
"Lebih baik, Tuan-Tuan pulang saja dulu. Besok bisa kembali ke sini, jika Tuan Bram sudah mulai tenang. Keadaan seperti ini tidak baik bila di lanjutkan, yang ada malah akan membuat kericuhan. Dan kami tidak mau sampai itu terjadi. Tuan paham 'kan apa yang kami maksud?"
Salah satu polisi berbicara sambil memegang tangan Bram, supaya tidak terjadi hal buruk yang akan membuat suasana menjadi tegang.
"Baiklah, Pak. Maaf, jika adik saya sudah membuat kegaduhan di sini. Besok kamu akan kembali, permisi!"
"Ayo, Bram. Cepat kita balik!"
Hans langsung menarik keras lengan Bram, sedikit menyeretnya keluar dari kantor polisi. Sementara Bella, dia hanya bisa tertawa sepanjang dia berjalan menuju selnya.
...*...
...*...
Di dalam mobil, Hans langsung mengambil alih setir mobil karena keadaan Bram masih di dalam gejolak emosi yang cukup tinggi.
"Aaarrgghh ... Kakak kenapa tarik-tarik aku ke sini sih, urusanku sama dia belum selesai!" pekik Bram, kesal.
"Kau bisa diam enggak sih, Bram! Berisik tahu, tidak!"
"Apa kau tidak lihat bagaimana reaksi Bella ketika ketemu kita? Kau lupa apa yang dikatakan istriku pada kita, sebelum berangkat ke sini?"
"Coba ingat-ingat lagi, gimana respon Bella tadi? Dia itu sama sekali tidak ada sedikitpun penyesalan di dalam hatinya atas apa yang suda di perbuat. Sorotan matanya juga, benar-benar sudah di kuasai oleh dendam yang sangat mendalam. Kalau kita menghadapi dia dengan caramu yang seperti tadi, bisa aku pastikan bahwa apa yang dikatakan istriku akan menjadi kenyataan!"
"Bella akan terus tertawa di dalam sel, sementara antek-anteknya akan meneruskan dendamnya yang tidak bisa terbalaskan. Apa lagi dia anak dari orang kaya, apapun bisa terjadi jika kau sampai melakukan hal kecil yang membuat dia semakin di kuasai oleh rasa dendam yang ada di dalam hatinya. Paham sampai sini!"
__ADS_1
Hans berusaha terus menasihati sang adik yang masih di selimuti oleh emosi yang sangat mendalam, bukan berarti Bram tidak bisa tenang dalam menghadapi semua situasi ini.
Hanya saja, dia tidak suka bila Bella berani menjelekan tentang istrinya. Sehingga Bram termakan oleh pancingan Bellandan membuat pertemuan mereka menjadi tertunda akibat situasi yang tidak memungkinkan untuk di lanjutkan.
"Aku paham, Kak. Tapi, Kakak lihat sendiri. Bagaimana dia menjelekkan istriku langsung di depanku. Apakah aku tidak boleh marah, bila istriku di jelekan seperti itu?"
"Ya, aku akui memang masa lalu dia buruk. Cuman, Kakak lihat 'kan. Alice sudah berubah, tidak mungkin dia menjadi wanita yang haus akan kekayaan. Sedangkan dulu saja dia merelakan menjual tubuhnya, demi mengumpulkan uang untuk pengobatan almarhum Neneknya. Jadi, apa yang dikatakan Bella itu salah besar, Kak. Salah!"
Emosi Bram terus meledak-ledak di depan Hans, dengan keadaan tangan yang terus bergerak mengikuti arah kemanapun emosinya keluar.
Sebenarnya Hans juga marah, marah besar. Dia pun bisa merasakan apa yang Bram rasakan saat ini. Hanya saja, dia tidak mau menunjukkannya. Sebab jika Hans ikut terpancing, maka akan semakin membuat emosi di dalam hati Bram semakin meronta-ronta.
Jadi, saat ini yang harus Hans lakukan hanyalah berdiam diri memperhatikan serta mendengarkan keluh kesah yang Bram ungkapkan. Dengan beitu, Bram bisa mengeluarkan semua luapan emosi yang sedari tadi dia tahan untuk Bella.
Di rasa Bram sudah jauh lebih baik, emosinya pun mulai mereda dan juga pembawaannya sudah santai. abarulah Hans kembali berbicar untuk mencoba memberikan pengertian pada adik kesayangannya ini.
"Bram dengarkan aku baik-baik!"
"Tujuan kita ke sini, ingin mencari informasi apa yang sebenarnya terjadi selama ini pada keluarga kita. Dan bagaimana cara dia melakukan semua itu pada keluarga kita, lantas motif dendam apa yang membuat dia sampai seperti ini?"
"3 pertanyaan itulah, harus kita tanyakan langsung padanya supaya kita tahu. Kenapa dia bisa melakukan semua ini, sementara setiap kali ketemu keluarga kita dia selalu bersikap baik. Layaknya keluarga."
"Jika kamu terus kepancing dengan perkataannya, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah menemukan jawaban yang sebenarnya. Di tambah lagi, kamu lihat bukan. Bagaimana cara dia menyambut kita?"
"Disitu saja, tidak ada sedikitpun rasa penyesalan terhadap apa yang dia lakukan. Seakan-akan dia sangat menikmati semua permainannya, sekalipun dia harus berakhir di dalam jeruji besi."
__ADS_1
"Masih ingat, apa yang dikatakan istriku tadi? Dia seperti memberikan isyarat, bahwa kita ini sedang menghadapi musuh yang sangat licik. Sekali saja kita salah melangkah, dan membuat dendam di dalam hati Bella semakin meluap. Maka, sudah dipastikan hidup kita tidak akan pernah tenang untuk selamanya walaupun, Bella sudah mendekam selamnya di dalam penjara."
"Untuk itu, aku mohon sama kamu. Tahan semua emosimu ketika bertemu dengan Bella, bersikaplah sewajarnya. Kita ikuti saja semua alur permainan yang dia buat, jangan sampai kita kembali terpancing seperti tadi."
"Semakin kita terpancing, malah akan semakin membuat Bella merasa puas. Sebab dia melihat adanya ketakutan yang besar di wajah kita. Jadi, aku harap sebisa mungkin kita harus menghilangkan rasa ketakutan itu ketika menemui Bella, agar tidak semakin memberikan power yang besar untuk rasa dendam di dalam hatinya."
Bram terdiam mendengar semua nasihat yang Hans berikan padanya, dalam keadaan Bram yang sudah mulai tenang dan bisa mengontrol dirinya.
Apa yang Hans katakan memang benar adanya, karena dari tadi Bram mencoba mengingat semua perkataan Bella. Membuat dia semakin percaya, bahwa wajah ketakutan yang Bram tunjukkan pada Bella malah semakin membuat Bella merasa puas akan semua yang sudah dia lakukan.
Jadi, mau tidak mau. Sebelum mereka menemui Bella kembali, maka mereka harus bisa lebih menyiapkan mental yang cukup kuat supaya tidak mudah terpancing kembali seperti tadi.
"Maafkan aku, Kak. Karena aku, kita tidak bisa menanyakan hal itu pada Bella. Aku janji, besok aku akan mencoba mnahan diri dan juga akan mendengarkan semua perkataan Kakak. Sekali lagi maafkan aku, Kak." ucap Bram, menatap Hans.
"Ya sudah, tak apa. Setidaknya emosimu sudah mulai mereda. Jadi, lebih baik sekarang kita kembali ke rumah sakit aja. Yang penting, aku tidak mau lagi kejadian ini terulang. Paham?" ucap Hans.
"Ya, aku paham, Kak. Ya udah sini aku yang nyetir aja." jawab Bram.
"Tidak perlu, kau duduk aja di situ. Biar aku yang nyetir, dari pada aku masuk rumah sakit lagi. Bisa-bisa istriku jadi setres, gila. Kau mau tanggung jawab, hem?" sahut Hans, menaikan alis sebelahnya.
"Hehe, baiklah. Selamat menyetir Kakakku tersayang, aku mau rehat dulu. Uhhh, enaknya ...."
Bram langsung merenggangkan tubuhnya sambil membenarkan kursi depan sedikit di kebalakangin, supaya membuatnya posisi kursinya tidura kebelakang.
Sementara Hans yang melihat tinggak adiknya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian Hans, perlahan menghidupkan mobil dan langsung melajukannya meninggalkan kantor polisi menuju rumah sakit.
__ADS_1
...***Bersambung***...