Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Gagal Menyantap Makan Siang


__ADS_3

Posisi inilah yang Bram butuhkan dari Mommynya yang sudah lama tiada. Bram tidak merasa kesepian, Karena dia punya Bi Neng yang bisa menjadi apapun untuknya.


Sementara Bi Neng tersenyum dengan tingkah manja Bram yang memang tidak pernah hilang dengannya. Bi Neng mengusap kepala Bram membuat Bram semakin nyaman dan pada akhirnya mereka berdua pun tertidur dalam keadaan seperti itu.


...*...


...*...


Beberapa hari setelah keadaan Bram sudah membaik, baik Meera pun sudah mulai tenang. Meskipun dia harus mengikut Hans ke kantor guna membuatnya agar kembali nyaman.


Jika dipaksakan untuk tetap tinggal dirumah sendirian, maka semakin membuat Meera merasa ketakutan. Karena itu akan membuat mentalnya semakin terguncang, semua ini berkat nasihat dari dokter psikolog yang menangani kondisi Meera.


1 hari setelah kejadian itu keadaan Meera semakin susah untuk di kontrol, bahkan ditinggal Hans sebentar pun itu akan membuat Meera semakin takut.


Sehingga jalan satu-satunya Meera harus dibawa ke psikolog agar bisa membantunya menghilangkan rasa trauma yang berkelanjutan


Hari ini Bram kembali menemui Deo di BAR, karena sudah hampir satu minggu ini Bram masih belum.tahu gimana caranya untuk membebaskan Alice dari cengkraman penjahat seperti Deo.


...*...


...*...


Di BAR, milik Deo. Bram baru saja sampai di tempat parkir tepat pukul 1 siang. Dimana Bram tahu, jika jam segini Alice masih bersama Neneknya di rumah sakit.


Bram masuk ke dalam dengan berbagai godaan para wanita nakal, sampai akhirnya dia berhasil lolos dan berdiri tepat di depan ruangan Deo.


Tok, tok, tok!


Ketukan pintu membuat Deo terkejut saat dia baru saja mau menikmati santapan makan siangnya, seketika mereka langsung merapikan pakaiannya dan bersikap biasa saja.


"Tuan, saya kembali kerja dulu ya. Jika nanti Tuan butuh saya panggil saja, okay?" ucap wanita itu sambil mencium pipi Deo, sedikit kedipan manja.


Wanita penghibur itu pun keluar dari ruangan Deo, sambil melirik genit kepada Bram. "Hai, ganteng. Ketemu lagi kita, apa kamu ke sini untuk membokingku. Hem?"


"Ckk, lepasin tangan lu atau gua patahin!" ancam Bram, dengan mata yang sangat tajam.

__ADS_1


"Upps, mengerikan. Kok galak ya sekarang, dulu-dulu mah ketagihan hihi ...." godanya lagi.


"Cepat pergi dari sini atau----"


"Huhh, takut hahah. Bye-bye ganteng, jangan lupa ya panggil aku jika butuh."


Wanita itu memberikan ciuman melalui bibir yang menempel di tangan lalu di berikan ke pipi Bram. Setelah itu pun kabur terburu-buru karena takut dengan amukan singa yang lagi tidak baik-baik saja.


"Rupakan, kawanku yang datang. Hem, kehadiranmu kurang tepat kawan. Karena ulahmu aku jadi tidak bisa menyantap makanan siangku." ucap Deo, melirik ke arah Bram yang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah datar.


"Duduklah, kita senang-senang dulu atau kau ke sini mau mencari Alice? Astaga, apa kau lupa Alice itu setiap pagi atau pun siang. Dia berada di rumah sakit menunggu kematian Neneknya." sambung Deo membuat Bram mengepalkan kedua tangannya sambil berdiri.


"Cukup, De. Cukup! Gua enggak punya banyak waktu, gua ke sini juga bukan buat ketemu Alice. Tapi, gua mau ngadain tawar menawar sama lu supaya bisa membebaskan Alice!" tegas Bram, yang sudah duduk tepat di hadapan Deo.


Seketika Deo tertawa menggelegar, perkataan Bram seakan-akan seperti kelitikkan yang ada di perutnya, geli. Ya, seperti itulah. Karena Deo tahu, Bram itu tidak seperti Hans yang bisa seenak jidatnya mengeluarkan uang.


Apa lagi Hans memegang kendali semua aset perusahaan, sementara Bram hanya memegang Caffe miliknya yang penghasilannya lumayan. Cuman tak sebanding penghasilan Hans.


"Gua serius ya, enggak bercanda! Bisa kan lu jangan mancing-mancing emosi gua, kali ini gua cuman mau nawarin ke lu secara baik-baik. Berapapun lu minta gua akan turuti, asalkan Alice bisa lepas dari rumah bia*dap ini!"


Hanya saja dia kembali berpikir jika lepas kendali, semua akan semakin menjadi rumit. Dan cara untuk melepaskan Alice akan semakin susah.


"Haha, Bram, Bram Bram!"


Prok, prok, prok!


Deo bertepuk tangan dengan sangat ngeselin, seakan-akan Deo seperti meremehkan ucapan Bram yang sedari tadi sangat serius dengannya.


"Lu itu kenapa sih, Bram? Kenapa lu sampai segininya demi Alice? Apa sih yang ada di dalam pikiran lu sekarang, Alice itu wanita murahan dia sudah menjejalkan tubuhnya sendiri demi uang!"


"Jadi buat apa lu habisin semua harta lu demi kebebasan dia? Sedangkan dia aja udah pasrah sama hidupnya, unruk terus bekerja sama gua sampai gua enggak lagi membutuhkan tenaganya!"


"Memang enggak ada wanita lain yang lebih sempurna, yang lebih baik dan lebih suci dari Alice? Kenapa harus Alice, Alice dan Alice!"


"Apa sikap lu yang begini, karena lu udah mulai mencintai dia? Dan melupakan bahwa kalian itu hanyalah bersandiwara untuk menciptakan hubungan yang akan membuat Kakak dan Ibu tiri lu itu menderita!"

__ADS_1


"Tapi, kenapa Bram? Kenapa lu malah terjebak, dan bela-belain menghabiskan semua uang lu hanya demi dia?"


"Jawab! Lu cinta kan sama dia, lu sayang kan sama dia? Dan yang lebih parahnya lagi lu tidak menyadari itu semua? Haha, dasar go*blok!"


Perkataan demi perkataan yang Deo berikan berhasil membuat Bram terdiam membisu. Mulutnya terasa kelu untuk menjawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan.


Sementara Deo, dia hanya tersenyum miring melihat wajah Bram sangat gugup. Wajah merah yang awalnya penuh emosi, kini berubah menjadi merah akibat rasa malu karena Bram sendiri tidak tahu kenapa dia sebegini untuk menyelamatkan Alice.


Padahal dia dan Alice terbilang orang yang batu mengenal, berbeda jika Bram bersama wanita penghibur lainnya yang selalu ada untuknya. Tetapi, tidak sampi sebegininya.


Sudah jelas bukan, jika Bram memang memiliki perasaan untuk Alice. Hanya saja gengsi dan juga rasa dendam yang menutupi semua itu berhasil menahan sesuatu didalam hatinya untuk keluar.


Hampir beberapa menit, Bram langsung berdehem untuk menetralkan degup jantungnya dan kegugupan di dalam wajahnya.


"Berisik, gua cuman nanya berapa yang harus gua bayar ataupun gua ganti untuk membebaskan Alice dari tempat ini?"


"Gua hanya minta lu jawab nominal, bukan menceramahi gua layaknya lu orang yang paling benar sedunia. Paham!"


Mata Bram menatap tajam ke arah Deo yang cuman bisa tersenyum manis, dengan sedikit meledek Bram.


Ya, meskipun Deo tidak melupakan bahwa Bram ini adalah sahabatnya, tetapi Deo juga tidak bisa memungkiri jika bisnis adalah bisnis. Tidak ada sangkut pautnya antaran teman.


Sampai akhirnya suasana seketika hening, hanya ada kedua mata yang saling menatap satu sama lain. Dengan tatapan saling menusuk tajam.


"Gimana?" ucap Bram.


"Wokelah, jika lu mau menebus semua uang yang gua berikan untuk pengobatan Neneknya yang sebentar lagi ma*ti gua---"


"Bisa enggak sih lu jangan kasih embel-embel kalau ngomong! Seolah-olah lu, enggak niat buat bantuin Alice dan Neneknya. Jadi buat apa saat itu lu nolongi mereka?"


"Ya karena itu peluang bagi gua, supaya bia mendapatkan apa yang gua mau. Kalau gua enggak begitu bagaimana gua bisa memanfaatkan dia?"


"Ckk, banyak ba*cot lu! Cepat sebutkan nominal yang lu mau, gua enggak ada waktu!"


"Huhh, baiklah. Lu bisa barter Alice dengan uang sejumlah ...."

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2