Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
I Love You, Ayah


__ADS_3

Seperginya Bram, ternyata Meera dan Alice malah tertawa bahagia sambil bertos ria akibat mereka berhasil membuat Bram ketakutan serta juga setres.


Semua ide itu terlintas dari beberapa menit lalu, saat Alice menatap Meera dengan penuh arti.


Beginilah Bumil, mereka memang begitu sensitif terhadap apapun dan mereka juga sangat mudah untuk memahami arti dari tatapan mata atau gerak tubuh seseorang.


...*...


...*...


Hari demi hari terus berganti, bahkan Hans dan Meera pun berada di satu kamar yang lama. Apa lagi, hari ini Meera sudah boleh pulang dari rumah sakit dan beristirahat dirumah. Akan tetapi, Meera memilih untuk tetap setia menunggu suaminya yang masih tertidur dengan tenang.


Ya, walaupun Hans tertidur. Sering kali dia memberikan respon gerakkan tangan serta air mata yang menetes di sudut matanya, pertanda bahwa Hans bisa mendengar dan merasakan apa yang sedang mereka sampaikan.


Sampai akhirnya, selang 3 hari perlahan Hans mulai membuka kedua matanya tepat di jam 01.45 WIB. Disaat Hans terbangun dari tidurnya, dia melihat istrinya ketiduran duduk di kursi sampingnya.


Sementara Alice dan Bram sudah pulang ke rumah, karena beberapa kali Alice sering muntah-mentah ketika mencium bau rumah sakit.


Jadi mau tidak mau Meera harus menunggu suaminya sendiri, bersama dengan 5 bodyguard yang berjaga di depan ruangan.


Hans mengerjapkan matanya, lalu membuka kedua matanya secara perlahan menyesuaikan cahaya lampu ruangan.


"Stttt, a-aku dimana ini? Ke-kenapa tubuhku terasa begitu lemas dan juga sedikit kaku?"


Hans berbicara dengan suara kecilnya sambil menatap lurus ke arah depan. Kemudian dia menoleh ke arah kanan, dimana istrinya tertidur sambil duduk menyandar di bangkar dan menjadikan tangan Hans sebagai tumpuan bantal untuknya.


"Sa-sayang? Ka-kamu rela seperti ini ketika menungguku, padahal jelas-jelas kamu punya tempat tidur lipat sendiri. Akan tetapi, kenapa kamu malah merelakan tubuhmu seperti ini saat menungguku?"

__ADS_1


"Seberharga itukah aku untukmu, Sayang? Sampai-sampai kamu rela tertidur begini, demi untuk menungguku sampai aku kembali tersadar."


"Ta-tapi tunggu, saat itu aku pernah bermimpi. Cuman aku enggak tahu, apakah itu beneran mimpi atau bukan. Yang jelas, a-aku pernah ada di suatu tempat yang sangat indah. Terus disana ada seorang anak kecil yang sangat lucu, dan tubuhnya di penuhi oleh cahaya putih."


"Ank itu mengajakku bermain sampai akhirnya dia menggenggam tanganku dan membawaku untuk ikut bersamanya. Hingga akhirnya aku bisa kembali melihat wajah istriku yang sangat cantik ini."


"Cuman, aku heran. Itu anak siapa ya? Kenapa dia terlihat begitu bahagia membawaku untuk kembali padamu, terus yang buat aku kagetkan lagi. Dia malah memanggil namaku dengan sebutan Ayah, apa maksudnya ya?"


Hans berbicara dengan suara yang sangat serak basah, sambil tangan satunya mulai dia gerakan secara perlahan untuk mengusap kepala istrinya.


Setelah itu, Hans merasa sangat haus lantaran tenggorokannya begitu kering saat dia menelan air liurnya sendiri. Dia melirik ke arah meja kecil tepat disamping bangkarnya yang sedikit lebih tinggi dari posisi tubuhnya.


Perlahan tangannya terarah untuk mengambil gelas yang berisikan air putih, akan tetapi tangannya yang tak kunjung sampai menyenggol sesuatu sampai membuatnya terjatuh dan membangunkan istrinya.


Prang!


"Suara apa itu?" ucap Meera yang langsung duduk melihat ke arah bawah tanpa sadar, kalau saat ini suaminya sudah terbangun dari tidurnya.


"Ma-maafkan aku, a-aku sudah mengagetkanmu." ucap Hans, berhasil membuat Meera langsung menatap suaminya dengan tatapan terkejut, syok dan tidak percaya jika saat ini suaminya sudah kembali padanya.


"Ha-hans? Ka-kamu sudah sa-sadarkah? Atau ini hanya ilusiku? Jangan bilang kalau aku sedang bermimpi, benar begitu?" ucap Meera dengan tatapan yang sangat mendalam.


"Kamu tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi, kok. I-ini benar-benar aku, aku sudah bangun dari tidurku Sayang. Entah aku sudah tertidur berapa lama, yang jelas tubuhku ini sangatlah kaku. Aku harus kembali belajar menggerakannya secara perlahan, bagaikan seorang anak kecil yang baru saja bisa berjalan."


Perkataan Hans membuat Meera benar-benar tidak mengerti. Haruskan dia percaya dengan semua ini, jika suaminya sudah bangun atau dia harus kembali kecewa kalau ini hanyalah mimpi. Sama seperti biasanya ketika Meera kangen dengan suaminya, dia selalu bermimpi bisa kembali mengobrol bersama suaminya.


"Kalau memang benar ini bukan mimpi, cubit tanganku sekeras mungkin agar aku bisa membedakan mana mimpi dan mana nyata. Bisa?" ucap Meera dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Hans menggerakan tangannya dan mencubit pipi istrinya cukup bertenaga sampai akhirnya membuat Meera memekik cukup keras.


"A-aawsshh, he-hentikan Hans. I-ini sakit, tahu ishhh." pekik Meera, kesal.


Hans tersenyum dan tertawa kecil sambil melepaskan tangannya, membuat Meera tak segan-segan untuk memarahinya dengan menunjukkan wajah lucunya.


"Hyaakk, dasar suami tidak punya perasaan. Aku 'kan menyuruhmu untuk mencubit tanganku, kenapa yang di cubit pipiku sih. Aaarrghhh, menyebalkan!"


"Uhhh tututu, jangan ngambek Sayang. Aku cuman gemas aja sama pipimu yang terlihat semakin cubby. Arrrghh, rasanya aku mau makan pipimu. Boleh?"


"Huaaa, tidak boleh. Kalau pipiku dimakan olehmu, itu tandanya aku tidak akan punya pipi lagi dong? Haaa, kamu dan adikmu memang sama, sama-sama jahat! Adikkmu ingin mencongkel mataku. Sementara kamu malah ingin memakan pipiku. Aaaa, tidak mau. Pokoknya tidak mau, masa nanti anak kita punya Bunda yang cacat? Huaaa jahat banget sih kalian, hiks ...."


Degh!


"A-anak kita? Ma-maksudnya?"


Seketika jantung Hans bergetar sangat dahsyat ketika dia mendengar kalimat tersebut yang cukup menggetarkan hatinya. Meera yang awalnya ingin menangis kejar, tetapi tidak jadi.


Dia lupa jika Hans belum tahu, jika saat ini dia sudah menjadi seorang Ayah. Maka dari situ, Meera tersenyum lebar lalu dia berdiri dan mengarahkan tangan Hans ke arah perutnya.


"Hai, Ayah. Aku sudah hadir di perut Bunda 2 bulan yang lalu loh, aku senang deh sekarang Ayah udah bangun. Semoga nanti saat aku keluar dari perut Bunda, Ayah bisa selalu nemenin Bunda dan jangan lupa buat Bunda untuk terus kuat agar kita bisa bertemu di hari yang bahagia nanti. I love you, Ayah. Dedek sayang, Ayah."


Jantung Hans terhenti, bahkan kembali memompa detak jantungnya lebih kencang saat mendengar kalimat tersebut. Betapa bahaginya Hans saat di tahu jika saat ini istrinya sudah mengandung anaknya.


Tatapan hingga air mata Hans, membuat Meera tersenyum lebar dan langsung memeluk suaminya. Kini, tumpahkah tangis kebahagiaan yang Hans rasakan di dalam hatinya. Dia tidak menyangka, ketika bangun sudah di suguhkan oleh kabar yang teramat menyentuh hatinya seperti ini.


Sampai akhirnya Hans dan Meera pun mulai kembali berbincang di satu ranjang yang sama. Dimana Hans meminta Meera untuk tidur di sebelahnya dengan bangkar yang cukup luas, lalu mereka bercerita satu sama lain apa yang mereka rasakan selama beberpa bulan ini tidak saling berbicara. Kemudian, rasa ngantuk menyelimuti dan seketika mereka tertidur dalam keadaan Meera memeluk Hans begitu erat.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2