
Kali ini sang supir kembali memanggil Meera dalam keadaan wajah penuh kekhawatianr. Untungnya Meera berhasil tersadar dan segera meminta maaf jika dia sudah mengabaikan ucapannya.
Sang supir langsung merasa lega ketika majikannya dalam keadaan baik-baik saja, kemudian tanpa basa-basi lagi mereka kembali masuk kedalam mobilnya dan pergi menuju Perusahaan Hans.
...*...
...*...
Hampir 30 menit berlalu, kini Meera sudah sampai didepan halaman Ivander Company.
Sang supir segera keluar dari mobil untuk membukakan pintu buat Meera, perlahan Meera keluar sambil mengucapkan terima kasih yang tidak pernah dia lupakan.
Meera berdiri menatap kagum kearah depan matanya, Perusahan Hans terlihat begitu besar dengan bangunan menjulang tinggi menembus keatas langit.
Baru kali ini Meera melihat sebuah gedung begitu mewah, bahkan perpaduan warnanya benar-benar sangat cocok. Meski terlihat simpel, tetapi terkesan begitu elegan.
Desain gedung Perusaan keluarga Ivander, berhasil mengalahkan indahnya gedung-gedung lainnya yang selalu Meera lihat disepanjang jalan.
Meera tidak menyangka, jika Hans bisa meneruskan Perusahaan milik Daddynya hingga berkembang pesat seperti ini.
Meera berbalik menatap sang supir dan berkata. "Pak, apa benar ini Perusahaan milik suami saya? Apa Bapak tidak salah tempat?"
"Tidak, Nyonya. Ini adalah Perusahaan turun temurun dari keluarga Tuan Ivander. Dimana pada waktu mendiang Tuan besar bekerja, Perusahaan tidak semegah saat ini. Cuman, berkat tangan Tuan Hans semua Perusahan yang dia pegang menjadi sukses."
"Banyak yang bilang tangan Tuan Hans, merupakan tangan emas. Sehingga apa yang tidak mungkin bagi orang lain, maka akan menjadi mungkin bagi dirinya."
"Ya memang saya belum lama bekerja dengan keluarga Ivander, tetapi saya tahu betapa baiknya keluaga itu. Meskipun sikap mereka terbilang cuek dan dingin, hatinya sangat baik."
Sang supir memberikan sedikit pengetahuannya tentang perusahaan ini, apa lagi dia sudah bekerja cukup lama dengan keluarga Ivander. Bahkan jauh sebelum kehadiran Meera.
Supir Meera saat ini sebenarnya adalah supir dari mendiang suaminya, yang dioper alih untuk mengantar serta mengawal kemanapun Meera pergi. Sehingga mendiang suaminya, memakai supir cadangan lainnya.
__ADS_1
Selama Meera menikah dengan mendiang suaminya, dia belum pernah sekalipun pergi atau ikut bersama mendiang suaminya ke Perusahaan.
Meera malah lebih memilih untuk tetap berdiam diri dirumah, lantaran pada saat itu dia belum paham tentang semua kehidupan keluarganya barunya.
"Terima kasih, Pak. Atas semua informasinya, sampai sini saya paham. Bahwa apa yang kita lihat belum tentu sama, dan apa yang anggap jelek belum tentu semuanya jelek."
"Saya kedalam dulu, Bapak tunggu saja disini atau mau pergi cari makan pun tidak apa-apa, nanti jika urusan saya sudah selesai akan saya mengabari Bapak lewat chat."
Meera tersenyum menatap sang supir yang hanya bisa mengangguk kecil, kemudian Meera mengambil tas selempangnya serta tas yang berisikan makanan. Lalu melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu menuju masuk kedalam Perusahaan.
"Permisi, Pak ...." sapa Meera sambil tersenyum.
"Loh, Nyo-nyonya Meera?" ucapnya terkejut.
Meera tersenyum mengangguk perlahan, ketika ternyata security Perusahaan mengenal dirinya. Padahal dia sendiri tidak mengenal siapa pun yang bekerja di sini.
"Hehe, iya Pak. Ma-maaf, sebelumnya Bapak tahu dari mana ya nama saya? Soalnya saya baru pertama kali loh datang ke sini." ucap Meera tersenyum canggung.
"Aduh, Nyonya. Tanpa Nyonya ke sini pun kami semua sudah tahu, jika Nyonya Meera adalah mantan mendiang istri dari Tuan besar, yang saat ini sudah menjadi istri dari Tuan Hans."
"Ya benar, Nyonya. Maklumin saja, namanya juga netizen, jika mereka tidak menggosip mungkin bibirnya sudah karatan hehe ...."
Kedua security berbicara saling bergantian seperti memberikan suport kepada Meera yang baru saja mendapatkan berika jelek tentang dirinya.
Namun, berkat Bram dan Hans semua pemberitaan jelek mengenai kejadian tersebut sudah ditutup dari semua media.
Ya, mungkin ada beberapa orang yang sudah melihat pemberitaan tersebut. Tetapi, banyak juga yang belum melihatnya.
"Ohya, Nyonya mau saya antar kedalam untuk bertemu dengan seketaris Tuan Hans? Supaya Nyonya bisa langsung keruangan Tuan Hans." tanya salah satu security.
"Boleh, Pak. Terima kasih," ucap Meera menganggukan kepalanya.
Kemudian security itu bergegas mengantarkan Meera. Dimana ada sebagian yang menatap Meera dengan sangat sopan, dan ada pula yang menatap Meera dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Sesampainya dimeja resepsionis, security tersebut langsung meminta izin untuk menghubungi seketaris Hans supaya bisa menjemput Meera.
Sayangnya, tidak ada jawaban dari seketarisnya karena mereka semua sedang berada di luarangan rapat. Apa lagi hari ini Hans ada meeting yang sangat penting, hingga memakan waktu yang cukup panjang.
Sampai akhirnya resepsionis menelepon asisten Hans, dan memberitahukannya bahwa Meera sudah berada di Perusahaan.
Asisten Hans, segera bergegas pergi meninggalkan ruangan meeting atas izin Hans untuk menjemput Meera.
Hampir 5 menit Meera duduk disofa dekat meja resepsionis sambil memainkan ponselnya, menunggu asisten Hans. Sedangkan security yang mengantarkannya sudah kembali bertugas.
Tak lama, seorang pria tampan dan gagah datang untuk menjemput Meera di loby. Pria tersebut sedikit membungkuk memberikan hormat kepada istri dari atasannya.
"Permisi, Nyonya. Maaf jika Nyonya sudah menunggu terlalu lama. Perkenalkan nama saya Yudha selaku asisten pribadi dari Tuan Hans,"
"Sebelumnya Tuan Hans menitip pesan untuk meminta maaf, karena dia harus menyelesaikan meetingnya terlebih dahulu. Jadi Nyonya bisa menunggu Tuan diruangannya. Mari saya antar."
Ardana Yudha Marcello, adalah asisten Hans dengan usia 27 tahun. Yudha juga merupakan seorang pria bekerja keras, tampan dan juga gagah. Yudha bukanlah pria lajang, melainkan dia sudah memiliki seorang istri dan juga 1 anak.
Meera menganggukan kepalanya, masih sedikit cangung dengan suasana Perusahaan untuk pertama kalinya.
Meera tidak mau banyak berbicara, akibat sebagian dari karyawa ada yang sedikit sensi dengan kehadirannya.
Yudha membungkukkan badannya sambil mempersilakan Meera untuk jalan lebih dulu, lalu dia mengikuti dibelakangnya sambil mengarahkan kearah lift khusus untuk CEO, seketaris dan Asistennya.
Saat pintu lift terbuka tepat dilantai 30 paling atas, mereka segera keluar menuju ruangan Hans.
Perlahan pintu terbuka bersamaan dengan masuknya Meera kedalam ruangan yang sangat bersih dan juga wangi.
Yudha mempersilakan Meera untuk duduk disofa, dan dia akan meminta staf OB agar mengatarkan minuman segar untuk Meera.
Namun, Meera menolaknya karena dia belum merasa haus. Tanpa berlama-lama Yudha segera berpamitan kembali turun kelantai 25, dimana tempat meeting berada.
Yudha meninggalkan Meera seorang diri diruangan Hans, tetapi saking penasarannya Meera menaruh semua tasnya. Kemudian berjalan perlahan melihat serta menyentuh semua benda yang ada diruangan, secara hati-hati sambil menunggu Hans yang masih meeting.
__ADS_1
...***Bersambung***...