
Hans berbicara panjang kali lebar dengan penuh ketegasan. Bram pun yang tadinya hanya terdiam mendengarkan perkataan Hans, kemudian dia kembali mengingat perkataan Bella yang tanpa di sengaja dia telah menceritakan sendiri. Bagaimana Daddy mereka bisa mengalami kecelakaan secara mendadak.
Ternyata benar dugaan mereka, jika dibalik kema*tian Daddynya ada campur tangan seseorang yang sangat menginginkan kepergiannya.
"Kalian mau tahu, bagaimana caranya Daddy kalian bisa meninggal?" ucap Bella, dengan tatapan remeh.
Bram langsung menjawab semua itu penuh antusias, dia benar-benar penasaran sama apa yang sudah terjadi dengan mendiang Daddynya.
Tak menunggu lama, Bella pun menceritakan semua yang terjadi dan bagaimana asal mula semua itu terjadi.
...Flashback meninggalnya Daddy...
Pada waktu itu tepatnya saat Bella dan Bram sedang di mabuk asmara, mereka berniat ingin meneruskan hubungannya ke jenjang yang lebih serius lagi.
Maka dari itu, Bram mengajak Bella untuk datang ke rumahnya dan memperkenalkan Bella kepada Daddy serta Ibu tirinya.
Namun, sayangnya. Yang ada dirumah hanyalah Daddynya, sedangkan Meera sedang pergi entah kemana. Sementara Hans, dia memilih tinggal di apartemennya sendiri ketika Daddynya kembali menikahi wanita muda yang seharusnya menjadi anaknya.
Untuk yang pertama kali Bram mengajak seorang wanita ke rumah demi bertemu orang tuanya, hanya sekedar ingin meminta restu darinya.
Bram baru saja sampai di depan rumahnya bersama Bella, yang saat ini sudah berdandan bagaikan seorang princes yang kekurangan bahan.
Kurang lebih seperti inilah pakaian Bella ketika bertemu dengan calon mertuanya. Meskipun baginya pakaian itu tidak masalah, berbeda sama mendiang Daddynya Bram.
Dia sangat menjunjung tinggi seorang wanita, sehingga ketika bertemu dengan Bella yang berpakaian seperti ini sudah membuatnya langsung menatap tidak suka padanya.
Bram menggandeng Bella memasuki rumah untuk menemui Daddynya yang saat ini sedang duduk santai di ruang keluarga. Cuman, tiba-tiba dia berpapasan dengan Bi Neng.
"Loh, loh, loh ... Ini siapa Tuan? Cantik banget, jangan bilang pacarnya ya? Hayo, hayo hehe ...." goda Bi Neng.
__ADS_1
"Wiss, jelas dong. Gimana, gimana Bi? Cocokkah?" tanya Bram, mengedipkan matanya.
"Cocok dong, satunya ganteng satunya cantik. Dahlah ayo cepetan nikah biar Bibi bisa nimang cucu hihi ...." ucapan Bi Neng, membuat Bella semakin malu.
"Hehe, Bibi bisa aja. Masih lama, kita mau selesain kuliah dulu. Baru nanti nikah ya, Sayang?" jawab Bella, bergelayut di tangan Bram.
"Yaps, betul tuh. Kita selesain kuliah dulu, terus aku punya kerjaan baru kita nikah. Aku tidak mau bidadariku ini hidupnya susah, karena aku tidak memiliki pekerjan yang lebih menghasilkan." sahut Bram, mengusap pipi Bella.
"Aaaakhh, Sayang ...." rengek Bella bagaiman anak kecil.
Bram hanya bisa tersenyum, begitu juga Bi Neng yang melihat sikap manja Bella benar-benar cukup gemas. Setelah itu Bram kembali menatap Bi Neng, dengan tatapan berbeda.
"Daddy sama Ibu tiriku ada, Bi?" tanya Bram, serius.
"Tuan besar ada di ruang keluarga, kalau Nyonya lagi pergi buat beli stock bulanan yang sudah mau habis." jawab Bi Neng.
"Oh gitu, tumben Daddy enggak ikut. Biasanya juga bini mudanya di tempelin mulu kek prangko!" ucap Bram, cuek.
"Aishh, si Bibi bisa aja. Ya sudah ayo, Sayang. Kita ketemu Daddy, aku tidak sabar mau kenalan dengannya." celoteh Bella, antusias.
"Ya udah, Bi. Bram ke ruang keluarga dulu ya, jangan lupa minuman sama cemilannya. Kasian anak orang gak dikasih minum sama makan, bisa-bisa lemes kaya malam pertama haha ...."
Bram tertawa ketika melihat reaksi wajah Bi Neng yang sedikit terkejut, sementara Bella dia malah tersenyum memerah bagaikan kepiting rebus.
"Ckk, dasar anak jaman sekarang. Udah sana, nanti Bibi bawain yang seger-seger." ucapnya, sambil menggelengkan kepalanya.
"Woke, siap. Bye Bibiku yang cantik, muachh ...."
Bram memberikan kiss kepada Bi Neng melalui tangannya sambil berjalan meninggalkan pintu utama menuju ruang keluarga.
Kegenitan Bram, membuat Bella sedikit kesal. Dia mencubit perut Bram, ketika Bram selalu menggoda wanita lain. Meski itu adalah pembantunya yang sudah berusia.
__ADS_1
Ya, itulah Bella. Dia memiliki jiwa kecemburuan yang sangat besar. Seakan-akan Bella hanya ingin, Bram menjadi miliknya tanpa harus membaginya dengan yang lain. Walau sekedar candaan kecil itu, bisa membuat hatinya merasa sedikit sakit.
Namanya juga Bram, dia memang dari dulu tipe pria yang suka bercanda, genit dan juga asyik. Jadi, terkadang dia suka kelewatan saat bercanda dengan wanita. Disitulah terkadang memacu kecemburuan di dalam hati Bella.
Sesampainya mereka di ruang keluarga, Bram langsung duduk di sofa samping kanan Daddynya bersama Bella.
Wajah Bella terlihat sedikit tegang, ketika melihat Daddy Bram seperti menatapnya dengan tatapan tidak suka atas penampilannya.
Ya, jelas dong. Orang tua mana sih yang senang melihat penampilan pakaian anak wanita seperti tidak memiliki baju yang lebih sopan lagi, meskipun mereka orang barat. Akan tetapi Daddy Bram sangat menghargai wanita yang menjaga tubuhnya tanpa harus mengumbarnya kepada orang lain.
"Dad, kenalin ini pacarku. Gimana, cantik 'kan? Ya dong, pilihan Bram memang tidak akan pernah salah, hihi ...."
Bram cengengesan sambil memperkenalkan Bella kepada Daddynya. Dimana Bella langsung bersalaman sama Daddy Bram sekilas.
"Ha-hai, Om. Sa-salam kenal, namaku Bella. Aku pacar Bram, dan kita udah menjalani hubungan selama 1 tahun lebih. Mohon doa restunya." ucap Bella dengan suara lembutnya.
"Hem, lain kali jika ingin bertemu dengan orang. Utamakan sopan santun dalam berpakaian, jaga tubuhmu sebaik mungkin. Jangan sampai di pertontonkan layaknya wanita yang sedang mengobral bentuk tubuhnya sendiri. Bagian jadi korban pemer*kosaan yang disalahin si pria, padahal si wanita pun juga salah."
"Ckk, dasar anak jaman sekarang. Semakin bertambahnya usia malah semakin tidak mengerti adap sopan santun dalam bertamu ke rumah orang. Malangnya nasib anak sekarang, kasian sekali. Masih mudah sudah pintar mengobral tubuhnya, bagaimana nanti saat sudah menjadi menantuku. Bisa-bisa bikin gempar wartawan dengan penampilan seperti ini!"
"Oh, tidak, tidak, tidak! Aku tidak suka memiliki menantu modelan begini. Ya, memang tidak memalukan. Tetapi, adapnya yang sangat memalukan!"
Perkataan Daddy Bram benar-benar sangat mendalam, sehingga Bella tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebenarnya jauh-jauh hari, Bram sudah mengingatkan Bella untuk tidak menggunakan pakaian yang seperti ini.
Cuman mau bagaimana lagi, Bella tetap kekeh memakainya mengikuti keegoisan di dalam dirinya. Sebab dari kecil Bella memang lebih suka memakai pakaian yang sangat terbuka, dari pada sedikit menutupi tubuhnya.
Daddy Bram kembali menatap televisi dengan wajah yang sangat datar. Di tidak lagi menatap Bella, karena menurutnya itu sudah sangat tidak baik untuk matanya.
Apa lagi istrinya yang dulu dan juga sekarang memang tidak dia biarkan untuk menggunakan pakaian terbuka, hanya sekedar menampilkan paha mulus ataupun perut ****ynya. Sebab itu semua adalah pemicu terbesar seorang laki-laki yang akan menatap rendah seorang wanita.
...***Bersambung***...
__ADS_1