
Orang itu kembali mengoceh sambil mengaduk nasi gorengnya hingga rata dan tidak akan menimbulkan kecurigaan ketika nasi goreng itu dihidangkan oleh Meera nantinya.
Setelah puas, orang tersebut kembali menutup toples itu dan menaruhnya ditempat semula. Perasaan senang yang tiada tara kian menyelimuti hatinya, membuat dia langsung pergi begitu saja tanpa menggalkan jejak yang akan menyudutkan kearahnya.
...*...
...*...
Didalam kamar Meera baru saja selesai dengan aktifitas mandinya, saat jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi.
Hans yang baru saja terbangun, langsung terkejut ketika matanya tidak sengaja menatap kearah jam weker disampingnya.
"Astaga, aku kesiangan!" pekik Hans yang langsung duduk dalam keadaan wajah begitu kaget.
Meera yang baru saja mau mempoleskan cream diwajahnya, menjadi ikut terkejut dan langsung menoleh kearah kasur.
"Hans, kamu ini ya. Bangun-bangun malah buat orang kaget aja, udah kaya ada gempa aja tahu enggak!"
Meera langsung menyeletuk kearah Hans dengan wajah sangat kesal, untungnya detak jantung Meera baik-baik saja. Jika tidak, kemungkinan Meera akan langsung meninggal dunia diusia muda.
"Kamu kenapa tidak membangunkan saya, hah! Lihat itu sudah jam setengah 8 dan saya sudah terlambat setengah jam untuk pergi kekantor!"
"Kamu itu gimana sih jadi istri, hah! suaminya kesiangan bukannya dibangunin, ini malah asyik dandan. Dasar enggak berguna!"
Degh!
Kalimat yang terlontar dari mulut Hans kali ini benar-benar sudah menyubit hati Meera, tanpa sadar Meera berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya rasanya begitu sesak.
Sementara Hans, dia menatap tajam kearah Meera ketika dia belum menyadari jika perkataannya barusan sangatlah melukai hati istrinya.
__ADS_1
"Maaf ya Tuan Hans yang terhormat, sebaiknya Tuan coba ambil ponselmu dan lihat apakah ini adalah hari kerja ataukah hari weekend?"
"Jika memang dihari ini Tuan ada rapat penting, setidaknya gunakan mulut Tuan untuk mengatakan agar saya bisa mengetahui dan berjaga-jaga untuk membangunkan Tuan dari alam bawah sadar!"
"Awalnya saya ingin membangunkan Tuan karena hari sudah mulai siang, tetapi setelah saya melihat Tuan tidur sangat pulas. Saya urungkan niat itu, apa lagi saya paham semalam Tuan lembur untuk mengerjakan semua tugas yang harus diselesaikan."
"Maka dari itu dihari weekend ini, saya tidak akan menganggu waktu tidur Tuan agar Tuan bisa beristirahat dengan nyenyak. Dan saya akan membangunkan Tuan setelah saya selesai menyiapkan sarapan."
Suara Meera yang biasanya terdengar sangat lembut, kali ini berbeda. Dia terlihat begitu tegas bahkan sorotan matanya pun sangat tajam ketika menatap Hans.
Setelah menyadari semua itu, Hans langsung mengambil ponselnya lalu menatapnya dengan mata yang sudah melek dengan sempurna.
Tak lama mata itu mulai membesar saat Hans melihat jika hari ini adalah hari weekend, bersamaan dengan itu dia juga mengingat kejadian semalam.
...Flashback...
Hans yang baru saja pulang kerja pukul 10 malam, dia segera bergegas membersihkan tubuhnya. Kemudian Meera yang belum tidur akibat menunggu kepulangan suaminya, dia mulai menyiakan makanan agar bisa mengisi perut suami yang sudah lembur kerja.
"Sudah jam berapa Hans, sebaiknya kamu istirahat dan matikan laptopmu itu. Jika kamu seperti ini terus menerus setiap harinya, yang ada tubuhmu akan drop."
"Memang tidak bisa jika kamu meneruskannya besok, lagi pula kan besok hari libur Hans. Jadi kamu bisa sepuasnya melanjutkan pekerjaan itu, asalkan kamu bisa membedakan waktu antara pekerjaan dan juga istirahat."
Untuk pertama kalinya Meera mengoceh sepanjang itu kepada Hans, cuman demi memberikan sebuah perhatian yang kecil kepadanya.
Namun, Hans yang tidak peka dengan semua perhatian Meera hanya bisa menyuruhnya untuk tidur lebih dulu. Sementara Meera yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Percuma juga dia mengoceh panjang kali lebar, tetapi Hans malah seperti menyepelekan perhatiannya.
Tanpa basa-basi Meera langsung merebahkan tubuhnya, lalu dia mulai memejamkan kedua matanya dalam kondisi membelakangi suaminya yang sedang duduk di sofa.
Hans menoleh sekilas kearah punggung Meera, kemudian kembali meneruskan pekerjaanya hingga tidak terasa waktu semakin berjalan dan saat ini sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
__ADS_1
Beberapa kali Meera terbangun melihat suaminya masih berkutak dengan laptopnya, membuat dia tidak lagi menyuarakan suaranya.
Bagi Meera bentuk perhatian yang dia berikan kepada Hans, hanyalah sebuah angin lewat yang tidak ada artinya apa-apa.
Disaat mata Hans sudah mulai lelah, dia segera mematikan laptopnya. Kemudian dia berjalan ke arah ranjangnya lalu menaikinya dan merebahkan tubuhnya secara perlahan tepat disamping istrinya.
Hans memiringkan tubuhnya, yang mana kedekatan mereka terhalang oleh guling ditengah-tengahnya.
Hans menatap wajah Meera yang terlihat begitu cantik, sampai tidak terasa tangannya mulai terangkat untuk mengusap pipi Meera. Bersamaan dengan mata Hans yang sudah tertutup, hingga dia langsung memasuki alam bawah sadarnya dengan posisi tangan menempel dipipi istrinya.
...Flashback off...
Hans mulai menyadari atas sikap serta ucapannya yang sangat kasar kepada istrinya. Maklum saja, karena Hans sangat terkejut ketika melihat jam weker sudah sangat siang, sehingga dia melupakan jika hari ini adalah hari libur.
Meera yang sudah sangat kesal dengan Hans, dia mendiami Hans dan fokus dengan aktifitasnya sendiri untuk merias wajahnya.
Hans perlahan mulai merubah posisinya dan duduk di tepi ranjang menghadap kearah Meera yang saat ini wajahnya begitu datar menatap kaca.
"Ma-maafkan saya, jika saya sudah membantakmu dan berkata kasar padamu. Saya melakukan itu karena saya tidak sengaja, semua itu murni efek dari keterkejutanku saat melihat jam weker." ucap Hans sedikit lirih, ketika Meera masih enggan mau mengatakan satu kata pun padanya.
Hans yang tidak tinggal diam terus meminta maaf kepada Meera dengan semua perkataan yang tulus darinya.
Sebenarnya Hans tidak pernah merasa bersalah seperti ini ketika membentak seseorang, tetapi kali ini berbeda lantaran yang dia bentak adalah istrinya sendiri.
Hampir beberapa menit Meera terdiam, bahkan dia sudah selesai dengan riasan wajahnya, tetapi dia masih tetap tidak mau menjawab perkataan Hans.
"Dari tadi saya selalu mencoba meminta maaf sama kamu dengan cara baik-baik, tapi responmu malah seperti ini. Mau kamu itu apa sih?" ucap Hans yang sudah jenggah melihat kecuekan diwajah Meera.
Meera berdiri dan bercemin, lalu dia berbalik serta melangkahkan kedua kakinya tanpa menggubris semua ucapan suaminya.
__ADS_1
Sampai akhirnya saat Meera ingin membuka pintu kamarnya, tiba-tiba perkataan Hans mampu membuatnya terdiam mematung tanpa kembali melakukan pergerakan.
...***Bersambung***...