
"Udah cukup, Bel. Jalan kita sudah berbeda, gua hanya menganggap lu sebagai teman tidak lebih. Sekarang gua sudah ada Alice, jadi maaf. Gua harus pergi!"
Bram bangkit dari kursinya dan meninggalkan Bella yang saat ini sedang menangis. Dia seperti merasa menyesal setelah kepergian Bram, semua memang salahnya cuman Bella tidak bisa menutupi kalau dia masih memiliki perasaan yang kuat untuk Bram.
Melihat kepergian Bram, Bella pun menghapus air matanya dan pergi meninggalkan taman dalam perasaan yang masih tidak karuan.
...*...
...*...
Keesokan harinya, di Perusahaan Ivander Hans sedang berada di ruangan meeting meninggalkan Meera di dalam ruangan kerjanya. Dimana Meera sedang tiduran di kamar sambil menonton film drakor di ponselnya dalam keadaan tengkurap.
Hampir satu jam Hans baru selesai meeting dan akhirnya dia kembali ke ruangannya untuk menemui istrinya. Rasanya baru berjauhan sedikit saja Hans sudah sangat merindukan istrinya.
"Yud, nanti tolong pesankan makan siang untuk saya dan istri saya." titah Hans ketika berada di dalam lift menuju lantai atas tempat ruangan mereka berada.
"Siap, Tuan. Mau makanan yang seperti apa, Tuan?" tanya Yudha, memastikan pesanan Hans agar tidak salah.
"Pesankan menu utama saja yang ada di Restoran milik Bram, tapi jangan atas nama saya." ucap Hans, yang tidak mau jika Bram tahu kalau Kakaknya memesan makanan di Restoran miliknya.
"Baik, Tuan. Nanti akan saya pesan ketika jam makan siang tiba." jawab Yudha, diangguki oleh Hans.
Kemudian mereka mengkah keluar lift dan berjalan menuju ruangannya masing-masing. Akan tetapi sebelum masuk ruangan, Hans menanyakan terlebih dulu kepada sekretarisnya apakah ada yang masuk ke ruangannya atau tidak.
Hans memang sudah menitipkan pesan bahwa jangan sampai ada yang masuk ke dalam ruangannya tanpa seizin dirinya terlebih dahulu, tanpa terkecuali. Semua itu guna menghindari rasa trauma didalam diri Meera agar tidak merasa tiba-tiba ketakutan.
Setelah memastikan semua aman, Hans pun masuk ke ruangannya lalu menutupnya. Tak lupa dia tetap memperingatin sekretarisnya untuk tidak lalai dalam menjaga ruangannya dan tidak akan membiarkan siapapun masuk tanpa izin Hans.
__ADS_1
...*...
...*...
Hans berjalan perlahan, lalu membuka Jasnya dan menaruhnya di kursi kebesarannya. Kemudian dia menggulung lengan kemejanya sebatas sikut. Semua dia lakukan saat sudah hampir mau mendekati jam istirahat.
Ceklek!
Hans membuka pintu kamar perlahan sambil tersenyum, dimana Meera refleks langsung menoleh dan melihat Hans tersenyum membuat Meera kembali tenang.
"Kamu udah selesai meetingnya?" tanya Meera yang sudah duduk menatap Hans.
Kemudian Hans duduk di sampingnya sambil mengelus pipi Meera dan berkata. "Gimana, perasaanmu? Udah jauh lebih baikkah?" Hans tersenyum.
"Sedikit, cuman selama ada kamu disampingku. Aku akan merasa sangat nyaman." balas Meera tersenyum.
Hans pergi ke kamar mandi. Tak membutuhkan waktu lama, dia kembali keluar dan melihat Meera tertawa saat menonton film kesukaannya. Disitulah hati Hans tersentuh dia ikut bahagia setelah senyuman itu kembali terukir di wajah cantik istrinya.
Entah mengapa Hans refleks langsung memeluk Meera dari arah belakang membuat Meera terkejut, dan menatapnya. "Ha-hans, a-ada apa?" Meera tidak menyangka jika suaminya bisa bersikap seperti ini padanya.
"Izinkan aku seperti ini sebentar saja, aku mohon. Rasanya aku benar-benar sangat lelah." jawab Hans dengan wajah manjanya dan sedikit lesu.
Meera berbalik badan perlahan, membuat Hans segera memeluknya dari depan.
__ADS_1
Kenyamanan seperti inilah yang tidak pernah tercipta selama beberapa bulan ini mereka menikah. Cuman kali ini Hans seperti begitu manja dengan istrinya membuat Meera merasa sedikit senang.
Ya, walaupun pernikahan mereka tercipta akibat sesuatu hal yang tak diinginkan. Lama kelamaan membuat mereka mulai membuka hati, sehingga keduanya tidak lagi merasa risih jika salah satunya dalam keadaan mode manja seperti ini.
Meski keduanya belum mengungkapkan perasaan satu sama lain, dari sini pun terlihat bahwa mereka sudah saling mencintai. Hanya mulutnya belum bisa mengungkapkan satu sama lain.
"Ada apa, Bee. Apa ada masalahkah?" tanya Meera lembut sambil mengusap kepala suaminya.
Hans mendengar kata Bee yang artinya Baby, dia segera mendongak menatap wajah Meera. "A-apa tadi kamu bilang? Be-bee?" Meera tersenyum mengangguk. "Ya, Baby. Itu panggilan sangat cocok untukmu, yang sifatnya semakin ke sini semakin manja."
"Be-benarkah begitu, Ho-honey? Boleh kan aku memnggilmu dengan sebutan itu?" ucap Hans, matanya berkaca-kaca, membuat Meera gemas dan mengusap pipi suaminya.
"Apapun panggilan yang kamu berikan untukmu, aku akan menerimanya. Asalkan kamu tidak lagi memanggilku dengan sebutan Ibu, heheh ...."
Meera menggoda Hans dengan sebutan Ibu ketika dia masih menjadi Ibu tirinya. Sebutan itu mampu membuat Hans tersenyum sambil tangannya terarah untuk mengusap pipi istrinya.
Keadaan yang seperti ini berhasil membuat mereka hanyut satu sama lain, sehingga ketika Hans ingin mendekati wajahnya dan hampir saja bibir mereka saling menempel.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat mereka terkejut, Hans segera bangkit dengan perasaan yang sangat malu. Begitu juga Meera, dia pun hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dalam kedua tangan yang sudah menutupinya.
"A-aku ke depan sebentar, tu-tunggu disini." ucap Hans terbata-bata penuh dengan kegugupan. Kemudian Hans pun pergi meninggalkan Meera, yang mana dia malah mengintip Hans dari celah jarinya sambil tersenyum senang.
Hanya keadaan seperti ini saja Meera kaya merasakan kebahagiaan yang luas biasa, padahal mereka sama sekali belum melakukan apapun karena terpending
oleh suara ketukan pintu yang sangat mengganggu.
...***Bersambung***...
__ADS_1