
Disitulah, hati Meera terasa teriris. Pikiran jelek mulai menyelimuti isi kepalanya, tanpa berpikir panjang lagi Meera masuk ke dalam Perusahaan menuju ruangan kerja suaminya.
Dan, betapa terkejutnya dia saat mengetahui bila Hans tidak bertemu dengan rekan kerjanya. Melainka masa lalunya yang sama sekali tidak pernah Meera ketahui.
Perasaan Meera benar-benar hancur dan dia pun memilih untuk pergi meninggalkan Perusahaan dalam keadaan menangis penuh kekecewaan.
Sementara mereka berdua tidak mengetahui itu, dan Hans langsung bangkit serta menangkis semua perasaannya yang masih tersisa untuk Keke agar dia bisa melupakan semuanya dengan tuntas.
"Hans, kamu kenapa sih! Biasanya ketika kamu dekat denganku, kamu sendiri yang lebih dulu menciumku. Cuman kenapa ketika aku ingin menciummu. Kamu malah menjauh dariku, seperti sekarang ini. Kenapa hahh? Kenapa kamu berubah sama aku? Apa salahku, Hans. Apa!"
Keke bangun dan duduk sambil sedikit mendongak ke atas untuk menatap wajah Hans yang terlihat begitu gelisah.
"Sudah cukup kau membuat kegaduhan di Perusahaanku ini. Sekarang aku minta secara baik-baik dan penuh kehormatan, kamu pergi dari Perusahaanku sebelum ada media yang melihat kedekatan kita!"
"Jika sampai itu terjadi, maka jangan salahkan aku. Kalau aku tidak akan pernah lagi mau mengenalmu ataupun aku bisa memastikan karirmu akan hancur dalam hitungan detik. Semu itu karena aku tidak mau ada oemberitaan miring tentangku dan kau. Mengerti!"
Hans sedikit menekankan kata-katanya dengan nada mengancam. Apa lagi Hans sangat tahu jika Keke memang sangat menginginkan karirnya. Jadi tidak mungkin kalau dia sampai mempertaruhkan semua itu di saat susah payah dia membangunnya.
"Oke, fine. aku akan perg! Tapi, ingat! Aku akan kembali dan merebut kamu dari dia. Tunggu, waktu itu tiba!" balas Keke, disertain pengancaman kembali.
"Kalau sampai kau berani macam-macam dengan istriku, maka---"
"Terserah, kamu mau ngomong apa. Aku tidak akan perduli! Sebelum istrimu tahu tentang kita, aku tidak akan tinggal diam. Bye!"
Bella pun pergi tanpa menggubris lagi tentang perkataan Hans. Sehingga Hans kembali emosi, lalu berteriak sambil mengacak-ngacak ranjangnya.
__ADS_1
"Aarrghh ... Awas aja kau, Keke! Jika sampai ada apa-apa dengan istri dan anakku, maka aku tidak akan pernah membiarkanmu hiduo tenang!"
Bella yang mendengar suara kegaduhan itu, tetap melangkah pergi dengan perasaan cuek. Baginya saat ini, yang terpenting adalah bagaimana caranya dia bisa bertemu sama Meera. Agar, Keke bisa menjelaskan seperti apa hubungannya dulu dengan Hans sebelum kehadiran Meera.
Bella pergi meninggalkan Perusahaan, tak lupa dia memberikan tatapan sinis kepada beberapa security yang menatapnya tanda tanya.
Setelah kepergian Bella, Hans pun langsung pergi meninggalkan ruangannya saat dia sudah mencuci mukanya dan sedikit menetralkan rasa amarah di dalam hatinya.
Hans tidak mau sampai security melihat penampilan Hans yang sedikit berantakan, sebab Hans takut bila mereka akan menganggap yang tidak-tidak tentang dirinya.
Di saat Hans ingin memasuki mobilnya, salah satu dari security tersebut memberikan informasi kepada Hans mengenai kedatangan istri tercinta yang sama sekali tidak dia ketahui.
"Tuan, maaf. Tadi Nyonya Meera datang ke sini, dia ingin memberikan makan siang ini kepada Tuan. Cuman saat Nyonya masuk ke dalam dan keluar lagi, Nyonya bilang kalau Tuan sedang sibuk meeting bersama wanita itu. Jadi, Nyonya menitipkan ini pada kami supaya bisa memberikannya pada Tuan setelah selesai meeting."
Degh!
Jantung seakan-akan telah berhenti dan kembali berdetak dengan versi yang berbeda. Rasanya tubuh Hans saat ini benar-benar begitu lemas, satu sisi dia harus membuka luka lama yang memang belum usai. Dan satu sisi lagi, dia lupa bila ada istri yang sangat dia cintai yang sedang hamil besar.
Mata Hans membola besar mendengar bila Meera datang ke Perusahaannya. Itu artinya dia pasti melihat serta mendengar semuanya dengan salah paham.
Hans yang tidak tahu harus bagaimana meluapkan rasa emosi di dalam dirinya, langsung memarahi semua security yang tidak becus untuk berjaga-jaga. Harusnya tanpa Hans kasih tahu, mereka sudah paham. Cuman namanya manusia, tidak luput dari kesalahan.
"Dasar bo*doh! Kenapa kalian membiarkan istri saya masuk tanpa ada satupun dari kalian yang memberitahau saya dulu, hahh!" bentak Hans, sorotan tajam menyelimuti ketakutan di dalam diri karyawan securitynya.
"Ma-maaf, Tuan. Bukannya Tuan yang pernah bilang sendiri pada semua karyawan, kalau ada istri atau keluarga inti dari keluarga Ivander jangan pernah di halangi. Biarkan mereka masuk, kecuali orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga." jelas security tersebut.
__ADS_1
"Ckk, arrrghhh ... Kalian tahu tidak sih, karena kecerobohan kalian. Pasti saat ini istri saya telah salah paham, mengenai wanita itu!"
"Apa salahnya sih, kalian tuh telepon saya dulu. Sebegitu susahnya kah? Atau kalian tidak punya telepon, hahh!" sahut Hans, terus memarahinya menggunakan nada tingginya. Sehingga beberapa security hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Ma-maaf, Tuan. Kami sudah menghubungi ponsel Tuan, tapi Tuan tidak angkat. Sementara telepon kantor semuanya tidak diaktifkan ketika karyawan libur. Lalu, kami pun mau memanggil Tuan cuman kami takut menganggu Tuan. Karena dia bilang Tuan tidak mau di ganggu sebelum urusan selesai."
Security satunya membantu untuk menjelaskan kepada Hans, kalau mereka sudah berusaha menghubungi Hans. Sampai security itu menunjuk menggunakan jempolnya kepada security lainnya yang memang sudah di pesankan oleh Hans.
Hans langsung merogok sakunya untuk mencari ponselnya, akan tetapi dia tidak menemukannya. Sampai Hans harus kebingungan mencarinya, padahal sebelum dia masuk ke dalam Perusahaan dia baru menelepon salah satu security di sini. Lantas kemana perginya ponsel Hans?
Itulah yang Hans sendiri bingung, ketika mobilnya datang sehabis di parkir di parkiran khusus. Hans langsung masuk mengobrak-abrik semuanya, dan menemukan ponselnya di dekat kotak kecil yang ada di sampinh kursinya.
Itu artinya saat selesai menelepon security, dia meletakan ponselnya di mobil dan lupa untuk mengambilnya kembali. Bahkan saat Hans lihat di layar ponselnya, ada banyak panggilan yang bercampur menjadi satu. Antara Meera, Bram, dan juga telepon security itu.
Disitu pikiran Hans semakin kacau, dia langsung menghubungi Meera. Cuman tidak diangkat-angkat, kemudian menghubungi Bram yang ada di rumah untuk memastikan apakah Meera sudah pulang atau belum.
Dan hasilnya, tidak ada. Artinya, Meera belum pulang ke rumah. Lalu, kemana dia pergi dalam keadaan hamil besar dengan posisi hatinya yang telah terluka? Itulah yang Hans khawatirkan saat ini.
Tanpa basa-basi, Hans pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Bagaikan seorang pembalap handal yang bisa menyalip beberapa musuhnya secara gesit.
Beginilah, bila orang yang sedang kacau pasti akan menjadi seorang pembala dadakan, ketika dia harus menyelesaikan masalahnya.
Selama di dalam mobil, mata Hans tidak terhenti untuk menatap semua mobil di dekatnya untuk memastikan keberadaan Meera. Tak lupa dia juga terus mencoba menghubungi istrinya, tetapi tetap saja tidak diangkat. Malah ponselnya sekarang tidak aktif, secara mendadak.
Hans menjadi curiga, kalau Meera memang sengaja menonaktifkan ponselnya agar Hans tidak terus meneleponnya. Karena Meera yakin pasti saat ini Hans sudah tahu kalau dia datang ke Perusahaannya.
__ADS_1
...***Bersambung***...