
Nasihat dari Bi Neng diangguki oleh Bram dan juga Alice yang masih setia menggendong Baby Boy. Sesekali mengajaknya bercanda. Berbeda sama Bram, dia menggendong anaknya yang sedang tertidur pulas di dalam dekapannya.
Hans pun menatap semuanya secara bergantian, lalu perlahan mulai melangkahkan kakinya mendekati istrinya. Kemudian, sedikit membungkukkan badannya menatap wajah istrinya dan mengusap kepalanya.
Hans mencoba untuk meminta izin pada istrinya, membuat semuanya menatap kearah wajah Meera. Hanya saja, sesuatu langsung mengejutkan. Benar-benar diluar dari dugaan mereka, begitu juga reaksi Hans. Dia terlihat sangat syok, sehingga tubuhnya seketika menjadi kaku bagaikan patung.
"Ka-kakak, li-lihat. Ka-kak Me-meera senyum." ucap Alice menatap wajah Meera yang sedikit mengukirkan senyuman samar.
Semua mata langsung tertuju pada Meera dengan wajah serius. Masa-masa inilah yang mereka tunggu-tunggu selama 1 Minggu lebih ini. Karena sedikit saja perkembangan yang Meera tunjukkan, itu sebagai kode bila dia akan segera bangun dari tidur panjangnya.
"Syukurlah, itu tandanya kalau istrimu setuju sama usul yang di berikan Bi Neng, Kak. Dengan begitu kita bisa langsung mengadakan pemberkatan secara bersama, antara Baby Maura dan juga anakmu. Makannya kita semua penasaran pengen tahu, siapa nama asli Baby Boy?"
Bram berbicara mewakili mereka semua, apa lagi nama Baby Boy sudah 1 Minggu lamanya selalu di rahasiakan oleh Hans. Sehingga, mereka hanya bisa memanggil Baby Boy seperti apa yang Hans katakan.
"Ja-jadi kamu tidak masalah, Sayang. Bila aku memberikan anak kita nama sebelum kamu bangun dan mendengarnya langsung? Aku takut kamu marah."
Hans langsung memeluk Meera dari arah samping sambil mencium puncak kepala istrinya. Senyuman Meera tidak hilang, malah semakin melebar membuat Hans pun langsung mengerti kode yang diberikan istrinya saat ini.
Hans kembali berdiri seperti semua, lalu mengambil Baby Boy dari pelukan Alice dan menatap wajahnya untuk beberapa detik. Kemudian dia langsung mengumumkan siapa nama asli dari Baby Boy.
__ADS_1
"Nama Baby Boy adalah Diego Jeevan Ivander yang artinya Jagoan kecil, gesit yang memiliki kuasa tersendiri dan juga jiwa terbaik. Kelak dia akan tumbuh menjadi kesatria yang akan melindungi,q serta bisa membahagiakan keluarganya atas keberhasilannya sendiri."
Mendengar nama yang indah itu membuat mereka terharu. Nama itu memang sangat cocok untuknya, terlepas dari semua perjuangan Meera bersama Baby Diego yang sudah mau bertahan sejauh ini. Meskipun, Meera tak sadarkan diri tetapi dia bisa menunjukan respon bahagianya.
Dimana Meera tersenyum, sambil meneteskan air matanya ketika di alam bawah sadarnya. Nama putranya selalu terngiang-ngiang di telinganya menemani setiap langkah panjangnya.
Nama itu pun terdengar sangat indah, sampai-sampai berhasil menggetarkan hatinya. Kemudian Meera menghentikan perjalannya di saat dia harus terus mendengar suara-suara yang sangat tidak asing di telinganya.
"Diego Jeevan Ivander? Na-nama i-itu bukannya nama marga dari keluarga Hans?"
"A-artinya i-itu adalah na-nama dari anakku? Se-seriuskah? Se-seindah itu nama yang telah Hans berikan padanya?"
"Sekali lagi selamat untuk kalian semua, termasuk suamiku. Semoga Hans bisa menjaga anak kita dan merawatnya sampai dia tumbuh menjadi kesatria yang sangat kuat."
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah mengajarkanku arti makna cinta yang sangat indah ini. Hanya saja, aku sudah nyaman dengan duniaku yang baru ini. Apa lagi aku sudah menyakiti 1 wanita hanya demi bersamamu, untuk itu aku tidak akan kembali supaya kamu bisa kembali dengannya."
Meera berbicara sambil mengusap air mata yang terus mengalir tanpa henti. Walau bibirnya mengatakan seperti itu. Beda cerita dengan hati atau perasaannya yang sangat berat untuk kembali melanjutkan langkahnya.
Saat ini Meera sedang berada di suatu tempat yang snagat indah menggunakan pakaian dress putih polos, bersih dan juga wajahnya terlihat sangat cantik, benar-benar seperti bidadari.
__ADS_1
Kembali lagi ke dunia nyata, dimana semua lagi heboh dengan air mata Meera yang terus mengalir membuat mereka sedikit panik.
Hans langsung menaruh anaknya di tempat tidur, kemudian memencet tombol darurat agar bisa memanggil sang dokter secara cepat.
Jika setetes dua tetes mereka masih bisa memahami bila Meera pasti terharu sama nama anaknya yang terdengar indah itu. Cuman, ini berbeda. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada Meera. Kenapa dia bisa menangis seperti orang yang sangat ketakutan.
Kurang lebih 5 menit, sang dokter datang bersama asistennya secara terburu-buru lalu menyuruh mereka semua untuk keluar lebih dulu. Agar bisa lebih leluasa untuk mengecek kondisinya.
Tak lupa Alice membawa Baby Diego ke dalam gendongannya supaya tidak membuatnya kaget saat merasakan Mommynya dalam keadaan kurang baik.
Sejauh apapun Alice membawa Baby Diego, dia tetap tidak bisa menenangkannya saat Baby Diego merasakan sesuatu terjadi sama Mommynya.
Eeaakk ... Eeaakk ...
"Sutts ... Tenang ya ganteng, jangan nangis. Mamah yakin Mommymu itu tidak akan kenapa-kenapa kok. Percaya sama Mamah ya, Sayang. Cup, cup, cup ...."
Alice berjalan kesana-kemari untuk berusaha menenangkan Baby Diego yang masih terlihat syok. Hans mencoba menenangkannya, tetapi tidak mempan sama seperti Bi Neng. Jika Bram, dia masih setia menggendong anaknya.
Jadi mau tidak mau, Alice harus berusaha keras untuk membuat Baby Diego mengerti. Sampai akhirnya Baby Diego pun tertidur di dalam pelukan Alice sambil memberikan susu formula untuknya.
__ADS_1
...***Bersambung***...