Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Bosan Di Rumah Terus


__ADS_3

Dimana Hans harus memberikan penjelasan mengenai kecelakaan tersebut yang menimpa dirinya, lalu setelah selesai. Hans pun kembali ke rumah bersama Bram. Yang mana di dalam mobil, sepanjang jalan mereka terdiam memikirkan perkataan Atun dan Jaka.


Kalaupun memang ada tikus lainnya, maka siapa orang itu? Apakah mereka tinggal di dalam rumah seperti Atun dan Jaka? Ataukah tikut itu adalah orang yang berada di sekitaran Hans dan juga Bram? Entahlah, mereka berdua belum bisa menyimpulkan semua ini.


Mereka benar-benar syok, karena bukan hanya ada 2 tikus, melainkan masih ada lagi induk tikus yang berkeliaran bebas untuk bisa menyakiti keluarga mereka, sesuai dengan motifnya yang sama sekali tidak di ketahui oleh Hans dan juga Bram.


"Bram, apa kamu percaya jika bukan mereka pelakunya?" tanya Hans di pertengahan jalan ketika macat.


"Entahlah, aku bingung, Kak. Jika bukan mereka pelakunya, terus siapa lagi? Apakah kolega dari bisnis Daddy yang ingin bertujuan menghancurkan keluarga Ivander?" jawab Bram, menoleh ke arah Hans.


"Kalaupun itu musuh Daddy, tidak akan mungkin Bram. Aku sudah mengecek semuanya dari almarhum asisten Daddy yang selama ini menemani Daddy kemana pun pergi. Kalau memang musuh di balik bisnis itu memang real adanya, hanya saja mereka hanya akan menghancurkan bisnis bukan mencelakaan keluarga dan sebagainya. Bagi mereka, bisnis ya bisnis. Keluarga ya keluarga, jadi tidak akan bisa di samakan."


Penjelasan Hans membuat Bram terdiam, bahwasanya dia juga sedikit tahu jikalau Daddynya tidak memiliki musuh bisnis yang akan menyerang keluarganya.


Lantas siapa orang yang ada dibalik semua ini, kalau bukan Atun dan Jaka? Apakah ini berkaitan dengan permusuhan antar bisnis atau yang lainnya?


Kita temukan jawabnnya di bab-bab yang akan datang, dimana bab tersebut akan mengungkap siapa dalang di balik terjadinya masalah besar antara Meera dan Hans, hingga membuat tali persaudaraan Hans dan Bram mengalami gesekan yang cukup keras.


Cuss, saksikan terus kisah Terjerat Hasrat Anak Tiri sampai ending ya. Dan, jangan lupa mampir ke novel Kemarau Biduk Cinta, karena tepat di tanggal 27 bulan ini akan di umumkan siapa 3 pemenang give a way yang akan mendapatkan pulsa. Meskipun tidak banyak, setidaknya membuat pacuan untuk kalin lebih semangat lagi mengikuti novel-novel baru author yang akan rilis diawal-awal bulan.


Terima kasih, mari kita lanjut lagi kisahnya. Bye-bye ....


...*...


...*...

__ADS_1


Sesampaimya di rumah, Bram dan Hans langsung menjaga ketat rumah tersebut sampai membuat beberapa bodyguard berjaga di sekeliling rumah. Bertujuan agar tidak sampai ada penyusub masuk melalui celah yang ada, seperti waktu kejadian besar terjadi.


Meera serta Alice hanya bisa mengikuti semua perintah dari suaminya, mereka tidak mau melanggar karena ini demi keselamatan bayi yang ada di dalam perut mereka.


Apa lagi kehamilan Alice sudah memasuki 4 bulan, sementara Meera baru akan memasuki usia kandungan kurang lebih 3 bulan. Jadi, perut mereka sudah mulai terlihat membucit. Pertanda kalau bayi yang ada di dalam perut berkembang dengan sehat.


Berbulan-bulan telah berlalu, dimana Atun dan Jaka sudah menerima hukuman yang dijatuhkan seumur hidup mereka.


Semua itu membuat keduanya menyesali perbuatannya karena mereka sudah tahu, jika pembunuh anaknya bukanlah Hans. Melainkan orang lain yang saat ini pun berada di dalam sel tahanan, cuman berbeda kota saja.


Orang yang berusia sekitar 23 tahun itu telah mendapatkan hukuman seumur hidup, akibat kelalaiannya dalam berkendara.


Ternyata pria itu mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk, sehingga pandangan serta pikirannya tidak dalam keadaan waras.


Jadi, ketika penangkapan pria itu tidak bisa lagi mengelak. Meski dia sudah menjual mobilnya, akan tetapi jalur-jalur yang dilalui tetap akan membawa kearah pelaku.


Rasa penyesalan teramat mendalam memenuhi hati Atun dan juga Jaka, mereka telah mengerutuki kebod*dohannya sendiri karena telah menyimpulkan kejadian secepat itu.


Berkali-kali mereka berdua meminta maaf ketika bertemu di persidangan pada Bram, Meera, Alice dan juga Hans yang terlalu sering mereka jahati. Sampai hampir saja merenggut nyawanya, jika Tuhan tidak berkehendak untuk mengembalikan Hans pada keluarganya.


Mereka berempat sudah memaafkan kesalahan Atun dan Jaka. Hanya saja, hukum tetap harus berjalan sesuai dengan perbuatan mereka yang selama ini mereka lakukan, cuman demi membalaskan dendam yang pada akhirnya salah sasaran.


Namun, dibalik hikmah semua kejadian ini membuat Atun dan Jaka bisa kembali menjadi orang yang tidak lagi di penuhi oleh dendam di dalam hatinya. Mereka kembali menjadi diri mereka sendiri, tidak lagi dipenuhi oleh bayang-bayang se*tan yang menghasutnya untuk membalaskan dendam.


Di tambah pula, dari sini perlahan kembali terungkap bahwasanya kejadian yang menimpa Hans dan Meera bukan semata-mata Hans yang menginginkan Meera, melainkan adanya seekor induk tikus yang bersarang ingin menghancurkan mereka. Cuman, nasib baiknya Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mereka kembali menjadi keluarga yang utuh.

__ADS_1


Kini usia kandungan Alice sudah memasuki 7 bulan lebih, yang berarti sebentar lagi akan melahirkan. Hanya tinggal menunggu hitungan bulan, maka bayi Alice dan Bram akan segera keluar menemui kedua orang tuanya.


Sementara Meera, kandungannya baru saja memasuki usia kandungan kurang lebih jalan 5 bulan. Jadi, masih cukup banyak persiapan menuju masa kelahiran bayinya nanti.


"Kak, kita ke Mall yuk. Aku mau lihat-lihat perlengkapan bayi. Sekalian kita makan, aku bosen di rumah terus. Kali-kali kita jalan-jalan, lagi pula selama ini baik-baik aja 'kan. Tidak ada bahaya yang mendekat juga."


"Aku rasa, orang jahat itu pasti sudah tidak lagi punya keinginan buat mencelakakan keluarga Ivander lagi, karena kita sudah tahu yang terjadi dengan semua ini ada campur tangannya. Kalau dia berani muncul otomatis langsung ketahuan siapa orangnya ya 'kan?"


Alice mencoba untuk merayu Meera untuk pergi keluar rumah, ketika kedua suami mereka sedang sibuk bekerja. Selama beberapa bulan terakhir ini, tidak ada satu bahaya pun yang mendekat ke arah mereka.


Seakan-akan hidup mereka tenang-tenag saja tanpa adanya musuh dibalik selimut. Jadi, kemungkinan Alice berpikir kalau orang yang jahat itu tidak lagi muncul karena kejahatannya sudah mulai terkuap.


"Aku tidak berani, Dek. Kalau pun kita mau keluar, harus izin dulu sama Hans dan juga Bram. Tidak bisa kita keluar begitu saja tanpa izin dari mereka, kamu ingat 'kan apa yang mereka pesankan pada kita. Mereka mau, kita selalu berdiam diri di rumah dan tidak boleh kemana-mana."


"Semua itu karena mereka tidak mau istri dan anaknya terjadi sesuatu hal yang buruk. Sehingga akan menimbulkan luka yang sangat mendalam untuk mereka."


"Tikus besar itu juga, pasti masih berkeliaran di luar rumah, untuk menunggu momen yang pas agar bisa kembali masuk untuk menghancurkan kita tanpa kita tahu siapa mereka. Jadi, sebaiknya kita lebih berhati-hati untuk tidak membahayakan anak kita sendiri. Kamu paham 'kan apa yang aku katakan barusan?"


Meera berusaha memberikan penjelasan agar Alice bisa mengerti, jika keselamatan bayi mereka adalah yang paling utama dari pada sekedar jalan-jalan.


Mau tidak mau, Alice mengangguk walaupun wajahnya terlihat begitu sedih. Bagaimana tidak sedih, orang hampir 3 bulan lebih mereka hanya berdiam diri tanpa keluar rumah bagaikan di dalam penjara.


Cuman, mau bagaimana lagi. Enak tidak enak, mereka telan saja. Toh, semua ini demi anak yang ada di dalam perut mereka.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2