
Bersikap baik memang sangat dianjurkan, akan tetapi janganlah terlalu baik. Karena kita tidak tahu efek dari kebaikan kita akan berbuah kebaikan ataupun pengkhianatan.
Alice menatap ke arah Meera dengan tatapan yang sangat menyedihkan, dia tidak menyangka orang sebaik Meera bisa menerina ujian seberat ini.
Andaikan Alice yang ada diposisi Meera, pasti dia sudah gila dan tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi. Seakan-akan hidupnya sudah benar-benar hancur sehancur-hancurnya sampai tak tersisa apapun.
...*...
...*...
Malam hari, dimana Meera sudah terbangun dalam kondisi yang cukup membaik. Bahkan Bram juga sudah menyampaikan bahwa dia boleh menjenguk suaminya, meskipun waktunya tidak bisa lama.
Betapa bahagianya Meera saat kabar baik itu bisa terdengar di telinganya. Cuman, itu semua hanya bisa dilakukan ketika esok hari. Dimana Meera bisa menjenguk suaminya di siang harinya.
Ya, walaupun begitu, Meera sedikit lega. Sebentar lagi dia akan memberikan kejutan pada suaminya untuk memperkenalkannya anak yang ada di dalam perutnya.
"Kakak makan dulu ya, biar Dedeknya sehat. Kalau Kakak sehat 'kan nanti Kakak bisa menjenguk Kak Hans sesuka hati Kakak. Jadi, Kakak enggak perlu berjauhan darinya, bukan?" ucap Alice sambil membuka bubur yang baru suster antarkan untuk Meera.
Menu makanan yang terlihat simpel, enak dan juga menggiurkan. Akan tetapi, bagi orang yang sedang sakit pasti rasanya tidak akan pernah enak.
Itu yang membuat Meera beberapa kali menolak, sampai akhirnya Bram mengancamnya dengan tujuan agar Meera mau makan supaya bayi yang ada di dalam perutnya bisa selalu sehat
"Sudahlah, Sayang. Biarkan saja, kalau dia tidak mau makan, ya jangan harap bisa bertemu dengan suaminya. Dan aku juga malas mengantarnya kesana, apa lagi untuk meminta izin pada dokter yang berjaga di ruangan Hans!"
Meera melirik Hans dengan tatapan yang sangat menyedihkan, rasanya Meera tidak mau jika dia kembali dipersulit untuk bertemu dengan suaminya.
Jadi, mau tidak mau. Meera harus mengesampingkan keegoisannya demi anak yang saat ini sudah hadir di dalam perutnya.
"Huhh, baiklah. Aku makan, tapi janjinya kalian akan membawaku bertemu dengan suamiku?" ucap Meera, dengan lirikan kesal.
__ADS_1
"Siap, nanti aku dan Bram akan antarkan Kakak ke ruangan Kak Hans. Jadi, sekarang makan dulu ya. Biar Dedeknya sehat terus." jawab Alice, sambil menyuapininya.
Bram melihat Meera sudah mau makan, rasanya sedikit lega. Meski harus dipancing dulu, tetapi tak masalah, yang penting Meera mau makan agar perutnya tidak selalu kosong.
Namun, disaat Alice sedang asyik menyuapi Meera sambil mengajaknya mengobrol. Tiba-tiba saja, satu pertanyaan Meera membuat Alice keceplosan untuk mengatakan yang seharusnya Meera belum boleh tahu saat ini.
"Lis, tolong bilangin Bi Neng suruh Bi Atun ke sini untuk membawakan ponselku!"
"Bi Atun udah kabur, Kak. Jadi mana mungkin dia bis--"
"Hahh? Ka-kabur? Ma-maksudnya gimana?"
"Ehhh, e-enggak, Kak. Ka-kakak salah denger, maksudku Bi Atun lagi pergi. Ahyaa pergi yakan, Sayang?"
Alice menatap ke arah Bram yang saat ini sangat bingung, harus menjawab apa. Semua karena kecerobohan istrinya sendiri, sehingga membuat Bram berada di dalam keadaan yang cukup sulit.
"Eee ... I-iya, dia pergi pulang kampung!" jawab Bram, spontan menutupi masalah yang ada.
"Tuhkan, maksudku kabur itu pergi gitu Kak. Aku cuman--"
"Sepertinya ada yang kalian sembunyikan padaku? Cepat katakan, ada kejadian apa di rumah?"
"Terus kenapa Bi Atun bisa sampai kabur? Kesalahan apa yang di perbuat, sehingga dia seperti itu?"
"Jawab, Bram, Lis! Kalau kalian masih mau diam aja, jangan salahin aku jika aku tidak akan mau makan, sampai kalian mau cerita!"
Ancaman beberapa menit lalu, yang Bram berikan pada Meera. Kini, malah di kembalikan sampai akhirnya Alice dan Bram saling menatap satu sama lain.
Mereka terlihat begitu bingung, apakah ini saat yang tepat untuk bercerita? Sedangkan kondisi Meera saja masih sangatlah lemah.
Jadi, jika dia tahu semua ini apakah Meera akan kuat menerimanya? Atau dia akan kembali drop, lantaran kepikiran? Entahlah, mereka berdua hanya bisa terdiam satu sama lain.
__ADS_1
"Baiklah, jika kalian tidak mau berbicara. Jangan salahkan aku, jika terjadi sesuatu pada janin yang ada di dalam kandunganku kalau aku sudah mogok makan!"
Degh!
Perkataan Meera saat ini berhasil menyentuh hati mereka, sampai akhirnya perlahan Bram mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Meera benar-benar tidak menyangka, jikalau orang yang dia tolong beberapa tahun lalu, merupakan dalang di balik semua masalah yang menimpanya.
Rasanya ingin sekali Meera marah, cuman kembali lagi. Dia tidak mau menyakiti anak yang saat ini sedang berjuang, untuk tetap bertahan sampai waktunya tiba nanti.
"A-aku tidak menyangka, Bi Atun dan suaminya memiliki rencana sejahat ini pada suamiku. Apa salah suamiku pada mereka? Selama ini Hans terlalu baik sama mereka, tidak sekali pun Hans membeda-bedakan pembantu yang ada di rumah ini."
"Namun, kenapa balasannya seperti ini? Apakah mereka tidak menyukai suamiku? Tapi, apa alasannya? Kenapa seakan-akan dia sedang membalaskan dendamnya pada suamiku. Sehingga mereka tega melakukan perbuatan sekeji ini padanya hiks ...."
Meera kembali menangis membuat Alice langsung berdiri dan memeluknya, sambil berusaha menenangkan Kakaknya yang saat ini dalam perasaan kecewa yang teramat mendalam.
"Sstt, tenang ya Kak. Ingat, sekarang di perut Kakak sudah ada buah hati Kakak dan juga Kak Hans. Jangan sampai semua kesedihan membuat Kakak menyesal jika suatu saat Kakak harus kehilangannya."
Nasihat yang Alice berikan membuat Meera langsung menatap ke arah perut dan mengelusnya secara perlahan. Meskipun, air mata selalu saja menetes tanpa henti.
"Aku sudah usut khasus ini ke pihak berwajib. Kuncinya hanya di Hans dan juga mereka. Jika mereka sudah ketangkap, kita akan tahu motifnya lalu Hans menjelaskan apa yang dia perbuat pada mereka. Maka kita akan tahu, siapa yang salah dan siapa yang benar."
"Kau sabar aja dulu, lebih baik kita selalu doakan Hans agar dia segera pulih dan bangun dari tidurnya. Yang penting, kita harus berjaga-jaga jangan sampai terlalu bod*doh untuk mempercayai orang lain. Belajarlah dari kejadian ini, supaya kita semua bisa lebih was-was lagi."
"Ingat, tidak semuanya yang kita lihat baik tetaplah baik dan yang kita lihat buruk akan selalu buruk. Sama halnya ketika kita membeli buah yang terlihat bentuk luarnya bagus, tetapi dalamnya sangatlah jelek. Sama halnya seperti hati manusia, kita tidak akan pernah tahu. Apakah orang itu pantas kita baiki atau tidak!"
Meera yang merasa bersalah, karena dialah yang membawa Atun serta suaminya masuk kedalam rumah. Yang mana, Atun dan Jaka malah memiliki rencana pribadi untuk menghancurkan Hans.
Rasanya jika waktu bisa diulang kembali maka, Meera tidak akan pernah mengizinkan suaminya untuk pergi seorang diri. Karena kejadian ini membuat Meera sedikit merasa trauma.
Alice terus berusaha membuat Meera untuk menyudahi semuanya, lalu membujuknya untuk kembali meneruskan makanannya agar bayi yang ada di dalam perut tidak sampai kelaparan.
__ADS_1
...***Bersambung***...