
Sampai seketika Alice turun dari gendongan Bram, kemudian mereka melakukan serangkaian acara berikutnya. Yaitu, pelemparan sebuket bunga cantik kepada semua para tamu yang mengikuti acara tersebut.
Alice dan Bram memegang buket bunga itu bersama-sama sambil berbalik. Kemudian dalam hitungan ketiga, buket tersebut mereka lempar ke arah belakang. Dengan cepat berbalik, melihat siapa yang akan mendapatkannya.
Mereka sangat terkejut oleh kedatangan seseorang penuh senyuman, dimana tangannya memegang sebuah buket bunga yang tadi Bram dan Alice lemparkan.
"Apakah buket bunga ini yang kalian cari?" ucapnya, menunjukkan buket tersebut.
Bram dan Alice langsung menatap satu sama lain, kemudian dia kembali melihat orang itu dengan wajah kagetnya.
"Be-bella? Ka-kamu di sini? Bu-bukannya kamu bilang enggak bisa datang karena lagi ke luar negeri, terus sekarang?" ucap Bram, tak percaya.
"Hem, memangnya salah kalau aku datang ke acara kalian? Toh, kalian 'kan udah aku anggap sebagai sahabatku sendiri. Jadi, sejauh apapun itu, aku akan tetap hadir di pernikahan kalian." ucapnya, tersenyum.
Alice begitu terharu dengan ucapan Bella, dia tidak menyangka kalau Bella bisa bersikap semanis ini. Padahal Alice dan Bella tidak saling kenal, Alice hanya tahu kalau Bella ini merupakan mantan kekasih Bram.
Sementara Bram, dia kagum atas sikap dewasa yang Bella tunjukkan. Meskipun mereka sudah tidak memiliki hubungan, akan tetapi Bella bisa menerima semuanya dengan sangat baik.
"Terima kasih, karena kamu sudah sempetin datang ke acara kami. " ujar Bram, tidak enak.
"Santai aja, Bram. Walaupun kita udah tidak ada hubungan apa-apa lagi, tapi aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semoga langgeng sampai maut memisahkan ya." ucap Bella, penuh senyuman.
Bram dan Alice tersenyum, ketika Bella ingin berjalan untuk memeluk Alice tanpa di sangka kaki Bella tersandung hingga dia terjatuh di dalam pelukan Bram dan tanpa di sengaja mencium pipinya.
Cup!
__ADS_1
Alice yang melihat keadaan itu terkejut bukan main, begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.
Sampai akhirnya Bella langsung kembali berdiri seperti semula, dalam keadaan malu dan juga merasa bersalah.
Mata Bella menatap ke arah Alice, lalu dia
bergegas mendekatinya kemudian memegang tangannya dan menjelaskan kesalah pahaman ini.
Alice memang sangat cemburu pada Bella, akan tetapi balik lagi semua ini hanyalah kejadian tak terduga.
Melihat keadaan mulai tidak kondusif, Hans segera mengambil alih untuk menenangkan para tamu, agar mereka tidak lagi menyebar berita hoaks.
"Sebelumnya saya minta maaf atas kejadian tadi. Saya mohon untuk tidak mengabadikan momen tersebut dan memasukannya ke dalam sosial kalian. Jika itu terjadi, maka saya akan tindak lanjuti dan membawa kasus ini ke meja hijau!"
Hans berusaha membantu Bram yang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia merasa syok, takut dan juga gelisah. Matanya selalu melihat ke arah Alice yang saat ini tersenyum ketika Bella menjelaskan semuanya.
Kemudian, Hans meminta Bella untuk menjelaskan pada semua orang supaya kesalah pahaman ini tidak akan berlanjut.
Begitu juga Meera, dia mencoba menasihati Alice agar tidak berpikir macam-macam, apa lagi Alice sedang hamil. Maka, hormonnya akan naik turun begitu juga moodnya.
"Sa-sayang, aku minta maaf kalau kejadian ini membuat hatimu terluka. Aku tidak menyangka semua ini terjadi ketika di hari bahagia kita. Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bisa menjaga perasaanmu. Sungguh, ini bukan keinginanku untuk---"
Tangan Alice menutup bibir Bram, lalu mengusap pipi kanan Bram sambil tersenyum menatapnya dengan kedua mata yang dia kedipkan secara perlahan.
"Tak masalah, Sayang. Aku percaya kalau itu hanyalah ketidak sengajaan, namanya juga musibah kita tidak akan tahu. Yang penting aku percaya sama kamu, kalau kamu tidak akan mengkhianatiku."
__ADS_1
"Apa kamu lupa, hem? Baru beberapa jam lalu, aku mengatakan bahwa aku akan terus mempercayaimu sampai aku lupa kalau kamu bisa berbohong. Dan aku akan selalu percaya sebelum aku melihat kebohongan itu!"
Bram langsung memeluk Ace begitu erat, dia tidak mau kehilangan Alice. Meskipun dia tahu kalau hatinya ini belum sepenuhnya milik Alice, masih ada sisa rasa di dalamnya untuk Meera.
Sementara Bella dia sudah berpamitan untuk pergi, karena tidak enak dan juga malu ketika semua para pengunjung menatap remeh ke arahnya.
Hans pun sudah kembali merangkul pinggang istrinya sambil mencium pipinya disaat kesempatan itu hadir.
"Hans!" geram Meera langsung menoleh menatap tajam suaminya, sedangkan Hans malah terlihat biasa saja tanpa merasa bersalah.
"Apa, Sayang?" jawab Hans, memainkan mata serta alisnya. Terlihas jelas bahwa Hans sedang menggoda istrinya.
"Ngapain kamu cium-cium aku, hahh! Ini tenpat umum loh, lihat banyak tamu yang hadir 'kan? Bagaimana kalau mereka---"
Cup!
Lagi-lagi Hans begitu jahil kepada istrinya, dia malah mencium bibir Meera yang sangat bawel itu. Sampai Meera hanya bisa membolakan matanya, lalu memekik kesal sambil memukulinya.
Bram hanya bisa tertawa kecil ketika melihat wajah kesal istrinya terlihat sangat lucu. Bagaimana tidak lucu, orang saat ini wajah Meera sangat merah bagaikan udang rebus.
Setelah keadaan sudah kembali kondusif, satu persatu tamu undangan memberikan ucapan selamat dan juga juluran tangan sesekali sebuah pekukan sesama jenis.
Kenapa harus sesama jenis? Ya itu harus, jika sedikit saja Alice bersentuhan dengan pria lain. Sama saja pria itu seperti sedang membuka lubang kuburnya sendiri.
...***Bersambung***...
__ADS_1