Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Kejanggalan Kematian Daddy


__ADS_3

"Santai aja, aku juga minta maaf selama ini udah membencimu serta ingin menghancurkan rumah tanggamu. Sekali lagi maafkan aku, Kak. Aku janji, aku akan membantumu untuk menyelesaikan permasalahan ini. Aku sadar, bahwa semua ini merupakan takdir Tuhan yang tidak bisa aku hindarkan. Mungkin, Tuhan memisahkanku dengan Meera untuk mendatangkan seseorang yang lebih baik seperti Alice di dalam hidupku. Jadi aku sudah tidak lagi memiliki perasaan pada Meera, dan aku ingin memperbaiki hubungan persaudaraan kita."


Mendengar kalimat yang sangat indah itu, membuat Hans langsung memeluk Bram begitu erat. Disinilah kesalah pahaman antara mereka berdua telah berakhir. Dimana Bram dan Hans akan kembali menjalani kehidupannya seperti semula yang penuh cinta kasih.


Rasa bahagia di antara mereka benar-benar terlihat jelas ketika mereka melepaskan pelukannya satu sama lain.


Hans menepuk pipi adik kesayangannya dengan sangat gemas. Akhirnya mereka bisa kembali menjadi saudara yang seutuh, dimana ada Kakak dan Adik yang saling menyayangi satu sama lain.


"Aku senang, akhirnya adik kecilku telah kembali. Rasanya aku kangen sekali dipanggil Kakak olehmu, sampai akhir berpikir kalau kita tidak akan bisa kembali seperti dulu."


"Namun, aku salah. Seiring berjalannya waktu. Ternyata Tuhan mendengar doa-doaku.dan telah mengabulkan semua keinginanku untuk bisa kembali menggenggam tangan adik kecilku ini."


Senyuman terukir di sudut bibir Hans, hingga tak terasa air matanya mengalir begitu saja membuat Bram merasa sangat-sangat bersalah. Lantaran dia sudah menyakiti hati Kakaknya yang selama ini tidak pernah membalasnya.


"Maafkan aku, Kak. Selama ini aku sudah menyakiti hatimu, aku sudah membuatmu merasa hancur karena sikapku yang begitu menyebalkan. Aku janji, Kak. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Mulai sekarang kita akan selalu bersama untuk melindungi keluarga Ivander serta cucu buyutnya kelak."


Bram mengatakan semua itu dengan sepenuh hati, kemudian mereka kembali berpelukan sekali lagi selama beberapa detik. Setelah itu, Bram melepaskan pelukannya sambil menatap Kakanya lekat-lekat.


"Bram, apa kamu ingat dengan kematian Daddy yang janggal itu? Apakah itu salah satu dari perbutan mereka? Karena sampai detik ini pun, kita belum bisa menyelidiki dan menemukan jawaban yang pasti."


"Pada saat itu, Daddy berangkat ke kantor dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Cuman kenapa hanya selang beberapa menit, tiba-tiba Daddy mengalami kecelakaan akibat dia terkena serangan jantung secara mendadak."


"Kau tahu, bukan? Serangan jantung secara mendadak itu bisa di sebabkan oleh seseorang yang mengagetkannya atau bisa jadi Daddy mendapatkan kabar sesuatu hingga dia terkejut dan membuat penyakitnya langsung kambuh. Jangan bilang, kalau ini adalah campur tangan mereka?"


Degh!


Mendengar perkataan Hans, berhasil membuat jantung Bram seketika berhenti untuk beberapa detik dan kembali berdetak sangat kencang.

__ADS_1


Bram seakan-akan melupakan kejadian yang menimpa Daddynya, sampai perkataan Hans kembali mengingatkannya tentang kejadian yang janggal itu.


"Ya-ya, kau benar, Kak. Aku sampai melupakan kejadian itu, jika benar itu semua ulah mereka akan aku pastikan mereka akan membusuk di dalam penjara untuk selamanya!" ucap Bram dengan sangat tegas.


Wajah merah penuh emosi berhasil menyelimuti hati Bram, dia tidak terima jika nyawa keluarganya di renggut secara paksa seperti itu.


"Ya sudah aku ke kamar dulu mau beristirahat, nanti kita akan bahas lagi setelah kita tahu apa motif mereka dan dendam apa yang mereka simpan untukku. Sekarang lebih baik kau bersiap-siap sebelum istrimu ngamuk, tahu 'kan gimana ngambeknya Bumil, hem?" ucap Hans, menaik turunkan alisnya seraya menggodanya.


"Astaga, aku lupa. Ya sudah Kakak istirahat yang banyak, aku mau ke kamar dulu. Sebelum istriku memakanku hidup-hidup!" cicit Bram, yang langsung terburu-buru meninggalkan Hans yang masih duduk di sofa.


Melihat kepergian Bram, Hans hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, saat dia bisa kembali melihat sikap Bram yang dulu telah kembali.


Perlahan Hans pun berdiri, lalu berjalan meninggalkan ruangan kerjanya menuju kamarnya sambil tangan satunya memegangi kepala dan satunya lagi membawa obatnya.


Setibanya di kamar, Hans membuka pintu dan masuk bersamaan dengan keluarnya Meera dari kamar mandi.


"Kalau begini, kesannya kamu terlalu memaksakan diri untuk mengetahui semua disaat kepalamu menolak semua itu. Sudahlah Hans, jangan bandel. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa lagi, jadi please dengarkan aku!"


Meera berdiri di hadapan suaminya yang rambutnya masih dililit oleh handuk dengan menunjukkan wajah sedihnya.


"Uhh, Sayang. Sini peluk dulu!" ucap Hans, merentangkan kedua tangannya.


"Aakhh, Sayang!" sahut Meera yang langsung berhambur memeluknya tanpa rasa malu.


Setelah di rasa cukup, Meera melepaskan pelukannya dan membawa Hans perlahan duduk di tepi ranjang. Sampai mata Meera tidak sengaja menatap ke arah tangan Hans yang memegang obat-obatannya.


"Ehh, kok obatnya ada di tanganmu? Perasaan semalam masih ada di laci itu deh, kenapa sekarang udah pindah tempat?" tanya Meera, bingung.

__ADS_1


"Oh ini, biasa tadi sakit kepalaku kambuh. Terus Bram mengambilkannya, cuman dia bilang katanya kamu lagi mandi jadi dia nyelonong masuk demi mengambil obat ini." jawab Hans, tersenyum


"Makannya jangan dablek jadi orang, sudah aku bilang. Jaga kesehatanmu, jangan sampai operasinya menjadi gagal ketika kamu banyak pikiran terus membuat isi kepalamu menjadi semeraut."


"Sampai itu terjadi, apakah kamu mau kembali merasakan tinggal di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama?"


Celoteh Meera, segera mengambil obat tersebut dan menaruhnya diatas meja dengan perasaan kesal.


"Ya, ma-maaf Sayang. Jangan marah-marah dong, aku 'kan takut. Ya deh, iya. Lain kali aku akan menuruti semua perkatanmu, aku janji tidak ada membantahnya selagi itu demi kesehatanku. Jadi, jangan marah ya ya ya. Please ...."


Hans langsung memegang tangan istrinya dan menciumnya beberapa kali sambil menunjukkan wajah melas bercampur sedih, guna menarik simpati istrinya sendiri.


Akan tetapi, Meera malah terdiam melihat tingkah lucu suaminya. Rasanya dia ingin sekali tertawa, meski bibirnya sesekali menahan senyum, agar tidak tertawa ketika mendengar rengekan Hans layaknya anak kecil.


"Sayang, sayang, sayang!" panggil Hans, ketika Meera hanya berdiam diri menatapnya dengan tatapan sedikit menakutkan.


"Akhhaa, sayang jangan tatap aku seperti itu. Aku takut! Ya, deh, iya. Aku enggak gitu lagi, jadi jangan marah. Pisss ...."


Hans mengangkat jarinya membentuk huruf V, dimana raut wajahnya terlihat begitu gemas dan kali ini berhasil membuat istrinya tertawa cukup lebar.


"Hahah, astaga Hans. Kenapa wajahmu gemas sekali, aku tidak tahan melihatnya hihi ...."


"Aahaaa, sayang!" pekik Hans langsung berhambur memeluk istrinya dan mendusel-duselkan kepalanya di dadanya.


Meera hanya tertawa membals pelukan suaminya sampai beberapa menit. Setelah itu Hans melepaskan pelukannya dan membiarkan istrinya untuk berdandan terlebih dahulu sebelum kembali memanjakannya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2