
"De-dedek? Pa-papah, Mamah? I-itu artinya apakah aku sedang ... Sedang h-hamil?" tanya Alice terbata-bata akibat keterkejutannya, atas apa yang Bram ucapkan sambil terus mengusap perutnya.
"Ya, benar. Saat ini kamu sedang hamil anakku, Lis. Pasti kamu bahagia ya? Hihi, aku pun sama. Aku juga bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Papah."
"Terima kasih, Lis. Kamu sudah membuatku bahagia hari ini, walaupun kita belum memiliki status. Aku akan secepatnya meresmikan hubungan kita, agar tidak ada pemberitaan buruk tentangmu. Kamu tenang aja ya, aku tidak akan menyia-nyiakan kalian lagi karena aku--"
Perkataan Bram terhenti saat Alice mengucapkan satu kalimat yang berhasil membuat Bram syok. Dia tidak menyangka jika Alice akan mengatakan hal seperti itu padanya.
"Aku tidak bahagia, karena semua ini bukan yang aku mau. Hadirnya anak di dalam perutku, malah membuatku susah untuk kembali ke rumah itu dan mengembalikan Resto agar berada di tanganmu."
"Aku tidak mau selama aku hidup, aku harus berutang budi padamu dan juga keluargamu. Jadi aku putuskan aku akan kembali dan---"
Bram langsung menutup bibir Alice menggunakan bibirnya, membuat Alice membolakan matanya. Dia tidak menyangka dengan perlakuan Bram kali ini yang sedikit agresif padanya.
Ada rasa senang tersendiri, tetapi ada pula rasa sedih karena sekarang Alice tidaklah sendiri. Melainkan di dalam perutnya sudah ada bayi mereka yang baru saja hadir.
Sebenarnya, itu hanya terlihat dari luar. Jika dari dalam maka hati Alice terasa sangat bahagia,
lantaran dia telah mengandung anak dari pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
Bram me****** bibir Alice secara perlahan, membuat Alice ikut membalasnya. Semua tidak bertahan lama saat Bram melepaskan bibirnya, lalu menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.
Perlahan Bram menggelengkan kepalanya sambil mengelus pipi Alice. Kemudian dia mencium keningnya lalu tersenyum.
"Aku tidak mau lagi mendengar semua perkataanmu, karena ini malah membuat semua perjuanganku padamu menjadi sia-sia. Susah payah aku mengeluarkanmu dari sana, dan sekarang kamu mau kembali ke sana? Oh, tidak bisa! Kamu harus tetap berada disampingku, karena awal bulan kita akan segera menikah demi anak yang ada di dalam perutmu itu."
__ADS_1
"Aku tidak mau anak ini lahir tanpa Papahnya. Aku hanya mau anak ini memiliki orang tua yang lengkap, seperti anak-anak pada umumnya."
"Jadi, aku mohon Sayang. Jangan berpikiran seperti itu lagi, ya. Kasihan anak kita, kalau kamu setres maka anak kita pun akan ikut setres. Apa kamu tidak kasihan dengan dia?"
"Dokter bilang, jika kamu mengalami kontraksi setiap saat itu akan membahaya anak kita, apa kamu sudah siap kalau harus kehilangan dia selamanya, hem?"
Perkataan Bram membuat Alice langsung melihat perutnya yang masih rata, tangannya pun mulai mengusap perutnya sendiri.
Kini, air mata Alice mulai runtuh sesekali melirik Bram, ketika tangannya berada diatas tangan Alice sambil mengelus perutnya bersama-sama.
"Aku enggak mau kehilangan anak ini, Bram. Aku pengen dia lahir seperti anak pada umumnya, entah dia wanita ataupun laki-laki aku tidak masalah. Asalkan dia selalu sehat dan kuat sampai waktunya tiba nanti." ucap Alice.
"Aku yakin, Sayang. Anak kita itu anak yang kuat jadi dia tidak akan kenapa-kenapa, karena dia berada di dalam perut wanita yang kuat. Jadi tidak mungkin dia menjadi anak yang lemah, apa lagi saat Mamahnya berada diatas Papahnya. Behh, Mamahnya itu terlihat seperti kuda poni yang sangat lucu, bukan? Hihi ...."
Perkataan Bram yang berusaha menghibur Alice, ternyata berhasil. Alice juga ikut tertawa kecil sambil tangan jahilnya mencubit gemas perut Bram. Bagi Bram tak masalah, asalkan dia selalu melihat senyuman manis terukir dari bibir wanita yang saat ini mulai menarik perhatiannya.
"Apakah kamu sudah mencintaiku, Bram? Lantas, apakah pernikahan kita nanti atas dasar cinta atau semua ini hanya demi status anak kita?"
Aalice menatap Bram yang cuman berdiam diri menatap wajahnya. Meski Alice tahu ini pertanyaan yang sensitif, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan pertanyaan itu walau dia sendiri sudah tahu jawabannya pasti akan membuat hatinya sakit.
"Maaf jika pertanyaanku membuatmu terdiam serta terkejut, tapi aku cuman mau memastikan saja. Meski aku tahu jawabannya seperti apa."
Alice tersenyum menatap wajah datat Bram, lalu salah satu tangan Alice terangkat untuk mengelus rahang milik Bram.
"Tidak apa-apa, Bram. Aku paham kok perasaanmu masih menjadi milik Kak Meera sepenuhnya, tapi aku yakin kok suatu saat nanti di dalam hatimu pasti ada namaku dan anak kita. Cuman jika hanya ada nama anak kita, aku tidak masalah."
__ADS_1
"Bagiku cukup anak kita saja yang perlu kamu cintai, kalau aku biarkan saja. Aku juga sadar diri kok, siapa aku dan siapa kamu. Jadi, aku hanya akan menuntutmu untuk memberikan cinta kasih yang teramat mendalam serta berlimpah pada anak kita."
"Karena aku tidak akan membiarkan anakku meneteskan air matanya, hanya demi mengemis kasih sayang dari Papahnya. Kamu paham 'kan apa yang aku sampaikan ini?"
"Cukup aku yang tersakiti, aku yang kecewa dan aku yang berkorban. Tetapi, tidak dengan anakku. Dia harus selalu bahagia dari mulai lahir hingga dia tumbuh menjadi dewasa dan bisa memilih jalan hidupnya sendiri."
Bram meneteskan air matanya saat mendengar ucapan Alice begitu mengetuk pintu hatinya. Terasa sudah tidak kuat lagi, Bram segera memeluk Alice yang tertidur di bangkar. Suara isak tangis membuat Alice tersenyum meneteskan air matanya.
Dia tidak menyangka kalau Bram bisa nangis didalam pelukannya. Rasa bahagia dan terharu kini mulai menyelimuti hati Alice, meski dia juga tidak tahu apa yang membuat Bram menjadi seperti ini.
Setelah beberapa menit, Bram melepaskan pelukannya dan menatap Alice dengan tatapan sedikit sembab. Tangannya mulai menghapus air mata di pipi wanita yang saat ini sedang mengandung anaknya.
"Dengarkan aku baik-baik, Sayang. Kamu tidak usah khawatir, karena sampai kapanpun aku akan selalu mencintai anakku. Terlepas anak itu anak yang baik atau bandel sekalipun, aku tetap mencintainya karena itu merupakan buat hati kita. Meski kita membuatnya dengan cara yang salah, tetapi kehadirannya tidak salah!"
"Awalnya aku memang tidak menyukaimu, sama sekali. Sehingga setelah mendengar tentang kisahmu membuat hatiku bergerak untuk menolongmu atas dasar rasa kemanusiaan."
"Entah mengapa, seiring berjalannya waktu ada perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Bahkan untuk mengatakannya pun aku tidak tahu harus dengan cara seperti apa. Awalnya aku hanya menganggapmu sebagai teman tidur, teman sandiwara dan juga sahabat. Jadi tidak mungkin jika aku memiliki perasaan kepadamu,"
"Cuman, aku salah. Ternyata semakin aku menangkis semua perasaan itu semakin membuatku memiliki perasaan kepadamu. Sampai akhirnya aku telah menyadari, jika sekarang aku ini sudah mulai mencintaimu, Sayang. Aku mencintaimu, dan sangat mencintaimu."
"Kali ini aku tidak sedang berbohong ataupun bercanda. Mungkin kemarin mulutku bisa berbohong dan mengatakan kalau aku tidak mencintaimu, padahal di dalam hatiku aku itu sudah mencintaimu. Hanya saja ego dan gengsiku berhasil membuatku dilema untuk menyatakannya."
"Cuman sekarang, tidak lagi. Aku akan selalu menyatakan kalau aku sangat mencintaimu setiap saat. Berkat kehadiran anak kita, aku langsung sadar bahwa aku tidak boleh egois dan hanya mementingkan diriku sendiri!"
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah selalu ada di sampingku dan mencintaiku melebihi kamu mencintai dirimu sendiri. Bahkan hari ini merupakan hari yang sangat spesial buatku, karena aku bisa mendapatkan 2 kado sekaligus. Yaitu, kehadiran anak kita dan juga cintamu. Aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakan semua itu!"
__ADS_1
Air mata Alice mengucur deras ketika cintanya yang dia kira hanya sebagai pajangan, ternyata terbalaskan. Alice benar-benar seperti bermimpi karena dia bisa menaklukkan kerasanya hati Bram.
...***Bersambung***...