
Setelah di perbolehkan, seperti biasa. Hans dan Bram di giring oleh polisi lainnya, ke arah ruangan tunggu untuk bertemu pelaku.
Kurang lebih 10 menit, akhirnya mereka berhasil menatap wajah pelaku yang ada dibalik semua kejadian besar terjadi. Betapa terkejutnya mereka saat melihat senyuman dari pelaku yang sangat mereka kenal.
Tanpa di sadari mereka berdiri secara bersamaan dalam keadaan mata membola besar. Terlihat jelas kalau mereka berdua benar-benar syok saat mengetahui pelaku tersebut adalah orang yang sangat mereka kenal.
"Ka-kau?" ucap Hans, terkejut.
"Di-dia bukannya ma-mantan kekasihmu yang pernah ke rumah?" ucap Hans, kembali. Dia langsung menoleh ke arah Bram yang saat ini masih terdiam membeku.
"Be-bella? Ja-jadi kamu o-orang yang ada di balik semua kejadian ini?" ucap Bram, benar-benar syok.
"Menurutmu? Yaps, akulah orang yang selama ini kalian cari. Haha ... Bagaimana, sulit ya mencari tikus sepertiku? Oh, jelas!"
Bella langsung duduk dalam keadaan santai, tanpa adanya rasa ketakutan ataupun penyesalan sedikitpun di wajahnya. Dia benar-benar seperti menikmati semua permainannya sendiri.
Sayangnya, masih ada satu tujuan lagi yang belum tercapai. Sehingga masih ada rasa ketidakpuasan di dalam hati Bella, karena dia belum bisa melenyapkan Alice dan juga anaknya.
Bella melihat ke arah Bram dan Hans yang dari tadi sedang menahan emosi, membuatnya lagi-lagi senang sekali memancingnya dengan wajah santainya.
"Ayo sini duduk bareng, enggak usah sungkan. Anggap saja rumah sendiri, ya 'kan, Pak?"
"Ohya, apa perlu kita ngobrol sambil ngopi, gimana? Pasti tambah seru, 'kan. Tunggu, sebentar!"
Bella menoleh ke arah belakang sambil mengangkat 1 tangannya ke atas udara, layaknya memanggil seorang pelayan.
__ADS_1
"Hai, Pak Pol. Tolong bawakan 3 gelas kopi latte ya, karena sepertinya mereka akan mendengarkan kisah yang sangat panjang. Jadi, buat berjaga-jaga aja supaya mereka tidak ketiduran. Haha ...."
Beberapa polisi yang berjaga hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka tidak percaya. Jika ada tahanan selancang Bella yang berani memerintah mereka, seenak jidatnya sendiri.
"Ke---"
"Tunggu, Bram. Aku mau nanya dulu sama kalian berdua nih, ya. Bagaimana perasaan kalian ketika kalian salah memprediksi semuanya, hem? Sakit ya?"
"Oh, pasti sakit dong. Secara kedua pembantu yang sempat kalian curigai sebagai dalang di balik masalah yang terjadi. Ternyata, malah masih ada dalang yang lebih besar lagi perannya di balik mereka ya. Haha ...."
"Utututu, kasian. Pasti setiap detik hidup kalian di hantui oleh rasa ketakutan, ya? Buktinya saja kalian menjaga ketat kedua istri tersayang, sampai akhirnya jalan terakhir menyewa bodyguard untuk menjaga. Cuman, kenapa pada akhirnya kalian hampir saja kecolongan, aneh 'kan hihi ...."
Perkataan Bella benar-benar berhasil menguras semua emosi di dalam hati Bram dan juga Hans, akan tetapi mereka berdua berusaha keras untuk menahan semua itu. Sesuai dengan pesan yang di berikan oleh Meera sebelumnya.
Sampai akhirnya, mereka mengetahui bahwa orang yang selama ini di cari merupakan orang yang pernah ada di dalam hidup Bram. Yaitu, Bella. Mantan kekasihnya.
Bram menatap wajah seorang wanita yang selama ini dia anggap baik, karena setelah mengakhiri hubungannya mereka malah menjadi seorang sahabat.
Bram pun tidak menyangka, kalau Bella adalah orang yang sangat berperan penting di dalam semua kejadian besar yang terjadi di dalam hidupnya.
Dibalik topeng wajahnya baik serta sikapnya yang sangat manis, ternyata terdapat sebuah kebenaran yang tidak bisa di pungkiri kembali. Jika Bella, merupakan dalang dari segala masalah yang terjadi di dalam kehidupan keluarga Ivander.
"Apa motif terbesarmu ingin mencelakai istri serta anakku?" tanya Bram, menatap tajam ke arah Bella yang selalu senyam-senyum menatap mereka berdua.
"Motifku? Hem, apa ya? Dendam? Akhh, bukan. Lebih tepatnya, siapapun wanita yang berusaha mendekatimu. Maka, dia akan berakhir di tanganku!"
__ADS_1
"Jika aku tidak bisa kembali mendapatkamu, mereka pun juga tidak akan pernah aku biarkan untuk hidup bahagia bersamamu. Paham, ganteng?"
Bella mencondongkan tubuhnya dan ingin berusaha memegang rahang Bram, tetapi tidak bisa. Lantaran Bram langsung menangkis keras tangan itu sampai membentur meja cukup keras.
"Uhh, Sayang. Tanganku sakit loh, kenapa kamu jadi kasar sama aku. Hem? Pasti karena istrimu itu ya, memang sih aku lihat dari awal juga istrimu orang jahat. Mendingan sama aku aja, aku 'kan baik. Bahkan aku sangat mencintaimu lebih dari istrimu sendiri."
"Siapa tahu dia menikah denganmu, hanya karena ingin menguasai hartamu. Sementara aku? Aku sudah kaya dari lahir. Jadi, mana mungkin aku memanfaatinmu. Tidak seperti istri---"
Braakk!
Bram berdiri sambil kedua tangan menggebrak meja cukup keras, sehingga membuat beberapa polisi yang berjaga-jaga langsung menenangkan Bram yang terlihat penuh emosi. Begitu juga Hans, dia berusaha keras mencegah Bram supaya pertemuan mereka tidak berakhir sia-sia.
Namun, sayangnya. Mereka malah di suruh pulang oleh polisi yang berjaga di sana karena suasana hati Bram sudah tidak kondusif.
"Lebih baik, Tuan-Tuan pulang saja dulu. Besok bisa kembali ke sini, jika Tuan Bram sudah mulai tenang. Keadaan seperti ini tidak baik bila di lanjutkan, yang ada malah akan membuat kericuhan. Dan kami tidak mau sampai itu terjadi. Tuan paham 'kan apa yang kami maksud?"
Salah satu polisi berbicara sambil memegang tangan Bram, supaya tidak terjadi hal buruk yang akan membuat suasana menjadi tegang.
"Baiklah, Pak. Maaf, jika adik saya sudah membuat kegaduhan di sini. Besok kamu akan kembali, permisi!"
"Ayo, Bram. Cepat kita balik!"
Hans langsung menarik keras lengan Bram, sedikit menyeretnya keluar dari kantor polisi. Sementara Bella, dia hanya bisa tertawa sepanjang dia berjalan menuju selnya.
...***Bersambung***...
__ADS_1