Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kekhawatiran Bi Neng


__ADS_3

Perdebatan yang sudah mereda, membuat Meera langsung meminta maaf kepada Alice begitu juga Bram. Mereka mulai menyadari kesalahannya jika sudah menuduh Alice sebagai dalang dibalik semua ini.


Jika dipikir-pikir memang Alice tidak masuk kedalam kategori semua kecurigaan dia, apa lagi Alice dan Bram baru saja saling kenal. Jadi tidak mungkin secepat kilat Alice bisa mengetahui semua itu.


Alergi merupakan suatu penyakit yang sangat privasi, tidak mudah bagi orang luar bisa mengetahuinya. Jika bukan orang dalam yang tahu seluk beluk Bram dan juga Hans.


...*...


...*...


Di sebuah taman, tepatnya dibelakang kediaman rumah keluarga Ivander. Ada sepasang suami istri sedang duduk santai menikmati suasana dipagi hari menjelang siang.


Gelegat tawa yang terdengar sangat nyaring, pertanda bahwa mereka sedang merasa bahagia yang tiada tandingannya. Entah kebahagiaan apa yang mereka dapat, sehingga mereka tidak memperdulikan keadaan majikannya yang saat ini berada dirumah sakit.


"Gimana, Bu. Sudah dapat kabar dari rumah sakit tentang kondisi musuh kita?" ucap pria yang tidak lain adalah Jaka, selaku tukang kebun dan juga suami dari wanita yang telah duduk bersamanya.


"Belum, Pak. Biarkan saja, itu awal mula kehancuran musuh kita. Masih untung, aku hanya membuat alerginya kambuh. Bagaiman jika aku campurkan sianida kedalam minuman atau makanannya?"


"Mungkin, bisa-bisa dia sudah meninggal dalam keadaan tenang. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, jikalau pun dia harus meninggal. Maka, meninggallah dalam keadaan mengenaskan!"

__ADS_1


Perkataan istrinya yang tidak lain adalah Atun, pembantu kedua setelah Bi Neng. Ternyata mereka ada itikat tidak baik terhadap Hans, entah dendam apa yang mereka miliki. Sehingga targetnya saat ini hanyalah Hans, tetapi jika ada yang menghalangi maka orang itu pun akan terkena imbasnya.


"Ya, Bu. Kamu benar, selama ini kita bertahan bertahun-tahun hanya untuk menghancurkannya secara perlahan. Cuman, entah kenapa takdir selalu berpihak padanya!"


"Beberapa kali dia selalu selamat dari kematian, sampai akhirnya kita harus merubah strategi. Supaya dia bisa merasakan rasa sakit, yang lebih mendalam sebelum ajalnya tiba!"


"Tapi, Bu. Saat ini mereka sudah menikah, apa lagi kamu tahu bukan bagaimana peran penting wanita itu dalam melindungi keluarga mantan suaminya. Apakah semua yang kita lakukan akan selalu aman?"


Jaka menoleh kearah istrinya yang sedang meminum secangkir teh hangat sambil menatap lurus kearah taman. Kemudian menaruh cangkir tersebut, dan menatap suaminya.


"Apa yang kamu takutkan, Pak. Sudah hampir 3 tahun kita bertahan dirumah musuh kita sendiri, itu karena apa Pak? Karena apa yang kita lakukan selama ini tidak pernah meleset bahkan ketahuan. Jadi Bapak tidak perlu khawatir. Selagi kita berhati-hati semua akan aman!" tegas Atun, membuat suaminya menganggukkan kepalanya.


Sementara Bi Neng, sedang membereskan rumah sambil menunggu kabar mengenai majikannya. Rasa cemah dan panik terus menyelimuti ya, ingin sekali dia pergi ke rumah sakit. Cuman itu tidak mungkin, karena hanya dia yang dipercayai untuk menjaga rumah ini sebaik mungkin.


"Aduh, kok perasaanku tidak enak ya. Bagaimana keadaan Tuan Hans? Apakah dia baik-baik saja, dan kenapa sampai detik ini Nona Meera belum memberikan kabar juga?"


"Argh, sudahlah. Lebih baik aku fokus membersihkan kamar saja, sambil mendoakan semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpa kondisi Tuan Hans."


"Tapi, ngomong-ngomong dimana, Atun? Kenapa dia belum membersihkan ruang tamu? Jangan bilang dia sedang pacaran dengan suaminya di Taman?"

__ADS_1


"Ckk, dasar pemalas. Kenapa Nona Meera masih mau aja mempertahankan mereka, jelas-jelas mereka terlalu sering membuat kesal. Kerjaannya juga klemar-klemer, tapi sudahlah itu urusan mereka lagian bukan aku yang menggajinya."


Bi Neng berbicara sambil membersihkan kamar Bram, sesekali dia melihat ada beberapa pakaian milik Alice yang berhasil menarik perhatian Bi Neng.


"Astaga, Tuan Bram. Kenapa sekarang Tuan bisa menjadi seperti ini, apakah kejadian itu benar-benar membuat Tuan terpukul? Jika benar, apa tidak bisa Tuan belajar merelakan semuanya karena ini sudah menjadi bagian dari takdir Tuhan?"


"Bibi tidak tega lihatnya, kalian itu sebenarnya Adik Kakak yang saling menyayangi dan juga melindungi satu sama lain. Cuman kenapa, kalian bisa bermusuhan seperti ini?"


"Disaat Tuan Hans jatuh sakit, Tuan Bram terlihat begitu mengkhawatirkan kondisinya. Berkat gengsi dan juga rasa sakit hati, menghancurkan persaudaraan mereka berdua."


"Tapi, Bibi yakin. Suatu saat nanti kalian akan kembali menjadi saudara yang kompak seperti semula. Bibi hanya bisa berharap dan berdoa, supaya masalah yang ada bisa segera diselesaikan."


Bi Neng selalu mengoceh sendiri ketika dia kembali mengingat masa kecil Hans dan Bram yang sangat indah, hanya karena masalah percintaan masa-masa itu berubah menjadi masa paling menyedihkan.


Setelah selesai membersihkan kamar Bram, Bi Neng langsung membersihkan kamar Hans dan yang lainnya. Setelah selesai tak lama Bi Neng menerima panggilan dari Meera, mendengar kabar bahwa Hans dalam keadaan baik-baik saja membuat perasaan Bi Neng senang.


Karena mau bagaimanapun bagi Bi Neng, Hans dan Bram itu sudah dianggap sebagai anak ataupun cucunya sendiri. Karena Bi Neng yang mengurus mereka dari kecil setelah Mommynya meninggal dunia. Jadi apapun yang terjadi dengan mereka, selalu membuat Bi Neng merasa khawatir.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2