Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Dimana Istriku?


__ADS_3

Seketaris tersebut berperang didalam hatinya dengan perasaan yang sangat gondok. Sebenarnya dia sudah sangat lama memendam perasaan kepada Hans.


Namun, setiap kali dia berusaha mendekati Hans dengan cara memberikan perhatian lebih padanya. Hans tetap sama sekali tidak menanggapinya, dia lebih memilih diam dari pada waktunya terbuang sia-sia cuman demi menanggapi orang yang tidak penting.


Sesampainya di lantai 30, Hans segera berjalan menuju ruangannya dan diikuti oleh asistennya Yudha, yang juga kembali ke ruangan sendiri.


Sementara seketarisnya langsung menuju mejanya yang berada di antara ruangan Hans dan juga Yudha.


"Huhh, nasib-nasib. Kapan gua bisa jadi orang kaya, enggak usah ngurusin kerjaan yang buat gua pusing. Andai waktu bisa gua putar, pasti gua ikutin cara Ibu tirinya itu." gumam batin seketaris.


Disela kedumelan seketaris Hans, dia masih tetap bersikap profesional untuk mengerjakan semuanya dengan sangat baik.


Berkutak dengan pikiran kesal, pekerjaan yang menumpuk, membuat seketaris trsebut merasa badmood. Dia segera menelepon staff OB untuk membawakannya Coffe agar matanya tidak mudah lelah, meski otak selalu diforsil untuk berjuang.


...*...


...*...


Di dalam ruangan Hans sedang kebingungan untuk mencari keberadaan Meera, bahkan dia tidak melihat tas yang ada diatas meja didekag sofa.


Hans hanya fokus pada keberadaan Meera yang tiba-tiba hilang, dan tiba-tiba datang. Semua itu membuat Hans menjadi bingung.


Tanpa berkata apapun, Hans segera menghubungi Yudha untuk segera datang ke ruangannya. Karena hanya Yudha yang tahu dimana keberadaan Meera saat ini.


Hanya hitungan detik, Yudha langsung mengetuk pintu ruangan Hans dan masuk kedalam dengan keadaan sedikit cemas.


"Permisi, Tuan. Ada apa memanggil saya? Kenapa tadi di telpon suara Tuan begitu cemas?" tanya Yudha, khawatir.


Hans berbalik, lalu berjalan mendekati Yudh dan berkata. "Dimana istriku? Kenapa saat aku masuk kesini dia sudah tidak ada?"


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu, karena selepas saya mengantarkan Nyonya ke ruangan Tuan. Dia masih disini menunggu Tuan selesai meeting, bahkan ketika saya tawarkan minum Nyonya menolaknya." ucap Yudha, penuh kebingungan saat melihat ruangan Hans kosong.


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu, tentang urusan sampai datang kesini?" tanya Hans.


"Tidak, Tuan. Nyonya cuman bilang dia akan menunggu Tuan sampai selesai meeting, itu saja." jawab Yudha, jujur.

__ADS_1


Hans yang mendengar itu hanya bisa terdiam, memikirkan ada urusan apa Meera ingin menemuinya. Apakah ada sesuatu buruk yang terjadi dengannya, atau ada urusan yang menyangkut tentang Bram?


Pertanyaan-pertanyaan itulah yang saat ini ada didalam pikiran Hans, ketika tidak menemukan keberadaan Meera di ruangannya.


"Apa perlu saya tanyakan ke security, Tuan. Apakah mereka melihat Nyonya sudah pulang atau masih ada di kantor ini?" ucap Yudha, kembali.


"Tidak perlu, kembali ke ruanganmu!" tegas Hans, membuat Yudha menganggukan kepalanya. Kemudian perlahan Yudha membungkukkan badan, lalu pergi meninggalkan ruangan Hans.


Setelah pintu tertutup bersamaan perginya Yudha, Hans masih merasa bingung dengan kedatangan Meera secara tiba-tiba dan sekarang lebih bingung lagi saat tidak menemukan Meera di ruangannya.


"Astaga, ada apa dengan wanita itu? Kenapa dia senang sekali membuatku bingung dan cemas seperti ini? Sebenarnya, apa sih tujuan dia datang kesini? Kenapa pwrasaanku jadi enggak enak begini?"


"Apa jangan-jangan karena aku terlalu lama meeting, sehingga dia bosan lalu pulang ke rumah? Bisa jadi sih, tapi yasudahlah."


"Jika memang tujuan kedatangannya itu penting, pasti dia akan menungguku sampai selesai. Kalau pun tidak itu artinya dia cuman sekedar mampir. Jadi, lebih baik sekarang kembali bekerja, dan lupakan masalah itu!"


Hans berbicara dengan dirinya sendiri, sambil menatap lurus kearah pintu. Disaat Hans ingin membalikan badan dan berjalan menuju meja kerjanya. Tiba-tiba matanya tanpa sengaja melihat sebuah tas yang berada diatas meja dekat sofa.


"Tas siapa itu? Apa jangan-jangan itu milik Meera? Tapi, kenapa dia meninggalkannya disini?" tanya Hans, bingung melihat tas tersebut.


Tanpa basa-basi, Hans mencoba mendekati tas itu dan duduk dihadapannya. Wajah bingung penuh penasaran membuat Hans perlahan membuka isi tasnya.


Setelah kotak itu berada ditangannya, mata Hans membola besar melihat isi kotak tersebut adalah sebuah makanan yang dihias secantik mungkin membuat Hans menatap kagum.






Semua makanan serta minuman yang berada didalam tas, berhasil mengundang selera makan Hans. Yang awalnya dia tidak kepikiran untuk makan lantaran pekerjaan masih menumpuk, sekarang malah menjadi sangat lapar.


"Apa semua ini dia yang belikan hanya untukku? Jika benar, kenapa dia beli sebanyak ini? Memangnya dia kira perutku karung goni?" gumam Hans, saat menatap semua makanan diatas meja.

__ADS_1


"Cuman, entah kenapa ketika melihat semua ini perutku malah terasa sangat lapar. Apa aku makan aja? Tapi, nanti deh. Lebih baik aku ke kamar mandi dulu bersih-bersih."


Hans langsung bangkit dari sofa, lalu membuka jas biru dongkernya dan menaruhnya dibelakanh kursi kerjanya.


Perlahan Hans berjalan sambil melipat lengan kemejanya, kemudian saat tangan Hans ingin membuka pintu dia mendengar suara yang begitu samar.


"Suara apa itu? Kenapa sumber suaranya dari dalam kamar ini?" tanya Hans, wajahnya begitu penasaran saat mendapati kamar tidurnya dimasuki oleh seseorang untuk pertama kalinya.


Tanpa basa-basi lagi, Hans bergegas membuka pintu kamar tidur dalam keadaan panik penuh emosi.


Ceklek!


Pintu terbuka lebar bersamaan munculnya sosok wanita dalam keadaan tertidur dan ponselnya menyala.


Entah ada apa dengan hati ini, Hans beberapa kali dikejutkan oleh semua kejadian didepan matanya. Seorang wanita sedang tertidur pulas diatas ranjangnya, bukanlah wanita lain. Melainkan istrinya sendiri.


Hans menggerutukki kebo*dohnya sendiri, saat mencari keberadaan Meera tanpa menengok kedalam kamarnya. Hans mengira, bahwa Meera tidak akan berada didalam kamarnya.


Nyatanya, Meera sedang asyik bersama mimpinya dalam keadaan ponsel terus menyala memutar film drama Korea yang sangat romantis.


"Aku kira dia sudah kembali ke rumah, ternyata dia malah betah berada dikamar ini." ucap Hans sedikit tersenyum, menatap Meera.


"Entah kenapa setiap dia menyentuh semua barang-barangku, rasanya aku tidak akan pernab bisa untuk memarahinya."


"Berbeda jika orang lain yang menyentuhnya, pasti aku akan sangat marah. Termasuk Bram, adikku sendiri yang sering kali terkena amarahku akibat tangan jahilnya selalu ingin menyentuh apapun yang menjadi milikku."


"Andaikan kejadian itu tidak terjadi, pasti hubunganku dan Bram tidak akan seperti ini. Tapi, aku masih heran kenapa semua itu terjadi disaat yang bersamaan dengan jadwal liveku?"


"Aishh, apaan sih Hans. Sudahlah, lupakan kejadian itu. Semua ini kesalahanmu, karena pada saat itu kamu pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri! Jadi stop berburuk sangka dengan siapa pun!"


Hans berusaha menangkis semua pikiran negatif yang menyelimuti pirasatnya, dia selalu berpikir bahwa semua kejadian itu terjadi bukan murni hasil dari kecerobohannya. Pasti ada tangan jahil yang memanfaatkan keadaannya, tapi siapa? Entahlah ....


Hans tidak mau mengambil pusing, jika benar ada pihak ketiga diantara hancurnya hubungan percintaan dan persaudaraan. Maka, semua akan terbongkar seiring berjalannya waktu.


Dengan sangat hati-hati, Hans berjalan kesisi yang berlawanan untuk mengambil ponsel Meera dan mematikan film tersebut.

__ADS_1


Namun, saat Hans mencondongkan tubuhnya untuk mengambil ponsel. Entah mimpi apa yang Meera alami, tiba-tiba aja tangan Meera menarik dasi panjang milik suaminya hingga wajah Hans dan Meera hampir saja terbentur, jika Hans tidak menahannya sekuat tenaga.


...***Bersambung***...


__ADS_2