Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kemanjaan Bram dan Hans


__ADS_3

Meera berusaha memberikan penjelasan agar Alice bisa mengerti, jika keselamatan bayi mereka adalah yang paling utama dari pada sekedar jalan-jalan.


Mau tidak mau, Alice mengangguk walaupun wajahnya terlihat begitu sedih. Bagaimana tidak sedih, orang hampir 3 bulan lebih mereka hanya berdiam diri tanpa keluar rumah bagaikan di dalam penjara.


Cuman, mau bagaimana lagi. Enak tidak enak, mereka telan saja. Toh, semua ini demi anak yang ada di dalam perut mereka.


...*...


...*...


Tepat jam makan malam, Meera dan Alice baru sama selesai menyiapkan menu yang menggoda lidah di temani oleh Bi Neng yang selalu siap siaga membantu mereka berdua.


"Akhirnya selesai juga, huhh ... Rasanya badanku sudah mau remuk, masak beginian aja berasa aku lagi kerja rodi ya hihi ...."


Alice berbicara sambil duduk di salah satu kursi yang ada di dapur, rasanya seperti Alice baru saja belajar masak. Padahal dia memang sudah bisa masak, hanya saja semakin besar perutnya semakin membuatnya cepat kelelahan.


Sementara Meera hanya bisa tersenyum melihat Alice, kemudian dia membuatkan 3 gelas es sirup yang sangat menyegarkan untuk mereka bertiga.


Berbeda dengan Bi Neng yang saat ini sedang menyusun makanan untuk di taruh di ruangan sebalah, dimana itu adalah ruangan makan.


Semenjak khasus Atun dan Jaka, Meera sudah tidak mau lagi mencari pembantu yang lainnya. Cukup Bi Neng aja, orang yang bisa mereka percaya lantaran Bi Neng sudah bekerja berpuluh-puluh tahun di keluarga Ivander.


Jadi, semua pekerjaan akan di kerjakan secara gotong royong agar tidak membuat Bi Neng kelelahan akibat usianya yang sudah mulai menua.


"Bi, minum dulu sini." ajak Meera saat melihat Bi Neng, sudah kembali ke dapur setelah menaruh beberapa masakan ke meja makan.


Bi Neng tersenyum lalu, duduk bersama mereka sambil menikmati segernya air sirup buatan Meera.


"Akhhh, enak. Ohya, Kak. Kak Hans bilang enggak mau pulang jam berapa?" tanya Alice.


"Sepertinya sih, jam delapanan. Memang kenapa? Suamimu tidak memberitahumu 'kah?" tanya Meera kembali.


"Enggak, dia cuman bilang kalau aku lapar makan duluan saja jangan menunggu dia. Soalnya dia lagi sedikit sibuk gitu." jawab Alice, sambil minum.


"Ya, sudah sebentar lagi juga pulang kok. Mendingan habis ini kita mandi bersih-bersih. Enggak etis dong, masa keringetan begini menyambut mereka pulang. Nanti bau dong, hehe ...." sahut Meera, tertawa kecil.

__ADS_1


"Ya, benar itu. Mending Nona Alice sama Nona Meera bersih-bersih dulu saja. Biar Bibi yang menyusun semuanya, keburu malam loh. Kasian dedeknya nanti kedinginan." ucap Bi Neng.


"Wokee, aku duluan ya Kak. Soalnya badanku udah lengket nih, enggak enak banget. Dadahh ...."


Alice pun bangkit, lalu pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya. Selang beberapa menit setelah Meera menaruh sisa gelas bekas mereka minum di wastafel, kemudian dia pun pergi ke kamarnya karena Bi Neng melarang untuk Meera membantunya.


Setelah selesai menyusun semua makanan di meja makan, Bi Neng pun mencuci beberapa berapotan dengan perasaan senang.


Ya, walaupun dia bekerja sendirian di usia muda, tetapi dia senang. Tidak ada lagi penjahat yang membuat keluarga Ivander berada di dalam bahaya.


Kurang lebih, jam 19.20 WIB. Meera dan Alice sudah selesai dengan penampilan yang baru. Riasan wajah yang simple, wangi parfum yang cukup menggoda dan juga rambut lurus panjang sedikit basah menjulang ke bawah menambah kesan kecantikan mereka.


Mereka berdua pun kumpul di ruang tengah sambil menonton televisi dan sedikit memakan cemilan, menunggu ke datangan suaminya.


Selang 20 menit, akhirnya terdengar bunyi bel rumah yang cukup nyaring membuat Bi Neng segera membukakan pintu.


Kedua pria tampan yang menjadi tujuan mereka menunggu, telah tiba dan langsung memeluk istrinya masing-masing. Hanya cara itulah, mampu mengobati rasa lelah dan juga capek di tubuhnya yang sedikit lemas.


Jika Bram, wajar kalau dia manja. Apa lagi anak bontot memang identik dengan manja, sementara Hans. Dia anak sulung yang identik orang-orang yang kuat dan juga mandiri, akan tetapi dia malah jauh lebih manja dari adiknya sendiri.


Inilah yang sedikit membuat Bram dan Alice selalu bingung, cuman dibalik itu mereka senang. Ketika Melihat Meera dan Hans bisa bahagia, tidak ada lagi kecemburuan ataupun rasa iri. Semua biasa saja, sebab tidak ada lagi perasaan diantara Bram dan Meera.


Hans hanya bisa menganggukan kepalanya, dimana matanya terpejam merasakan kekuatan energi yang akan dia serap agar semua rasa lelahnya di kantor bisa hilang, dan tergantikan oleh semangat yang baru.


"Udah ayo mandi dulu, aku udah laper nih. Nanti kalau kelamaan anakmu bisa-bisa ngereog. Mau?" ucap Alice kepada suaminya.


"Enggak mau, tapi aku mau ...." Bram menghentikan ucapannya sambil mendongak ke atas, menatap istrinya di dalam pelukannya.


"Mau apa?" tanya Alice, penasaran.


"Mandiin, ya ya ya. Please ... Aku malas mandi sendiri, badanku pegel banget." rengek Bram, membuat Alice sedikit terkejut.


"Hem, baiklah aku mandiin. Tapi, cuman sekedar mandi ya. Jangan aneh-aneh, aku lagi malas melayanimu. Paham!" ucap Alice, sedikit mewaspadai kejahilan suaminya.


"Siap, Komandan cantik. Let's go kita mandi, yeeey ...."

__ADS_1


Bram terlihat begitu girang ketika Alice ingin memandikannya tanpa adanya perdebatan. Ini pertama kalinya Alice memandikan Bram tanpa melalui perdebatan yang panjang seperti biasanya.


Mereka berdua pun pamit, lalu pergi ke arah kamarnya untuk memandikan bayi besar Alice yang sangat manja ini. Sedangkan Hans, yang melihat itu langsung mendongak ke atas menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh arti.


"Kenapa, Sayang. Hem?" ucap Meera, mengusap kepala suaminya sambil tersenyum.


"Hehe, ga-gapapa kok." jawab Hans, menyengir penuh arti.


"Jangan bilang kalau kamu juga mau di mandikan seperti Bram tadi?" tanya Meera, wajahnya sedikit memerah.


"Wah, dengan senang hati istriku. Aku tidak akan menolak itu hihihi ...." sahut Hans tertawa gemas.


Meera cuman bisa menggelengkan kepalanya jika suaminya sudah bersikap layaknya anak kecil, maka dia tidak bisa lagi menolaknya. Sekali saja di tolak, maka Hans bisa menangis seharian bagaikan anak perempuan yang sedang mengambek.


Entahlah, sifat manja itu hadir ketika rasa cinta di dalam diri Hans tumbuh semakin besar dan juga mendalam untuk istrinya. Jadi, membuat Hans selalu nyaman ketika berada di samping istrinya. Layaknya sebuah rumah, tempat dia pulang dan juga bercerita.


"Ya sudah aku mandi 'kan, tapi enggak boleh iseng ya tangannya." ucap Meera, memperingati suaminya.


"Aku tidak bisa janji soal itu, Sayang. Kamu tahukan Dedekku ini selalu On ketika sedikit saja tersentuh olehmu, hem? Apa kamu lupa itu, Sayang?" goda Hans, semakin membuat wajah Meera bertambah memerah.


"Yaaak, Hans. Hentikan, jangan coba-coba menggodaku ya. Atau aku tidak akan mau memandikanmu!" sahut Meera, sedikit kesal untuk menutupi rasa malunya.


"Loh kok kamu yang malu, harusnya aku dong. 'Kan itu milikku, jadi kenapa kamu yang malu. Aneh haha ...." Hans tertawa saat melihat Meera semakin salah tingkah.


"Issshhh, dahlah ayo mandi. Keburu anakmu marah karena dia belum makan, apa lagi menunggu Ayahnya pulang kerja lama banget." ucap Meera, berusaha tenang.


"Hihi, ya sudah ayo Sayang!"


"Hyaaakk, Hans!"


"Hahah, udah jangan banyak gerak nanti jatuh. Mending pegangan leherku saja!"


"Isshh, dasar menyebalkan. Bilang mau mandi, tapi malah pakai gendong-gedong segala. Ini namanya bukan mandi, tetapi menyelam 2 pulau terlampaui!"


"Bhahah ... Ya harus dong, kapan lagi 'kan haha ...."

__ADS_1


Hans tertawa ketika melihat tingkah lucu istrinya yang saat ini berada di dalam pelukanya. Ya gimana orang tidak terkejut, tiba-tiba Hans menggendong Meera begitu saja membuat dia tersontak kaget. Untung saja dia tidak berteriak, layaknya orang yang berada di dalam bahaya.


...***Bersambung***...


__ADS_2