
Meera cuman bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya. Sampai ada momen dimana Meera melihat adanya noda saus dibibir Hans, membuatnya segera mengambil tisu.
"Hans, coba lihat sini!" titah Meera membuat Hans menoleh dalam keadaan mulut terus mengunyah.
"Ap----"
Ucapan Hans terhenti saat tisu yang berada ditangan Meera sudah menempel di bibirnya, lalu menghapus semua noda yang membandel dibibir suaminya.
Namun, disaat adegan romantis itu terjadi. Tidak disangka-sangka seseorang masuk kedalam ruangan, tanpa mengetuknya pintu terlebih dahulu.
"Tu-- eh, ma-maaf Tuan. Saya tidak tahu!" ucap seseorang langsung menutup pintu ruangan Hans, dan bersandar dibelakang pintunya.
Brak!
"Huhh, kenapa aku ceroboh banget sih main masuk ruangan Tuan Hans tanpa mengetuknya lebih dulu. Pasti habis ini aku akan kena semprot singa jantan!" gumam batin seorang pria, tidak lain adalah Yudha.
Sang sekretaris langsung berdiri melihat Yudha tidak jadi masuk kedalam ruangan Hans, membuatnya sangat bingung.
"Ada apa, Tuan? Kenapa Tuan tidak jadi masuk ke ruangan Tuan Hans?" tanya sekretaris tersebut.
"Eee ... E-enggak apa-apa. Ohya Shia, apa kau sudah membuat dokumen kontrak? Kalau sudah segera beritahu saya, agar saya bisa mengecek setiap detail kontrak yang akan diajukan." ucap Yudha mengalihkan pembicaraan Shia.
"Belum, Tuan. Kemungkinan 3 hari lagi, tapi tadi kenapa Tuan kelihatan terkejut? Bahkan Tuan tidak jadi masuk ke ruangan Tuan Hans, apa ada sesuatu didalam?" tanya, Shia penasaran.
"Lebih baik kamu istirahat, terus pergi ke kantin sana! Enggak usah kepo dengan urusan orang lain, paham kan!" tegas Yudha, menatap tajam kearah Shia.
"Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak bermaksud seperti itu, saya cuman khawatir saja jika terjadi apa-apa dengan Tuan Hans." sahut Shia, tanpa rasa malu.
"Saat ini Tuan Hans sudah memiliki seorang istri, jadi jangan pernah kamu mengganggu hubungan mereka atau kamu akan tahu akibatnya nanti!"
"Sekarang pergilah ke kantin dan isi perutmu. Jangan sampai kau jatuh sakit, yang ada saya akan terbebani menerima semua pekerjaanmu yang tiada habisnya!"
Perkataan Yudha berhasil membungkam mulut Shia, lantaran dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
Tanpa disadari tangan Shia mengepal kuat menahan gejolak emosi didalam hatinya, tetapi bibirnya terus berusaha tersenyum.
"Terima kasih atas perhatiannya, saya permisi!" jawab Shia penuh menekanan, lalu dia pergi meninggalkan meja kerjanya menaiki lift menuju kantin Perusahaan.
Melihat ekspresi Shia, Yudha hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kali ini Yudha harus ekstra untuk menjaga Shia, agar dia tidak sampai bertingkah diluar batasannya sebagai seorang sekretaris.
Yudha sangat tahu, jika Shia memiliki perasaan terpendam untuk Hans. Sementara Hans tidak pernah meresponnya sama sekali, sampai membuat Shia semakin menjadi penasaran tentang Hans.
Alekshia Florentina Edith adalah seorang sekretaris Hans, dengan usia 25 tahun. Shia adalah salah satu penggemar Hans ketika dia baru saja diterima di Perusahaan ini 5 tahun yang lalu, selepas kepergian mendiang Daddynya Hans.
Setelah Shia pergi, Yudha kembali mencoba untuk menggetuk pintu ruangan Hans agar dia tidak lagi melakukan kesalahan.
Tokk ... Tokk ... Tokk ...
"Permisi, Tuan. Bolehkah saya masuk?" ucap Yudha sambil menunggu respon dari Hans.
"Masuk!" ucap Hans, yang sudah selesai dengan semuanya.
Ya, memang sih itu bukanlah hal yang besar bagi Yudha. Berbeda dengan Hans, dia tahu jika Yudha pasti sangat syok melihat kejadian itu.
Hans sangat takut kalau Yudha berpikir yang aneh-aneh tentangnya dan juga Meera, cuman jika dipikir-pikir mereka kan sudah sah jadi kenapa harus malu.
Meera saja tidak merasa malu karena niatnya hanya untuk membersihkan noda dibibir suaminya. Bukan, mencari kesempatan didalam kesempitan.
"Ma-maaf Tuan, Nyonya. Ji-jika saya sudah lancang dan juga mengganggu waktu kalian." ucap Yudha sopan sambil membungkukkan badannya.
"Sudah berapa kali saya ingatkan, saat memasuki ruangan seharusnya diketuk bukan langsung masuk kaya maling!" tegas Hans, menatap tajam kearah Yudha.
"Ma-maaf Tuan, saya tidak sengaja. Saya kira Nyonya Meera sudah pulang, jadi saya tidak berpikir sejauh itu!" ucap Yudha, lirih tanpa berani menatap Hans ketika sedang marah.
"Sudah jangan dimarahin, dia juga sudah mengakui kesalahannya. Lagi pula dia masuk disaat kita lagi makan, bukan lagi dikamar." jawab Meera, spontan sambil membereskan semua kotak bekal yang sudah habis.
Yudha dan Hans bersamaan menatap kearah Meera, mereka tidak menyangka jika Meera bisa mengatakan itu tanpa merasa malu sedikitpun.
__ADS_1
Kedua pria itu menatap satu sama lain dengan tatapan aneh, cuman Hans paham jika arah tatapan Yudha sudah mulai kemana-mana membuat Hans langsung mengalihkannya.
"A-ada apa dari tadi bolak-balik kesini?" tanya Hans, datar.
"Maaf, Tuan. Setelah makan siang nanti, kita akan ada meeting diluar Perusahaan. Jadi tadinya saya mau mengajak Tuan makan diluar sekalian meeting, cuman kebetulan ada Nyonya Meera disini jadi saya hanya mau mengingatkan itu saja." jelas Yudha.
"Baiklah, kau istrihat duluan aja. Saya sudah makan, nanti setelah selesai baru kita pergi ketempat meeting yang sudah ditentukan." ucap Hans.
"Siap, Tuan. Saya permisi dulu, maaf sudah mengganggu waktunya." ucap Yudha membungkukkan badannya kepada Meera dan juga Hans.
Yudha berbalik lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Hans, setelah itu Meera pun juga ikut berpamitan lantaran dia sudah sangat lama meninggalkan rumah.
Apa lagi sebentar lagi Hans akan pergi keluar, jadi Meera tidak mau sampai mengganggu pekerjaan suaminya. Lebih baik dia tidur dirumah sambil meneruskan film Korea yang sempat tertunda akibat dia ketiduran.
Yang penting tugas Meera untuk memastikan suaminya sudah makan dan dalam keadaan baik-baik saja sudah selesai, jadi dia bisa pulang dalam keadaan tenang.
"Ya sudah aku pulang dulu, yang penting aku sudah memastikan kalau kamu sudah makan. Aku tidak mau jika mendiang Daddymu datang kedalam mimpiku dan mengatakan kalau aku ini Ibu tiri yang jahat." ucap Meera, tanpa sadar sambil merapikan tasnya.
"Berarti jika aku menjadi suamimu kamu tidak akan memperhatikanku begitukah?" sahut Hans.
"Ya tidak, kan aku ini Ibu tirimu. Jadi aku akan memperhatiakan anak-anak dari mendiang suamiku!" jawab Meera masih belum tersadar.
"Oh begitu, tapi buktinya saat aku menjadi anak tirimu kamu tidak pernah memperhatikanku. Cuman setelah statusku ganti menjadi suamimu, maka sikapmu terhadapku berubah. Dimana kamu selalu memperhatikan hal-hal kecil tentang hidupku." ujar Hans, berhasil membuat Meera tersadar.
Mendengar ucapan Hans, Meera langsung menatap kearah depan dalam keadaan wajah syok. Dia baru menyadari ada kesalahan didalam perkataannya.
Meera menoleh terkekeh kecil menutupi kegugupannya. "Ma-maaf, aku lupa hehe. Ya-ya sudah aku pulang dulu ya, se-semangat kerjanya. Dahh!"
Meera langsung bangkit dari duduknya membawa semua barang-barang untuk ikut pergi bersamanya, meninggalkan ruangan Hans menuju lift.
Dimana didalam lift, Meera langsung menggerutuki kebo*dohannya sendiri karena semudah itu dia melupakan tentang statusnya bersama Hans.
Berbeda dengan Hans, dia terkekeh didalam ruangannya ketika melihat ekspresi wajah istrinya begitu lucu. Ini kali pertamanya Hans bisa tertawa, hanya karena ulah istrinya yang menurutnya sangat kocak.
__ADS_1