Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Wanita Penghibur


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, mereka sudah sampai di Restoran yang tidak kalah mewah dengan Restoran sebelumnya. Tanpa basa-basi mereka segera masuk ke dalam Resto, dan memilih meja yang berada di pojok sebelah kanan yang jauh dari keramaian.


Mereka memesan beberapa menu makan malam, sesekali saling terdiam satu sama lain. Meera masih sedikit merasa kesal dengan sikap suaminya, cuman Meera juga tidak bisa memarahi Hans entah mengapa.


Semakin Meera kesal dengan Hans, malah semakin membuat Meera merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan didalam hatinya.


...*...


...*...


Keesokan paginya, Meera baru saja selesai bersiap-siap dan ingin menuju ke dapur. Cuman ketika dia baru keluar dari kamarnya bersamaan dengan itu Bram keluar merangkul wanita yang sangat cantik dan juga sek*si.


"Bra-bram, i-itu siapa?" tanya Meera terkejut, saat melihat adanya wanita yang tidak dia kenal.


"Oh, ini?" Bram menatap wanita itu dan kembali menatap Meera. "Perkenalkan dia calon istriku, Alice."


Degh!


Dada Meera kian menyesak saat mendengar perkataan Bram yang mengakui jika wanitu itu adalah calon istrinya.


Meera tidak iri dengan wanita itu, hanya saja Meera sedikit merasa cemburu akibat rasa cintanya belum sepenuhnya hilang untuk Bram.


Melihat perlakuan Bram yang begitu romantis kepada wanita itu, berhasil membuat Meera teringat dimana dia selalu diperlakukan sama seperti itu. Cuman, bedanya Bram bersikap seperti memuliakan Meera dari pada Alice.


Alice Belinda Ivana Lumantow, adalah seorang wanita cantik berusia 23 tahun. Dia bekerja sebagai wanita malam, lantaran harus membiayai Neneknya yang sedang sakit keras.


Bekerja sebagai wanita malam, bukanlah suatu kesenangan bagi dirinya sendiri. Alice terpaksa karena sudah tidak ada cara lain agar membuat Neneknya bertahan hidup, dengan semua alat medis yang harus menempel di tubuhnya.


"A-apa kalian sudah me-melakukan ...." Meera menghentikan ucapakannya karena dia tidak sanggup untuk meneruskannya, disaat hatinya begitu hancur ketika melihat Bram kembali ke sikap awalnya.


"Iya, kenapa? Ada masalah? Lagi pula lu bukan siapa-siapa gua, jadi stop kepo dengan urusan gua. Mendingan lu urusin aja sono suami lu yang gak berguna itu!"


Bram berbicara dengan nada penekanan, layaknya membentak Meera hingga membuat matanya berkaca-kaca. Sebenarnya Bram juga tidak mau melakukan semua itu, tetapi hanya itu yang bisa Bram lakukan untuk membalas semua rasa sakitnya.

__ADS_1


"Sayang, enggak boleh begitu." ucap Alice sambil mengelus dada Bram secara perlahan, Bram menoleh dan tersenyum. Dengan sengaja Bram mencium kening Alice, hingga air mata Meera runtuh begitu saja.


Cup!


"Ishh, Sayang. Malu tahu," ucap Alice manja membuat Bram gemas, kembali mencium bibirnya sekilas.


Cup!


"Yakk, dasar menyebalkan! Apa kamu masih kurang puas, kan semalaman kita sudah menghabiskan beberapa jam Sayang. Ayolah jangan seperti ini, aku malu tahu."


Alice sedikit kesal, tetapi wajahnya malah terlihat benar-benar murni malu tanpa bersandiwara seperti apa yang Bram katakan sebelumnya.


Sementara Meera yang sudah meneteskan air matanya melihat kemesraan mereka berdua, dibuat terkejut dengan sebuah tangan melingkar dipinggang kecilnya.


Meera refleks menoleh kearah tangan tersebut, lalu secepat mungkin menatap seseorang yang berada disampingnya.


"Ha-hans?" gumam kecil Meera, matanya membola terkejut saat tangan Hans satunya mengusap air mata yang ada di pipinya.


Bram yang melihat perlakuan Hans kepada Meera, langsung mengepalkan tangannya. Terlihat jelas wajah Bram mulai memerah, rahang mengeras, hingga detak jantungnya kian memburu.


Alice yang tidak sengaja melihat perubahan Bram, mencoba untuk menenangkannya agar dia tidak sampai terpancing oleh suasana yang saat ini ada dihadapannya.


"Come on, Bram. Tenanglah. Ingat, tujuan utamamu untuk membuat mereka merasakan apa yang kamu rasakan. Jadi, sekarang cobalah kendalikan emosimu atau mereka akan merasa menang jika kamu berhasil terpancing olehnya!" bisik Alice sambil menggenggam tangan Bram, dan mengusap dadanya yang terlihat naik turun.


Bram menoleh menatap Alice sangat dalam, hingga Alice mengedipkan matanya sekilas dan berhasil membuat amarah Bram seketika mereda.


Entah kekuatan apa yang Alice gunakan, sehingga hanya memerlukan beberapa detik saja Bram telah berhasil merasa lebih tenang.


"Siapa yang menyuruhmu membawa wanita lain masuk ke dalam rumah?" tanya Hans, penuh penekanan saat matanya menatap tajam kearah adiknya sendiri.


"Gualah, siapa lagi. Toh, ini juga rumah Daddy sama Mommy kan, bukan rumah lu! Jadi gua berhak atas semuanya yang Daddy punya, termasuk memiliki mantan istrinya sendiri! Cuman, Sayang. Semuanya kandas, akibat seseorang sudah merebutnya dari gua dengan cara kotor! Haha ...."


Bram tertawa remeh disaat hatinya terasa sakit ketika kejadian itu terus berputar didalam ingatannya. Belum lagi akhir-akhir ini Bram selalu melihat kemesraan Hans dan Meera meskipun tidak menonjol, berhasil memincu dendam di hati Bram semakin mendalam.

__ADS_1


Tujuan Bram saat ini, hanya ingin membuat pasangan suami istri itu merasakan apa yang dia rasakan. Dimana rasa cinta yang awalnya sangat manis, kini berubah menjadi balas dendam yang teramat pahit.


"Bram, cukup! Kali ini kamu sudah benar-benar keterlaluan. Ingat, Bram. Ingat! Daddy enggak pernah ngajarin kita untuk melakukan sesuatu hal yang tidak baik didalam rumah ini!"


"Apa kamu lupa pesan Daddy? Daddy pernah berkata, jika kalian mau bandel, maka bandellah diluar rumah. Namun, ketika kalian kembali kedalam rumah, maka jadilah anak yang sangat manis dan bisa dibanggakan!"


Nasihat Hans seperti membungkam mulut Bram, dia kembali mengingat semua perkataan mendiang Daddynya yang selalu berharap agar hubungan persaudaraan Hans dan Bram tidak sampai terpecah belah.


Meera terdiam dengan air mata yang masih menetes, melihat perkelahian antara saudara semakin memburuk. Semua ini berkat dirinya.


Kehadiran Meera didalam hidup mereka, seperti membawa marapetaka yang mengakibatkan persaudaraan mereka berubah menjadi sebuah permusuhan.


"Cihh, jangan sok suci lu! Lu sendiri aja melakukan hal senonoh sama dia bahkan dibuat live pula, jadi jangan pernah melarang gua untuk melakukan apa yang gua mau!"


"Ini juga rumah gua, jadi gua berhak mau membawa siapa pun datang ke rumah ini. Ohya, mulai besok. Alice akan tinggal di rumah ini, lebih tepatnya tinggal bersama gua di kamar yang sama!"


Degh!


Detak jantung Meera dan Hans seketika terhenti bersamaan, mereka tidak menyangka bahwa Bram yang mereka kenal selalu bersikap manis kepada seorang wanita.


Namun, sekarang malah terlihat begitu be*jat dengan memasukkan wanita malam kedalam rumahnya, sampai tinggal bersamanya disatu kamar yang sama tanpa sebuah ikatan pernikahan.


Ya, memang Hans tahu jika Bram dari dulunya sudah salah pergauhan hingga membuatnya terjun ke dalam minuman keras dan juga sampai menyewa wanita untuk memuaskannya.


Hanya saja Hans tahu. Bram melakukan itu hanya untuk menyenangkan dirinya. Dia tidak akan pernah menyentuh wanita yang sudah menjadi miliknya, sebelum adanya status pernikahan.


Sebreng*sek-breng*seknya Bram, dia tetap menghargai miliknya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Bram lebih memilih meluapkan semua hasratnya kepada wanita penghibur, dari pada dia menyentuh miliknya yang harus diajaga.


Cuman baru kali ini Bram membawa masuk wanita penghibur ke dalam rumah, yang mana semua itu berhasil membuat gejolak amarah didalam hati Hans semakin memuncak.


Sementara Alice sendiri pun ikut terkejut dengan ucapan Bram, karena semua ini diluar dari perjanjian mereka. Akan tetapi, Alice berusaha terlihat biasa-biasa saja agar tidak membuat mereka menaruh curiga padanya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2