
Pada akhirnya mata Alice perlahan melihat ke arah Bram dan Hans secara bergantian, lalu dia meminta izin untuk meninggalkannya berdua dengan Meera. Lantaran ada yang mau Alice katakan 4 mata padanya, dan cukup mereka berdua.
Awalnya kedua pria tersebut merasa keberatan, cuman lama kelamaan kedua betina berhasil menjinakkan kedua jantan, sampai mereka pun pasrah dengan wajah kesalnya meninggalkan kamar dan membiarkan mereka berdua.
...*...
...*...
Di luar kamar Meera, Hans dan Bram berdiri saling berhadapan dengan tatapan yang sangat sinis. Sampai akhirnya tatapan itu terhenti ketika Hans mulai mengatakan sesuatu yang sedikit membuat Bram tersentuh.
"Aku mau ngomong sama kamu, bisa?" tanyanya Hans.
"Ngomong tinggal ngomong susah banget!" jawab Bram ketus.
"Beberapa hari lalu, entah aku sedang bermimpi atau itu nyata aku pun tidak mengerti. Yang jelas aku bertemu dengan Daddy dan Mommy dalam keadaan wajah mereka terlihat begitu bersinar. Seakan-akan menunjukkan bahwa mereka sudah bahagia, hanya saja ada sedikit raut wajah sedih ketika mereka tahu kalau hubungan kita sedang tidak baik-baik saja."
"Yaelah, kaya gitu mah namanya lu lagi ngehalu tingkat dewa. Mana ada orang udah meninggal bisa hadir, dikata orang tua gua hantu gentayangan kali. Aneh-aneh aja lu jadi orang!" sahut Bram, cuek.
"Kali ini aku serius, Bram. Lihat wajahku, apakah aku kelihatan lagi bercanda? Enggak 'kan, kalau pun bercanda kenapa Daddy sama Mommy memberikan isyarat kode padaku?"
"Tanpa aku bercerita pun, mereka paham jila hubungan kita hancur akibat kesalah pahaman yang disebabkan oleh seekor tikus got yang menginginkan kehancuran kita."
Bram yang mendengar semua perkataan Hans membuatnya sedikit terdiam. Dia juga merasa sedikit aneh dengan kejadian waktu itu yang membuat kesalah pahaman antara Meera dan Alice.
Cuman, karena gengsinya Bram berusaha untuk tidak percaya sama apa yang dikatakan oleh Kakaknya sendiri. Bahkan dia bergeser tempat, lalu duduk dengan posisi santai meski perasaannya begitu penasaran akan cerita yang masih Hans sampaikan padanya.
Tidak hanya disitu, Hans juga mengatakan semua kejadian yang terjadi pada hari dimana dia dan Meera bisa berada di dalam satu ranjang bersama. Bram hanya menyimaknya secara mau tidak mau, tetapi rasa keingin tahunya begitu besar.
Sampai Hans membongkar aib dapurnya sendiri, bagaimana pada saat malam pertamanya berlangsung dia dikejutkan dengan sebuah noda merah. Yang mana itu adalah noda yang dihasilkan karena pembuluh da*rah Meera yang baru saja pecah, semua terjadi akibat benda tumpul milik suaminya yang mencoba masuk menerobos gawangnya.
__ADS_1
Degh!
Mendengar kisah malam pertama Bram dan Meera langsung membuat Bram menatap lurus kearah depan, keadaan posisi tangan mencekran kuat kursi tunggu serta rahangnya mulai mengeras.
"Harusnya aku yang ada diposisi itu, jikalau memang Meera belum pernah disentuh oleh Daddy. Tapi, kenapa Tuhan? Kenapa dia yang harus mendapatkan semua itu!"
"Apakah sekejam inikah takdir yang Engkau berikan padaku, atau Engkau marah karena aku pernah menyia-nyiakan seorang wanita yang sangat mencintaiku hanya demi bisa memiliki Meera?"
"Lantas apakah ini yang dinamakan karma dari apa yang telah aku perbuat. Sehingga apa yang aku lakukan seolah-olah Engkau rebut kembali, agar aku bisa merasakan apa yang Bella rasakan pada saat itu?"
"Jika benar, kenapa Engkau hadirkan Alice? Apakah semua ini bukti bahwa Engkau yang memberikan luka, maka Engkau pula yang punya penawarnya?"
Batin Bram berbicara ketika dia mulai tersentuh saat Hans terus mengutarakan apa yang selama ini dia tahan. Melihat Bram yang terdiam membuat Hans perlahan duduk di sampingnya sambil menoleh ke arahnya.
"Sampai sini kamu paham, 'kan? Kalau hancurnya hubungan kita disebabkan oleh tangan-tangan jahil seseorang yang mau menghancurkan, cuman aku tidak tahu siapa orang itu. Bisakah kamu membantuku? Karena jika aku sendiri, aku tidak akan sanggup menemukan tikus itunya."
"Okay, gua akan bantu lu nemuin tikus itu. Cuman ingat, gua melakukan semua ini karena gua juga sempat berpikir seperti itu, seolah-olah gua hanya mau membuktikan bahwa semua ini benar atau tidak. Bukan karena gua mau kembali berteman dengan lu, dan menyelidiki ini semua. Paham 'kan?"
Hans tersenyum kecil serta menganggukan kepalanya, lalu dia menjulurkan tangannya kepada Bram untuk sebuah perjanjian bahwa mereka akan menyelesaikan misi ini bersama-sama. Meski, hubungan mereka belum membaik, setidaknya dengan cara seperti ini sedikit demi sedikit mulai mengikis jarak diantara mereka.
Bram yang sedikit ragu dengan apa yang dia ucapkan pada Hans, perlahan mulai menyangkal semua pemikirannya dan mengikuti kata hatinya.
Ya, jika dibilang kesal ya memang Bram masih kesal. Bagaimana tidak, orang yang hampir menjadi istrinya kini malah menjadi istri Hans. Hanya karena kejadian yang Hans dan Meera sendiri tidak tahu, awal mulanya seperti apa.
Bram menjabat tangan Hans dengan kuat, pertanda mereka telah kembali menjadi pasangan sahabat untuk memperjuangkan keluarganya agar tetap utuh. Dan mencari siapa dalang dari semua kejadian yang mereka alami.
Sementara di dalam kamar, Alice sedang menceritakan kepada Meera tentang siapa dirinya dan juga tujuannya bisa hadir di tengah-tengah mereka semua.
Meera hany terkejut sambil tersenyum, meskipun kehadiran Alice memiliki tujuan yang buruk pada pernikahannya dengan Bram. Cuman, Meera cukup senang karena Alice sudah sadar atas perbuatannya sebelum dia menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Tak hanya itu, Alice juga mengtakan bahwa Bram sudah mulai mencintainya sehingga Meera menjadi sangat senang. Akhirnya Bram bisa juga membuka hatinya demi wanita sebaik Alice.
Ya, walau Meera tahu siapa Alice tetap saja dia tidak merasa risih karena baginya Alice memang adalah wanita baik-baik. Hanya karena keadaan yang mendesak dia supaya menjadi wanita hiburan, yang untungnya dia jatuh di tangan yang tepat seperti Bram.
"Sudah tidak apa-apa, aku tahu kok kamu itu memang menyebalkan dan selalu membuatku kesal. Namun, dibalik itu semua kamu memiliki hati yang baik. Jadi, apakah kamu mau menjadi sahabatku, sekaligus adikku?"
Perkataan Meera berhasil membuat Alice tersenyum lebar disaat air matanya masih mengalir. Dengan cepat tanpa basa-basi, Alice mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku mau, Kak. Mau banget, aku mau jadi sahabat sekaligus Adik. Karena dari dulu aku ingin sekali punya Kakak apa lagi keluarga, cuman sayang. Tuhan sudah merenggut semuanya, dan hanya menyisakan Nenekku yang entah kapan dia mau kembali terbangun dan menemaniku setiap saat."
Meera segera menggelengkan kepalanya, sambil menghapus air mata Alice. Dia tidak mau melihat Adiknya terus menerus bersedih, karena itu bisa membuat anak yang ada di dalam perutnya menjadi sedih.
Beberapa menit setelah Alice mulai tenang, dia kembali menanyakan tentang kejadian yang membuat hubungan mereka bertiga menjadi berantakan.
Hanya dengan satu tarikan napas Meera mulai menceritakan semuanya yang membuat Alice langsung mengerti. Disini pula mereka berdua kembali berpikir bahwa kejadian ini merupakan kejadian yang sangat tidak masuk akal.
"Itu artinya ada seseorang yang sudah menjebak Kak Meera sama Kak Hans. Jika kalian benar-benar melakukannya tanpa sadarz pasti ketika malam pertama itu tidak mungkin kalau Kak Meera baru pecah kepe*rawanan, yakan?"
"Ya, benar juga. Itulah yang aku pikirkan, siapa tahu dengan aku menemukan kunci jawaban dari semua ini, aku bisa kembali menyatukan Bram dan Hans agar mereka tidak lagi memiliki permusuhan ataupun dendam." jawab Meera.
"Aku setuju, Kak. Kita akan bersama-sama menyelidiki semua ini, karena aku yakin orang itu adalah orang yang sangat dekat dengan kita. Jadi, Kakak enggak perlu khawatir aku siap untuk membantu Kakak apapun keadaannya kita, sebisa mungkin aku akan terus bersama Kakak untuk memecahkan teka-teki ini demi keutuhan keluarga kita."
Meera merasa senang saat Alice mau membantunya, walaupun dia harus lebih berhati-hati karena sedang mengandung anaknya Bram.
Mereka pun saling menebar senyuman dan juga berpegangan tangan satu sama lain, dimana terlihat bahwa hubungan mereka sudah mulai membaik.
Sehingga Bram yang merasa waktunya sudah cukup buat Alice kembali beristirahat, segera menjemputnya dan membawanya kembali ke ruangannya sendiri. Sementara Hans, dia juga kembali menemani istrinya yang sangat membutuhkan perhatian lebih darinya.
...***Bersambung***...
__ADS_1