Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Seekor Tikus Nakal


__ADS_3

Siapa sebenarnya wanita itu? Lalu, apa motifnya sampai dia rela terjun bebas didunia hitam? Itulah yang harus Bram cari tahu saat ini.


Sampai akhirnya dia bergegas pergi kedalam kamar mandi, untuk bersiap-siap lalu pergi menemui seseorang untuk meminta penjelasan tentang wanita itu.


...*...


...*...


Berbeda dengan Meera, tepat di siang hari saat dia sudah selesai membuatkan makan siang. Meera segera bergegas pergi kedalam kamar Hans, untuk membersihkan tubuhnya.


Meera mulai bersiap-siap menggunakan pakaian yang pantas untuk pergi ke perusahaan serta Cafe milik kedua pria yang saat ini membuatnya bingung.


Satu sisi Meera masih sangat mencintai Bram, hingga dia begitu mengkhawatirkan kondisinya ketika tidak pulang ke rumah.


Namun, disisi lainnya. Meera juga tidak paham apa yang dia rasakan, kenapa rasanya dia mulai memberikan perhatian lebih pada suaminya.


Padahal selama ini Meera dan Hans tidak pernah dekat. Bahkan untuk sekedar bertatap muka aja mereka jarang.


Tahu sendirilah, Hans tipikal pria yang dingin bahkan sangat dingin dengan wanita. Cuman entah mengapa semenjak pernikahan berlangsung, Hans malah berubah menjadi pria sedikit hangat walaupun masih sangat cuek.


Saat ini Meera tersenyum didepan cermin, sambil melihat penampilannya sendiri. Dmana Meera terlihat begitu cantik menggunakan dress putih dengan motif bunga-bunga yang indah sebatas paha mulusnya.


Rambut yang biasa terikat kini tergerai lurus menjuntai kebawah, sehingga menambah kesan keanggunannya. Untuk pertama kalinya Meera merubah penampilannya, agar terkesan tidak memalukan reportase suaminya ketika dia datang ke perusahaannya.


"Hem, cantik sih. Tapi, apakah penampilan seperti ini tidak akan memalukan Hans nantinya? Ditambah ini kali pertamanya aku mau datang ke perusahaannya?"

__ADS_1


"Jika ke Cafe Bram sih, aku percaya diri karena sudah sering ke sana. Beda kalau ke perusahaan Hans yang baru pertama kali, itu pun kalau tidak ditolak oleh security."


Meera mengoceh didepan cermin sambil memutari tubuhnya sendiri, bahkan hampir semua barang Meera sudah berada dikamar Hans karena tadi sudah sebagian dipindahkan.


Ini untuk pertama kalinya juga Hans tidak mengunci pintu kamarnya, supaya memudahkan istrinya untuk masuk kedalam kamarnya.


Setelah dirasa sudah cukup, Meera langsung mengambil tas kecilnya lalu memasukan ponsel serta dompetnya. Kemudian pergi meninggalkan kamar menuju dapur.


"Bi Atun, gimana sudah disiapkan makan siang untuk suami saya?" tanya Meera saat melihat Bi Atun duduk sambil menikmati dessert.


"Eh, Non Meera. Ma-maaf saya lupa, ya sudah saya siapkan dulu." ucap Bi Atun panik, langsung berdiri saat melihat Meera di depannya.


"Sudah tidak perlu, Bi. Lebih baik Bibi teruskan saja nikmatin dessertnya. Pasti rasanya enak ya? Ohya, jangan lupa dessert satunya juga enak loh Bi. Jadi cobain saja semuanya."


Meera tersenyum kecil sedikit menyindir Bi Atun, sambil mengambil kotak makan untuk menaruh makanan buat dia bawa ke perusahaan suaminya.


"Tidak apa-apa, Bi. Teruskan saja makannya, tapi saran saya sih. Jika Bibi mau memakannya silakan saja, yang penting Bibi bisa menggunakan mulut Bibi yang masih berfungsi itu untuk meminta izin kepada orang yang bersangkutan."


"Kalau Bibi bertingkah seenak itu, sama saja Bibi seperti maling yang berhasil mengambil sesuatu bukan haknya."


"Kalau saya sih tidak marah dan keberatan, cuman saya sudah tahu aja. Kenapa dessert yang baru saja saya makan tiba-tiba bisa tinggal sedikit hehe ...."


"Ya sudah Bi, saya mau pergi dulu. Selamat menikmati, jangan lupa yang rasa Vanila jauh lebih enak karena ada es creamnya."


Celoteh Meera panjang lebar dengan nada ramah tetapi sangat menyindir Bi Atun. Sedangkan Bi Atun, dia merasa tersindir langsung mengepalkan tangannya dari balik tubuhnya.

__ADS_1


Meera cuman bisa tersenyum setelah mengetahui dibalik semua makanan miliknya yang tiba-tiba habis, ternyata ada seekor tikus nakal yang selalu mengambil makanan yang bukan haknya.


"Cih, baru juga dessert aja belagu! Gua juga bisa kali beli banyak, mentang-mentang orang kaya sikapnya seolah-olah bagaikan seorang ratu!" gumam kelas, Bi Atun.


"Bukan Nona Meera yang belagu, tapi kamu yang tidak tahu diri! Kamu itu disini sebagai pembantu, bahkan kehidupan kamu semua ditanggung sama majikan. Jadi stop bersikap seolah-olah kamu pemilik rumah ini!" tegas Bi Neng, kesal.


"Apaan sih, udah tua bau tanah masih aja ikut campur! Mendingan sana kerjain pekerjaan dari pada ngoceh enggak ada manfaatnya!" celetuk Bi Atun.


"Siapa yang salah, siapa yang marah. Makannya lain kali kalau punya otak dipakai, kamu itu disini numpang jadi jaga sikapmu jangan selalu bikin ulah sama Non Meera."


"Untung aja Non Meera orang baik, dia masih tidak mempermasalahkan hal kecil seperti itu. Coba kalau majikan kita orang lain. Pasti kamu sudah di depak dari rumah ini atau bisa juga dilaporkan ke polisi hanya karena maling dessert!" sahut Bi Neng, sambil mencuci piring.


"Yayaya, sing paling bener. Omongannya terlalu berkelas, tapi statusnya pembantu. Menjijikan, sasar Nenek peot!" pekik Bi Atun, pergi meninggalkan dapur.


Bi Neng yang melihat Bi Atun langsung pergi begitu saja, cuman bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak kaget lagi dengan sikap Bi Atun, semenjak dia bekerja di rumah keluarga Ivander hampir kurang lebih 3 tahun ini.


Semakin ke sini semakin membuat Bi Atun bersikap semena-mena dengan Meera. Sehingga Bi Neng yang sudah bekerja lama, selalu mencoba untuk menasihatinya tetapi tetap saja tidak digubris olehnya.


Selagi sikap Bi Atun tidak kelewat batas, maka Meera dan Bi Neng masih merahasiakan semua ini dari Bram atau pun Hans.


Apa lagi Bi Atun dibawa masuk kerja ke rumah ini berkat kebaikan Meera, karena dia kasihan dengan nasibnya pada waktu itu.


Bi Neng kembali mengerjakan pekerjaannya di dapur, berbeda sama Bi Atun yang malah pergi ke taman belakang rumah.


Dia memilih untuk menemui suaminya untuk menceritakan semua keluh kesalnya hari ini, tentang sikap Meera yang menurutnya bagaikan seorang ratu.

__ADS_1


...***Bersambung****...


__ADS_2