
Perkataan Meera terhenti saat Bram yang dari tadi hanya menatapnya, mendengarkan semua yang Meera ucapkan membuat Hans begitu gemas. Dia sudah tidak bisa mengungkapkannya, dan malah melu*mat bibir Meera dengan sangai lihai dan cukup agresif.
Seakan-akan Hans seperti sedang menumpahkan rasa kebahagiaannya terhadap istrinya sendiri. Hans tidak menyangka, jika dia bisa memiliki seorang istri yang sangat mengerti tentang perasaannya. Ya, walaupun tanpa disengaja Hans sudah menggores hatinya istrinya
Kurang lebih 5 menit mereka menikmati hisapan, tarikan dan juga gigitan kecil yang membuat mereka seperti sedang mentransfer cinta dari hati ke hati.
Malam yang sempat terlihat gelap gulita, tidak ada bintang. Kini menjadi sangat indah ketika menjadi saksi bisu antara Hans dan Meera yang saling mengatakan cinta di sela ciumannya.
Hans melepaskan luma*tannya saat Meera mulai kehilangan napasnya, lalu mereka menempelkan dahinya satu sama lain sampai hidung mereka menempel dan sorotan mata yang saling memancarkan sesuatu yang begitu berbeda. Sampai akhirnya ....
"Aku mencintaimu, Hans."
"Aku lebih mencintaimu, Meera. Terima kasih, karena kamu sudah mau sabar menungguku, sampai akhirnya aku bisa menyatakan cinta ini. Meski kita harus melewati proses yang panjang. Sekali lagi terima kasih, Sayang."
"Terima kasih kembali, Sayang. Karena kamu mau membalas cintaku, walaupun aku harus memancingmu agar kamu bisa menyatakan perasaanmu dan melawan rasa gengsimu itu. Lain kali, kurangi gengsi banyakin sayangnya buat aku ya. Supaya aku bisa menjadi wanita dengan penuh kasih sayang Hihi ...."
Hans terkekeh bersama dengan Meera, Hans sendiri tidak menyangka dibalik kesedihannya ternyata banyak menyimpan kebahagiaan. Mungkin jika yang ada disampingnya bukan Meera, sudah bisa di pastikan bahwa dia tidak akan bisa merasakan sebahagia ini.
Melihat tawa Meera, membuat Hans gemas dan langsung menggelitinya sampai beberapa kali Meera meminta ampun sambil berlari menghindarinya. Ketika Meera berhasil ditangkap oleh Hans, tanpa basa-basi Hans segera menggendongnya ke dalam pelukannya.
Meera terkejut atas sikap suaminya yang terkesan menegangkan, hingga berhasil membuatnya jantungan.
__ADS_1
Kemudian, Hans membawa Meera masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Sementara Meera hanya tersenyum malu, ketika mata Hans menyorot seperti seorang suami yang sangat menginginkan kehangatan istrinya.
"Apakah malam ini, adalah malam pertama untuk aku dan Hans setelah kami menikah beberapa bulan terakhir ini?" gumam batin Meera saat tangannya langsung mengalungkan ke leher suaminya, akibat dia takut terjatuh ketika Hans mulai menaiki anakan tangan satu persatu.
Melihat Hans kesusahan untuk membuka pintunya, kini Meera pun membantunya karena pintu tersebut sudah diganti dengan pintu khusus yang hanya bisa dibuka menggunakan sidik jari tertentu dari Hans dan juga Meera.
Ceklek!
Pintu terbuka lebar membuat Hans segera memasukinya, lalu menutup pintu menggunakan kakinya sehingga pintu pun tertutup dan terkunci dengan sendirinya.
Kemudian Hans meletakkan Meera diatas ranjang dengan penuh kehati-hatian, mereka menatap satu sama lain dengan tatapan yang sedikit ragu dan juga gugup.
Tak terasa jantung mereka saling berlomba satu sama lain, hingga Meera melihat Hans mulai membuka kancing piyama membuatnya membolakan matanya.
Apa lagi selama beberapa bulan mereka menikah, Meera belum menyerahkan dirinya kepada suaminya. Begitu juga Hans yang tidak pernah meminta nafkah batin pada istrinya.
Sampai ketika Bram sudah berhasil menyatakan cintanya, disitulah pertanda bahwa dia sudah siap untuk melakukan hubungan suami-istri yang semestinya.
Bagaikan pernikahan yang dilandasi oleh sebuah cinta, bukan lagi keterpaksaan seperti awal mereka menikah. Rasa ketidak sukaan satu sama lain, kini telah berubah menjadi rasa cinta yang begitu besar. Mereka tidak menyangka bahwa bisa memiliki hubungan sedekat ini.
Padahal saat Meera masih berstatus Ibu tirinya, sama sekali tidak ada percakapan yang panjang layaknya sekarang yang keadaan mereka sudah sangat dekat.
__ADS_1
Hanya tinggal satu kancing lagi baju piyama Hans terbuka sempurna, tetapi yang anehnya lagi. Meera malah segera bangkit dari ranjang dengan wajah memerah dan sangat terlihat gugup.
"Eee, a-aku ma-mau ke-ke kamar mandi dulu ya. Pe-perutku u-udah mules banget nih, enggak tahan. Ma-maaf ya, tu-tunggu sebentar. 10 menit aja, dahh ...."
Meera segera pergi ke arah kamar mandi dalam keadaan tergesa-gesa, bahkan menutup pintunya pun cukup keras membuat Hans menyipitkan matanya.
Perlahan Hans berbalik menatap pintu kamar mandi, sedetik kemudian dia tersenyum bahkan terkekeh kecil ketika menyadari bahwa saat ini sepertinya istrinya berada didalam kegugupan layaknya pengantin baru.
"Hihi, kenapa dia lucu banget sih. Perasaan dia sudah menikah dengan Daddy, pasti sudah beberapa kali melakukannya. Apa lagi, pernah sekali melakukannya bersamaku meskipun aku tidak tahu seperti apa rasanya. Cuman saat melihat dia seperti ini benar-benar seperti pengantin baru yang takut akan malam pertama,"
"Huhh, dasar wanita aneh! Harusnya aku dong yang takut, karena aku belum memiliki pengalaman. Jadi kemungkinan besar aku tidak bisa memuaskannya seperti apa yang sudah dia rasakan."
"Hem, tapi ya sudahlah tak apa. Siapa tahu dia belum siap untuk melakukannya di malam ini, jadi lebih baik aku urungkan saja niatku ini sampai dia benar-benar siap. Toh, si kecil juga tidak terlalu menginginkannya. Lebih baik aku ke ruangan kerja saja deh, kasian jika aku di sini pasti Meera akan merasa tidak nyaman."
Bram berbicara kecil, lalu dia kembali mengancingkan piyamanya setelah rapi dia pun melangkah perlahan keluar dari kamarnya.
Saat sampai di ruangan kerjanya Hans langsung merapikan semuanya, meskipun dia tahu ini bukan ulahnya. Tapi, tak apa. Setidaknya hatinya sudah cukup tenang, dengan harapan kelah hubungannya bersama Bram akan segera membaik.
Setelah selesai merapikan semua ruangannya seperti semua, ponsel Hans berbunyi dimana Meera menelponnya dalam keadaan menangis.
Rasa cemas mulai menyelimuti perasaannya, tanpa basa-basi panjng kali lebar lagi. Hans segera bergegas pergi meninggalkan ruangan demi mengecek keadaan istri tercinta yang tidak ada angin, tidak ada badai tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas.
__ADS_1
...***Bersambung***...