
Dengan sangat hati-hati, Hans berjalan kesisi yang berlawanan untuk mengambil ponsel Meera dan mematikan film tersebut.
Namun, saat Hans mencondongkan tubuhnya untuk mengambil ponsel. Entah mimpi apa yang Meera alami, tiba-tiba aja tangan Meera menarik dasi panjang milik suaminya sampai wajah Hans dan Meera hampir saja terbentur, jika Hans tidak menahannya sekuat tenaga.
"Yakk, dasar maling! Bisa-bisanya kamu mengambil dalaman, pantas saja setiap aku menjemur pakaian dalaman selalu hilang entah kemana. Ternyata kamu orangnya! Dasar pria me*sum!"
"Kalau sampai kamu kembali mengambilnya, jangan harap kepalamu masih berada ditempatnya, paham!"
"Pergi sana, huss!"
Meera mendorong Hans hingga terjatuh disampingnya, lalu kedua mata Hans langsung menatap wajah istrinya yang begitu cantik.
"Suami setampan saya bisa-bisanya kamu bilang maling dalaman? Benar-benar aneh, baru kali ini saya mendengar seorang wanita mengatakan hal buruk tentang suaminya, sedangkan wanita lain saja malah berlomba-lomba membicarakan tentang kebaikan saya."
"Andai saja, kita bisa bertemu sebelum kamu bertemu dengan Daddy. Pasti cerita kisah kita tidak akan serumit ini, dimana saya harus terpaksa menikahi Ibu tiriku dan menghancurkan semua impian adik kandung saya sendiri!"
"Sudah berapa banyak hati yang saya sakiti demi keegoisan? Hanya untuk mempertahankan nama baik dan juga reportase bisnis, saya harus mengorbankan perasaan kalian. Maaf, jika saya salah satu orang yang sudah membuat kalian menderita!"
Hans berbicara didalam hatinya sambil menatap wajah istrinya, tak disangka tangan Hans mulai menyentuh pipi Meera secara lembut lalu mengelusnya perlahan.
Namun, beberapa detik kemudian. Hans mulai tersadar, seceoat kilat dia duduk dalam keadaan wajah panik serta detak jantungnya berpacu begitu cepat.
"Yakk, apaan sih! Kenapa aku malah mikir sejauh itu? Apa itu artinya aku mulai ...."
"Arrrghhh, enggak! Enggak boleh, pokoknya enggak boleh titik!"
Hans berteriak sambil menggelengkan kepalanya membuat Meera benar-benar terkejut, dan terbangun dari tidurnya tepat menatap suaminya dari arah samping.
"Astaga, Hans! Kamu ngapain sih teriak-teriak begitu, aku kaget tahu! Mana lagi mimpi mau ketemu Lee Minho pula, jadi gagal kan!" cerocos Meera, kesal.
Hans menoleh kesamping menatap wajah istrinya yang begitu kesal, tetapi terlihat menggemaskan.
"Mimpi ketemu Lee Minho? Perasaan tadi dia mimpi ketemu maling dalaman? Kenapa bisa sekilat itu langsung ganti ya? Atau jangan-jangan yang maling dalaman dia itu adalah Lee Minho?" gumam batin Hans sambil melamun.
__ADS_1
"Sekarang malah diam! Lagi pula kamu ngapain sih ada dikamarku? Jangan bilang, kalau kamu lagi mencari-cari kesempatan, untuk ... Wahh, bahaya!"
Meera berbicara sambil bertolak pinggang, dalam keadaan berdiri bertumpuan kedua lututnya sambil menatap kearah Hans.
Hans menyipitkan kedua matanya, dan berkata. "Kamarmu? Apa kamu lupa, kalau ini kamar yang ada di dalam ruangan kerjaku. Lebih tepatnya sekarang kamu ada di Perusahaanku, bukan dirumah!"
Meera mendengar semua itu langsung terduduk, wajah kesalnya kini berubah menjadi cengengesan.
Setelah Hans mengatakan semua itu, Meera jadi teringat bahwa beberapa jam yang lalu dia sedang rebahan dikamar Hans. Tanpa disadari malah ketiduran hingga lupa, jika saat ini dia masih berada di Perusahaan Hans.
"Hehe, ma-maaf. A-aku lupa, ohya. Kamu udah selesai meetingnya?" tanya Meera, canggung.
"Saya kira kamu udah pulang, ternyata malah ngumpet disini!" ucap Hans, mulai berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.
"Mana mungkin aku pulang, tujuanku kesini kan mau memastikanmu sudah makan atau belum!" jawab Meeera sedikit mengencangkan suaranya.
"Ya sudah tunggu didepan, nanti saya nyusul!" jawab Hans dari dalam kamar mandi, wajahnya kian memerah bagaikan kepiting saus padang.
Meera langsung bangkit dari ranjang, mengambil semua barangnya dan sedikit merapikan penampilannya.
"Ternyata dia sudah melihat makanan yang aku bawa, tapi apa dia menyukainya? Karena selama aku mengenal dia, aku tidak pernah tahu makanan dan minuman seperti apa yang dia sukai." gumam kecil Meera, sambil menata semua makanan agar Hans bisa segera memakannya.
Tak lama Hans keluar dari kamar, dalam keadaan lengan kemejanya terangkat sebatas sikut. Penampilan tersebut berhasil menambah kesan ketampanannya sosok Hans, apa lagi saat Meera melihat Hans menyisir rambut basahnya kebelakang menggunakan jari tangannya.
"Ke-kenapa di-dia ja-jadi tampan se-seperti itu?" gumam batin Meera, matanya tak berkedip saat menatap suaminya yang sekarang sudah duduk disebelahnya.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Hans, bingung.
"Ehh, e-enggak kok. Ohya, ini aku masakan makan siang untukmu karena aku tahu pasti dari pagi kamu belum makan kan? Cuman maaf kalau semua ini bukan makanan kesuk---"
"Kapan saya bisa makan, jika kamu terus mengoceh seperti ini?" ucap Hans, cuek.
"Ishh, ya maaflah. Kan aku cuman mengatakan sejujurnya kalau aku----"
__ADS_1
"Berisik!" sahut Hans, langsung menikmati makanan yang Meera masakkan untuknya.
Meera yang awalnya kesal ingin menjambak rambut suaminya, tetapi ketika melihat cara makan Hans begitu lahap membuatnya merasa senang.
Tanpa disadari, bibir Meera mulai senyum-senyum sendiri disela makannya.
Cuman membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit, Hans sudah menghabiskan makanannya dan kembali memakan udang bakar menggunakan tangan polosnya tanpa rasa jijik.
Meera hanya bisa menatap kagum kearah Hans, dia tidak menyangka bahwa suaminya begitu menikmati masakannya.
Belum lagi Hans sampai lupa kalau saat ini, dia sedang menikmati udang bakar masakan istrinya hanya menggunakan tangan polosnya. Tidak seperti bisanya yang menggunakan garpu, pisau, sumpit atau pun sendok.
"Ka-kamu laper? Doyan? Apa rakus?" tanya Meera, tidak percaya sama apa yang dia lihat saat ini.
"Kenapa? Bukannya semua masakan ini untukku? Jadi suka-suka akulah!" ucap Hans, dingin.
"Yayaya, terserah kamu aja. Kalau perlu, ini makan saja. Aku sudah kenyang," Meera menyerahkan kotak bekal makanan miliknya, karena kasihan melihat suaminya yang seperti orang tidak makan selama berhari-hari.
"Dengan senang hati!" jawab Hans, langsung mengambil makanan Meera.
Entah mengapa, hari ini Hans benar-benar terlihat begitu berbeda. Seakan-akan semua jati diri Hans yang terbilang sangat perfeck, kini telah tergantikan ketika makanan yang Meera masak mengalahkan semuanya.
Ya, memang Hans beberapa kali selalu mencicipi masakan Meera. Cuman enggak tahu kenapa, hari ini masakan Meera seakan-akan mengalahkan restoran bintang 5.
Meera cuman bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya. Sampai ada momen dimana Meera melihat adanya noda saus dibibir Hans, membuatnya segera mengambil tisu.
"Hans, coba lihat sini!" titah Meera membuat Hans menoleh dalam keadaan mulut terus mengunyah.
"Ap----"
Ucapan Hans terhenti saat tisu yang berada ditangan Meera sudah menempel di bibirnya, lalu menghapus semua noda yang membandel dibibir suaminya.
Namun, disaat adegan romantis itu terjadi. Tidak disangka-sangka seseorang masuk kedalam ruangan, tanpa mengetuknya pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
...***Bersambung***...