Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Meminta Bonus


__ADS_3

Alice yang mendengar nada bicara Bram begitu bahagia dan antusias, wajahnya sedikit berubah bingung. Akan tetapi, hatinya merasa sangat bahagia setelah mendengar suara Bram sudah kembali bisa seceria itu.


Akhirnya Alice mengiyakan sambil menunggu share lokasi yang Bram berikan. Setelah mendapatkannya Alice segera berpamitan kepada sang Nenek untuk menemui belahaan hatinya.


Ya walaupun hanya angan-angan Alice, tetapi tak apa. Setidaknya Alice bisa merasakan cinta yang selama ini telah mati. It's okay jika Alice kembali sakit hati akibat cintanya bertebuk sebelah tangan, itu tidak ada masalah yang penting dia bisa selalu ada disamping Bram selamanya.


...*...


...*...


1 bulan telah berlalu, kini Resto atau Cafe milik Bram telah resmi pindah tangan ke pembeli yang masih tanda tanya. Karena dikertas tertulis hanya ada inisial dari nama orang tersebut.


Sampai Resto sudah bukan milik Bram lagi, orang itu pun masih enggan menunjukkan wajahnya. Karena semua benar-benar berjalan dengan cepat, tanpa ada embel-embel apapun.


Kini, waktunya Bram pergi ke BAR milik Deo untuk segera melepaskan Alice. Untungnya selama 1 bulan ini Alice tidak sampai di sentuh oleh pria langganannya. Dia mengikuti semua apa yang dikatakan Bram, yang mana pelanggannya pun anehnya tidak ada yang keberatan selagi mereka merasa puas.


Tepat dijam 8 malam Bram baru saja sampai di depan parkiran BAR, kemudian dia disambut oleh beberapa wanita yang kegatelan dan seolah-olah mereka ingin menggodanya.


Namun, Alice yang dari tadi menunggu kehadiran Bram segera mendekatinya dengan langkah yang sangat cepat layaknya seseorang yang berlari kecil. Kemudian Alice tanpa sadar memeluk Bram bagaikan seorang kekasih yang begitu merindukan.

__ADS_1


"Aduh, Sayang. Akhirnya kamu datang juga, aku udah enggak sabar deh pingin pulang bareng kamu. Pokoknya hari ini aku sangat seneng, kalau kamu mau membebaskan aku dari tempat ini. Jadi tambah sayang deh, muach."


Alice mencium bibir Bram sekilas di depan semua wanita lainnya yang tadi ingin menggoda miliknya, hanya dengan cara seperti itu mampu membuat mereka pun menatap sinis ke arah Alice, lalu pergi meninggalkan mereka.


Ada beberapa wanita penghibur yang mau berteman sama Alice, dan ada juga beberapa yang iri dengannya, karena Deo selalu memanjakan Alice dengan semua gaji yang diatas rata-rata. Ibarat kata mereka ada yang kebagian 50 sampai 60 persen dari hasil layanannya, sementara Alice mendapatkan 80 persen dari hasil kerjanya yang selalu memuaskan.


Belum lagi antara Fayra dan yang lainnya memiliki tarif yang berbeda-beda. Dari 50 juta sampai 300 juta, lalu mentok di Alice dengan harga 300 juta bahkan lebih bisa mencapai 500 juta perorang.


Bram melihat Alice sebegitu manjanya padanya, mulai paham jika semua itu hanyalah sandiwara agar dia tidak didekati oleh wanita pengganggu. Karena terbukti, setelah itu Alice akan bersikap normal, meski hatinya memang sudah mulai jatuh hati padanya.


"Huhh, untung mereka langsung pergi. Kalau tidak bisa-bisa aku akan nempelin kamu terus," Alice merasa lega sambil menatap kearah teman-temannya yang sudah mulai menjauh.


Alice menoleh dengan wajah sedikit memerah dan terkejut sama perlakuan Bram saat ini yang entah disengaja atau tidak Bram malah mencium bibir Alice lalu ********** beberapa detik. Kemudian melepaskannya dalam keadaan Alice terdiam mematung.


"Tunggu aku sebentar ya, nanti kita akan pulang bersama. Cuman, setelah aku berhasil membebaskanmu bisakah aku mendapatkan bonus? Sejam aja tak apa, asalkan bisa berolah raga denganmu. Gimana, boleh?"


Bram terus menggoda Alice hingga membuatnya tak bisa berkutik, tetapi bukan Alice namanya jika dia tak pandai bermain. Bram yang mengira Alice akan malu ketika digoda olehnya, seketika menghilang dan tergantikan dengan kemanjaan yang malah membalikan keadaan.


"Uhh, Sayang. Boleh, jangankan sejam setiap hari pun aku siap melayanimu secara gratis. Asalkan kamu mau menjadi suamiku,"

__ADS_1


"Syaratnya mudah kok, cukup setia mencintaiku dengan tulus dan selalu ada disampingku dalam keadaan susah maupun senang. Gimana?"


Tubuh Bram sedikit bergetar akibat gugup saat mendengar ucapan Alice yang berhasil mengetuk hatinya. Alice mengalungkan kedua tangannya di leher Bram, lalu sedikit merapatkan tubuhnya hingga membuat Bram serasa sesak untuk bernapas dengan lega.


"Li-lis, s-stop bersikap seperti ini. Aku mau ketemu dengan Deo dan langsung membawamu keluar dari tempat menjijikan ini. Jadi please jangan buat aku bimbang!" tegas Bram, walaupun nadanya sedikit terbata-bata, tetapi dia berusaha tetap tegar agar tidak terlihat begitu gugup di depan Alice.


Sementara Alice hanya terkekeh solah-olah dia sedang bercanda, padahal hatinya sedikit tercubit lantaran Bram tidak menanggapi ucapannya. Sebenarnya Alice mengatakan itu karena dia memberikan kode kepada Bram, cuman ya mau gimana lagi.


Kemungkinan hanya menganggap Alice sebagai teman bermainnya untuk memerankan sebuah drama yang akan menghancurkan Meera serta Hans.


Tanpa sepengetahuan Bram, apa yang dia lakuin itu bukan malah membuat Meera dan Hans sakit hati. Melainkan malah seperti merekatkan mereka berdua untuk lebih dekat lagi. Sampai akhirnya Meera sendiri yang memulai kisah cintanya, sedangkan Hans dia masih gengsi untuk mengatakannya.


Alice melepaskan pelukannya, sambil berbisik kecil di telinganya. "Semangat kekasih pura-puraku, setelah keluar dari sini aku akan kasih bonus cantik untukmu. Sesuai dengan permintaanmu tadi, muach."


Alice mencium pipi kanan Bram, lalu dia mengedipkan matanya sebelah dan pergi meninggalkannya. Bram yang awalnya hanya terdiam, kemudian menangkis semua perasaan yang tidak bisa dia jelaskan ini.


Tak lama Bram melangkahkan kakinya menuju ruangan Deo sambil merapihkan penampilannya, bagaikan orang yang salah tingkah saat semua orang hampir menatapnya dengan tatapan seperti meledeknya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2