
Hans mengangkat jarinya membentuk huruf V, dimana raut wajahnya terlihat begitu gemas dan kali ini berhasil membuat istrinya tertawa cukup lebar.
"Hahah, astaga Hans. Kenapa wajahmu gemas sekali, aku tidak tahan melihatnya hihi ...."
"Aahaaa, sayang!" pekik Hans langsung berhambur memeluk istrinya dan mendusel-duselkan kepalanya di dadanya.
Meera hanya tertawa membals pelukan suaminya sampai beberapa menit. Setelah itu Hans melepaskan pelukannya dan membiarkan istrinya untuk berdandan terlebih dahulu sebelum kembali memanjakannya.
...*...
...*...
Selang 3 hari kemudian, Bram mengajak Hans untuk bertemu oleh kedua tikus yang masih mendekam di dalam penjara, tanpa satu keluarga yang menjenguknya.
Setelah sarapan, mereka berdua pergi menggunakan mobil milik Bram. Disini hanya ada mereka berdua yang akan menemui kedua tikus itu, sementara kedua Bumil cukup menunggu dirumah saja.
Hans takut jika Bumil ikut, itu akan membahayakan anak yang ada di dalam kandungannya, karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.
Kurang lebih 1 jam 15 menit mereka sampai di kantor polisi. Bram segera memakirkan mobilnya dengan rapi, kemudian mereka berdua keluar secara bersamaan sedikit merapikan pakaiannya, lalu berjalan bersampingan memasuki kantor polisi.
Bram dan Hans, menemui salah satu polisi yang duduk berjaga guna membuat laporan dan sebagainya. Mereka berdua langsung di persilakan duduk olehnya, dan menanyakan ada kepentingan apa yang membawa mereka sampai ke sini.
"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya polisi itu, sambil berjabat tangan dan tersenyum menatap mereka berdua secara bergantian.
"Saya Bram Andreas Ivander, orang yang melaporkan tentang kejadian kecelakaan yang menimpa Kakak saya Hans, kurang lebih 1 bulan lalu."
"Kedatangan saya dan Kakak saya ke sini, ingin menemui kedua pelaku tersebut. Karena, 3 hari lalu saya mendapatkan kabar bahwa pelaku sudah di ditemukan dan di bawa ke kantor polisi terbesar disini."
"Jadi, apakah saya dan Kakak saya bisa langsung menemui pelaku itu. Guna, menanyakan apa motif mereka sebegitu besarnya ingin melenyapkan Kakak saya!"
Bram berbicara sangat lantang dan juga tegas, tatapannya tidak teralihkan dari tatapan sang polisi yang mendengarkan perkataannya.
__ADS_1
"Oh, jadi anda ini Tuan Bram? Maaf, Tuan. Saya lupa, padahal saya sudah menunggu dari jauh-jauh hari, agar Tuan bisa segera datang ke sini. Cuman karena kesibukan Tuan, jadi saya memakluminnya."
"Dan kebetulan ada Tuan Hans juga disini selaku korban dari kekejaman pelaku, jadi saya harap setelah kalian bertemu dengan pelaku. Tuan bersedia untuk di mintai keterangan sebagai pelengkap bukti dan berkas yang akan diajukan ke persidangan."
Hans hanya bisa mengangguk dan sedikit memberikan senyumn kecil, pertanda dia telah setuju untuk memberikan keterangan atas kejadian yang menimpanya sesuai versinya sendiri.
"Baiklah, jika begitu saya akan menelepon rekan saya supaya bisa membawa kalian bertemu dengan salah satu pelaku." ucap sang polisi, sambil memegang telepon kabel yang berada diatas mejanya.
Namun, ketika polisi itu mau menekan tombol. Segera mungkin Hans menahannya membuat polisinya seketika terdiam mematung sambil melirik ke arah Hans.
"Tunggu!"
"Ada apa, Tuan?" tanyanya, bingung.
"Saya ingin bertemu dengan keduanya. Bukan salah satu dari mereka, karena ada beberapa yang ingin saya tanyakan kepada mereka berdua. Jadi, izinkan saya untuk bertemu mereka semua. Tanpa harus satu persatu!" ucap Hans, sedikit memohon untuk mengajukan permintaan.
Polisi tersebut kembali menaruh telepon kabel itu, lalu menatap ke arah Hans. Tatapannya sedikit terlihat begitu keberatan dengan permintaan Hans, sampai akhirnya dia mengutarakannya.
"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa mengabulkannya, kaerna jika kami mempersatukan mereka semua di satu meja bersama Tuan. Maka akan terjadi keributan yang membuat kenyaman disini sedikit terganggu. Jadi, sekali lagi maaf. Saya tidak bisa mengizinkannya."
Hans tahu, mungkin yang sedikit berkuasa disini adalah Bram karena dia merupakan pelapor. Jadi, kemungkinan besar apa yang dia inginkan bisa sedikit di mengerti olek Pak Polisinya.
Akhirnya, Bram mengedipkan matanya perlahan. Kemudian dia mulai membenarkan posisi duduknya dan sedikit berdehem.
"Ekhem, jadi begini, Pak."
"Kedua tikus itu, eh ma-maksud saya kedua pelaku itu sudah hampir 3 atau 4 tahun kurang lebih kerja di rumah kami. Sehingga ada beberapa pertanyaan yang sedikit privat antara kami dan mereka berdua."
"Justru itu, saya mohon keringanannya untuk mempertemukan kami dengan kedua pelaku tersebut, agar kami bisa berbicara terbuka bersama mereka."
"Masalah keributan dan sebagainya, Bapak bisa menaruh beberapa penjaga yang akan selalu ngawasin kami lebih ketat lagi pun, itu tidak masalah. Asalkan kami bisa bertemu mereka berdua, bagaimana?"
__ADS_1
"Saya mohon, Pak. Untuk kali ini saja, jika besok-besok kami datang lagi ke sini. Tidak masalah jika pertemuan kami di pisah-pisah oleh kedua pelaku. Yang penting hari ini kami sangat-sangat meminta izin supaya bisa bertemu kedua pelaku sekaligus!"
Bram berusaha merangkai perkataan demi perkataan guna membuat polisi itu percaya dan akan mengizinkan mereka bertemu oleh kedua tikus itu secara serentak.
Dengan penantian sekitar beberapa menit, akhirnya mereka berdua di perbolehkan bertemu dengan kedua tikus itu secara bersamaan. Meski, harus dalam pengawasan beberapa polisi yang akan menjaga Bram dan Hans dari sesuatu yang akan membahayakan mereka.
Perasaan senang dan ucapan terima kasih, mereka selalu ucapkan kepada polisi itu sambil memberikan sedikit senyuman. Sementara sang polisi hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan menelepon rekan kerjanya yang sempat tertunda.
Sekitar kurang lebih 1 menit polisi itu selesai berbicara sama rekan kerjanya, tak lama rekannya datang untuk menjemput Hans dan Bram ke ruangan khusus untuk bertemu oleh tahanan.
Tanpa berpikir panjang lagi, Bram dan Hans langaung berjabat tangan oleh polisi itu lalu mengikuti lamgkah kemana pun polisi yang lainnya membawa untuk masuk melewati lorong yang cukup sepi.
Kemudian Bram dan Hans duduk secara perlahan di tempat yang sudah di persiapkan, sebelum kedua tikus itu datang di jemput oleh polisi yang berjaga di selnya.
Sampai akhirnya hanya kurang lebih 5 menit, suara langkah kaki terdengar di telinga Hans dan Bram. Segera mungkin mereka menatap ke arah depan untuk melihat kedua tikus itu.
Dimana ada perasaan senang tersendiri di hati Bram saat melihat kedua pelaku sudah mengenakan baju oranye bertuliskan tahanan.
Namun, yang membuatnya gereget adalah tatapan dari mereka yang menatap Bram dan Hans tidak di penuhi oleh rasa bersalah ataupun berdosa.
Awalnya sih terlihat jelas, dari raut wajah bahwa mereka tidak suka melihat Hans yang masih bisa muncul di depan mereka dalam keadaan baik-baik saja. Hingga suara remeh dan menantang berhasil membuat Bram mulai terpancing.
"Oh masih bisa hidup juga, pembunuh kaya lu! Gua kira lu udah ma*ti akibat kecelakaan itu, tahunya masih selamat!"
"Cihh, nyeesel gua udah percaya banget kalau kecelakaan itu masih bisa membuat lu hidup. Tahu gitu 'kan gua pastiin dulu. Jika lu udah ma*ti, gua bisa bebas pergi kemana aja bahkan mau hidup di sini pun gua enggak akan masalah!"
"Sayangnya aja, gua keburu disini. Padahal lu belum ma*ti di tangan gua, huhh sayang sekali. Lu punya nyawa berapa sih, bisa selamat dari maut yang sangat tragis itu? Atau jangan bilang, nyawa lu sama kaya kucing?"
Degh!
Hans hanya bisa tersenyum meski hatinya sedikit bergetar, mendengar perkataan dari Atun yang begitu menyakitkan perasaannya.
__ADS_1
Sementara Bram dia sudah mengepalkan tangannya dengan kuat, rahangnya beradu hingga tatapannya benar-benar penuh kebencian terhadap Atun dan Jaka yang saat ini hanya tersenyum lebar dalam keadaan santai.
...***Bersambung***...