Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Datang Bulan


__ADS_3

Setelah kurang lebih 15 menit Bram beru saja selesai dengan mandinya, segera bergantian dengan Alice. Dimana Alice berusaha untuk tetap tenang, agar moodnya stabil. Apa lagi dia sudah berjanji untuk memberikan bonus pada Bram, jadi tidak mungkin Alice melayani Bram dalam keadaan mood sehancur ini.


Alice hanya bisa berharap semoga setelah selesai mandi, moodnya sudah kembali membaik dan juga bisa mengembalikan mood Bram yang tadi sangat ingin menikmati sentuhan manjanya.


...*...


...*...


...Di kamar Meera dan Hans...


Saat ini Meera sedang duduk berselonjoran diatas kasur sambil menonton film drakor dia laptop milik suaminya. Sementara Hans, dia duduk di sebelah Meera sambil menatap kearah istrinya.


"Ini salat buahnya mau dimakan apa aku kembalikan ke dapur?" ucap Hans, cuek.


"Buang aja sekalian, nanggung!" sahut Meera kesal, melirik suaminya.


"Huhh, sabar Hans. Ingat, hari ini istrimu lagi datang bulan jadi dia sedikit sensitif. Kalau sampai salah dikit aja habislah riwayatmu, aku jamin kau akan tidur di luar bersama nyamuk!" gumam batin Hans, berusaha tetap tenang saat menghadapi wanita yang dalam mode kiyut-kiyut menggigit.


"Jangan mengumpatiku di dalam hati kalau kamu masih mau tidur dikamar ini!" ancam Meera dengan segala aura dinginnya, yang terkesan sangat mengerikan.


Glek!


Hans menelan air liurnya secara kasar, dia tidak mau berpisah dari istrinya. Apa lagi hubungan mereka sudah mulai membaik, hanya saja Hans belum bisa menyatakan cintanya dengan sangat baik kepada istrinya sendiri.


"E-enggak kok, a-aku enggak ngapa-ngapain. A-aku cuman bilang kenapa malam hari ini istriku cantik banget," goda Hans, sambil menyengir kuda menutupi kegugupannya.

__ADS_1


"Apah! Kamu bilang aku ini sangat jelek!" pekik Meera tak terima menatap suaminya yang saat ini sedikit terkejut.


"Ti-tidak, Sayang. A-aku bilang kamu ca-cantik kok, suer!" Hans berbicara terbata-bata dengan segala kegugupannya menatap istrinya.


Entah mengapa aura Meera ketika sedang datang bulan malah lebih galak dan juga dingin, mengalahkan sikap suaminya sendiri. Hans pun baru kali ini ketakutan dengan aura Meera yang sangat berbeda.


"Ya itu, kalau kamu bilang aku sangat cantik. Itu tandanya kamu nyindir aku kan, kalau malam ini aku pasti sangat jelek. Apa lagi aku baru PMS, pasti aku lagi jelek-jeleknya kan!" sahut Meera, kesal.


"Ishh, bu-bukan begi--"


"Hiks, ka-kamu jahat Bee. Kamu jahat, masa istrinya sendiri dibilang jelek. Kamu malu ya punya istri kaya aku ini, pasti kamu iri kan liat yang lain punya istri cantik, se*xy dan juga bohay. Huaa ...."


Awalnya Meera terlihat marah, tetapi saat ini dia malah menangis sejadi-jadinya. Entahlah, mood Meera benar-benar hancur. Ini kali pertama bagi Meera selama hidupnya ketika PMS begitu ingin dialem atau dimanja oleh suaminya.


"Ehh, ehh, kok kamu nangis sih. Jangan nangis dong, aku enggak bilang begitu kok. Aku bilang kau itu sangat cantik, bagaikan bidadari tak bersayap yang akan selalu berada disampingku sekarang dan selamanya kamu akan tetap menjadi kesayanganku."


Hans berusaha tenang, untuk terus membujuk istrinya yang sudah menangis sambil merengek. Baru kali ini Hans menghadapi istrinya ketika datang bulan terlihat bagaikan reog yang sangat menyeramkan.


"A-apa seperti inikah seorang wanita ketika PMS, kenapa perubahannya cepat sekali? Tadi marah, terus nangis dan sekarang manja. Benar-benar aneh, semua ini di luar dugaanku!" ucap batin Hans melihat sikap istrinya seperti bunglon yang selalu berubah-ubah.


"Hiks, be-beneran aku se-seperti Bidadari tak bersayapkah? Ka-kamu enggak bohong, kan?" ucap Meera dengan mata yang berkaca-kaca.


Hans menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan meraup wajah istrinya. "Tidak, Sayang. Kamu itu cantik luar dalam, jikalau pun akan ada banyak orang yang bilang kamu jelek ini itu. Bagi aku, kamu tetap adalah bidadari hatiku yang tidak akan pernah tergantikan!"


Gombalan maut yang entah dari mana asalnya langsung meluluhkan hati Meera, sehingga dia merasa terbang setinggi-tingginya ketika mendengar perkataan suaminya yang sangat langka terucap dari bibirnya.

__ADS_1


"Huaaa, aku boyeh peyuk?" rengek Meera dengan suara lucunya membuat Hans terkekeh dan langsung memeluk istrinya begitu erat.


Rasa nyaman diantara keduanya mulai menjalar, hanya saja Hans belum bisa mengungkapkan perasaannya kepada istrinya. Walau Meera sudah tahu kalau Hans juga mencintainya, cuman mulutnya yang bisu masih tidak mau berbicara akibat tertutup oleh kegengsian.


Setelah mulai tenang, Meera terkekeh ketika Hans mencubit gemas hidungnya. Mereka terlihat begitu bahagia, meski mood Meera sesekali suka berubah-ubah sesuai dengan perasaannya.


"Nahkan, kalau tersenyum seperti ini cantiknya bertambah berkali-kali lipat. Jadi,


Bidadariku enggak boleh sedih-sedih lagi. Okay?" ucap Hans tersenyum gemas mencubit pipi istrinya


"Siap Captain ay ay, hihihi ...." Meera terkekeh geli saat suaminya begitu memanjakannya.


"Ya sudah ini di makan ya saladnya, biar perutnya ke isi. Kan tadi kamu susah banget makannya, aku enggak mau kamu sakit. Jadi makan ya, dikit aja." ucap Hans berusaha membujuk istrinya.


"Hem, tapi suapin. Mau?" jawab Meera dengan raut wajahnya yang sangat manja.


"Baiklah, Bidadariku tersayang. Apapun yang kamu minta, aku akan berusaha melaksanakannya dengan sepenuh hati dan juga jiwa ragaku." ujar Hans tersenyum, membuat Meera pun terkekeh tanpa henti.


Ternyata Hans bisa juga mengembalikan mood istrinya yang sempat hancur, dan sekarang malah terlihat sangat bahagia.


Tanpa basa-basi lagi, mumpung mood Meera lagi baik. Hans segera menyuapini salad tersebut untuk istrinya agar perutnya yang terasa kosong bisa terisi.


Apa lagi saat makan malam tadi Meera hanya makan sedikit, dan itu pun tidak ada sampai 1 centong nasi. Sehingga Hans sedikit mengkhawatirkan kondisi istrinya, jika sampai itu berlarut akan membuat asam lambung atau penyakit magh Meera kambuh.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2