
Ya walaupun Meera tahu tidak mudah bagi mereka harus menghilangkan cinta yang baru saja tumbuh diantara mereka. Cuman mau bagaimana lagi, semua sudah garis tangan Tuhan, bahwa mereka bukanlah jodoh yang sesungguhnya. Melainkan hanya sekedar anak tiri, ipar ataupun teman.
Sekarang tinggal lihat kedepannya, apakah Meera dan Hans akan benar-benar berjodoh? Ataulah pernikahan mereka hanya sebuah status untuk menutupi aib yang sudah terjadi pada waktu itu. Entahlah, semua masih menjadi rahasia.
...*...
...*...
Sambil menunggu Hans untuk dipindahkan ke ruang rawat. Tanpa di sengaja ingatan didalam isi kepala Meera langsung membuat mata Meera menatap kerah Alice, bagaikan sorotan tajam seeokor Elang saat melihat predatornya.
Alice yang sedari tadi terdiam tanpa berkata apapun, dan hanya duduk di samping Bram. Seketika menjadi heran atas semua tatapan Meera yang sangat mengejutkan.
"Ke-kenapa menatapku seperti itu?" ucap Alice, gugup ketika melihat sorotan mata Meera.
Bram menyaksikan itu, langsung berdiri dari kursinya dan berdiri dihadapan Meera sambil berkata. "Apa maksudmu menatap calon istriku kaya gitu, hahh?"
Suara lantang Bram sedikit mengejutkan Meera, tetapi tidak membuatnya gentar untuk tetap ingin meminta penjelasan dari Alice. Sebenarnya ketika ucapan dokter kembali di serap, Meera menaruh rasa curiga kepada Alice.
Apa lagi dia yang sudah menolong Meera agar masakannya tidak sampai terbuang sia-sia. Sehingga apa yang dia campurkan berakibat fatal bagi kesehatan Hans.
"Pasti kamu kan, yang sudah mencampurkan sesuatu didalam masakanku, sampai-sampai membuat alergi Hans kambuh?" tanya Meera dengan tegas.
Sorot mata Meera masih tetap tidak teralihkan kepada Alice, sementara Alice masih plenga-plongo mencerna ucapan Meera dengan perasaan bingung dan juga heran.
Tidak ada badai, tiba-tiba Meera menyalahkannya. Padahal Alice sudah berniat baik padanya untuk membantunya agar masakannya tidak terbuang. Cuman, hasilnya malah seperti ini.
__ADS_1
Alice bangkit dari kursi, lalu berjalan perlahan dengan pandangan terus menatap Meera. Mendengar perkataan Meera, membuat Alice benar-benar syok. Dia tidak tahu apa-apa mengenai alergi Hans, ataupun tentang bumbu masak yang berasal dari udang. Akan tetapi Meera seenak udelnya menuduh Alice tanpa bukti yang kuat.
"Apa maksud Kakak mengatakan itu padaku? Jangan bilang kalau Kakak sedang menuduhku, iya?" sahut Alice, tidak terima atas ucapan yang Meera lontarkan padanya.
"Ya, memang itu kenyataannya kan. Jika kamu penyebab dibalik semua kejadian ini!" pekik Meera matanya menatap tajam.
"Ingin rasanya aku berkata kasar kepadamu, Kak. Tapi, semua tidak mungkin. Aku tahu Kakak orang baik, aku paham Kakak seperti ini karena Kakak merasa khawatir tentang kondisi suami Kakak!"
"Namun, bisakah Kakak mengingat semuanya secara detail apa yang terjadi sebelum Tuan masuk rumah sakit? Apakah aku ada mencampurkan sesuatu didalamnya? Bukannya Kakak selalu memantauku, karena Kakak takut jika aku melakukan sesuatu hal buruk dengan masakan Kakak?"
Alice berdiri tegak didepan Meera, tepat disamping Bram sambil kedua mata mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti. Sedangkan Bram yang berada ditengah-tengah mereka merasa sedikit menyingkir, apa lagi aura mereka terlihat sangat mengerikan.
"Ada apa ini? Apakah ada perang dunia ke-5? Astaga, kenapa mengertikan sekali, ketika aku melihat 2 wanita yang terlihat lemah lembut berubah menjadi monster seperti ini." gumam batin Bram sedikit mundur beberapa langkah.
Perdebadan terus terlontar satu sama lain, saling membela diri satu sama lain. Hingga akhirnya Bram mulai mencerna setiap kata yang keluar dari mulut mereka.
"Apa benar yang dikatakan Meera, kalau kamu yang sudah menyebabkan Kakakku menjadi seperti ini? Dari mana kamu tahu jika Hans itu alergi udang? Dan sejak kapan kamu tahu tentang keluargaku?"
Tatapan Bram seketika berubah sangat dalam kepada Alice, Bram mulai terpancing oleh perkataan Meera yang selalu memojokkan Alice atas semua kejadian ini.
"Sudah cukup kalian memfitnahku seperti ini, asal kalian tahu aja ya. Meskipun aku wanita bayaran, tetapi aku masih punya hati untuk tidak mencelakakan orang lain!"
"Semua bisa aku dapatkan dengan cara baik, tanpa harus menggunakan cara kotor seperti apa yang ada didalam pikiran kalian!"
"It's okay, kalian tidak menuduhku mencelakan Tuan Hans karena aku ingin menguasai harta kalian, tapi cara kalian yang menuduhku seperti ini sama saja kalian menganggapku jika aku ini orang jahat!"
__ADS_1
"Untukmu Bram, kita baru saja kenal. Tidak mungkin aku bisa mengetahui semua tentang keluargamu, apa lagi menyangkut hal privasi seperti alergi Kakakmu. Sementara aku untuk memahamimu saja masih harus mengenalmu lebih dalam lagi!"
"Dan untukmu Kak, aku kurang baik apa? Tadi pagi aku sudah membantu Kakak untuk merombak sedikit masakan Kakak, supaya semua makanan tidak mubajir terbuang sia-sia!"
"Bahkan Kakak juga ada disana, melihat cara memasakku bukan? Tapi, kenapa sekarang Kakak malah menyalahkan aku atas semua yang tidak aku perbuat!"
"Sebelum Kakak meninggalkan dapur, aku lebih dulu meninggalkannya. Jadi jika perlu ada yang harus disalahkan, orangnya itu ya Kakak sendiri. Siapa tahu Kakak yang tidak hati-hati mencampurkan semua bumbu tersebut, sehingga Kakak lupa dan malah melempar semua kesalahan pada orang lain!"
Meera terdiam bersama Bram menyimak semua penuturan kata yang Alice ucapkan. Dalam hitungan beberapa detik, mereka berdua kembali menyadari apa yang dikatakan Alice memang ada benarnya.
Lantas siapa yang sudah berusaha mencelakakan Hans, hingga membuat alerginya kambuh secara tiba-tiba?
Dari sekian lamanya Hans tidak pernah merasakannya alergi, akibat dia selalu menjaga pola makan dengan baik. Cuman sekarang pertahanannya jebol, entah karena perbuatan siapa.
Atau mungkin, perkataan Alice ada benarnya. Jika semua ini adalah kecerobohan yang Meera lakukan sendiri, dan malah menyalahkan orang lain. Apa lagi disaat Meera merasa gelisah akibat masakannya yang tidak ada rasanya, dia menjadi panik.
Namun, pada akhirnya bukan masakannya yang hambar. Melainkan lidah Meeralah yang mati rasa. Itu masih menjadi pertanyaan besar bagi Meera, ada apa dengan lidahnya dan siapakah yang sudah campur tangan atas semua masakan yang dia perbuat. Sehingga suaminya menjadi korban, tanpa dia melakukan kesalahan apapun pada orang lain.
Bram pun ikut terdiam, dia muli berpikir keras. Jika memang semua ini terjadi bukan karena kecerobohan atau disengaja. Melainkan seperti ada seseorang yang ingin mencelakakan Kakaknya sendiri.
"Sepertinya ada tikus yang sedang bersembunyi!" gumam batin Bram, sambil tersenyum kecil.
Perdebatan yang sudah mereda, membuat Meera langsung meminta maaf kepada Alice begitu juga Bram. Mereka mulai menyadari kesalahannya jika sudah menuduh Alice sebagai dalang dibalik semua ini.
Jika dipikir-pikir memang Alice tidak masuk kedalam kategori semua kecurigaan dia, apa lagi Alice dan Bram baru saja saling kenal. Jadi tidak mungkin secepat kilah Alice bisa mengetahui semua itu.
__ADS_1
Alergi merupakan suatu penyakit yang sangat privasi, tidak mudah bagi orang luar bisa mengetahuinya. Jika bukan orang dalam yang tahu seluk beluk Bram dan juga Hans.
...***Bersambung***...