Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Sikap Posestif Alice


__ADS_3

Meera terlihat kesal, meski dia menahan malu atas perlakuan Bram yang menjengkelkan. Akan tetapi, setelah itu selesai mereka tidak mau memperpanjang masalah, yang terpenting Bram tidak mengganggu mereka itu sudsh lebih dari cukup.


Bram meminta maaf karena beberapa kali sempat nguping ketika Hans kecolongan tidak memasang kedap suara terlebih dahulu.


Cuman niat Bram itu sebenarnya baik. Dia hanya ingin memuaskan istrinya seperti Hans memuaskan Meera, tetapi Bram belum mendapatkannya itu. Makannya dia rencana ingin meminta ilmu kepada sang Kakak yang selalu bisa terlihat gagah perkasa ketika membuat istrinya puas.


...*...


...*...


Setelah selesai sarapan pagi, mereka pun berkumpul di ruang tengah sambil menonton film kartun yang ada di pagi hari.


Semua ini karena Hans dan Bram libur kerja, tepatnya ini merupakan tanggal merah bagi orang kantoran seperti mereka.


Sabtu dan Minggu, adalah hari dimana mereka berdua harus meluangkan waktu bersama keluarganya, setelah hampir setiap hari selalu mereka habiskan dengan bekerja.


"Ohya, denger-denger kamu bosen dirumah dan ingin pergi ke Mall. Benarkah?" tanya Hans, menatap Alice.


Bram yang tidak tahu sama sekali langsung menoleh ke arah istrinya, lalu berkata. "Benar kamu bilang begitu, Sayang? Kalau iya, kenapa kamu enggak bilang sama aku, terus kenapa Kakakku bisa tahu? Apa jangan-jangan kali---"


"Apaan sih Bram, mau aku robek tuh mulut kalau ngomong enak banget. Lagi pula mana mungkin aku ada main sama Kakakku sendiri, aneh-aneh aja kamu tuh. Sumpah ngeselin banget sih!"


Alice langsung terlihat marah, saat Bram menuduhnya yang tidak-tidak. Ya, inilah Alice. Bumil yang sangat sensitif, dan perasaannya mudah berubah-ubah sesuai moodnya. Berbeda sama Meera yang lebih kalem, tidak banyak bertingkah.


Namun, sekalinya saja Meera mengidam maka Hans hanya bisa mengelus dadanya ketika harus menuruti permintaan istrinya yang cukup ekstrem.


"Ma-maaf, Sayang. A-aku kan cuman nanya, la-lagian kalau ada apa-apa kenapa kamu tidak bilang sama aku. Kenapa harus ke Kakakku? Memangnya aku sudah tidak penting lagi ya?" ucap Bram, wajahnya terlihat sedih sambil bergelayutan di lengan istrinya.


"Tahulah, udah sana jauh-jauh. Percuma dekat sama aku, toh kamu juga menyebalkan. Malas aku sama kamu!" sahut Alice, kesal.

__ADS_1


Meera dan Hans lagi-lagi kembali di hadapi dengan situasi pasangan labil ini, membuat mereka saling menatap serta menggelengkan kepalanya.


Padahal, Hans tahu semua itu karena Meera yang bercerita pada malam hari, jika Alice merasa jenuh dan juga bosan sudah beberapa bulan di rumah terus tanpa merasakan udara luar.


Nah, dari situlah Hans berencana akan mengajak mereka semua keluar untuk jalan-jalan ke Mall, sesuai dengan permintaan Alice pada Meera beberapa hari lalu.


Meera yang melihat pasangan labil itu mulai tidak kondusif langsung saja menjelaskan semuanya secara detail, dari mana Hans bisa tahu dan apa tujuan Hans bertanya seperti itu.


Cuman selang beberapa menit, raut wajah Alice langsung berubah menjadi berbinar penuh keceriaan. Berbeda sama Alice yang beberapa saat tadi terlihat sedih dan juga kesal pada suaminya.


"Hahh? Kakak serius kalau kita akan jalan-jalan ke Mall? Kakak enggak bohong 'kan? Kak Hans juga tidak PHP.in aku 'kan?"


Saking senangnya, semua pertanyaan Alice borong dalam satu tarikan napas. Membuat Hans dan Meera bingung harus menjawab apa, mereka cuman bisa mengangguk atau menggelengkan kepalanya dalam keadaan tersenyum.


"Tunggu, Kak. Kalau kita semua pergi dari rumah. Apakah aman buat kandungan Meera dan Alice? Sebab, aku yakin tikus itu akan mengincar salah satu dari istri kita!"


"Bayangkan saja, beberapa bulan kita bekerja kesana- kemari tidak ada satu titik pun tanda-tanda munculnya tikus besar itu. Terus bagaimana jika---"


Suara bel rumah membuat Bram harus menghentikan ucapannya, karena terkejut mendengar suara tersebut.


"Udah enggak usah khawatir, mereka pergi bersama kita. Jadi kita tidak akan pernah membiarkan sedikit bahaya pun mendekati anak serta istri kita, bukan?"


"Maka dari itu, aku juga akan menyiapkan beberapa bodyguard yang akan menyamar menjadi orang lain supaya bisa membantu kita untuk menjaga Meera dan Alice. Paham sampai sini?"


Bram pun perlahan mulai mengerti, dia juga tidak tega mendengar serta melihat istrinya terus memohon padanya untuk berjalan-jalan. Sebab ini, bukan keinginannya. Melainkan anak mereka yang ingin merasakan udara luar sambil melihat pemandangan di pinggir jalan.


Mau tidak mau Bram pun menyetujuinya, hingga membuat Alice langsung memeluk serta mencium pipinya dengan perasaan senang.


"Permisi, Tuan. Di depan ada mantan Tuan Bram." ucap Bi Neng, berhasil membuat kebahagiaan di wajah Alice langsung menghilang.

__ADS_1


"Mantan suamiku? Siapa, Bi? Kenapa dia bisa datang ke sini? Apa tujuan dia ke sini, Bi? Jangan bilang dia mau merebut suamiku?"


"Wahh, kurang ajar. Berani-beraninya dia masuk kandang singa, lihat aja. Aku akan beri pelajaran biar kapok!"


Saat mendengar kata 'mantan' da*rah Alice seketika langsung mendidih, bagaikan air yang sedang di masak. Apa lagi tingkah Alice terlihat seperti preman mampu memusingkan kepala suaminya.


Bukan apa-apa, Bram takut jika anaknya akan terkena guncangan Mamahnya yang saat ini tidak bisa diam, akibat emosi di dalam tubuhnya.


"Astaga, Sayang. Udah cukup ya, mungkin yang di maksud Bibi itu Bella. Apa kamu lupa, Bella mantanku yang sudah menjadi sahabatku itu loh. 'Kan cuman dia yang tahu rumahku, sedangkan mantanku yang lain tidak ada yang tahu alamat rumahku. Masa kamu lupa, hem?"


Bram mencoba untuk menjelaskan kepada istrinya dengan suara yang sedikit dibuat mendayu, bertujuan supaya tidak membuat amarah di dalam hati istrinya semakin meledak-ledak.


"Be-bella? Mau ngapain dia kesini? Tumben banget, perasaan semenjak kita nikah, dia tidak pernah muncul lagi. Terus kenapa dia muncul dan langsung datang ke rumah ini? Jangan bilang dia ada niatan buat menggodamu?"


"Ckk, tidak bisa di biarkan ini. Pokoknya kamu jangan dekat-dekat dengan dia. Kamu harus selalu di sampingku, paham!"


Sikap posestif yang selama ini tidak Bram dapatkan, kini dia dapatkan hanya karena kedatangan Bella. Rasanya Bram begitu senang, ketika istrinya bersikap seperti ini. Biasanya Bram yang selalu posesif pada Alice, tetapi ini kebalikannya.


Sehingga Bram benar-benar bersyukur, kedatangan Bella seakan-akan membawa berkah untuknya. Jadi, dia bisa mendapatkan sikap lain dari istrinya yang sangat takut kehilangannya.


"Aisshh, mau sampai kapan ngobrol mulu. Kasihan tuh tamu dianggurin, mending kita ke depan sekarang!" titah Hans, yang berjalan lebih dulu menggandeng istrinya.


Kemudian diikuti oleh Alice yang menggenggam erat tangan suaminya, sampai membuat Bram terkekeh di dalam hatinya. Ya, walaupun sedikit sakit akan tetapi Bram benar-benar senang.


Seandainya Bram bisa meminta, maka dia akan meminta semoga Bella bisa datang setiap hari ke rumah, supaya semakin membuat Alice bersikap romantis padanya seperti saat ini.


Kemudian, mereka berjalan ke arah ruangan tamu. Lalu Bella pun yang tadinya duduk menunggu, kini langsung berdiri dan bersalaman serta memeluk Meera. Sudah lama mereka tidak bertemu, bahkan terakhir berkomunikasi ketika Bella memberitahukannya akan pergi ke Singapur.


Dan sekarang, mereka telah kembali bertemu meskipun sedikit membuat Hans dan Bram bingung. Akan tetapi, mereka masa bodo.

__ADS_1


Selagi teman istrinya wanita maka mereka tidak akan mempermasalahkan semua itu, asalkan jangan teman pria saja. Bisa-bisa kedua singa jantan ini langsung meraung, sambil mencabik-cabik daging segarnya milik pria yang sudah berani menyentuh istri mereka.


...***Bersambung***...


__ADS_2