
Padahal telepon itu sempat mati beberapa detik, dan kembali berbunyi membuat Bi Neng semakin penasaran. Jantungnya pun mulai berdetak tidak karuan, harapannya semoga tidak ada sesuatu yang terjadi pada keluarga ini.
Karena telepon rumah menurutnya telepon yang menyeramkan, karena banyak kabar tidak enak yang sering di terimanya.
Telepon itu cuman akan berdering ketika seseorang menghubunginya dengan alasan atau kabar yang sangat penting. Di luar dari persoalan teman bisnis, sahabat atau siapapun. Soalnya jika menyangkut soal itu pasti akan menghubungi melalui ponsel pribadi masing-masing.
...*...
...*...
...Di ruang keluarga...
Bi Neng langsung mengangkat telepon tersebut, dengan wajah yang sedikit gelisah.
[Hallo, dengan Bi Neng dari kediaman rumah keluarga Ivander!] ucap Bi Neng, lebih dulu.
[Hallo, Bi. Maaf mengganggu pagi-pagi. Saya suster dari administrasi rumah sakit Sejahtera, ingin mengabarkan kalau Tuan Hans mengalami kecelakaan di Jalan Mawar Indah tepat di perempatan.]
Degh!
Apa yang di rasakan oleh Bi Neng benar-benar terjadi, tetapi dia tidak menduganya bahwa baru beberap jam Hans pergi meninggalkan rumah. Nasibnya malah menjadi malang seperti sekarang.
[Tu-tuan Hans me-mengalami kecelakaan? Ba-bagaimana bisa, Sus?] tanya Bi Neng, matanya berkaca-kaca.
Prang!!
Bi Neng langsung berbalik menatap ke arah sumber suara tersebut, dimana Meera yang baru saja turun dari tangga dan ingin menaruh alat makannya seketika malah menjatuhkan piring serta gelas itu di lantai.
"Ha-hans ke-kecelakaan? Hehe, Bi-bibi bercanda 'kan?"
Meera tertawa sambil menangis merasakan dadanya begitu sesak, bahkan napasnya mulai tersendat dan jantungnya berdebar sangat cepat bagaikan seseorang yang terkena serangan jantung.
"No-non, Me-meera? Non tenang dulu ya, ini Bibi lagi nanya sama susternya. Siapa tahu susternya berbohong." ucap Bi Neng, wajahnya terlihat panik sambil ikut meneteskan air matanya.
"Bibi, berbohong mengenai Ha-hans 'kan!"
__ADS_1
"Bibi lupa, kalau Hans itu sedang berada di jalan menuju luar kota. Jadi, mana mungkin dia kecelakaan, Bibi jangan mengada-ngada!"
"Suamiku itu baik-baik saja, mengerti!"
Meera berteriak membuat Alice dan Bram yang baru saja sampai di sana langsung menghentikan langkahnya dengan perasaan terkejut.
Mereka yang awalnya cuman mendengar suara pecahan beling, lalu mendengar suara teriakan Meera malah semakin menjadi panik saat tahu Hans mengalami kecelakaan.
Tubuh Meera seketika terjatuh duduk di lantai dalam keadaan beling menancap di telapak tangan kananya. Alice melihat itu, tanpa berpikir panjang langsung mendekati Meera.
"Astaga, Kak Meera!" teriak Alice mencoba untuk menenangkannya sambil memeluknya dengan sedikit menjauhkan Meera dari pecahan beling tersebut.
Bram yang sudah terlihat panik, langsung merampas telepon genggam itu dari tangan Bi Neng. Bram mencecar habis-habisan suster itu dengan berbagai pertanyaan.
Sementara Alice meminta bantuan dari Bi Neng untuk mengambil kotak P3K agar bisa segera mengobati tangan Meera yang sudah mengeluarkan da*rah cukup banyak.
Tak lupa Bi Neng pun memanggil Atun dengan teriakan yang sangat lantang dan sedikit gemetar, supaya Atun segera datang dan membersihkan pecahan beling tersebut.
"Atun, cepat datang kemari!" pekiknya sekeras mungkin.
Tak lama Atun pun datang dengan keadaan panik, tak biasanya dia mendengar Bi Neng berteriak. Selama ini dia mengenal Bi Neng terlihat lemah lembut, meskipun sangat bawel.
Hanya tinggal menunggu karangan bunga saja yang memenuhi halaman atau perkarangan rumah dan juga sepanjang jalan.
"Astaga, Non Meera! Ada apa ini, kenapa Non Meera terluka dan menangis?"
"Non, Alice. Ada apa? Kenap--"
"Udah jangan banyak bertanya! Cepat bersihkan beling itu, jangan sampai tersisa. Ngerti, kamu!" tegas Bi Neng yang baru saja datang.
"Ini, Non Alice. Sini Bibi bantu mengobati tangan Non Meera." ucap Bi Neng kembali, sambil membuka kotak P3K dan langsung membantu Alice untuk menutup luka di tangan Meera.
"Makasih, Bi." ucap Alice sambil menangis, serta mengusap pipi Meera.
"Hans, ada apa denganmu hiks ... Su-sudah aku bilang bukan, ja-jangan pergi. Namun, kamu masih saja ngeyel!"
"Bahkan saat aku ingin ikut, kamu malah melarangku dengan alasan nanti Alice tidak punya teman ngobrol. Padahal kalau aku ada di dekatmu, aku bisa menggenggam erat tanganmu dan kita hadapi semuanya bersama hiks ...."
__ADS_1
Meera menangis tanpa suara, pandangan kosong menyorot ke arah depan. Tangisan seseorang yang tidak di serta oleh suata isakan, itu semua merupakan tangisan hati yang terasa hancir dan terluka parah yang sudah tidak bisa di jelaskan.
Berbeda jika menangis membunyikan suara, itu sama halnya seperti menghilangkan semua beban di dalam hatinya. Cuman, tidak dengan keadaan Meera yang saat ini benar-benar terpukul, setelah mengetahui kejadian buruk terjadi pada suaminya.
Atun hanya bisa menyaksikan semua drama membahagiakan ini penuh kesenangan, wajahnya boleh terlihat peduli sama keluarga Ivander. Akan tetapi hatinya tidaklah sekhawatir wajahnya.
Banyak dendam yang di simpan oleh Atun di dalam hatinya, jadi tidak ada rasa kasian sedikitpun.
Jika Hans bisa membuat hidupnya hancur, maka Atun dan suaminya pun tidak akan pernah merasa takut kalau mereka merupakan dalang dalam pelenyapan Hans.
Tanpa di sangka, setelah tangan Meera sudah selesai di obati, Alice tetap merangkulnya dan menepuk pipi Meera.
Alice merasa sudah tidak beres, karena saat ini mata Meera terlihat sangat kosong, serta bibirnya terus mengoceh tanpa henti.
"Coba saja, Hans. Kamu dengarkan aku, mungkin semua ini tidak terjadi padamu. A-atau kamu pasti sedang ngeprank aku 'kan?"
"Haha, ya aku tahu ini kamu sedang membuat prank seperti pasangan lainnya. Kamu begini juga, karena kamu mau memberi kejutan padaku, iya 'kan? Tapi, kenapa kejutannya sekarang Sayang. Bukannya Anniversary pernikahan kita 2 bulan lagi? Kok Kamu malah ngepranknya sekarang?"
"Taoi, tak apa. Sekarang juga tidak masalah kok Sayang. Nanti kita bisa buat acara di Anniversary kita biar semakin romantis. Aarghh, aku jadi tambah sayang deh hihi ...."
Meera berbicara dengan tawa yang terdengar sangat menyangkitkan, terlihat jelas betapa terpukul dan hancurnya Meera saat dia kembali harus merasakan rasa sakit untuk kesekian kalinya.
Waktu itu, dia harus menerima kenyataan bahwa almarhum mantan suaminya harus meninggal dunia karena kecelakaan. Padahal awalnya semuanya baik-baik saja, dan sekarang Hans yang mengalaminya.
Bram melihat Meera sehancur itu, tidak bisa berkata-kata lagi. Pupus sudah harapan dia kalau Meera masih mencintainya, karena keadaan seperti ini membuktikan jika sepenuh hati dan juga hidupnya sudah Meera berikan pada suami tercintanya.
"Hiks, Kak Meera please, Kak. Sadar ya, Kakak enggak boleh begini, Kak Hans itu gapapa. Alice yakin, Kak Hans kuat kok, apapun masalah akan dia hadapi!"
"Kakak sebagai istrinya harusnya bisa terlihat lebih kuat lagi, hiks. A-alice tidak tega melihat Kak Meera begini. Alice sayang banget sama Kak Meera hiks ...."
Sekuat tenaga Alice memeluk Meera, meskipun dia masih tertawa dibalik kesedihannya, seolah-olah Meera tidak terima oleh semua keadaan ini.
Sampai akhirnya Meera pingsan di dalam pelukan Alice hingga membuat semuanya menjadi panik. Bram yang sudah tidak bisa melihat keadaan Meera, langsung menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit bersama Alice.
Dimana Bram akan membawa Meera ke rumah sakit yang sama, oleh suaminya di rawat. Semua itu untuk memudahkan Bram agar bisa mengecek keadaan Kakaknya.
Bram menyetir diatas kecepatan rata-rata makanya, dalam waktu kurang lebih 30 sampai 40 menit mereka sudah sampai. Berbeda jika kecepatan normat bisa kurang lebih 2 jam mereka sampai.
__ADS_1
...***Bersambung***...