Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Notif Membawa Senyuman


__ADS_3

Dimana didalam lift, Meera langsung menggerutuki kebo*dohannya sendiri karena semudah itu dia melupakan tentang statusnya bersama Hans.


Berbeda dengan Hans, dia terkekeh didalam ruangannya ketika melihat ekspresi wajah istrinya begitu lucu. Ini kali pertamanya Hans bisa tertawa, hanya karena ulah istrinya yang menurutnya sangat kocak.


...*...


...*...


1 Minggu telah berlalu, dimana saat ini Meera sedang bersiap-siap ingin pergi ke Mall untuk berbelanja bulanan.


Meera berdiri di depan cermin menatap tubuh dan juga riasan wajahnya, membuat dia tersenyum. Meski, Meera tak pandai berias dan juga hanya mempoles sedikit wajahnya.


Dia tetap berusaha supaya wajahnya tidak terlihat pucat, tetapi riasan itu malah menambah kesan kecantikan Meera secara alami tanpa adanya make up tebal yang berlapis-lapis seperti wanita lainnya.


"Sepertinya sudah cukup, sekarang waktunya kita let's go!" ucap Meera berbalik, lalu berjalan mengambil tas dan juga ponselnya.


Namun, saat Meera mau melangkahkan kakinya keluar kamar dia teringat akan sesuatu yang hampir saja dia lupakan.


"Apa aku harus memberitahu Hans, ketika aku ingin keluar rumah? Cuman buat apa? Eh, tapi bukannya itu memang salah satu tugas seorang istri ya?"


"Dulu juga saat aku menikah sama Daddynya, selalu dipesan seperti itu. Aku harus memberi kabar padanya setiap aku melangkahkan kaki keluar rumah, supaya sewaktu-waktu terjadi sesuatu orang rumah bisa langsung menolongku."


"Mungkin itu lebih baik, dari pada aku keluar tanpa pamit dengan suamiku sendiri. Nanti bisa-bisa aku dicurigai lagi, kalau aku selingkuh sama pria lain!"


"Yakk, apaan sih Meera! Stop deh, berpikir sejauh itu. Ingat kalau hubungan kalian itu hanya sekedar status bukan atas dasar cinta. Lagi pula kamu itu masih mencintai Bram, jadi jangan aneh-aneh!"


"Apa kamu lupa, jika cinta itu soal perasaan? Jadi jangan sekali-kali bermain dengannya, kalau kamu tidak mau disakiti."


Meera berbicara dengan dirinya sendiri sambil menatap kosong kearah pintu, dimana dia mengingat akan cintanya kepada Bram.

__ADS_1


Namun, apa daya. Kejadian itu selalu terngiang-ngiang didalam pikirannya, membuat Meera kembali menyalahkan dirinya sendiri.


Beberapa detik berlalu, Meera mulai tersenyum ketika dia berusaha keras untuk menetrakan emosi didalam hatinya saat mengingat semuanya.


Dirasa sudah mulai tenang, Meera langsung mengirimkan sebuat chat singkat kepada Hans untuk meminta izin.


[Hans, hari ini aku mau pergi ke Supermarket bersama Bi Neng untuk belanja bulanan. Jika kamu sedang sibuk, tidak perlu membalasnya. Yang penting aku sudah memberitahumu kemana aku pergi, agar kelak tidak akan ada kesalah pahaman.]


[Ya sudah, aku pergi dulu. Semangat kerjanya jangan terlalu dingin, takut suhu minusnya bisa menular ke cuaca Indonesia hari ini hihi ....]


Setelah mengirim pesan tersebut, Meera tersenyum sambil keluar dari kamarnya menuju dapur untuk memanggil Bi Neng.


Saat Bi Neng sudah siap dengan semua daftar belanjaan yang kosong, mereka pun segera pergi meninggalkan rumah diantar oleh supir pribadi Meera.


...*...


...*...


Seorang pria sedang melakukan meeting besar bersama dengan kolega yang cukup penting bagi Perusahaan. Siapa lagi jika bukan Hans, pria dingin yang gila akan pekerjaan, tetapi masih mementingan keluarga no.1 baginya.


Disaat semuanya sedang membahas sebuah kontrak besar yang akan setujui bersama-sama, tiba-tiba saja ponsel miliknya yang berada di atas meja bergetar.


2 notif pesan terpampang jelas dari Meera, dimana Hans memberikan nama Meera dengan sebutan Ibu Tiri Muda.


Hans melirik kearah semuanya yang sedang sibuk membahas suatu proyek, sedangkan Hans dia mengambil ponselnya perlahan dan membuka pesan dari sang istri.


Entah mengapa pesan tersebut berhasil membuat Hans tersenyum setelah membaca pesan singkat tersebut.


Shia yang melihat gerak-gerik Hans seperti itu, membuat hatinya mulai membara. Kobaran api seketika telah membakar hatinya hingga membuat napasnya kian memburu.

__ADS_1


"Lihat aja kalian, gua akan pastikan kalian tidak akan pernah bahagia. Ingat, rasa sakit harus dibayar tuntas dengan kesakitan, jangan mengira gua diam tandanya gua terima semua perlakuan lu Hans! Tidak, sama sekali. Tidak Hans! Gua akan buat kalian hancur sehancur-hancurnya, tunggu saja waktunya tiba!"


Shia menggeram didalam hatinya ketika melihat wajah Hans mulai memerah setelah melihat ponselnya. Dimana Hans menatap semuanya berpura-pura untuk menyimak, tetapi bibirnya tidak bisa terdiam untuk terus mengukir senyuman kecil.


Hans berusaha menutupinya dengan salah satu tangannya berlaga cool didepan yang lain, sampai akhirnya ekspresi wajah Hans terbaca oleh seolah koleganya.


"Maaf, Tuan Hans. Apa Tuan baik-baik saja?" tanya kolega itu, membuat semuanya langsung menatap Hans dengan tatapan bingung.


Setelah kepergok, Hans berusaha menetralkan detak jantungnya dan juga ekspresi wajahnya dibuat sedatar mungkin untuk mengalihkan perhatian mereka semua.


"Ekhem, sa-saya baik-baik aja Tuan." jawab Hans sedikit membenarkan cara duduknya.


"Benarkah? Soalnya saya perhatikan dari tadi Tuan selalu tersenyum, bahkan untuk pertama kalinya saya melihat senyuman langka itu." ucapnya lagi.


"Hem, mu-mungkin Tuan salah liat." jawab Hans, berusaha tetap tenang.


"Oh, saya tahu. Apa jangan-jangan Tuan sedang bahagia karena istri Tuan sudah mengandung?" ucapnya, spontan membuat mata semuanya membola besar termasuk Hans sendiri.


"Wah, seriusan Tuan? Selamat ya Tuan, sebentar lagi Tuan akan mendapatkan keturunan. Ternyata milik Tuan terlalu gagah ya, belum berapa bulan menikah sudah tokcer dan langsung jadi hihi ...."


"Selamat, Tuan. Saya doakan semoga hubungan keluarga kecil Tuan dan istri bisa langgeng sampai akhir hayat memisahkan serta dijauhi oleh pihak ketiga yang ingin menghancurkan semuanya."


Semua kolega diruangan meeting bersama-sama mengucapkan selamat kepada Hans, padahal Hans sendiri saja bingung.


Bagaimana bisa dia ngehamilin Meera dalam waktu sesingkat itu, sedangkan Hans sendiri aja baru sekali menyentuhnya. Itu pun ketika kejadian yang tidak dia sadari, jadi tidak mungkin bisa langsung tercetak tanpa melalui proses yang panjang.


Disaat yang lain sedang tertawa bahagia, Hans langsung mengutarakan satu kalimat yang berhasil membungkam semuanya.


Hingga mereka pun menundukkan kepalanya lantaran mendengar suara Hans yang begitu nyaring memecahkan gendang telinganya sampai menusuk kedalam jantungnya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2