
...***Bersambung***...