
Hans sangat tahu, sebenarnya Keke adalah wanita yang baik. Mungkin berkat pergaulan bebas di luar negeri atau lingkungan di sana telah berhasil merubahnya menjadi wanita yang sekarang.
Cuman, Hans selalu ingat pesan istrinya. Bila dia harus menghadapi masalah menggunakan kepala dingin, bukan hati yang panas. Dan juga, kalau ada orang yang jahat pada mereka, maka mereka harus membalaskan dengan kebaikan.
Sebab, semua itu tidak akan ada habisnya jika mereka juga membalasnya dengan hal yang sama. Yaitu, mengandalkan amarah ataupun ego dari pada kelembutan hatinya sendiri.
"Keke, kamu benar-benar wanita yang tidak punya hati. Kenapa kamu bisa setega ini sama aku sih, kenapa!"
"Selama ini, aku punya salah apa sama kamu. Sampai-sampai kamu harus menghancurkan kebahagiaanku seperti ini? Aku tidak pernah menyakitimu, malah kamu yang menyakitiku. Cuman kenapa harus aku yang mendapatkan semua ini? Kenapa!"
Hans benar-benar sangat kecewa mendengar semua kenyataan ini. Seharusnya Keke tidak boleh bersikap seenaknya, padahal dia tidak tahu penyebab kenapa Hans bisa meninggalkannya dan memilih untuk bertahan sama pernikahannya bersama Meera.
"Tenang, Kak. Aku juga sangat marah dengannya, cuman mau bagaimana lagi. Lebih baik kita fokus dulu aja sama kesehatan Meera dan jangan memikirkan yang lain."
Bram berusaha untuk menguatkan Hans, dia mencoba untuk terus menasihatinya supaya Hans bisa kembali fokus memikirkan istri dan juga anaknya yang sedang berjuang di dalam sana.
Beberapa saat, Hans dan Bram terdiam duduk sambil terus menatap ke arah lampu. Dimana lampu operasi masih berwarna hijau, pertanda operasi masih berjalan.
Hanya selang 2 menit, akhirnya lampu tersebut mati. Membuat Hans segera berdiri bersama Bram, mendekati pintu sebelum dokter keluar pintu.
"Dok, bagaimana? Operasinya berhasil 'kan? Terus anak dan istriku di dalam baik-baik aja 'kan?" ucap Hans, ketika sang dokter baru saja keluar sambil menutup pintu.
"Tenang, Kak. Tenang!" ucap Bram menahan Hans agar tidak sampai terlalu menekan sang dokter yang terlihat masih lemas, setelah melakukan tugas sangat berat.
Sang dokter menatap Hans dengan tatapan yang benar-benar terlihat bingung dan tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan. Karena sang dokter tahu, bila saat ini keadaan Hans benar-benar cukup setres memikirkan anak serta istrinya.
Namun, mau tidak mau. Dokter pun perlahan mulai menarik napasnya panjang, kemudian mengeluarkannya.
Setelah itu dia menjelaskan semua kondisi Meera dan juga anaknya saat ini setelah melewati operasi yang cukup menegangkan.
__ADS_1
"Sejauh ini, operasi telah berhasil di lakukan. Puji Tuhan anak Tuan telah lahir dengan jenis kela*min laki-laki, berat 3,6 kilo dan panjang tubuhnya 40 cm. Bahkan keadaannya juga cukup baik. Hanya saja cuman perlu melewati masa pemulihan kurang lebih 1 bulan lamanya."
"Anak Tuan akan kami rawat di ingkubator kurang lebih 1 bulan lamanya. Semua itu untuk lebih memastikan fisik serta kondisi anak Tuan benar-benar sehat, barulah bisa di bawa pulang. Karena saat ini kondisi sedikit lemah dan napasnya juga belum normal. Kami takut, bila dia memiliki penyakit gangguan pernapasan."
Pertama sang dokter menjelaskan tentang anak Hans terlebih dahulu. Rasanya hati Hans benar-benar lega, bila anaknya telah lahir dengan selamat. Meski harus melewati serangkaian pengobatan intens, setidak Hans bisa menyaksikan kelahiran anaknya.
"Syukurlah. Selamat, Kak. Sekarang Kakak sudah jadi seorang Ayah, anak Kakak juga laki-laki. Jadi kita sepasang, Kak. Pasti Alice akan sangat senang bila Kakaknya Baby Maura laki-laki, semoga kelak mereka bisa saling menyayangi dan juga menjaga satu sama lain. Amin, sekali lagi selamat, Kak."
Bram langsung memeluk Hans dari arah samping saking senangnya, ketika mendengar bahwa ponakannya telah lahir dengan selamat ke dunia.
Hanya, kesenangan di wajah Hans belum sepenuhnya. Masih ada yang kurang, jika dia belum mengetahui keadaan istrinya saat ini.
Bila di bilang senang, Hans sangat senang. Siapa sih yang tidak senang, menyambut kelahiran buah hati. Cuman yang membuat kebahagiaan itu belum kumplit, saat Hans belum tahu bagaimana keadaan istrinya yang telah berhasil melahirkan anaknya. Walaupun dia harus melahirkan dengan cara seperti ini.
Hans cuman tersenyum menyambut pelukan sang adik, lalu Bram melepaskannya dan kembali menatap wajah sang dokter.
"Terus, ba-bagaimana ke-keadaan istri saya, Dok? Di-dia baik-baik aja 'kan? Di-dia pasti selamat juga 'kan, Dok? Katakan, jika itu benar adanya. Bila tidak, saya tidak mau tahu bagaimana caranya saya mau istri saya harus selamat. Paham!"
"Tenang, Tuan. Sebelumnya saya minta maaf---"
"Tidak! Saya tidak akan pernah memaafkan, jika sampai terjadi hal buruk pada istri saya. Dan saya akan perkarakan semua ini di jalur hukum, karena kau yang telah memaksa saya untuk menandatangani surat konyol itu!"
Suara lantang Hans menandakan bila puncak emosi kesedihan, kekecewaan, serta kepanikan mulai berada di level paling tinggi. Terlihat ketika nada Hans yang semakin meninggi, tatapan yang semakin menajam dan otot-otot tubuh yang mulai keluar.
"Maaf, Tuan. Kami hanya seorang dokter, tugas kami hanya membantu serta menolong pasien semampu kami. Semua itu tergantung takdir, karena disini kami sudah berusaha sekuat tenaga dan jiwa raga kami. Namun, sayangnya Nyonya Meera mengalami koma."
Degh!
Tubuh Hans langsung melemah saat dia mendengar bisa istrinya berada diambang antara hidup dan ma*tinya. Air mata kembali bercucuran di wajah Hans dan juga Bram yang terlihat sangat syok. Mereka tidak menduga bila Meera bisa mengalami kondisi separah ini.
__ADS_1
Inilah perjuangan seorang Ibu, dia rela menyelamatkan anaknya walaupun dalam kondisi tidak sadarkan diri Meera tetap bertahan demi bisa menyelamatkan anaknya.
Setelah itu, barulah Meera beristirahat entah sampai kapan. Bisa selamanya, atau bisa juga beberapa tahun kedepan. Semua tergantung takdir yang akan membawanya kemana.
"I-istriku ko-koma, Dok? Sa-sampai ka-kapan? Ta-tapi dia bisa kembali bangun 'kan? Istriku bi-bisa sehat lagi, 'kan?" ucap Hans, hatinya sudah sangat hancur. Dia tidak tau mau bagaimana lagi untuk menghadapi situasi seperti ini.
Anaknya dinyatakan selamat, tetapi kondisi belum bisa dikatakan sehat. Sekarang, Meera. Dia harus mengalami keadaan koma, cuman demi sang buah hati.
"Saya harap, masa kritis ini tidak akan lama. Tuan banyakin doa saja, semakin banyak doa yang di panjatkan maka semakin banyak pula harapan untuk Nyonya Meera sembuh. Jadi, saya hanya bisa mendoakan agar Nyonya Meera bisa kembali bangun untuk melihat betapa tampannya anaknya saat ini."
"Jika Tuan ingin melihat putra Tuan, nanti akan ada suster yang akan mengantarkannya. Sekarang saya harus memindahkan Nyonya Meera ke ruangan khusus lebih dulu."
Saat sang dokter ingin kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengurus semuanya, langkahnya segera di hentikan oleh Hans dengan suara lantangnya.
"Pindahkan istriku ke ruangan VVIP, berikan perawatan yang sangat terbaik di sini. Dan satukan ruangannya dengan anakku, mengerti!"
"Ta-tapi, Tu--"
"Tidak ada tapi-tapian. Cepat lakukan, atau aku akan membuat rumah sakit ini menjadi bangunan kosong!"
Degh!
Ancaman Hans langsung berhasil menampar hati sang dokter begitu keras, dia hanya bisa mengangguk dalam kondisi tubuh bergetar. Kemudian langsung masuk ke dalam ruangan, dimana tubuh Hans kembali terjatuh di lantai meratapi kondisi istrinya.
...***Bersambung***...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...***Jangan lupa guys, pengumuman pemenang GIVE A WAY di novel KEMARAU BIDUK CINTA telah author umumkan. ...
__ADS_1
...Silakan di cek, dan bila ada yang bersangkutan di novel ini segera kabarin author. Karena author tidak tahu, apakah pemenang tersebut berasal dari pembaca disini atau tidak. Sekian terima kasih ❤️❤️***...