Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Penjelasan Atun Dan Jaka


__ADS_3

Tanpa berlama-lama, Hans segera meminta sang dokter untuk mengambil da*rahnya agar anak tersebut bisa langsung di tolong tanpa harus membuatnya berada lama di dalam keadaan yang kritis.


Dokter itu segera menyuruh sang suster untuk mengecek semuanya dari mulai golongan da*rah, dan juga kesehatan Hans sebagai pendonor agar kelak tidak akan membahayakan keduanya.


Hans pergi bersama sang suster, sementara pria itu hanya bisa kembali duduk di kursinya setelah dokter kembali masuk untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.


Setelah selesai melakukan donor da*rah, Hans pun kembali ke tempat semula untuk menunggu kabar tentang keadaan Rara selanjutnya.


Namun, selang beberapa menit. Ternyata ada 5 kepolisan datang, karena setiap ada korban kecelakaan maka dokter akan menyarankan suster untuk segera menghubungi pihak berwajib supaya tidak salah dalam mengambil keputusan.


"Permisi, apakah Tuan bagian dari keluarga korban kecelakaan?" tanya komandan polisi yang ditemani oleh kedua asistennya.


"Bukan, saya orang yang udah menolong anak itu. Maaf sebelumnya, Pak. Tahu dari mana kalau saya membawa korban kecelakaan?" ucap Hans, bingung.


"Kami mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit. Maka dari itu kami segera datang ke sini, untuk meminta keterangan dari korban dan juga saksi yang berada di TKP." ucap komandan polisi, wajah di penuhi keseriusan.


Hans hanya bisa menganggukkan kepalanya, lalu perlahan mulai menjelaskan tentang kronologi kejadian dibantu oleh pria yang datang bersama Hans.


Setelah semua kejadian tersebut di ceritakan, komandan polisi segera berpamitan ketika sudah mengetahui jikalau Rara dalam keadaan yang cukup baik. Meski masih dalam keadaan kritis, tak lama dari situ pria itu mendapatkan kabar bahwa keluarganya ada yang mencarinya.


Jadi mau tidak mau pria itu bergegas pergi setelah meminta izin kepada Hans, sementara Hans dia dipanggil oleh suster untuk menyelesaikan biaya adninistrasi rumah sakit yang masih belum ada tanggung jawabnya.


Akan tetapi, ketika Hans sudah selesai sana pelunasan pembayaran tersebut. Dia malah mendapatkan telepon dari asistennya, jika hari ini dia sufah terlambat 20 menit untuk menghadiri meeting pentingnya bersama dengan kolega besar.


Dengan perasaan gelisah, dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Bahkan meeting tidak bisa di batalkan, mau tidak mau Hans langsung pergi dalam keadaan jas yang sudah dia buka karena banyak terdapat cairan merah di pakaiannya.

__ADS_1


Hans pergi tanpa meninggalkan pesan apapun saking terburu-burunya, sampai akhirnya tanpa disadari dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Hans malah membiarkan korban ditinggal di rumah sakit sendirian dan juga tanpa meninggalkan pesan yang cukup akurat. Sekarang barulah Hans menerima semua akibat kebod*dannya sendiri.


Mendengar cerita Hans tersebut, Atun dan Jaka sedikit tidak percaya. Mereka menangkis semua kisah itu, lalu menceritakan seperti versinya sendiri ketika mereka mengetahui kecelakaan tersebut.


Pada waktu itu Atun baru saja pulang dari rumah majikannya, tepat di siang hari Atun pulang dengan berjalan kaki menuju rumahnya. Akan tetapi, dia melihat segerombolan orang sedang memenuhi jalan akibat beberapa menit lalu kurang lebih setengah jam terjadi kecelakaan. Yang di duga korbannya merupakan anak kecil yang sedang membawa boneka yang saat ini ada di pinggir jalan berlumuran cairan merah.


Atun menyaksikan itu langsung menangis histeris ketika boneka kesayangan anaknya telah menjadi korban, awalnya Atun tidak percaya.


Sampai dia berlari menangis sambil memeluk boneka itu menuju rumahnya, akan tetapi ternyata benar. Anaknya tidak ada di rumah, sementara keadaan rumah tidak di kunci.


Begitu juga dengan adik kandung Atun yang tertidur di ruang tengah dalam keadaan tv menyala. Atun marah besar, akibat suara teriakan Atun sampai mengemparkan seisi rumah.


Mereka menjadi panik, hingga Atun langsung kembali berlari keluar rumah hanya demi memberikan kabar pada suaminya tentang anak mereka yang tertabrak oleh orang tak bertanggung jawab.


Jiwa ke Ibuan Atun dan hati nurani Jaka langsung koneksi sampai mereka menaiki motor yang mereka pinjam dari teman Jaka. Jaka mengendarai motor dalam keadaan tergesa-gesa dan diselimuti dengan perasaan yang begitu kalut.


Kurang lebih beberapa menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit tersebut. Segera mungkin Jaka memakirkan motornya, lalu pergi berlari bersama dengan suaminya memasuki rumah sakit.


"Hiks, pe-permisi Mbak. Apakah benar disini ada korban anak perempuan yang masih berusia 7 tahun akibat kecelakaan?" tanya Atun sambil terisak.


"Cepat, Sus. Katakan dimana anak kami berada, dia adalah anak satu-satunya. Kami tidak mau sampai terjadi suatu hal buruk dengannya!" pekik Jaka, di penuhi rasa gelisah tidak tenang.


"Mohon tunggu sebentar ya, Pak, Bu. Saya cari data-datanya terlebih dahulu." jawab suster yang berjaga di administrasi dengan lembut.

__ADS_1


"Anak kecil yang mengalami kecelakaan di bawa ke ruangan UGD, Pak. Ruangannya berada di sana, Bapak sama Ibu lurus aja sampai mentok lalu belok ke arah kiri nanti beberapa lorong. Kemudian Ibu sama Bapak ambil yang sebelah kanan nanti disana ada bacaan Uangan UGD di sebelah kanan."


Suster yang berjaga di administrasi itu langsung menunjukkan arah jalan ke arah ruangan UGD, bertujuan agar lebih memudahkan mereka untuk menemukan ruangannya.


Tanpa berpikir lama, Jaka dan Atun pergi berlari dalam keadaan menangis menuju ruangan UGD yang sudah di tunjukkan arahannya.


Sesampainya di sana, tepat dengan seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Terjadi sedikit kebingungan ketika dokter itu seperti mencari seseorang, akan tetapi Atun segera menanyakan tentang kondisi anak kesayangannya itu.


"Dok, bagaimana anak saya? Dia selamat 'kan, Dok. Dia baik-baik aja 'kan, Dok? Dia itu adalah anak yang kuat Dok, dia tidak pernah mengeluh ketika sakit asmanya kambuh. Bahkan dia juga anak yang pintar, jadi tidak mungkin kalau dia menjadi anak yang lemah hanya karena di tabrak oleh orang tak bertanggung jawab hiks ...."


Atun menangis sesegukan sambil menatap manik mata sang dokter yang masih bingung, dia tidak mengenali Atun dan Jaka. Lantaran yang membawa Rara ke sini adalah Hans. Jadi, itulah yang membuat dokter lebih berhati-hati dalam memberikan informasi mengenai keadaan pasiennya.


"Maaf, Ibu, Bapak. Kalian ini siapanya korban ya? Perasan tadi korban ke sini dibawa oleh kedua pria yang berjaga disini, hanya saja salah satu pria yang sebagai saksi pergi karena ada urusan keluarga. Cuman yang satunya lagi saya tidak tahu, karena tadi ada disini sedang menunggu pasien." ucap dokter, wajahnya terlihat kebingungan.


Atun dan Jaka juga menjadi bingung, karena dia tidak mengerti sama apa yang di katakan oleh dokter itu. Sampai akhirnya salah satu suster diutus untuk mencari tahu kemana perginya Hans.


Sebaliknya suster itu, dia langsung menjelaskan pada mereka jika Hans pergi begitu saja saat menyelesaikan pembayaran rumah sakit.


"Apa? Dia kabur! Kenapa dokter tidak menahannya, hahh!"


"Kenapa juga kalian tidak melaporkan kasus ini ke pihak berwajib? Jangan bilang kalau rumah sakit ini tidak bekerja sama dengan pihak kepolisian mengenai kasus ini, hahh!"


Jaka berbicara dengan nada penuh emosi menatap sang dokter dengan tatapan mema*tikan hingga terkesan begitu menyeramkan.


Dokter yang baru saja mau mencoba menjelaskan semuanya, tetapi Atun malah memotongnya sampai menyerobotnya saat foto Rara di perlihatkan di depan wajah dokter itu agar membuatnya percaya. Jika Atun dan Jaka memang benar adalah kedua orang tua kandung dari Rara, korban kecelakaan liar.

__ADS_1


Dari situlah, sang dokter percaya dan mulai menjelaskan tentang kondisi Rara yang saat ini sedikit membaik walaupun dia harus berada di dalam kondisi kritis atau bisa juga dibilang Rara mengalami koma untuk beberapa hari ke depan.


...***Bersambung***...


__ADS_2