Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Alergi Udang


__ADS_3

Siapa sangka, seseorang menjatuhkan alat makannya dengan keadaan yang sangat menyedihkan, napasnya kian memburu hingga hampir saja terasa sesak. Ditambah tubuhnya terdapat bintik-bintik merah yang kini sudah mulai memenuhi tubuhnya.


Melihat itu membuat semua langsung menjadi panik, apa lagi Meera yang saat ini terlihat gelisah hingga dia beberapa kali mencari cara untuk membuat orang seseorang itu tenang.


Tanpa basa-basi lagi, mereka semua bergegas pergi membawa seseorang itu ke rumah sakit. Sesampainya disana seseorang itu langsung dilarikan keruang UGD.


...*...


...*...


Hampir setengah jam mereka bertiga menunggu di depan ruangan UGD dengan keadaan cemas. Dimana Bram terlihat berjalan kesana-kemari di depan pintu, sementara Meera dan Alice duduk di kursi tunggu dalam keadaan Meera sangat cemas, lalu Alice berusaha untuk menenangkan Meera.


"Tenang, Kak. Aku yakin Tuan akan baik-baik aja, dia pria yang kuat bukan. Jadi, tidak akan ada sesuatu hal yang buruk terjadi padanya." ucap Alice.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Apa lagi kita tidak tahu apa penyebab dia seperti ini." jawab Meera matanya sudah berkaca-kaca menoleh ke arah Alice.


Melihat perdebatan kecil kedua wanita itu membuat Bram menghentikan langkahnya, dia melihat betapa kekhawatiran diwajah Meera berhasil mencubit hati Bram.


"Apakah kamu sudah mulai mencintainya, Raa? Baru juga kurang lebih 1 bulan ini, kamu sudah terlihat begitu mengkhawatirkannya. Layaknya kecemaskan seorang istri pada suaminya."


"Apakah saat ini, sudah tidak ada lagi cinta untukku didalam hatimu? Atau semua itu sudah menghilang setelah kehadiranya didalam hidupmu?"


"Cuman kenapa, Raa? Kenapa harus dia yang menikah denganmu, kenapa bukan aku aja yang mempertanggung jawabkan kejadian itu. Aku akan dengan senang hati menerimanya, tetapi bukan jalan seperti ini yang aku mau!"


"Andaikan waktu bisa kuputar kembali, mungkin pada saat itu aku tidak akan pergi meninggalkanmu bersama temanku. Sehingga aku tidak akan membiyarkan semua itu terjadi didepan mataku. Dan jika itubterjadi, maka akan aku pastikan jika aku langsung mengambil alih semuanya. Supaya kamu akan tetap selalu menjadi milikku, bukan miliknya!"


Bram menatap tajam kearah Meera dengan mata yang mulai merah, tangan mengepal kuat, dan napasnya kian memburu. Telihat jelas dada bidang Bram naik-turun seolah-olah dia sedang menahan rasa yang sedari tadi berhasil memancingnya.


Hans? Yaps, benar. Hans adalah orang yang mereka rujuk ke rumah sakit, lantaran ketika sarapan dia mengalami kejadian tak terduga sehingga membuat semuanya menjadi sangat panik.


Bram yang sudah mulai cuek dan tidak lagi memperdulikan keadaan sang Kakak, ternyata akibat kejadian ini membuat Meera tanpa disengaja melihat bahwa Bram masih sangat menyayangi Kakaknya.

__ADS_1


Ya mungkin mulut bisa berbicara semaunya, tetapi tidak dengan hatinya yang selalu mengatakan bahwa ikatan batin antara persaudaraan mereka, sampai kapanpun tidak akan pernah putus.


Semuanya kembali menatap kearah pintu, dimana pintu tersebut tak lama terbuka bersamaan dengan munculnya seorang dokter cantik dan asistennya.


Meera langsung berlari, begitu juga Bram yang sudah berdiri pertama tepat dihadapan sang dokter. Sementara Alice dia berjalan menggunakan langkah panjangnya.


"Bagaimana keadaan Kakak saya, Dok?"


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"


2 kalimat yang sedikit berbeda, cuman dikatakan secara serentak membuat Meera dan Bram saling menoleh menatap satu sama lain dengan tatapan berbeda.


Bram menatap bahwa Meera sudah mulai membuka hatinya untuk Hans, sedangkan Meera menatap Bram karena dua melihat besarnya kasih sayang didalam diri Bram untuk Hans.


Kecemasan diwajah Bram mewakilkan bahwa, dia memang tidak akan bisa membenci Kakaknya sendiri. Sebesar apapun kesalahan, sehancur apapun hubungan mereka. Tetapi, tetap saja ikatan batin antara saudara jauh lebih kuat, dari pada rasa benci didalam hatinya.


"Apakah tadi Tuan Hans sempat kecolongan, memakan makanan yang memicu alergi udangnya, kambuh?" tanya sang dokter, berhasil membuat Meera dan Bram terkejut.


Padahal mereka semua hanya memakan nasi goreng biasa, tanpa campuran sesuatu apapun yang memicu alergi Hans untuk muncul.


"Ya Tuan, Nyonya. Saat ini Tuan Hans mengalami alergi, mungkin karena dia jarang kecolongan. Ketika sekalinya kecolongan, maka kondisinya bisa seperti ini."


"Kalian tenang saja. Saya sudah mengatasi semuanya. Kemungkinan beberapa hari kedepan tubuh Tuan akan dipenuhi dengan bentol-bentol merah, dan juga gatal."


"Jadi, saya sarankan untuk kalian agar selalu mengingatkan Tuan supaya tidak menggaruknya. Semua itu agar tidak membuat kulitnya menjadi iritasi dan lecet."


Sang dokter mulai menjelaskan step by step kepada semuanya, agar mereka mengerti apa yang harus dilakukan kepada Hans supaya membuat Hans nyaman dengan tubuhnya sendiri.


"Apa saya boleh melihatnya, Dok?" ucap Meera, penuh kepanikan.


"Boleh Nyonya, silakkan. Tetapi, hanya saja yang masuk harus bergantian satu persatu dengan waktu kurang lebih 5 menit." jelas dokter sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok. Ya sudah Bram kamu duluan masuk lihat Kakakmu, habis itu baru aku. Cepatlah!" ucap Meera menatap Bram, yang saat ini hanya terdiam membisu.


"Ayolah Bram, apa kamu tidak mengkhawatirkan kondisi Kakakmu sendiri? Bagaimana jika dia kenapa-kenapa? Apa kamu rela jika sesuatu hal buruk terjadi padanya?" ucap Meera, antusias. Dia terus memanfaatkan keadaan ini untuk kembali mendekati Bram dan Hans.


"Tidak, aku tidak mau. Kau saja sana, toh kau istrinya! Lebih baik aku duduk diluar bersama calon istriku!" sahut Bram yang langsung duduk di kursi tunggu sambil menari Alice.


Sebenarnya ingin sekali Bram masuk kedalam ruangan untuk melihat Hans, akan tetapi ego didalam diri Bram sangatlah besar.


Bram terus kembali mengingat semua kejadian menyedihkan itu, sampai akhirnya rasa kebencian didalam hatinya selalu menyelimuti disaat dia mengkhawatirkan tentang Hans.


Sang dokter tersenyum menatap perdebatan kecil tersebut, lalu dia mulai kembali berbicara. "Maaf Tuan, Nyonya. Saya izin pergi dulu, karena masih banyak pasien yang harus saya tangani."


"Terima kasih, Dok." jawab Meera menatap sang dokter yang saat ini tersenyum kecil.


"Sama-sama, Nyonya. Jika kalian mau, biarkan Tuan masuk ruangan inap lebih dulu. Barulah kalian bisa bersama memasuki ruangannya. Apa lagi sebentar lgi Tuan akan dipindahkan. Untuk itu saya permisi."


Setelah semuanya selesai, sang dokter dan asistennya pun segera berbalik, kemudian berjalan meninggalkan ruangan UGD untuk kembali mengurus pasien lainnya.


Mereka semua terdiam mematung, rasanya Meera ingin sekali melangkahkan kakinya untuk melihat keadaan suaminya. Cuman, dia urungkan niatnya ketika melihat Bram terdiam seribu bahasa sambil duduk di kursi tunggu.


"Ada apa dengan wajah Bram, apalah dia sedih mendengar kondisi Hans? Ataukah dia merasa sakit hati ketika melihat aku yang seperti ini?"


"Arrgh, tidak, tidak, tidak! Stop berpikir jelek, buat apa Bram sakit hati. Toh, saat ini sudah ada Alice disampingnya. Jadi kemungkinan besar dia sudah menghilangkan semua rasa cinta dihatinya untukku."


"*Jadi, sekarang tinggal aku. Aku harus bisa menghilangkannya meskipun secara bertahan, yang penting aku bisa sedikit demi sedikit membuka hati untuk suamiku sendiri!"


"Mungkin semua ini sudah takdir dari Tuhan, apapun itu aku harus bisa kuat untuk menjalaninya dan pantang untukku mengeluh. Semangat Meera, kamu pasti bisa*!"


Meera bergumam didalam hati kecilnya ketika melihat Alice berusaha untuk menenangkan Bram, tetapi Meera sadar jika sorot mata Bram selalu kepada dirinya.


Ya walaupun Meera tahu tidak mudah bagi mereka harus menghilangkan cinta yang baru saja tumbuh diantara mereka. Cuman mau bagaimana lagi, semua sudah garis tangan Tuhan, bahwa mereka bukanlah jodoh yang sesungguhnya. Melainkan hanya sekedar anak tiri, ipar ataupun teman.

__ADS_1


Sekarang tinggal lihat kedepannya, apakah Meera dan Hans akan benar-benar berjodoh? Ataulah pernikahan mereka hanya sebuah status untuk menutupi aib yang sudah terjadi pada waktu itu. Entahlah, semua masih menjadi rahasia.


...***Bersambung****...


__ADS_2