
Meera melepaskan pelukannya menatap suaminya dan tersenyum. Lalu, perlahan Meera melihat lurus ke arah depan, sambil mengingat awal mula dia mengenal Daddynya Hans dan apa penyebab mereka bisa menikah.
Karena Hans dan Bram waktu itu menolak keras semuanya dengan alasan, bahwa Daddynya merupakan pria tua yang makin berumur malah semakin menjadi-jadi. Begitu juga Meera yang dianggap wanita murahan, yang hanya menginginkan harta, tahta dan juga ketenaran.
...*...
...*...
... Flashback Masa Lalu Meera...
Di rumah sakit besar terdapat seorang pria paruh baya dalam keadaan khawatir menunggu sahabatnya menjalankan operasi karena ada gumpalan darah akibat kecelakaan yang di sebabkan olehnya.
Agra Viergio Ivander merupakan seorang pengusaha yang sangat kaya berusia 42 tahun. Arga adalah seorang duda beranak 2 yang usianya sudah memasuki 20 tahunan.
Sedangkan sahabatnya bernama Hari Anggara Ferguson dengan usia 42 tahun. Hari merupakan peternak kambing di desanya dengan status duda beranak 1.
3 jam telah berlalu, akhirnya operasi pun selesai. Dokter keluar dalam keadaan gelisah karena kondisi Hari sedikit menurun, tetapi mereka akan berusaha sebaik mungkin agar Hari tetap bertahan hidup.
Agra langsung mencari informasi tentang keluarga Hari, lalu dia menemukan gadis cantik bernama Meera Orianthi Ferguson berusia 20 tahun. Agra segera menjelaskan pada Meera secara perlahan, tetapi tetap saja Meera terkejut dengan penjelasan Agra.
Kepergian sang Ayah yang tidak tahu rimbanya membuat Meera gelisah, dan sekarang sudah terjawab. Mereka bergegas kembali ke rumah sakit melihat kondisi Hari.
Sesampainya di sana Meera dan Angra di kejutkan dengan kondisi Hari yang semakin menurun. Meera menangis memeluk sang Ayah begitu erat, tak henti-hentinya Agra selalu meminta maaf padanya.
Hari membuka perlahan kedua matanya menatap Meera dan juga Agra, mungkin ini hal konyol bagi mereka. Tetapi bagi Hari mungkin ini yang terbaik agar Meera bisa menjalani hidupnya lebih baik lagi dan juga dengan begini Meera akan aman di tangan yang tepat.
“A-agra ka-kalau ka-kau a-adalah sa-sahabatku, me-menikahlah de-dengan a-anakku. Bu-buatlah di-dia ba-bahagia da-dan ja-jaga dia de-demi a-ku!”
Hari berbicara dalam keadaan suara terbata-bata akibat nafasnya terasa sangat sesak. Meera dan Angra terkejut dengan apa yang Hari katakan, secepat kilat Agra membantah itu semua dengan tegas.
“Tidak, Har! Kau jangan konyol! Aku dan Meera bagaikan Ayah sama anak, tidak mungkin aku menikahinya. Dia masih muda, jalannya masih panjang, jadi biarkan dia menikah bersama pilihannya sendiri”
Hari menggeleng cepat semakin membuat Agra bingung, sedangkan Meera cuman bisa memeluk sang Ayah menangisi kondisi yang tidak pernah dia inginkan untuk kembali kehilangan orang yang sangat penting dalam hidupnya.
“A-aku mo-mohon, Ga! Ni-nikahi a-anakku, di-dia su-sudah ti-tidak pu-punya siapa si-siapa lagi. Ji-jika ka-kalian ma-mau a-aku pe-pergi de-dengan da-damai, ma-maka ka-kabulkan pe-permintaanku ya-yang te-terakhir i-ini.”
__ADS_1
Nafas Hari semakin terdengar melengking pertanda bahwa dia berusaha keras untuk bertahan melawan rasa sakitnya.
“Tap---”
“Baik Ayah, Meera mau menikah dengan Tuan Agra hiks ... Meera akan turuti permintaan Ayah, asalkan Ayah sehat hiks ...” ucap Meera berhasil membuat mata Agra melotot besar.
“Te-terima ka-kasih a-anakku. Ta-tapi ma-maaf A-ayah su-sudah ti-tidak ku-kuat lagi, ja-jaga di-dirimu ba-baik baik. A-agra a-adalah pri-pria baik, ka-kau ha-harus nu-nurut a-apa kata su-suamimu”
“A-ayah pa-pamit, se-semoga ka-kau se-selalu ba-bahagia pu-putri ke-kecilkuhh ....”
Titt ...
Titt ...
Titt ...
Alat deteksi jantung pun berbunyi bersamaan dengan munculnya garis lurus yang pertanda bahwa Hari sudah tiada. Kini runtuh sudah air mata mereka meratapi kepergian orang yang sangat berarti baginya.
Hari meninggal dunia dalam keadaan sudut bibir sedikit tersenyum menandakan bahwa dia bahagia ketika Meera mau menyetujui wasiatnya, walaupun Agra masih sedikit bingung dan juga keberatan.
...*...
...*...
Jika membahagiakan Agra masih sanggup, tapi kalau menikahinya Agra takut akan merusak masa depannya. Apa lagi Meera masih sangat muda baginya, bahkan umurnya sepantaran sama anaknya.
Tapi berkat Meera selalu memintanya untuk mengabulkan permintaan terakhir Hari, mau tidak mau Agra mengiyakan supaya Hari bisa pergi dengan tenang dan juga damai.
Pernikahan diadakan tepat 1 bulan lagi dengan acara yang cukup mewah, cuman masalahnya hanya di ke-2 anaknya yang berusaha menolak keras pernikahan itu. Setelah dijelaskan oleh Agra akhirnya mereka dengan berat hati menyetujuinya.
...*...
...*...
1 bulan berlalu, tepat di hari ini Meera menikah dengan Agra di sebuah gedung mewah. Banyak omongan netizen yang menilai Meera dengan buruk akibat umur mereka yang terpaut sangat jauh.
Bahkan banyak wartawan yang meliput kejadian ini hingga akhirnya menjadi trending topik no.1 di stasiun televisi. Meera beruntung memiliki Agra karena dia selalu melindunginya dari gosip-gosip jelek tentangnya.
__ADS_1
Terlepas dari berita buruk, ada juga sebagian orang yang berpikir baik tentang mereka meskipun perbandingan 80 : 20 persen. Cuman lumayanlah, setidaknya Meera masih memiliki sisi baik di depan mereka.
Selesai acara, Meera dan Agra langsung kembali ke rumah tanpa menginap di hotel. Bagi Agra dia hanya untuk menikahi Meera dan membuatnya bahagia bukan untuk memuaskan hasratnya.
Agra dan Meera masuk ke dalam kamar, lalu Agra menyuruh Meera untuk bersih-bersih lebih dulu akibat dia ingin beristirahat sejenak.
“Kamu bersih-bersih saja duluan, saya mau duduk sebentar” ucap Agra yang diangguki oleh Meera.
“Baik Tuan, saya permisi..” Meera berjalan mengambil 1 setel baju yang memang sudah Agra siapkan ketika H-7 sebelum hari pernikahan.
30 menit berlalu, Meera sudah selesai mandi. Kemudian dia keluar perlahan, Agra pun bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Saat ini Meera benar-benar telah dilanda rasa gelisah, panik dan juga cemas. Meera dilema dengan malam pertama yang belum bisa dia bayangan akan seperti apa nantinya.
Meera terlihat belum siap dengan statusnya yang baru, maklum saja karena usianya masih 20 tahun. Wajar jika dia takut di sentuh oleh pria yang umurnya jauh di atasnya.
Apa lagi Agra sudah memiliki anak 2 sedangkan Meera belum memiliki pengalaman apa pun. Bahkan untuk jatuh cinta pun Meera belum pernah merasakannya.
Ketika Meera lagi asyik memikirkan masalah malam pertama, tiba-tiba saja Agra keluar dari kamar mandi membuat mata Meera langsung terkalihkan.
Agra yang bisa merasakan adanya ketakutan di dalam diri Meera membuatnya mengerti, pergerakan postur Meera berhasil bikin Agra tersenyum.
“Sudahlah tenang saja, saya tidak akan menyentuhmu sampai kapan pun. Tugasku menikahimu hanya untuk membuatmu bahagia dan juga menjagamu dari mara bahaya, bukan untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan”
“Seandainya kita memang bersatu mungkin itu berkat keajaiban cinta yang mempersatukan, tetapi jika tidak. Itu tandanya kita memang tidak berjodoh,”
“Mungkin saya hanya mau memintamu untuk membagi ranjang pada saya, apa lagi saya sudah sangat tua. Jadi tidak mungkin tubuh ini akan kuat kalau tidur di lantai hehe ...”
Agra menebar senyum bersamaan dengan candaan kecil agar bisa membuat Meera kembali tersenyum. Benar saja Meera tersenyum kecil menatap Agra sambil mengangguk.
“Si-silakan, Tuan. ini 'kan memang kamarmu. Hanya saja ma-maaf kalau aku belum siap dengan keadaan ini” ucap Meera, gugup.
“Tidak apa-apa, setidaknya kamu sudah membaginya bersamaku itu sudah lebih dari cukup, terima kasih.” Jawab Agra, tersenyum manis lalu menaiki ranjangnya dan tidur bersebelahan dengan Meera.
Mereka pun tertidur dalam keadaan saling membelakangi satu sama lain, dimana Meera masih merasa kaku dan juga gugup. Sedangkan Agra, dia sudah memasuki alam bawah sadarnya.
...***Bersambung***...
__ADS_1