Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Penyesalan Bram


__ADS_3

Bram dan Hans pun di bawa keluar dari ruangan, sebab waktu berkunjung sudah habis dan keadaan di dalam pun sudah tidak karuan. Bahka ketika di bawa ke dalam sel pun Bella masih meraung-raung, karena dia tidak terima sama sakit hati yang ada di dalam dirinya.


Hans pulang dalam keadaan menyetir, sedangkan Bram masih menangis penuh amarah di dalam mobil setelah mengetahui bahwa kema*tian Daddynya ternyata ada campur tangan mantan kekasihnya.


Semua kisah ini berhasil membuat hati mereka berdua terpukul. Satu sisi Hans menyalahkan dirinya akibat dia keluar dari rumah dan tidak menjaga Daddynya dengan sangat baik.


Namun, disisi lainnya. Bram juga ikut merasa bersalah telah menjadi anak yang begitu gagal dalam hal menjaga Daddynya. Beberapa kali dia selalu mengecewakan Daddynya, sampai di dalam hati mereka terdapat penyesalan yang cukup berat.


...*...


...*...


Setibanya di rumah wajah Bram dan Hans terlihat begitu datar, mereka pulang tanpa menyapa istrinya yang sedang berada di ruang keluarga. Kaki mereka terus berjalan, menuju kamarnya masing-masing tanpa berhenti walaupun mendengar suara istrinya memanggil.


"Sayang, aku disini loh. Masa iya di cuekin sih! Bram!" pekik Alice yang kesal dengan sikap suaminya.


"Hans, Bram. Ada apa dengan kalian?" ucap Meera, menatap bingung ke arah dua pria yang sudah menaiki anakan tangan menuju kamarnya.


Brakk!


Suara pintu kamar tertutup cukup kencang, membuat Alice dan Meera merasa terkejut.


"Astaga, Bram! Ada apa sih sama tuh orang, pulang-pulang udah kek orang kesambet, diam mulu. Sumpah, ngeselin banget!" ujar Alice, sambil mencekram bantal kecil yang ada di sofa.


"Tenang, jangan marah-marah mulu. Kasihan anakmu loh, nanti dia ikutan kesel sama Papahnya." jawab Meera, berusaha menenangkan. Meskipun dia pun merasa cemas dengan keadaan suaminya.


"Habis aku kesel, Kak. Lihat aja, mereka pulang dari kantor polisi malah kaya patung begitu. Udah tahu kita dari tadi menunggu berita, ehh ... Mereka biasanya pulang-pulang nyelong aja. Berasa kaya kita enggak ada di rumah aja!" celoteh Alice.

__ADS_1


"Biarkan saja, mereka kayanya butuh waktu buat sendiri dulu. Aku yakin, ada sesuatu yang mereka ketahui dari Bella. Sehingga membuat mereka berdua menjadi syok dan terpukul."


"Jadi, kamu tenang ya. Kita sebagai istri harus bisa memahami sikap suami, jangan sampai kita selalu menuntut mereka untuk bisa selalu ngertiin kita. Akan tetapi, kita lupa kalau suami juga butuh di pahami ketika dia benar-benar dalam keadaan seperti ini."


"Untuk itu, aku mau kamu harus belajar lebih dewasa lagi. Supaya kamu bisa memahami suamimu, jangan seperti ini. Aku tahu, mungkin ini bawaan bayimu. Cuman, kamu juga harus mengerti. Ada saatnya kamu merasa kesal, dan ada saatnya kamu harus meredakan semua itu. Agar kelak, hubungan rumah tangga kalian tidak akan menjadi hancur hanya karena keegoisan. Mengerti, cantik?"


Begitulah Meera, dia selalu memberikan pengertian kepada Alice yang saat ini sedang kesal dengan sikap suaminya.


Alice yang tidak bisa berkata-kata segera memeluk Meera, dia sangat-sangat berterima kasih telah di kirimkan sosok Kakak yang sangat baik untuknya.


Di balik Alice harus kehilangan banyak orang yang dia sayang. Tuhan menggantikannya sama orang-orang yang jauh lebih menyayanginya, walau bukan dari saudara kandungnya sendiri.


Mereka pun kembali menonton drama sambil menunggu suasana hati Bram dan Hans mulai sedikit membaik. Kurang lebih 1 jam, akhirnya mereka berdua perlahan mulai melangkah menuju kamarnya masing-masing.


Dimana Meera berusaha untuk menanyakan apa yang sudah terjadi ketika mereka bertemu Bella, sedangkan Alice berusaha menenangkan suaminya yang sangat-sangat butuh pelukan kasih sayang.


Meera yang mendengar itu pun benar-benar syok, dia tidak menyangka bila kematian mantan suaminya adalah campur tangannya akibat rasa sakit hati karena tidak di restui.


Ya, walaupun hati Meera sudah sepenuhnya milik Hans. Akan tetapi, kenangan baik terhadap mantan suaminya selalu tersimpan jelas di dalam ruang tersendiri. Sebab mantan suaminya itu, adalah pengganti Ayahnya yang sudah meninggal.


Hans langsung memeluk istrinya, dia sangat tahu bagaimana perasaan Meera ketika mengetahui ini semua. Bahkan sempat beberapa kali Hans menyalahkan dirinya sendiri, sampai membuat Meera segera menangkis semua itu.


Susah payah Meera menjelaskan bahwa semua yang terjadi bukan karena salahnya ataupun Bram. Melainkan semua ini sudah jalan takdir yang Tuhan rencanakan untuk mereka semua. Jika tidak, maka tidak akan mungkin Tuhan menyatukan mereka dengan caranya yang terkenal unik, tetapi sedikit menyakitkan.


Berbeda dengan Alice, dia terus berusaha menimpahkan semua kasih sayangnya kepada suami tercintanya saat ini.


Alice tahu, di saat yang seperti ini belum tepat rasanya untuk dia mengetahui semua kisah yang suaminya dapatkan. Bram hanya sekedar sedikit cerita, jika Daddynya meninggal itu di sebabkan oleh Bella yang tidak terima bila Daddynya tidak memberikan restu.

__ADS_1


"Aku akan bersumpah, bahwa dia akan menerima hukuman ma*ti tepat di tanggal kema*tian Daddy beberapa bulan lagi!" ucap Bram, di dalam pelukan istrinya.


"Tenang, Sayang. Kita lakukan yang terbaik untuk menuntut keadilan, tetapi ingat. Kita masih punya Tuhan, jadi serahkan pada-Nya karena Dia yang tahu apa yang terbaik buat kita." jawab Alice.


"Tapi, ini juga salahku. Aku sudah membuat dendam di dalam hati Bella muncul. Aku pula yang tidak bisa menjaga Daddy. Jadi, semua ini salahku. Salahku! Hiks ...."


Berulang kali Bram terus menyalahkan dirinya sendiri, sambil memukul ranjang hingga Alice harus lebih ekstra menenangkannya. Alice takut, kalau Bram sampai melukai dirinya sendiri akibat rasa bersalahnya yang mulai menguasai dirinya.


"Cukup, Sayang. Cukup! Kamu lihat anakmu, dia pasti sedih melihat Papahnya seperti ini. Jadi, aku mohon please. Jangan seperti ini!"


"Jadikan penyesalanmu itu sebagau suatu pembelajaran, bahwa tidak selamanya orang baik bisa menjadi orang baik bila hatinya telah terluka. Dan tidak selamanya orang jahat akan menjadi orang jahat, bila dia memiliki tekat untuk berubah!"


"Dari sini harusnya kamu lebih berhati-hati lagi, dalam menentukan sikap. Perbaiki sikapmu yang kurang bagus, dan lebih bagusin lagi sikapmu agar ke depannya kamu bisa menjadi pria yang jauh lebih baik."


"Aku yakin, pasti Daddy dan Mommymu akan bangga bila melihat anak-anak mereka bisa sukses dengan jalannya masing-masing."


"Percaya, Sayang. Tidak ada satu orang tua pun yang akan menyalahkan anaknya, siapa tahu ini memang sudah takdir Daddy pergi dengan cara seperti itu. Sebab disana ada yang sudah menunggu Daddy, yaitu Mommymu. Pasti mereka sudah bahagia di sana karena mereka telah kembali bersatu."


"Jadi, tugasmu sekarang buat mereka bangga dan jadikan semua ini semangat agar kamu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Ingat, sebentar lagi kamu akan menjadi Papah loh. Jadi, tolong ajarkan anak kita kebaikan agar kelak dia bisa berjalan di jalan yang seharusnya."


Alice tersenyum mengusap semua air mata suaminya yang selalu menetes. Untuk yang pertama kalinya, Bram mendengar istrinya menasihatinya dengan perkataan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Perkataan itu mampu menggetarkan hati Bram, rasanya dia tidak mau melepaskan pelukannya saat ini. Bram benar-benar beruntung bisa di pertemukan dengan Alice, setelah dia melewati lika-liku kehidupan yang cukup pahit.


Sampai pada akhirnya tak terasa, saking kecapeannya menangis. Bram malah tertidur di dalam pelukan istrinya, yang mana Alice harus tetap duduk dalam posisi kedua kaki berselonjor diatas kasur dan memeluk suaminya dari arah samping kanan sambil tersenyum.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2