Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Awal Mula Munculnya Dendam


__ADS_3

Daddy Bram kembali menatap televisi dengan wajah yang sangat datar. Di tidak lagi menatap Bella, karena menurutnya itu sudah sangat tidak baik untuk matanya.


Apa lagi istrinya yang dulu dan juga sekarang memang tidak dia biarkan untuk menggunakan pakaian terbuka, hanya sekedar menampilkan paha mulus ataupun perut ****ynya. Sebab itu semua adalah pemicu terbesar seorang laki-laki yang akan menatap rendah seorang wanita.


"Dad, apa sih! Bella itu calon istriku ya, jadi aku enggak mau sampai Daddy tidak merestui hubungan kami. Ingat, Dad. Aku saja tidak suka dengan 'DIA', tetapi Daddy tetap menikahinya. Jadi, aku pun sama. Aku akan tetap menikahi Bella, walaupun Daddy tidak setuju!"


"Lagi pula stop menilai seseorang dari pakaiannya, belum tentu 'kan dia seperti itu. Bella berpenampilan seperti ini, ya memang itulah cara berpakaiannya dari kecil. Jadi dia lebih nyaman seperti ini dari pada memakai pakaian yang sedikit tertutup, karena itu tidak membuatnya nyaman!"


Bram yang tidak terima dengan perkataan Daddynya, langsung membatah semua itu. Bram tetap berpihak pada Bella, walaupun ada perkataan Daddynya yang memang benar adanya.


Bahkan, Bram sendiri pun beberapa kali sempat menasihati Bella. Cuman dia sangat keras kepala, sampai akhirnya Bram berusaha untuk 'ya sudahlah mungkin ada saatnya dia berubah, aku tidak boleh terlalu menekan atau memaksakannya. Kelak dia juga akan paham dengan semuanya.'


Itulah kata-kata terakhir Bram, ketika dia sudah mulai lelah untuk mengarahi Bella supaya bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi untuk ke depannya.


"Tahu apa kamu tentang isi hati seseorang Bram, hem? Dengerin baik-baik ya, jika dia memang wanita baik-baik pasti dia akan menjaga tubuhnya sebagaimana dia menjaga harga dirinya. Tak masalah dia mau berpenampilan seperti apa, asalkan ingat! Semakin bertambahnya usia seseorang, maka seharusnya semakin tinggi pula nilai harga dirinya!"


"Jika memang dia tidak bisa menggunakan pakaian tertutup, tak masalah. Masih banyak model baju yang tidak terlihat perut dan juga pahanya bukan? Jadi, mau alasan apa lagi. Hem?"


"Untuk itu, Daddy tidak mau lagi mendengar apapun alasan dari kalian! Daddy tahu, kamu sudah dewasa, kamu sudah punya jalan sendiri. Maka dari itu, kamu pasti tahu mana yang terbaik dan mana yang tidak. Jadi, Daddy percaya bahwa kamu pun pasti sudah menasihatinya bukan?"


"Cuman mungkin, memang dianya yang keberatan untuk berubah, so ... Biarkan dia seperti itu. Jalanlah masing-masing, dan cobalah cari wanita yang lebih baik dari ini, karena Daddy tidak mau memiliki menantu yang tidak mengerti tentang adap sopan santun!"


Kali ini ucapakan Daddy Bram benar-benar tidak bisa terbantahkan. Bella dan Bram hanya bisa terdiam saling menatap satu sama lain. Rasanya Bella ingin sekali menjawab semua perkataan Daddynya Bram, cuman kembali lagi. Dia harus menahan semua itu agar masalah tidak semakin melebar luas.


"Tidak, Dad. Bram tetap akan bersama Bella, Bram yakin Bella itu sebenarnya wanita yang baik. Hanya saja dia masih memiliki ego yang cukup besar, tetapi Bram akan buktikan pada Daddy. Bahwa Bella itu wanita yang baik, tidak seperti apa yang Daddy pikirkan!"

__ADS_1


Bram pun langsung menarik Bella meninggalkan Daddynya, lantaran emosi di dalam hati Bram sudah tidak bisa lagi di kontrol. Bram takut, bila kata-katanya nanti akan menyakiti Daddynya. Sehingga dia lebih memilih untuk pergi membawa Bella.


"Loh, Tuan. Mau kemana? Ini--"


"Sudah biarkan saja, Bi. Anak itu memang susah untuk diatur!" sahut Daddy Bram, dengan nada cueknya.


Bi Neng yang baru saja mau mengantarkan minuman serta cemilan, melihat kejadian itu malah di buat bingung. Sampai akhirnya Bi Neng kembali ke dapur, berpapasan oleh Meera yang baru saja datang dari pintu samping bersama supir yang membawa belanjaan dapur.


"Loh, Bi. Itu minuman buat siapa? Apakah ada tamu?" tanya Meera, bingung.


"Itu Nyonya, tadi Tuan Bram datang membawa pacarnya. Cuman, Tuan besar sepertinya tidak suka dengan gaya penampilannya. Jadi, terjadilah sedikit percekcokan diantara mereka. Dan Tuan Bram memilih untuk pergi bersama pacarnya."


Bi Neng sedikit menjelaskan kepada Meera, walaupun dia hanya tahu sedikit karena tidak sengaja mendengar percakapan mereka, ketika ingin mengantarkan makanan serta minuman.


Meera hanya bisa menganggukan kepalanya, sambil menata belanjaan dapur bersama Bi Neng. Meski rasanya Meera penasaran dengan pacar Bram, cuman dia tidak mau ikut campur terlalu dalam mengenai dunia percintaan mereka.


...*...


...*...


Di dalam mobil, Bella menangis sambil meronta-ronta, lantaran dia tidak terima di rendahkan oleh Daddy Bram seperti tadi. Sementara Bram yang sangat pusing, langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aku enggak terima, Bram. Aku enggak terima! Berani sekali Daddymu berkata seperti itu padaku, sementara aku tidak pernah sedikitpun memiliki sikap seperti itu!"


"Dari kecil memang seperti inilah gaya pakaianku, jika memang Daddymu tidak suka. Dan kamu tahu semua itu, kenapa kamu memilihku!"

__ADS_1


"Kalau sudah begini bagaimana, hahh? Bagaimana!"


"Pokoknya aku tidak akan pernah melepaskanmu, karena aku sangat mencintaimu. Jadi, aku tidak mau sampai kamu mutusin aku cuman gara-gara Daddymu itu. Paham!"


Bella berteriak di dalam mobil penuh emosi yang bergejolak di dalam hatinya. Bram yang melihat itu hanya bisa memeluk Bella sangat erat, agar dia kembali tenang. Meski beberapa kali Bella memberontak untuk dilepaskan, tetapi Bram tetap tidak mau.


Ya, walaupun ada perkataan dari Daddynya sendiri yang sepemikiran sama Bram, tetapi kembali lagi. Bram juga tidak bisa membiarkan Bella jatuh di tangan orang lain karena dia begitu mencintainya.


...*...


...*...


Setelah kejadian itu, Bella semakin sudah untuk di kontrol. Dia sering kali membuat Bram menjadi khawatir, ketika mengetahui bahwa Bella semakin sering pergi ke BAR bersama teman-temannya.


Disitulah, pikiran Bella suntuk hingga dia kebanyakan minum dan terjadilah adegan berci*uman bersama salah satu teman prianya. Dan, membuat Bram yang melihat itu menjadi panas sampai dia terbawa emosi serta langsung menonjok keras wajah pria itu.


Dirasa puas, Bram pergi meninggalkan pria itu dalam keadaan babak belur. Sementara Bella, dia meraung menangis untuk menahan Bram. Cuman, posisi seperti itu membuat Bella keilangan keseimbangan dan tumbang dalam keadaan teler.


Amarah dan kekecewaan bercampur menjadi satu di dalam isi kepala Bram, tanpa di sangka-sangka perkataan Daddynya kembali berputar di kepalanya. Jika apa yang Daddynya katakan itu memang fakta dan nyata. Tidak hanya sekedar omongan belakang.


Berkat masalah ini membuat Bram harus memutuskan Bella yang pertama kalinya, cuman selang beberapa bulan mereka kebali bersama akibat cinta mereka yang sangat besar. Dan Bram, memberikan kesempatan pada Bella agara dia berubah sesuai dengan keingin Daddynya.


Awalnya Bella berubah, cuman lama kelamaan disaat dia beberapa kali bertemu kembali dengan Daddy Bram. Dia tetap tidak merestui hubungan mereka.


Inilah awal mula munculnya dendam yang sangat membekas di hati Bella. Membuat dia buta akan segalanya, sehingga dia merencanakan sesuatu yang akan membuat Daddy Bram tidak lagi bisa menjadi penghalangan bagi hubungan mereka ke depannya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2