Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Apa Kamu Mencintaiku, Bram?


__ADS_3

Bram berjalan memutari kursi, lalu duduk tepat di samping Alice sambil memegang tangan serta wajah Alice begitu lembut. Tak terasa perlakuan Bram kali ini sangat menyentuh hatinya, sampai Alice tidak tahu mau berbicara apa lagi. Dia malah langsung berhambur memeluk Bram begitu erat.


Tangis yang tak terbendung kini pecah sepecah-pecahnya didalam pelukan Bram, semua yang Alice rasakan dia ceritakan tanpa terkecuali. Seolah-olah Bram adalah tempat ternyaman bagi Alice untuk menceritakan semua unek-unek hatinya.


Tanpa disangka Bram pun entah mengapa dia malah meneteskan air matanya, ketika mendengarkan setiap kata demi kata yang diucapkan Alice menusuk hatinya. Ternyata masalah yang Alice hadapi jauh lebih besar dari apa yang Bram rasakan saat ini.


Bram menghapus air matanya, kemudian melepaskan pelukan Alice dan tersenyum menatapnya sambil mengusap semua air mata Alice.


"Stop bersedih, stop menangis dan stop menjadi wanita lemah. Saat ini kamu sudah bebas dari tempat gelap ini. Sekarang waktunya kamu tersenyum bahagia, karena kamu bisa terbang jauh untuk mengejar impianmu dan merawat Nenekmu dengan sangat baik."


"Satu minggu lagi, aku akan membawa Nenekmu berobat ke luar negeri supaya Nenekmu bisa kembali pulih dan kumpul bersamamu. Tapi, aku minta maaf jika keberangkatan Nenekmu tidak bisa menggunakan pesawat yang sudah aku janjikan. Aku hanya bisa melakukan semuanya sesuai dengan kemampuan ekonomiku saat ini."


Mendengar keadaan Bram membuat Alice bimbang, dia sebenarnya sangat senang atas kebebasannya. Ditambah Neneknya akan segera berobat ke luar negeri, cuman di sisi lain. Entah mengapa Alice seperti merasakan bahwa perekonomian Bram tidak sedang baik-baik saja.


"A-apa semua ini akibat kamu membebaskanku? Jadi, semua perekonomianmu yang sudah kamu bangun dengan sangat baik, menjadi hancur karena aku? Jika benar begitu, aku minta maaf. Aku akan berbicara pada Tuan Deo untuk mengembalikan semua uangmu dan biarkan aku tetap bekerja di sini saja. Karena aku---"


"Sudah cukup berbicaranya, aku sudah susah payah membebaskanmu dari penjara ini. Dengan mudahnya kamu mengatakan semua itu, apa kamu tidak memikirkan perasaanku yang rela berjuang demi menyelamatkan hidupmu?"


"Please, Lis. Jangan buat aku merasa bersalah seumur hidupku atas semua janjiku padamu yang tidak bisa aku wujudkan. Apa lagi aku pernah mengatakan janji ini di depan Nenekmu, bagaimana jika Nenekmu suatu saat menagih janjiku ini? Aku tidak mau hidup di dalam bayangan rasa bersalah, karena aku gagal untuk menyelamatkan hidupmu untuk selamanya."


Alice bungkam seribu bahasa, dia tidak percaya bahwa Bram rela melakukan semua itu, hanya demi ingin menyelamatkan dirinya dari tempat yang gelap ini agar bisa memilih jalan yang lebih terang.

__ADS_1


Sekian lamanya mereka terdiam saling menatap satu sama lain, dengan tatapan penuh arti. Dimana Alice mulai membuka mulutnya, sedikit bergetar.


"A-apa kamu mencintaiku, Bram?"


Degh!


Pertanyaan Alice berhasil membuat Bram syok, dia tidak menyangka Alice akan menanyakan hal sedalam itu. Sehingga wajahnya terlihat tegang, jantungnya berdetak sangat cepat layaknya seseorang terkena serangan jantung secara mendadak, lalu pelipisnya mulai di penuhi oleh keringat.


Padahal suasana disana sangatlah dingin dan juga adem ayem, semua berkat rasa gugupnya yang mulai menjalar diseluruh tubuhnya sampai terlihat bagaikan patung.


"Astaga, Alice! Kami ngomong apaan sih sama Bram, ckk. Kalau begini pasti dia bakalan berpikir jika aku berharap dia bakalan mencintai aku, arrghh tidak, tidak tidak!"


Batin Alice terus mengoceh dengan kesal, karena kesalahannya membuat Bram seperti berpikir keras untuk menjawab pertanyaan yang cukup mendalam.


Sampai akhirnya Alice berusaha untuk bersikap tenang, kemudian ...


"Taraaa, prank! Haha ...."


"Aduh, Bram, Bram. Bisa-bisanya menanggapi serius tentang pertanyaanku itu hahah ...."


"Udahlah jangan dipikirkan, itu cuman candaan kok. Habisnya kamu serius banget sih, udah akhh. Ayo kita pulang, katanya kamu mau minta bonus. Jadi enggak nih, hem?"

__ADS_1


Bram tersadar dengan sendirinya ketika perkataan Alice ternyata hanyalah lelucon untuknya. Padahal baru saja Bram terjebak dan ingin mengatakan bahwa dia sudah mulai memiliki perasaan dengannya, cuman semua itu tidak terjadi.


Rasanya begitu lega, saat bibirnya tidak sampai keceplosan untuk mengatakan semua perasaannya.


"Huhh, untung aja dia cepat mengatakan semua itu. Jika tidak aku pasti akan sangat malu, kalau jawabanku serius dan pada akhirnya semua hanyalah sebuah prank. Dasar menyebalkan!" ucap hati Bram, kesal.


"Ekhem, terus aja tertawa. Tertawa yang puas, bisa-bisanya aku lagi serius kamu malah bercanda ya. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu merem-melek tak berdaya berada dibawah kungkunganku!" sambung Bram menatap jengkel ke arah Alice, yang seketika terdiam.


"Yakk, apa-apan ini! Disini yang mau kasih bonus itu aku ya, bukan kamu. Jadi aku yang akan membuatmu merem melek, paham!" pekik Alice tidak terima.


"Ya sudah kita lihat saja nanti, aku atau kamu yang akan merem melek. Let's go, Baby. Muach!"


Bram mencium pipi Alice lalu kabur lebih dulu, karena dia takut terkena cakaran singa yang sangat galak. Seperginya Bram, Alice langsung memekik keras penuh amarah dan juga kekesalan. Sementara Bram mendengar itu malah semakin meledek hingga menertawainya dengan sangat puas.


"Astaga, Bram! Lihat saja nanti aku akan menyiksamu ketika berada di bawah kungkunganku!" teriak Alice sekencang mungkin. Kemudian dia berlari mengejar Bram yang terus meledekinya.


"Tak apalah dia menggodaku, setidaknya dia melupakan tentang pertanyanku tadi. Cuman aku penasaran dengan jawaban itu, apakah tadi Bram akan mengatakan iya atau tidak? Huaa, kenapa aku malah mikirin itu sih. Dahlah lupain aja, yang penting sekarang aku harus cari cara untuk memuaskan Keledai itu. Sampai dia nyerah dengan permainannya sendiri!"


Alice berlari sambil berbicara di dalam hatinya. Sampai kini mereka telah sampai di dalam mobil, lalu Bram segera melajukan mobilnya pulang ke rumah. Dimana rasanya Bram sudah tidak sabar untuk menerima bonus itu, sementara Alice dia masih enggan menatap Bram akibat rasa kesalnya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2