
Namun, disaat mereka lagi asyik berbincang-bincang mengenai tempat makan siang yang enak dimana. Tiba-tiba saja seseorang menabrak Meera hingga membuatnya terjatuh kelantai, dalam keadaan tas berisikan jas sedikit terlihat oleh orang tersebut.
Bi Neng yang melihat Meera terjatuh langsung membantunya dalam keadaan wajah yang terlihat begitu khawatir, sedangkan Meera cuman tersenyum karena dia hanya merasa kaget dan untungnya tidak ada luka sedikitpun ditubuhnya.
Orang yang menabrak juga ikut membantu Meera berdiri, serta memasukan jas kedalam tasnya dan memberikannya kembali kepada Meera sambil mengucapkan kata maaf beberapa kali.
Hanya saja ucapan orang itu berhasil membuat Meera terkejut, dengan kedua mata sedikit membola ketika mendengar perkataannya. Sama halnya seperti Bi Neng yang juga sedikit bingung menatap wajah orang tersebut.
"Loh, ka-kamu bu-bukannya Ibu tirinya Bram ya?" ucapnya sangat terkejut.
Meera dan Bi Neng saling menoleh satu sama lain dengan tatapan bingung. Dari mana orang itu bisa mengenal Meera dan juga Bram, sedangkan Meera sendiri tidak mengenalnya.
"Ma-maaf, Mbaknya siapa ya? Kok Mbak bisa tahu nama saya?" tanya Meera bingung.
"Astaga, aku lupa kalau kita kan belum saling kenal. Waktu itu aku pernah sekali datang ke rumah Bram, tapi Tante lagi enggak ada di rumah." jelasnya sambil tersenyum.
Meera menoleh kearah Bi Neng, seperti meminta jawaban darinya untuk memastikan apakah benar orang itu pernah datang ke rumah atau tidak.
Bi Neng yang paham dengan tatapan Meera seketika terdiam mencoba mengingat orang itu sambil menatap wajahnya.
Hampir 1 menit tidak ada jawaban dari Bi Neng, inisiatif orang itu langsung menjulurkan tangan kanannya didepan Meera sambil tersenyum.
"Perkenalkan nama aku Bella, Tante. Aku mantan kekasih Bram yang kurang lebih sudah 7 bulan lalu putus." ujar Bella, sangat ramah.
"Bella? Astaga, Non Bella yang waktu itu kerumah sama Den Bram pas hujan-hujanan itu kan?" sahut Bi Neng ketika sudah mengingat Bella.
Bella melirik Bi Neng sambil tersenyum menatapnya dan mengangguk kecil, lalu kembali menatap Meera yang masih terdiam.
"A-aku Me-meera, tapi maaf jangan panggil Tante. Lebih baik panggil nama saja, karena sepertinya kita keumuran." ucap Meera, berusaha setenang mungkin sambil menggenggam tangan Bella.
"Wah, benarkah?" ucap Bella, antusias.
Meera menganggukan kepalanya perlahan, sambil melepaskan tangan Bella. Begitu juga Bella, dia terlihat begitu senang bisa mengenal Ibu tiri Bram yang selama ini ingin sekali dia kenal.
"Ohya, Ta- eh, ma-maksudnya Me-meera hehe. Kalau tidak keberatan bisakah kita mengobrol santai sambil makan siang? Kebetulan perut aku sudah mulai bunyi nih hehe ...." ucap Bella sambil mengusap perut datarnya.
__ADS_1
"Boleh, kebetulan kita juga mau makan siang, tapi kita bingung cari Restoran yang enak disini dimana. Soalnya banyak Restoran yang menang harga, cuman lupa sama kualitas rasanya." jawab Meera.
"Ahya, betul banget itu. Untungnya aku tahu, disini ada satu Restoran yang sangat enak. Bahkan pilihan menunya juga bervariasi, semua makanan dari negara pun ada, makannya Restoran itu diberi nama Overseas restaurant."
Bella terlihat begitu senang ketika Meera mau menemaninya untuk makan siang, sampai dia begitu rinci menjelaskan tentang Restoran langganannya yang terkenal mewah, tetapi kualitas rasa nomor 1.
Meera cuman tersenyum menatap tingkah Bella yang cukup lucu untuknya. Hanya saja Meera seperti merasakan perasaan yang tidak enak dengan Bella, bukan karena Meera curiga dengan Bella. Melainkan Meera takut, jika putusnya hubungan Bella dan Bram itu salah satunya karena dirinya
Tanpa menunggu lama, Bella langsung mengajak Meera dengan cara menggandengnya pergi bersama-sama menuju restoran tersebut.
Bi Neng yang melihat keakraban mereka membuat hatinya merasa lega, karena Meera terlihat biasa saja tanpa merasakan kecemburuan pada Bella.
Namun, tanpa sepengetahuan Bi Neng dan Bella. Jantung Meera benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama, lantaran rasa tidak enak kian menyelimuti hati dan juga pikirannya.
Jika benar putusnya Bella dan Bram karena Meera, maka Meera bisa kembali menyalahkan dirinya sendiri atas semua kejadian itu.
Bella Lastanya Munthe, seorang wanita cantik, lucu dan juga ramah dengan usia 25, tahun. Bella merupakan mantan kekasih Bram yang ditinggal begitu saja tanpa kejelasan yang pasti.
Bram memutuskan hubungannya dengan Bella, lantaran Bram merasa bosan dengan sikap Bella yang terlalu manja.
Meera sesekai melirik kearah Bella yang wajahnya terlihat begitu cantik dan juga menggemaskan semakin membuat Meera merasa tidak terlalu nyaman.
Sampai akhirnya Meera terlintas satu pertanyaan kepada Bella yang nanti akan dia utarakan disaat waktu yang tepat.
...Overseas restaurant...
Restoran tersebut memang tidak terlihat seperti Restoran mewah lainnya, tetapi memiliki ciri khas tersendiri. Meksipun terlihat sederhana, desain rancangannya benar-benar berhasil menipu semua para pengunjung.
Banyak pengunjung yang tidak tertarik untuk datang mengunjunginya. Cuman, ketika mereka berhasil menginjakkan kaki ketempat itu maka bisa dipastikan sebelum isi dompet terkuras habis mereka tidak akan pulang.
Terdapat banyak jenis makanan, minuman, pencuci mulut, dan sebagainya yang membuat buku daftar menu hampir memimiliki ketebalan sebesar 5 senti meter.
__ADS_1
Tebal? ya jelas sangat tebal, karena disana terdapat beberapa menu makanan dari berbagai luar negeri yang rasanya tidak jauh berbeda dari aslinya.
Ya, walaupan mendengar kata luar negeri pasti akan membuat ketakutan tersendiri buat si dompet, kali ini berbeda.
Semua yang ada didalam daftar menu harga makanan yang paling murah sekitar Rp 200.000,- sedangkan untuk minuman sekitar Rp 100.000,- dan pencuci mulut alias dessert sekitar Rp 150.000.-.
Sehingga rata-rata harga yang ada didalam buku tersebut yang paling murah sekitar Rp 100.000,- dan harga yang paling mahal sekitar Rp 2.500.000,00.-.
Jadi untuk harga segitu sudah harga paling murah bagi seseorang yang sangat gemar berburu makanan luar negeri. Apa lagi harga murah dan kualitasnya terjamin bisa membuat orang yang menikmati langsung sendawa.
Meera, Bella serta Bi Neng berada di satu meja yang sama dan duduk di kursi sofa panjang yang saling berhadapan.
Bella tersenyum menatap mereka lalu mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan.
"Permisi, selamat datang di Overseas restaurant. Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya pelayan sangat sopan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Ini daftar menunya kemana ya, Mbak? Biasanya disetiap meja selalu ada daftar menunya, tetapi kenapa ini tidak ada?" ucap Bella, bingung menatap pekayan tersebut.
"Astaga, ma-maaf Nyonya, maaf. Saya tidak mengecek jika di meja ini tidak ada, kemungkinan daftar bukunya ada yang memindahkannya. Sebentar, Nyonya."
Pelayan tersebut bergegas berlari kecil meminta daftar buku menu yang sempat hilang, setelah membawanya pelayan itu segera memberikannya kepada Bella.
"Nah, coba kalian pesan menunya lebih dulu. Biar langsung dicatat sama Mbaknya. Setelah itu baru aku yang memesan belakangan hehe ...."
Bella tersenyum lebar membuat Meera ikut tersenyum kakuk, dia masih merasa tidak nyanan saat Bella mengatakan mantan kekasih Bram. Disitulah hati Meera bergelombang mengikuti suara detak jantungnya yang terkadang tidak stabil.
Beberapa menit berlalu, mereka bertiga sudah memesan menu makan siangnya hari ini.
Meera memesan makan siang layaknya sedang berada di Korea, sedangkan Bella memesan makanan seakan-akan berada di Amerika.
Berbeda sama Bi Neng, dia memilih makanan asli Indonesia, lantaran dia belum pernah menikmati makanan luar negeri.
Bi Neng takut jika memakan makanan seperti kedua wanita cantik yang ada disamping dan juga didepannya, maka bisa-bisa mulut Bi Neng akan langsung sariawan.
...***Bersambung***...
__ADS_1