Belenggu Hasrat Anak Tiri

Belenggu Hasrat Anak Tiri
Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

Semakin besar rasa bersalah yang ada di dalam hati Bi Neng, cuman mau bagaimana lagi. Setidaknya Bram tahu jika Atun dan Jakalah orang yang selama ini mereka cari.


Bram segera menelepon pihak berwajib untuk menutup semua akses Atun dan Jaka pergi, agar mereka bisa segera diamankan.


Sementara Bi Neng hanya terdiam menangis dan menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika semua keburukan ini bisa terjadi, hanya karena dendam Atun dan Jaka yang tidak pernah mereka ketahui alasan apa yang ada dibalik dendam tersebut.


...*...


...*...


Di suatu tempat, Atun dan Jaka sedang menikmati kebebasannya untuk pergi ke tempat persembunyiannya. Bahkan mereka sudah mengganti identitasnya sebelum kejadian ini akan di rencanakan.


Intinya mereka sudah merencanakan semuanya serapi mungkin, meski Bi Neng telah mengetahuinya mereka pun tidak akan takut jika suatu saat akan tertangkap oleh pihak berwajib.


"Hahah, dasar keluarga bod*doh! Bisa-bisanya mereka memelihara tikus sepintar kita, sekarang terimalah nasibmu itu Hans!"


Atun tertawa bahagia ketika dia, sudah selesai menyelesaikan misinya untuk membuat Hans hancur bahkan nyawanya pun melayang.


"Apakah dia sudah meninggal, Bu?" tanya suaminya, yang masih belum percaya jika apa yang mereka rencanakan benar-benar terjadi.


"Yaiyalah, mana mungkin dia bisa selamat dari kecelakan itu. Apa lagi ketika melihat istrinya sangat hancur, maka sudah bisa dipastikan jika Hans sudah meninggal dunia dan tidak akn pernah tertolong!" tegasnya, dengan wajah yang terlihat sangat serius.


Tak lama mereka berdua kembali tertawa kecil di penuhi dengan perasaan bahagia dengan wajah tak bersalahnya.


Saat ini mereka berada di dalam Bus besar yang akan membawanya pergi menuju pelabuhan. Dimana Bus itu akan menaiki kapal pesiar yang sangat besar untuk menyebrangi lautan, demi sampai di pulau terpencil yang menjadi tujuan terakhir mereka.


...*...


...*...


Di sisi lainnya lagi, Bram yang baru saja mengunjungi kantor kepolisian. Segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk membawa semua pesenan istrinya.


Rasanya Bram geram sekali ketika dia telah mengetahui bahwa tikus-tikus yang selama ini di cari adalah pembantunya sendiri.

__ADS_1


Dia tidak menyangka orang yang terlihat jarang sekali dekat dengan keluarganya, kini malah menjadi dalang di balik kejadian yang selama ini terjadi.


Rasanya Bram ingin sekali menonjok serta menendang mereka sepuas mungkin, karena mereka sudah menghancuran impian serta keluarga Ivander dengan sangat mudah.


Inilah penyesalan Bram, dia lagi-lagi tidak akan pernah mempercayai siapapun kecuali dirinya sendiri. Dari sini, Bram mengambil pelajaran bahwa tidak semua kebaikan akan terbalaskan dengan kebaikan.


Banyak orang yang malah memanfaatkan kebaikan itu sendiri, demi kepentingan hidupnya. Tanpa mengingat semua kebaikan yang sudah diberikan.


Kurang lebih 1 jam, Bram sudah sampai di rumah sakit. Dia segera turun dari mobilnya sambil membawa tas ditangan kiri dan kanannya, lalu pergi ke arah lift.


Tak lupa, Bram mampir terlebih dahulu untuk menjenguk Hans. Setelah memastikan semuanya aman, barulah dia kembali naik lift ke atas menuju kamar Meera.


Eitts, jangan salah. Disini juga Bram sudah menyiapkan 5 bodyguard yang akan berjaga di depan ruangan Hans agar bisa menjaganya dan Bram tidak lagi kecolongan dalam menjaga keluarganya.


Disamping itu juga, dia menaruh 3 bodyguard di depan ruangan Meera. Semua itu dia lakukan agar memastikan semua keluarganya dalam keadaan baik-baik saja. Ditambah lagi ada 2 Bumil yang harus ekstra dia jaga.


Bahkan di kamar Meera pun telah di siapkan kasur serta sofa panjang yang bisa di lipat, sehingga tidak akan membuat Alice merasa sakit pinggang, ketika dia harus berlama-lama duduk sambil menemani Meera.


Saat ini Meera sedang tertidur akibat efek obat yang dia minum, serta ada beberapa suntikan supaya membuatnya sedikit merasa tenang tanpa menyimpan beban saat memikirkan kondisi suaminya.


"Aduhh, sabar ya Sayang. Sebentar lagi Papah datang membawa pesenan Dedek ya, jadi Dedek enggak boleh ngambek. Kalau udah datang, nanti kita makan yang banyak. Okay?"


Alice berbicara sambil menatap serta mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Rasanya Alice sudah tidak sabar menunggu kelahiran anaknya, sesekali dia mengelus perut Meera untuk memperkenalkannya pada anaknya.


"Nah, di perut Tante Meera juga ada Dedek loh sama kaya Dedek. Nanti kalau kalian sudah bertemu, dan main bareng enggak boleh berantem ya. Kalian harus tumbuh menjadi anak yang baik, anak yang penurut dan juga anak yang saling menyayangi satu sama lain."


"Jangan lupa buat Papah, Mamah, Om dan Tante bangga sama kalian ya. Supaya kelak, kalian bisa menjadi saudara yang saling mensuport satu sama lain. Pokoknya doa terbaik buat kalian biar bisa menjadi anak yang tidak akan pernah mengecewakan kedua orang tuanya. Aa---"


"Aaminn ...."


Mendengar suara yang tidak asing di telinga Alice, dia langsung menatap lurus kearah depan selama beberapa detik. Kemudian menoleh ke arah belakang dan menatap seseorang yang segera memeluknya dari arah samping.


"Bram? Kau sudah datang? Yeeyy, akhirnya aku bisa makan juga. Mana pesenanku?" Alice langsung mengadahkan tangannya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Huhh, bagian makanan aja ingat. Nih ... Ohya gimana keadaannya? Apa dia masih menangisi keadaan suaminya?" ucap Bram sambil memberikan tas yang berisikan makanan kepada Alice.


"Udah mendingan sih, tadi juga dokter udah memberikan obat serta suntikan biar dia bisa tenang." sahut Alice, lalu berdiri dan membawa makanan ke arah meja dekat sofa panjang.


"Apa itu aman untuk kandungannya?" tanya Bram kembali, yang sudah duduk di sebelah istrinya.


"Kata dokternya sih aman, cuman tidak setiap hari dia berikan. Karena itu semua akan di berikan dokter, jika kondisi Kak Meera benar-benar tidak bisa lagi di kontrol seperti tadi, dia sempat mengamuk ingin bertemu dengan Kak Hans. Cuman dokter tidak memperbolehkannya di saat kondisi Kak Meera masih seperti ini."


"Ohya, Bram. Kamu bisakan meminta izin pada dokter supaya Kak Meera bisa menjenguk suaminya. Aku kasihan jika dia begini, pasti akan menyiksa anak yang ada di dalam kandungannya."


Alice berbicara sambil memakan makanan yang sudah dari tadi dia tunggu-tunggu. Sesekali matanya melirik ke arah suaminya yang hanya terdiam menatap ke arah bangkar.


"Bram, kenapa diam? Jangan bilang kamu kasihan sama Kak Meera, karena kamu masih mencin--"


"Tidak, aku sudah tidak lagi mencintainya. Hanya saja aku kasian padanya, ternyata orang yang selama ini dia tolong sudah mengkhianati serta menjebaknya untuk berada di posisi saat ini."


Degh!


Perkataan Bram berhasil membuat Alice menjadi penasaran. Seakan-akan Bram telah mengetahui sesuatu yang Alice sendiri tidak tahu.


Beberapa kali Alice mencecar Bram dengan berbagai pertanyaan, akan tetapi Bram meminta Alice untuk makan terlebih dahulu. Setelah itu, baru dia akan menceritakan semua yang dia ketahui hari ini.


Selang beberapa menit, Alice sudah selesai dengan acara makannya. Kemudian Alice ke kamar mandi untuk mencuci tangannya, lalu dia duduk kembali di sambil Bram dan menatapnya lekat-lekat.


Dimana Alice meminta penjelasan dari setiap perkataan yang Bram ucapkan tentang Meera. Disitu Bram perlahan mulai menceritakan semuanya yang dia baru ketahui hari ini dari Bi Neng kepada Alice.


Betapa terkejutnya Alice, ternyata apa yang dia curigai selama ini memanglah benar. Bahwa tidak ada yang beres dengan sikap kedua pembantunya itu, cuman mereka sangat cerdik untuk kembali membuat Alice percaya.


Disinilah Bram mengatakan pada Alice bahwa mereka harus lebih hati-hati lagi kepada siapapun, dan jangan mudah untuk mempercayainya.


Bersikap baik memang sangat dianjurkan, akan tetapi janganlah terlalu baik. Karena kita tidak tahu efek dari kebaikan kita akan berbuah kebaikan ataupun pengkhianatan.


Alice menatap ke arah Meera dengan tatapan yang sangat menyedihkan, dia tidak menyangka orang sebaik Meera bisa menerina ujian seberat ini.

__ADS_1


Andaikan Alice yang ada diposisi Meera, pasti dia sudah gila dan tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi. Seakan-akan hidupnya sudah benar-benar hancur sehancur-hancurnya sampai tak tersisa apapun.


...***Bersambung***...


__ADS_2