
Namun, ketika mereka berdua ingin mendekati TKP. Bodyguard lainnya langsung mengatakan, jika pelaku sudah dibawa oleh ambulan ke rumah sakit besar beberapa detik lalu. Dan mereka pun masih bisa melihat ambulan sudah pergi menjauhi lokasi.
Tak lupa ada beberapa bodyguard yang mengikuti ambulans, untuk mencari tahu semua informasi mengenai keadaan pelaku supaya bisa diberikan kepada Hans ataupun Bram. Jadi, mereka tidak lagi harus mengurus semuanya sendiri.
Setelah dipastikan semuanya aman, mereka berdua kembali ke mobil. Lalu mobil mereka pergi menuju rumah sakit besar guna untuk memeriksakan keadaan Alice dan bayinya.
Meskipun Alice tanpa luka, tetapi jiwa serta mentalnya pasti sudah kena. Jadi, semua ini harus di tuntaskan agar tidak berlanjut. Sebab ketika taruma itu terus menyelimuti Alice, maka dia akan hidup bersama bayangan-bayangan traumanya.
Beberapa kali, Bram terus berusaha untuk menenangkan istrinya sampai pada akhirnya. Emosi di dalam diri Alice sudah mulai mereda, dan membuat dia jauh lebih tenang. Walau beberapa kali dia sempat refleks seperti berada di dalam kejadian.
Disinilah, Bram harus ekstra membantu penyembuhan istrinya supaya tidak membuat anak yang ada di dalam kandungannya ikut terganggu.
Sesampainya di rumah sakit, Alice langsung di rawat beberapa hari kedepan sampai sikisnya mulai membaik. Semua itu demi keselamatan anak yang ada di dalam kandungannya.
Mau tidak mau semua itu harus dilakukan, dan Bram yang menunggu Alice di rumah sakit di temani oleh beberapa bodyguard. Selebihnya bodyguard lainnya mengikuti Hans dan Meera yang pulang ke rumah.
Bukan, berarti mereka tidak mengkhawatirkan keadaan Alice. Justru mereka khawatir banget, jadi mereka berniat suapaya membuat Alice lebih tenang dulu. Barulah keesokan harinya mereka kembali datang ke rumah sakit untuk menjenguknya.
...*...
...* ...
Selang 2 hari pasca kejadian, kondisi Alice sudah mulai membaik. Dia tidak lagi terlihat seperti orang yang selalu terbayang akan kejadian itu.
Meski, rasa traumanya masih ada. Akan tetapi Meera dan juga Bram selalu menguatkan Alice, serta memberikan semangat supaya dia bisa segera sembuh dan kembali ke rumah.
__ADS_1
Tidak hanya itu, Bram dan Hans pun sudah mendapatkan kabar bahwa pelaku tersebut hanya mengalami luka ringan sebab, dia berhasil mengerem meskipun sedikit terlambat. Jadi, tidak sampai membuatnya terluka parah.
Kecelakaan tersebut terjadi, karena adanya motif ketidak sukaan pelaku terhadap korban serta dendam yang menyelimuti hatinya.
Saat ini pelaku sudah berada di sebuah penjara, yang sama tempat Atun dan Jaka di tahan. Sedangkan Atun dan Jaka sudah di bawa ke lapas yang seharusnya, sehingga tidak lagi berada di kantor polisi.
"Sayang, kamu diam disini dulu ya. Aku mau ke kantor polisi, menemui pelaku. Tadi komandan menelepon, katanya pelaku sudah bisa di temui karena proses sudah selesai dilakukan." ucap Hans, yang baru mengantar Meera ke rumah sakit.
"Aku ikut, Kak. Aku mau tahu siapa pelaku itu, kata bodyguard kita mengenal baik pelaku itu, jadi aku sangat penasaran sama wajahnya. Atau jangan bilang dia adalah salah satu teman bisnis kita?" sahut Bram, langsung menatapnya.
"Aku kurang tahu soal itu. Maka dari itu aku mau ke sana, sekalian menanyakan apa motif dia. Jangan bilang dia adalah orang yang selama ini kita cari?" ucap Hans, tatapannya terlihat sangat tajam.
"Bisa jadi, ya sudah Kak. Ayo kita ke sana, aku sudah tidak sabar ingin mengetahui wajah dalang di balik semua ini!" ujar Bram yang sudah gemas.
"Kalau kamu ikut, bagaimana dengan istrimu?" tanya Hans.
"Aku gapapa kok, kalau kalian mau pergi. Ya, pergi saja. Aku baik-baik saja, toh juga ada Kak Meera sama beberapa bodyguard yang berjaga. Jadi tenang aja, aku juga sudah mulai berhasil melupakan kejadian itu."
Alice tersenyum menatap suaminya sambil memasukan buah jeruk ke dalam mulutnya yang Meera kupaskan. Terlihat jelas, wajah Alice semakin hari semakin terlihat segar dari pada biasanya.
"Apa yang dikatakan Alice benar, udah kalian pergi saja. Bereskan semua permasalahan ini, supaya kita bisa hidup tenang tanpa ada lagi bahaya-bahaya yang akan membuat kita hidup di dalam rasa ketakutan."
"Jika benar orang itu yang melakukan semuanya, ya sudah. Cukup kalian cari tahu motifnya, maafkan dan selebihnya biar pihak hukum yang bertindak. Aku tidak mau dengar kalian sampai bertingkah macam-macam pada orang itu. Kalau kalian begitu, malah akan membuat dia semakin memiliki dendam pada kita."
"Bisa aja 'kan, dia di dalam penjara leha-leha. Sementara di belakang dia memiliki antek-antek yang akan meneruskan balas dendamnya yang belum tersampaikan. Jadi, selesai 'kan secara kepala dingin cari solusi terbaik, jangan pakai emosi. Paham kalian berdua!"
__ADS_1
Nasihat Meera, benar-benar bermanfaat untuk mereka. Bahkan keduanya menganggukkan kepalanya, sebab mereka paham sama apa yang Meera katakan padanya.
Itulah pentingnya saling mengingatkan. Mau sebanyak apapun seseorang menjahati kita, maka balaslah dengan kebaikan.
Jika kejahatan dibalas dengan kejahatan, maka tidak akan ada ujungnya. Malah itu akan membuat orang baik dan orang jahat sama, sama-sama tidak ada bedanya.
"Ya sudah, kalian baik-baik disini. Jika kemana-mana harus sama bodyguard paham?" ucap Hans, diangguki oleh istrinya.
Hans dan Bram pun bangkit serta mendekati istri mereka masing-masing, lalu mencium keningnya secara bersamaan. Kemudian mereka berpamitan dan pergi.
Tak lupa mereka memberikan beberapa pesan pada bodyguard yang berjaga di luar ruangan dan juga sekitaran rumah sakit. Agar mereka menjaga ketat Meera serta Alice, selama mereka berdua pergi.
...*...
...*...
Selama di perjalanan, Bram dan Hans selalu melontarkan pertanyaan demi pertanyaan, karena mereka benar-benar penasaran dengan sosok pelaku tersebut.
Sesampainya di kantor polisi, kurang lebih 1 jam. Mereka segera melapor, dan meminta izin untuk bertemu sama pelaku yang hampir merenggut nyawa Alice dan anaknya.
Setelah di perbolehkan, seperti biasa. Hans dan Bram di giring oleh polisi lainnya, ke arah ruangan tunggu untuk bertemu pelaku.
Kurang lebih 10 menit, akhirnya mereka berhasil menatap wajah pelaku yang ada dibalik semua kejadian besar terjadi. Betapa terkejutnya mereka saat melihat senyuman dari pelaku yang sangat mereka kenal.
Tanpa di sadari mereka berdiri secara bersamaan dalam keadaan mata membola besar. Terlihat jelas kalau mereka berdua benar-benar syok saat mengetahui pelaku tersebut adalah orang yang sangat mereka kenal.
__ADS_1
...***Bersambung***...